
Bari terkejut begitu membuka pintu kamar sudah ada Widya yang berdiri di depan pintu dengan nampaan di depan tubuhnya.
"Ngapain kamu ke sini?"
"Mau antar teh saja pak."
Bari lalu mengambil teh yang ada di nampan dan kembali menutup pintu. Ia merasa ada yang aneh dengan gadis itu.
Setelah meneguk teh hengat hingga habis, ia berbaring terlebih dahulu. Bari merasa tubuhnya sangat lemah dan butuh istirahat sejenak. Masih ada waktu satu jam sebelum masuk waktu maghrib.
Bari berbaring dengan memainkan ponselnya, namun tiba-tiba rasa kantuk yang luar biasa mendera. Ia sudah berusaha untuk memaksa buka matanya dengan fokus melihat layar ponsel namun tak berpengaruh apapun. Dan akhirnya tanpa sadar ia benar-benar memejamkan mata dengan ponsel yang masih menyala.
Disaat yang bersamaan, Caca membuka pintu kamar Bari. Anak itu ingin masuk namun dihalangi oleh Widya yang entah sejak kapan gadis itu berada di lantai atas.
"Caca mau ngapain?" tanya Widya pelan.
"Bangunin ayah. Mau jemput bunda."
"Ayah lagi tidur, ayah capek kan habis pulang dari luar kota. Caca susul bunda sama mbak Widya aja ya."
"Ya udah deh. Berangkat sekarang aja mbak."
Akhirnya meraka berdua berangkat dengan diantar supir. Dengan berbekal lokasi yang dikirim oleh Arumi, mereka menjelajah jalanan selama kurang lebih dua puluh menit.
Kedatangan mereka di sambut oleh Alvin yang sengaja menunggu di depan rumah sakit. Setelah berkenalan dengan Widya, mereka bertiga lalu langsung bergegas kamar ibu Arumi.
"Bunda!" teriak Arumi melorot dari gendongan Alvin dan berlari ke arah ibunya.
Baru setengah hari saja tak bertemu dengan ibunya, rupanya rasa rindu sudah menjalar ke seluruh sendi anak kecil itu.
"Oma, oma sakit apa?" tanya Caca beralih menghadap omanya.
"Jatuh saja nak, tidak apa-apa. Besok oma boleh pulang kok. Oma kangen sama kamu," jawab oma dengan merentang kedua tangan tanda ingin memeluk.
Setelah di rasa cukup malam, Arumi pamit pulang pada ibu dan kakaknya. Sebenarnya ia ingin menemani ibunya sampai esok hari, namun mendengar Bari yang ketiduran membuat ia urung.
Arumi berpikir pasti Bari kecapean hingga ia tak sadar tertidur di hari yang masih sore. Tak mungkin ia membiarkan suaminya itu di rumah sendirian dalam keadaan lelah.
__ADS_1
Pukul sepuluh malam, mereka sampai rumah. Caca sudah pulas di pangkuan Widya.
"Kaki ibu kenapa?" tanya bu Darmi yang membukakan pintu untuk majikannya.
"Jatuh dari motor bi, nggak apa-apa. Tadi udah di periksa sama dokter. Hanya keseleo saja. Akan sembuh dalam beberapa hari. Saya ke atas dulu ya bi."
Arumi melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Dengan menahan sakit yang masih tersisa Arumi akhirnya sampai di kamarnya. Ia melihat suaminya yang tidur dengan tangan di ponselnya.
Selangkah demi selangkah Arumi berjalan mendekat dan mengambil ponsel suaminya lalu ia letakkan di nakas dekat ranjang. Pergerakan yang diciptakan oleh Arumi membuat Bari terbangun.
Bari terkejut bukan main begitu menoleh ke belakang sudah ada Arumi di sana.
"Sayang, kok kamu udah pulang? Sama siapa? Jam berapa sekarang?" tanya Bari terkejut.
"Sudah jam sepuluh malam, mas. Tadi di jemput sama supir," jawab Arumi seraya melepas cadar dan hijab. Wajah pucat dan lelah tergambar jelas di wajah ayunya.
Merasa tak percaya dengan jawaban istrinya, Bari meraih ponsel dan melihat jam di sana. Wajah terkejut tak dapat ia sembunyikan.
