Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 45


__ADS_3

"Bolehkan kalau aku setiap saat ketemu sama Caca? Nggak aku bawa kemana mana kok. Ketemu di rumah aja," tanya Arkan seraya mengobati lukanya.


"Hanya seminggu dua kali dan tidak lebih dari setengah jam. Aku permisi." Arumi lalu pergi menggandeng Caca menuju mobil.


Tidak apa, hanya melakukan hal kecil saja, hati Arumi sudah melunak. Pelan-pelan akan aku ambil Caca darinya.


Entah rencana apa lagi yang akan di rencakan oleh Arkan. Hanya satu yang pasti, Arkan perlahan mengikuti perkataan ibunya yang harus merebut Caca dari Arumi. Jika di pikir-pikir, kata ibunya memang benar. Arumi bisa punya anak lagi jika ia menikah nanti, sedangkan dirinya? Tidak akan bisa dan tidak diberi kesempatan oleh yang maha pencipta untuk merasakan jadi seorang ayah. Hanya Caca lah satu-satunya darah daging Arkan.


"Bun, kita pulang aja ya. Nggak usah ke rumah om Bari."


"Iya sayang kita pulang."


*


Di lain tempat, Bari sedang murka dengan anak buahnya yang ia utus untuk menjaga Caca. Bagaimana bisa ia absen menjaga tanpa seijinnya.


"Saya hanya menuruti apa yang di minta bu Arumi tuan. Bukankah tuan pernah mengatakan bahwa saya harus menuruti apa mau bu Arumi?"


"Ya tapi kalau untuk absen kerja lapor dulu bagong. Ya udah sana pergi, lain kali kalau di minta buat libur di iya ini aja tapi tetap jaga dari jauh. Jangan terus lo tinggal gitu aja."


"Baik tuan. Sekali lagi saya minta maaf."


Kerusuhan itu usai setelah anak buah Bari meninggalkan ruangannya. Bari mendudukan dirinya di sofa panjang yang tersedia di sana. Ia merasa Caca memang harus dijaga sepenuhnya.


Ingin rasanya hati datang ke rumah Arumi, namun di sisi lain ia merasa harus terus begini hingga ia tahu sepenting apa kehadiran Bari. Pria itu memutuskan untuk mengaktifkan ponsel pribadinya. Begitu banyak notif panggilan di sana. Yang paling banyak adalah nomer dari Alvin. Bahkan hingga tadi pagi, nomer Alvin masih terus menghubunginya.

__ADS_1


Apa Caca yang menelepon ku? Batin Bari bertanya-tanya.


Tangan Bari lalu bergulir pada aplikasi pesan. Ia memilih pesan mana yang sekiranya penting. Pesan yang paling banyak dari nomer yang sama. Banyak deretan pesan suara dari nomer Alvin. Ia mendengar pesan tersebut satu persatu dari atas hingga bawah.


'Om Bari kenapa nggak bisa di hubungi? Om Bari nggak lupa sama janjinya kan? Om Bari udah janji mau nemenin aku ke sekolah.'


'Om Bari udah nggak sayang lagi sama aku ya? Kenapa telepon aku nggak diangkat? Om Bari juga dari kemarin nggak ke sini. Biasanya kalau nggak ke sini juga telepon aku diangkat.'


'Om Bari, ayo ke sini aku tunggu ya. Udah jam delapan ini. Aku nggak mau berangkat kalau om Bari nggak ke sini. Om Bari udah janji sama aku.'


Bari mendengar semua pesan suara yang intinya adalah sama. Anak kecil itu hanya ingin Bari menemui dan menemaninya ke sekolah. Ada yang nyeri di ulu hati Bari mendengar rentetan pesan suara Caca yang terdengar merengek begitu. Tak pernah sebelumnya ia mendengar rengekan anak itu ketika bersamanya.


Akhirnya ia putuskan untuk balik menghubungi nomer Alvin. Meskipun ia tak tahu apakah pria itu di rumah atau tidak, sedang bersama Caca atau tidak. Ia tetap perlu menghubungi balik nomer Alvin untuk menanyakan keadaan Caca. Meskipun ia tahu, Caca tetap ke sekolah entah dengan cara apa.


