Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 72


__ADS_3

Selesai dengan resepsi, Bari dan Arumi langsung ke kamar mereka. Jika tadi yang ada di otak Bari adalah memikirkan gaya yang tepat ketika melangsungkan kegiatan jeritan malam, kini tidak lagi. Sejak datangnya Mira, pikiran Bari hanya terfokus pada masalah yang ia hadapi di hari-hari dirinya menjadi pengantin baru.


"Rum, kamu percaya aku kan? Aku berani sumpah mggak melakukan apapun sama siapapun." Entah sudah ke berapa kali Bari mengatakan itu pada istrinya.


"Sejak kata sah terucap, aku dan kamu sudah terikat. Aku memberikan kepercayaan penuh padamu mas, aku tidak akan percaya lagi padamu ketika aku benar-benar melihat kamu sudah merusak kepercayaan itu. Aku percaya kamu tidak melakukan itu, aku percaya suamiku tidak akan membodohi ku," kata Arumi dengan lembut dan mengelus pipi pelan Bari.


Bari lalu meraih tangan itu dan mengecup telapak tangan istrinya dengan lembut. Ia bersyukur memiliki istri yang tak mudah percaya dengan omongan orang. Wanita seperti ini sangatlah langka di dunia yang penuh tipu muslihat ini.


"Bisa kamu ceritakan kenapa Mira hamil dengan orang lain tapi minta tanggung jawab kamu?"


"Kenapa kamu begitu percaya Mira hamil dengan laki-laki lain?"


"Ada yang janggal mas. Kenapa dia baru muncul di hari pernikahan kita? Meskipun tadi dia menjelaskan alasannya, entah kenapa aku merasa ada yang aneh aja."


"Aku sendiri juga nggak tahu kalau itu. Karena memang aku udah nggak pernah ketemu lagi sama dia selama aku dekati kamu."


"Kenapa hubungan kamu berakhir dengannya?"


"Dia menduakan aku. Dia tak sengaja sebut nama ketika kami sedang....." Bari menghentikan kalimatnya karena bingung hendak menjelaskan apa. Tak mungkin ia mengatakan Mira sebut nama saat ia sedang bercumbu.


"Sedang apa mas? Lanjutin aja, aku akan lebih senang mendengar kejujuranmu."


"Sedang...bermesraan. Ya, jadi dia salah panggil aku disaat kita sedang berdua di rumahnya. Sejak itu aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ku dengannya. Dan itu adalah hari pertemuan kita yang terakhir. Memang kala itu dia berusaha untuk menggodaku agar mau berhubungan seperti itu. Tapi untunglah dia melakukan kesalahan, jadi aku ada alasan untuk meninggalkannya. Lalu aku dekati kamu."


Arumi diam, ia sedang bingung jalan apa yang harus ia ambil untuk menyelesaikan masalah ini tanpa kedua ibunya tahu.


"Arumi, kamu percaya aku kan? Kenapa kamu diam?" tanya Bari khawatir melihat respon Arumi.


"Percaya mas, aku sedang memikirkan jalan keluarnya saja. Kalau nggak segera di selesaikan aku khawatir ibu kita akan tahu. Untuk sementara bagaimana kalau kita ikuti saja apa maunya, sambil jalan kita cari cara untuk menyelesaikan ini."

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia minta aku nikahi? Kan nggak lucu sayang."


"Ya makanya kita harus gerak cepat untuk ini."


"Kenapa masalah datang di saat kita baru saja halal bersentuhan?"


"Nggak boleh begitu, kita sedang di uji. Biarkan saja masalah apapun menimpa kita, yang penting dihadapi sama-sama. InsyaAllah semua akan terlewati," ucap Arumi merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Arumi mengatupkan mulutnya ketika mendengar detak jantung Bari yang sangat cepat. Merasa masalahnya tak terlalu penting untuk dipikirkan, Arumi lebih memilih untuk menghabiskan malam dengan keromantisan.


Tangannya tergerak untuk memutar mutar dan memainkan benda kecil yang berada di dada bidang suaminya. Semakin lama semakin intens dan membuat nafas Bari naik turun dengan cepat. Pria itu menyambut perlakuan Arumi dengan mempererat pelukannya.


Tangan Bari pun tak ingin diam saja, salah satu tangan Bari menangkup pipi Arumi dan mengarahkannya pada wajahnya, sehingga wajahnya mereka kini tak terhalang oleh apapun termasuk jarak.


"Berjanjilah padaku, masalah apapun kedepannya nanti, kita akan tetap seperti ini."


Seakan di beri kode untuk segera mempersatukan bibir mereka, tanpa ba bi bu lagi Bari menyambangi bibir Arumi dengan bibirnya. Sentuhan demi sentuhan yang terasa menggairahkan membuat keduanya sama-sama gerah dalam waktu singkat.


Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk mengadu lidah di dalam rongga mulut. Semakin lama semakin dalam dan membuat keduanya tenggelam. Sudah dua bulan Bari tak melakukan ini, rasanya sungguh berbeda.


Dengan ******* yang masih beradu di dalam, Bari merebahkan isterinya di ranjang. Tangannya mulai mengelus pelan perut istrinya, semakin lama semakin naik dan mau tak mau sampailah Bari di lemak kembar milik Arumi yang sama sekali ia tak tahu seberapa besar benda kenyal itu. Baru saja hendak menangkup lemak itu, suara Caca yang berteriak membuat mereka melepas pergulatan panas itu.


"Bunda, ayah," teriak Caca saya menggedor pintu.


Bari seketika melompat dari ranjang , ia takut terjadi apa-apa jika mendengar dari teriakan anak tirinya itu.


"Ada apa sayang? Kenapa?" tanya Bari seraya melihat sekeliling. "Mana oma?" tanyanya lagi.


"Tidur," jawab Caca dengan polosnya.

__ADS_1


"Terus kamu ngapain keluar kamar sendirian? Mau kemana?" tanya Bari mengernyitkan dahi bingung.


"Mau ke sini. Aku mau tidur sama ayah juga, mau ngerasain tidur sama ayah kayak teman-teman aku di sekolah."


"Ya udah, ayo masuk. Kita tidur bersama."


Bari dilanda dilema. Di satu sisi ia ingin melakukan ritual malam pertama, namun di sisi lain ia merasa kasihan dengan anak tirinya yang memelas ingin merasakan tidur dengan ayahnya.


"Ayah peluk," kata Caca manja dengan merentangkan tangannya.


Bari seketika memberikan pelukan terhangat untuk sang anak. Dengan hanya sedikit sentuhan di puncak kepala, anak lima tahun itu seketika tertidur lelap.


"Aku nggak pernah ajarin anakku untuk manja dengan siapapun. Aku nggak tahu apa yang membuatnya begitu dekat sama kamu, terlepas dari Caca butuh sosok ayah atau tidak, kamu berhasil memenangkan hati Caca."


"Anak kita sayang. Dia anakku juga. Kita lanjut di bawah yuk," rengek Bari diakhir kalimat.


Bari pelan-pelan melepas pelukan Caca di pinggangnya. Ia ingin melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda, namun harapan tinggalah harapan. Caca justru semakin mempererat pelukannya.


"Ayah di sini aja. Nggak boleh kemana mana," kata Caca dengan mata yang masih terpejam.


Bari mau tak mau kembali merebahkan dirinya dengan membiarkan tangan Caca kembali nangkring di pinggangnya.


"Sayang, bagaimana caranya kamu bisa berkembang biak kalau setiap hari begini? Kamu lihat sendiri anakku sangat posesif," keluh Bari dengan wajah melasnya.


"Ini hanya awal mas, biarkan Caca merasakan kasih sayang ayahnya dulu," kata Arumi mengelus puncak kepala suaminya dengan manja.


Bari tersenyum bahagia sekaligus salah tingkah dengan perlakuan yang diberikan istrinya. Sangat di luar dugaannya. Ia mengira Arumi adalah wanita yang kaku, namun yang terjadi justru sebaliknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2