
Tak ada kabar lagi setelah pesan terakhir membuat Bari meniatkan diri untuk ke rumah Arumi sore hari. Sengaja ia datang lebih awal sebelum wanita itu berangkat ke masjid. Kalaupun tak bertemu dengan Arumi, ia bisa bertemu dengan Caca. Anak kecil yang juga membuat hati Bari berantakan karena dirinya yang merajuk. Hebat sekali anak itu, batin Bari.
"Mau kemana Bar? Bawa apa itu?" tanya bu Rahma saat berpapasan di ruang tamu.
"Arumi ma, Caca ngambek gara-gara aku lupa janji aku. Ini mau bawa mainan sama jajanan,"
"Ya udah sana. Mau ngelarang juga gimana ngelarangnya kalau lagi bucin begitu?" gumam bu Rahma seraya berjalan ke belakang.
"Gimana bu?" tanya Bari yang hanya mendengar samar-samar.
"Nggak apa-apa. Ya udah sana berangkat."
Bu Rahma hanya geleng kepala melihat tingkah anaknya yang bak abg baru merasakan jatuh cinta. Beliau memang tahu Bari punya banyak kekasih dahulu. Tapi, ia tak pernah menunjukkan bagaimana perasaan dan juga riwehnya dirinya saat kekasihnya merajuk. Ia hanya menunjukkan bahwa dirinya bahagia punya bayak pacar di luaran sana.
Hanya menghabiskan waktu lima belas menit Bari sudah sampai di pekarangan rumah Arumi. Ada pemandangan yang berbeda dari halaman rumahnya.
Sengaja Bari tak langsung turun dari mobil. Ia memperhatikan siapa pria yang sedang bersama dengan Caca, meskipun mereka terlihat tidak dekat sedekat dirinya dengan Caca, tetap saja hati kecil Bari cemburu jika melihat Caca bercakap-cakap dengan jarak dekat seperti itu.
Bari melihat sudut teras yang nampak Arumi sibuk dengan telepon genggamnya. Seakan ia membiarkan Caca bercengkrama dengan pria itu.
Tunggu, itu Arkan bukan sih? Kok kayak Arkan? Batin Bari lalu merogoh sakunya dan menghubungi seseorang.
"Lo dimana? Kenapa biarin Caca sama bapaknya?" cerca Bari pada anak buahnya.
"Bu Arumi sendiri yang minta saya untuk mengawasi dari jauh saja tuan. Bu Arumi sudah mengijinkan Arkan untuk menemui anaknya selama setengah jam. Jika sudah setengah jam baru saya ambil tindakan jika Arkan tidak mau pergi."
"Aturan dari mana kayak gitu?"
__ADS_1
"Saya kan sudah bilang tadi bu Arumi sendiri yang bilang."
Bari kesal. Ia membanting ponselnya ke arah kursi yang berada di samping kirinya. Baru dua hari tidak bertemu dengan Caca sudah ada drama penculikan dan sekarang Arkan di beri kesempatan untuk bertemu Caca. Bari menduga ini adalah hasil dari jiwa sok pahlawan Arkan kemarin yang menolong Caca dari penculikan.
Semudah itu? Semudah itu Caca memberi kesempatan pada Arkan untuk menemui anaknya? Sedangkan aku, harus berjuang mati-matian untuk meluluhkan hatinya. Hanya dengan menolongnya Caca dan tangannya terluka hatinya sudah luluh begitu saja. Apa yang salah dengan wanita itu? Kata Bari dalam hati. Jujur saja ia sangat kesal dengan apa yang ia lihat.
Bari jadi bingung, apakah ia harus turun atau tidak. Jika ia tak turun, maka Caca akan semakin marah dan susah untuk di bujuk. Jika ia turun, ia takut Caca dan Arumi tak menyambutnya dengan tak baik. Itu sama saja seperti mempermalukan diri sendiri di depan Arkan, pria biadab yang sudah menyiksa istri dan berusaha melenyapkan anak kandungnya yang sekarang sedang butuh pengakuan dari anak kecil itu.
Ah persetan dengan ketakutan ku.