"Assalamu'alaikum bang," sapa Bari ketika sambungan telah terhubung.


"Lagi dimana?"


"Kantor. Ada apa?"


"Nggak apa-apa bang. Boleh minta nomer Arumi bang? Mau telepon Caca. Jadi hape aku kebetulan dari kemarin lupa naruh jadi kehabisan baterai dan aku baru buka pesan dari Caca barusan," terang Bari dengan gugup.


"Oh gitu. Iya, kayaknya harus berjuang lagi sih Bar. Kalau sebelumnya kamu hanya berjuang untuk Arumi, sekarang Caca juga. Ngambek parah dia tadi pagi."


"Gitu ya bang? Lama-lama pusing juga aku ngadepin mereka ini," keluh Bari.

__ADS_1


"Tapi mereka nggak pernah begini sama orang Bar. Sama kamu doang, Caca mana berani dia begini sama orang? Itu artinya, sebenarnya mereka ini sayang sama kamu. Biasanya wanita itu akan mengungkapkan rasa sayangnya ya lewat ini, meraka tidak menyembunyikan karakter mereka yang sebenarnya. Jadi nanti kamu nggak kaget kalau kamu benar-benar jadi bagian hidup mereka. Mereka udah nyaman, cuman cara penyampaiannya ya begitu. Arumi juga begitu, kamu sama Caca dibiarkan dekat kan? Ya meskipun mungkin kamu pasti akan dapat penolakan awal, tapi Arumi tetap kasih ijin kan? Dia nggak pernah begitu sama pria manapun yang mendekati dia. Percayalah, aku sama ibu akan selalu ada di belakang kamu kok," jelas Alvin panjang lebar yang memang dari awal sudah suka dengan Bari. Entah suka dari mananya tak ada yang tahu.


"Meskipun abang tahu masa lalu aku?"


"Kamu hanya ganti-ganti pacar kan? Nggak tidurin meraka kan?"


"Astaghfirullah bang. Nggak pernah aku begitu. Sumpah demi apapun, nggak pernah aku macam-macam. Aku melakukan itu hanya karena penasaran saja dulu tapi keterusan."


"Iya Bar, tahu kok. Ya udah aku kasih nomer Arumi ya. Selamat berjuang," kata Alvin tertawa pelan.


Bari jadi kepikiran, semakin ke sini bukannya semakin mudah justru semakin runyam jika Caca benar-benar merajuk padanya. Belum selesai urusan Arumi, ia justru menambah masalah dengan tindakan dan rencananya sendiri. Ia benar-benar lupa dengan janjinya pada Caca yang akan ikut dengannya melihat ia bernyanyi.


Beberapa kali Bari berusaha menghubungi nomer Arumi, namun tak kunjung ada jawaban. Akhirnya ia putuskan untuk mengirimkan pesan saja.


[Rum, ini aku Bari. Masih di rumah sakit ya? Kabari aku kalau udah pulang ya]


Terpaksa Bari menghentikan sandiwaranya yang ingin membuat Arumi kelabakan mencari. Kini justru dirinya yang kelabakan sendiri, sudah persis seperti senjata makan tuan saja, pikir Bari geleng kepala.


Bari kembali bekerja dengannya tumpukan kertas agar lupa dengan masalahnya. Agar ia juga tak hanya fokus pada Arumi dan Caca. Hingga terdengar bunyi getaran pendek dari ponsel pribadinya.


[Jangan ganggu aku dan Caca lagi. Caca sudah bisa tanpa kamu, dan tidak perlu kamu lagi. Abaikan rengekan Caca tadi pagi. Dia sudah ceria sekarang]


Bari seketika menghubungi Arumi. Namun, beberapa kali ia mencoba nomernya tiba-tiba saja tak aktif. Tak mau menyerah ia kembali mengirim pesan.


[Jangan bohong Arumi. Angkat teleponku sebentar saja]

__ADS_1


Beberapa saat menunggu namun tak kunjung terkirim. Ia jadi curiga bahwasanya nomernya telah di blokir. Pria itu mengacak rambutnya seketika. Merasa frustasi dengan keadaan yang ia buat sendiri.


Bersambung


__ADS_2