"Astaga, aku ketiduran lama dong. Maaf ya, aku benar-benar nggak sadar kalau aku ketiduran," kata Bari berjalan menuju istrinya yang sedang duduk di meja rias.
"Namanya ketiduran ya nggak sadar, mas, ada-ada saja kamu ini. Nggak apa-apa, aku tahu kamu pasti capek."
"Kamu nggak marah?"
"Nggak, aku tahu kamu capek."
"Bagaimana keadaan ibu?"
"Nggak apa-apa mas, besok pagi sudah pulang."
Bari memperhatikan wajah Arumi yang terlihat pucat seperti sedang menahan sakit. Ia meletakkan punggung tangannya ke kening istrinya, namun suhu tubuhnya normal-normal saja.
"Kamu kok pucat sih? Ada yang sakit?"
"Nggak mas, aku hanya lelah saja. Mas, boleh aku minta tolong? Aku sangat haus. Aku mau minum."
Dengan senang hati Bari mengiyakan dan beranjak pergi dari kamar. Sebenarnya Arumi tak sedang haus, ia hanya tak mau Bari melihat cara berjalannya yang kesulitan.
__ADS_1
Arumi segera berbaring di ranjang begitu Bari keluar kamar. Menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut agar kakinya tak terlihat. Meskipun ia tahu ia tak bisa menyembunyikan hal ini lama-lama. Namun setidaknya suaminya tak tahu sekarang, di saat ia sedang lelah setelah perjalanan jauhnya.
"Ini minumnya, kamu pucet loh, serius nggak ada yang sakit?" tanya Bari lagi.
"Nggak apa-apa mas, aku capek aja. Udah kamu tidur gih, kamu juga pasti capek."
Seperti biasa, Bari akan memasukkan tubuhnya ke dalam selimut yang sama dengan istrinya, lalu memeluk wanita itu dengan erat. Bari pun selalu meletakkan kakinya diatas kaki Arumi.
"Aduh," pekik Arumi saat kaki Bari menindih kakinya yang terkilir.
"Kenapa?" tanya Bari panik
"Nggak mas, kaget aja kaki mu kena kaki ku tadi. Nggak apa-apa, kita tidur," jawab Arumi dengan gugup.
Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba, Bari menyingkap selimut yang menutupi istrinya. Matanya terbelalak begitu melihat pergelangan kaki istrinya yang memar dan bengkak. Sementara Arumi hanyan menggigit bibirnya takut jika suaminya itu mengomel.
"Apa ini? Ini kenapa, gimana ceritanya bisa begini?"
"Nggak apa-apa mas, ini hanya keseleo saja, tadi sudah di periksa waktu di rumah sakit. Kata dokter nggak apa-apa, akan sembuh beberapa hari lagi."
Bari tak menjawab, ia hanya menghembuskan nafas kesal dan mengambil salep yang ada di laci yang tak jauh dari ranjang.
Dengan telaten dan penuh ke hati-hatian Bari mengoleskan salep itu di bagian kaki Arumi yang bengkak.
"Iya aku tahu ini nggak apa-apa, tapi kalau nggak di kasih obat kapan sembuhnya? Ini hal kecil dan kamu sembunyikan dari aku, bagaimana kalau hal besar?" gumam Bari seraya masih sibuk dengan salepnya.
"Aku nggak mau buat kamu khawatir mas, ini bukan sakit parah."
"Kalau nggak sakit kamu nggak akan se pucat itu, kamu pasti pucat karena nahan sakit. Kamu kalau ada apa-apa bilang dong sayang. Sekecil apapun itu, aku suami kamu, sekecil apapun aku harus tahu. Gimana ceritanya bisa jatuh? Jatuh di mana?"
"Di jalan..." Berlanjutlah cerita Arumi saat di jatuh di jalan tadi.
"Tuh kan, ini yang aku sebel dari kamu. Ada supir, kenapa nggak minta anter sama supir? Mulai hari ini nggak ada kamu pergi-pergi sendiri apalagi bawa kendaraan sendiri. Nggak mau tahu aku pokoknya."
"Iya, maaf nggak lagi."
Akhirnya mereka melanjutkan tidur dengan memeluk satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung