Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 41


__ADS_3

Tindakan Arkan jujur saja membuat Arumi takut jika membiarkan Caca berkeliaran seorang diri. Di lingkungan sekolah saja ia bisa mencuri kesempatan untuk bertemu. Bagaimana jika di lain hari pertemuan itu berujung pada ke tidak inginannya? Batin Arumi menimbang nimbang.


"Bun, kenapa tadi om itu bilang kalau dia ayahku?"


"Hanya ngaco Ca. Udah nggak usah di denger. Bunda sudah bilang berapa kali untuk tidak dekat dengan orang asing? Kamu masih saja ramah sama mereka. Boleh ramah, tapi jangan sampai dekat banget."


"Iya bunda."


Tiba-tiba saja terlintas di pikiran Arumi menyewa bodyguard untuk menjaga Caca. Jika memang itu jalan satu-satunya maka ia tidak akan sayang kehilangan uang banyak asal Caca aman dari gangguan Arkan.


Mungkin Bari bisa bantu cari orang buat jaga Caca. Relasi dia pasti banyak, dia kan pengusaha.


Astaghfirullah, ada apa denganku. Kenapa jadi minta bantuan sama dia? Aku bisa cari dengan caraku sendiri. Bisa dengan bantuan mas Alvin atau orang lain.


Sudah puluhan kali batin Arumi bergejolak dan ribut dengan sendirinya. Hati mengingatkan Bari namun, logika berkata lain.


*


Pria yang dipikirkan oleh Arumi kini juga sedang bepikir keras. Ia juga memikirkan hal yang sama dengan Arumi. Entah bagaimana bisa pria itu tak henti-hentinya khawatir jika Arkan akan bertindak lebih jauh dari ini.


"Ada apa lagi tuan? Ada masalah?" tanya Firdaus yang sudah hapal dengan karakter atasannya.


"Itu bapaknya si Caca, gue dapat laporan kalau di baru aja nemuin Caca di sekolah. Untung Arumi datang tepat waktu, jadi Caca nggak lama-lama ngobrol sama dia."


"Dia kan ayahnya tuan. Wajar kalau pengen ketemu."


Bari yang sebelumnya menunduk menatap meja seketika mendongak ke arah sekretarisnya. Setelah tahu apa yang terjadi bagaimana bisa Firdaus mewajarkan tindakan Arkan.


"Lo ada di pihak gue apa dia sih?"


"Nggak ada di pihak siapapun tuan. Mungkin, jika tuan ada di posisi Arkan juga akan bertindak sama. Kita punya anak, nggak pernah ketemu, tahu tahu sudah besar. Ya pasti perasaan kita akan terdorong untuk ingin bertemu. Terlepas dari kesalahan kita dulu. Kenapa Arumi atau tuan nggak memberikan kelonggaran untuk Arkan bertemu dengan anaknya? Dia nekat begitu kan juga karena mendapat larangan dari ibunya untuk bertemu. Kalau dapat ini pasti nggak akan diam-diam nemuin anaknya," usul Firdaus.


"Nggak bisa gitu dong. Takutnya gue, lama-lama si Arkan ini malah keterusan dan ketidak tahu dirinya itu semakin menjadi. Sering ketemu malah nuntut buat yang lebih lagi."


"Buat perjanjian tuan, perjanjian diatas kertas dan sah secara hukum. Kita bisa tuntut Arkan kalau memang nanti dia melanggar. Biar bagaimanapun, mau kasus ini dibawa ke pengadilan sekalipun pasti Caca akan tetap ikut ibunya."


Bari nampak menimbang apa yang Firdaus sarankan. Memang itu mudah saja di lakukan, tapi Arumi belum tentu bersedia menerima tawaran ini.

__ADS_1


"Emang bener sih apa yang lo bilang. Tapi masalahnya, Arumi mau apa nggak. Lo nggak tahu sih Arumi kelakuannya ke gue gimana, kalau nggak ngajak berantem ya ketus ke gue."


"Lah terus gimana? Tuan terlalu jauh sih sebenernya kalau ikut campur dalam hal ini. Karena status tuan hingga sekarang pun masih ngambang. Nggak ada kejelasan apapun, kecuali kalau memang Arumi sudah bersedia menjadi istri tuan, tuan bisa nyemplung ke masalah ini tuan juga nggak akan malu kalau-kalau Arkan tanya apa status tuan. Karena hubungan sudah jelas."


"Gue mikirnya juga begitu, tapi serius gue nggak tahu meski ngelakuin apa biar Arumi tuh bisa lihat perasaan gue, mau nyerah terlanjur sayang," gumam Bari menerawang.


"Sudah pernah berusaha mengambil hatinya melalui jalur langit?"


"Maksudnya?" tanya Bari mengerutkan dahi.


"Sepertiga malam."


Plak!


"Bener juga lo. Kenapa nggak kepikiran ya? Gue fokusnya ke dunia doang," seru Bari seraya tangannya memukul lengan Firdaus pelan.


"Taubat tapi nggak nasuha ya begini," gerutu Firdaus pelan.


Tak berselang lama, ponsel pribadi Bari bergetar getar panjang di atas meja. Ia meraih benda pipih tersebut dan melihat layar dengan seksama.


"Nomor nggak di kenal?" gumam Bari.


Tanpa menjawab saran dari Firdaus, Bari menggeser tombol menerima panggilan.


"Halo," sapa Bari


"Assalamu'alaikum," ucap si penelepon.


"Waalaikumsalam," balas Bari gugup.


Tidak ada yang menelpon Bari dengan ucapan salam. Bahkan, ibu dan adiknya saja tidak. Mereka justru akan bicara langsung ke intinya tanpa basa basi. Jika mendengar dari suaranya seperti Arumi, tapi ia tak mau ke ge er ran sebelum tahu pastinya. Ia takut akan kecewa.


"Bari, ini aku Arumi," ucapnya kemudian.


Hati Bari rasanya ingin melompat dari tempatnya. Sungguh sulit di percaya, Arumi si wanita yang jual mahal padanya kini menurunkan sedikit harganya. Pasti ada yang penting sampai dia rela menghubungi Bari lebih dulu, pikir Bari dalam hati.


"Eh iya, ada Apa Rum? Ini nomer kamu?"

__ADS_1


"Bukan, nomer mas Alvin."


Hati Bari yang awalnya berbunga tiba-tiba saja gugur seketika. Bisa-bisanya Arumi menghubungi dirinya dengan nomer kakaknya, kenapa tidak memakai nomernya sendiri, batin Bari kesal.


"Iya ada apa nelepon aku? Kenapa harus pakai nomer bang Alvin? Nggak pakai nomor kamu aja?" protes Bari.


"Apa pentingnya aku nelepon pakai nomer siapa Bari? Ada yang pengen aku tanyakan."


"Apa?"


"Aku bisa minta tolong? Jadi tadi Arkan datang ke sekolah Caca untuk diam-diam temui Caca. Aku berencana untuk menyewa orang untuk jaga Caca kalau di luar rumah. Aku sudah menghubungi beberapa temanku, tapi mereka nggak tahu nyewa bodyguard kayak gitu dimana dan bagaimana caranya. Aku butuh cepat Bari, bisa minta tolong carikan? Mas Alvin nggak kenal sama yang begituan soalnya."


"Katanya nggak butuh aku?" goda Bari


"Baiklah, maaf menggangu waktunya. Aku akan cari cara lain untuk...."


"Hey nggak gitu Rum. Iya Iya aku sewakan. Gitu aja ngambek kamu. Mau berapa orang?"


"Satu saja cukup."


"Iya, besok biar datang ke rumah langsung orangnya ya. Kalian tapi nggak apa-apa kan? Nggak diapa-apain sama Arkan?"


"Nggak Bar. Alhamdulillah nggak apa-apa. Makasih ya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Obrolan meraka terputus setelah itu. Saking senangnya, Bari tak sadar memeluk Firdaus dengan erat dan senyum yang sumringah. Meskipun sempat kesal karena nomer yang digunakan untuk menghubungi dirinya bukan nomer pribadinya. Semua itu sirna begitu saja saat Arumi meminta bantuan darinya. Dengan begitu, ia merasa bahwa ia berguna untuk Arumi dan anaknya.


"Akhirnya, Arumi melibatkan gue dalam hidupnya. Gue seneng banget Fir sumpah," ujar Bari dengan masih memeluk Firdaus erat.


"Tuan, akan sangat bahaya jika ada yang melihat kita seperti ini. Tolong lepaskan tuan, sesak dada saya."


Ucapan Firdaus membuat Bari sadar bahwa ia memeluk orang yang salah.


"Lo adalah salah satu orang yang nemenin gue dari awal. Makasih untuk saran-saran yang begitu dewasa dari lo. Dengan ini, gue Bari abdul jalil merestui kalau lo mau berhubungan dengan adik gue," ucapan Bari menepuk pelan pundak sang sekretaris.


"Alhamdulillah, saya sudah menjalin hubungan dengan adik tuan dari lama. Saya nggak bilang ke Farah, langsung ke ibu Rahma malah. Dan ibu setuju jika saya mempersunting Farah, tapi beliau bilang harus sabar. Nunggu Farah lulus kuliah dan tuan menikah."

__ADS_1


"Apa?" seru Bari terkejut setengah mati.


Bersambung


__ADS_2