Bari turun dari mobil dengan elegan dan berwibawa. Pandangan mata yang berada di teras mau tak mau beralih padanya. Pada saat inilah kepercayaan diri Bari bertambah seratus persen.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Iya sayang, maafin om yang kemarin tidak datang ya. Jadi om... "
"Om Bari jahat, om Bari bohong sama aku, om Bari nggak sayang aku lagi, aku nggak mau ketemu sama om," teriak Caca hendak menangis lalu berlari ke arah ibunya.
Bari hanya menatap anak itu berlari dan memeluk ibunya. Kakinya hendak melangkah menyusul Caca, namun tangannya di cekal oleh Arkan. Kemudian mereka saling tatap dalam diam, namun dari matanya menyiratkan tatapan yang tajam dan permusuhan.
"Lepas!" ucap Bari pelan namun penuh penekanan.
"Apa kau tuli? Caca tidak ingin bertemu dengan mu. Kenapa masih di sini?"
"Ini bukan rumahmu, tidak ada yang berhak memintaku untuk pergi kecuali pemilik rumah ini. Jangan belagu hanya karena kau dapat izin untuk menemui anakmu."
__ADS_1
"Kenapa? Merasa gagal mempengaruhi Arumi agar anaknya tak bertemu denganku? Aku yakin pasti kau dalang di balik semua ini, pasti kau yang mempengaruhi Arumi agar tak mengizinkan aku untuk bertemu dengan anakku sendiri. Kau punya hak apa atas mereka? Mungkin aku tidak ada hak apapun lagi dengan Arumi, tapi aku masih berhak atas Caca. Dia anakku, darah daging ku. Mau berusaha semua apapun kau untuk memisahkan kami, tidak akan bisa Bari abdul jalil," kata Arkan dengan penuh penekanan saat menyebut nama lengkap Bari.
"Mungkin sekarang aku tidak punya hak apa-apa. Suatu saat nanti jika aku punya hak penuh atas mereka, akan aku pastikan kau tidak kan pernah bertemu dengan Caca."
Arumi membawa masuk Caca karena merasa perdebatan mereka tak pantas jika di dengar oleh anak sekecil itu.
"Kalian ini ada masalah apa? Kenapa meributkan Caca?" sela Arumi setelah kembali dari dalam rumah. "Diantara kalian nggak ada yang berhak atas Caca," Lanjutnya.
"Jelas aku ada Rum. Kamu jangan mau di atur-atur sama Bari, memang dia siapa kamu mau di atur sama dia?"
"Nggak ada yang atur aku Ar, lagipula kamu juga nggak ada hak buat mengingatkan aku mengenai apapun. Kamu di sini hanya karena Caca, tidak lebih. Kamu boleh pergi sekarang, karena Caca juga harus pegi ke masjid. Bisa temui Caca minggu depan."
"Tapi...."
"Silakan pergi."
Arkan menatap Bari dengan tatapan seakan akan ingin membunuhnya. Sementara Bari hanya menampakkan senyum liciknya, seakan memamerkan bahwasanya dirinya menang.
"Sekarang giliran kamu yang pergi Bari," titah Arumi sesaat setelah punggung Arkan sedikit menjauh.
"Aku? Bahkan aku belum bertemu dengan Caca. Aku mau minta maaf Arumi. Beri aku kesempatan untuk bertemu," pinta Bari melas.
"Bukannya kamu sudah bilang kalau kamu akan pergi? Kenapa kembali?"
"Aku tidak bisa tanpa kalian. Selama dua hari aku menahan rindu yang menyiksaku. Aku akui aku salah, maaf," kata Bari lagi yang tentu saja membuat iba pendengarnya.
Hal seperti ini bukanlah hal baru bagi Bari, membuat kesalahan dan meminta maaf dengan memperlihatkan wajah yang menumbuhkan rasa iba bagi pendengar dan siapapun yang melihat. Tapi kali ini Bari melakukannya dengan tulus dan dari hati, ia mengakui kesalahan dan juga berharap timbal balik yang baik untuknya.
__ADS_1
Bersambung