
Begitu sampai di lokasi, nampak dari luar ada dua buah mobil yang terparkir indah di sana. Bari dan Arkan tak langsung masuk ke dalam bangunan kosong itu. Mereka tak ingin gegabah mengambil tindakan.
Setelah sekitar lima menit menunggu agak jauh dari bangunan tersebut, datanglah lima anak buah Bari yang paling kuat. Mereka semua bertubuh kekar dan terlihat garang.
Mereka menyusun strategi terlebih dahulu sebelum mereka masuk ke dalam bangunan tersebut.
"Bawa benda kecil itu kan? Udah lapor polisi juga?" tanya Bari di sesi akhir diskusinya.
"Sudah siap tuan. Polisi sudah siap meluncur ke sini."
"Ya udah masuk!" titah Bari.
Sengaja Bari menyuruh anak buahnya masuk dan mencari keributan di sana. Sedangkan dirinya dan Alvin akan masuk melalui belakang bangunan. Meskipun mereka tak tahu bentuk bangunan tersebut dan dimana letak pintu bagian belakang dan sebagainya, mereka hanya modal nekat, bismillah, dan insting yang mereka rasa kuat untuk menyelamatkan wanita yang berharga di kehidupan kedua pria yang kini sedang mengendap-endap laksana maling.
Langkah demi langkah Bari dan Alvin susuri dengan di temani suara keributan di luar bangunan. Terdengar mereka yang sedang baku hantam dengan satu lawan satu secara bersamaan.
"Bang, itu Arkan bang."
Ternyata tak sulit bagi mereka. Bari yang menemukan lubang kecil namun panjang bisa melihat jelas dimana letak berdiri Arkan dan juga Arumi yang duduk dengan ikatan yang melilit tubuhnya membelakangi Bari dan Alvin.
Wajah amarah seketika menghiasi wajah mereka. Netra mereka memanas melihat Arumi yang nampak lemas tak berdaya.
"Nggak ada waktu lagi Bar. Kita masuk sekarang, mudah-mudahan anak buah kamu sudah selesai dengan anak buah Arkan."
Bari mengangguk dan melanjutkan langkah untuk mencari celah atau jalan mereka masuk. Beberapa langkah menggerakkan kaki, mereka sampai di sebuah lubang yang mereka tebak untuk lubang pintu. Namun entah karena alasan apa hingga saat ini lubang pintu itu dibiarkan menganga begitu saja.
Arkan sibuk melepas tali di tubuh Arumi di saat Bari berdiri membelakangi mereka.
__ADS_1
Sedangkan Alvin menunggu di luar dengan tetap mengawasi situasi Bari dan Arkan. Pria itu akan masuk ketika kedua pria itu sibuk dengan peperangan yang mudah-mudahan saja tanpa senjata. Karena Bari dan Alvin tak membawa bekal apapun selain anak buah Bari.
"Khem." Bari berdehem dengan santainya
"Wow amazing. Tak kusangka kalian cepat juga menemukan kami. Kenapa nggak bawa Caca?"
"Apa kau berpikir akan semudah itu kau mendapatkan Caca? Langkahi dulu mayat ku," kata Bari dengan santai.
"Apa kau sedang menantang ku, Bari?
" Tidak. Aku hanya memberikan peringatan. Kau menganggapnya peringatan atau tidak, itu urusan mu. Lebih baik kembalikan Arumi sekarang, atau anak buahku nanti yang akan menguliti dirimu."
"Hahaha, aku tidak takut. Justru mungkin kau yang akan menemui ajalmu saat ini juga."
Bari melangkah maju satu langkah lebih dekat dengan Arkan. Tatapan maut yang mereka lempar seakan menandakan bahwa pertempuran satu lawan satu pria yang pernah singgah di hati Arumi tak lama lagi segera dimulai.
Pukulan demi pukulan mereka lempar. Bari dan Arkan sudah sama-sama babak belur dalam waktu yang singkat.
Setelah urusan dengan tali selesai, Alvin memasang cadar yang sempat ia bawa. Lalu mengangkat tubuh Arumi dengan tergesa-gesa. Ia harus cepat membawa Arumi ke mobil dan membantu Bari yang sudah entah bagaimana bentuk wajah dan rupanya.
Bari bukan pria yang ahli dalam pergulatan. Bahkan pria itu tak pernah bergulat seheboh ini sebelumnya. Bari tak pernah berhadapan dengan manusia macam Arkan yang hobi bertindak kriminal. Lawan Bari sebelumnya akan bermain cantik dengan taktik dan otak yang cerdas. Bukan dengan tindakan yang bodoh sebodoh mantan suami Arumi.
Alvin melihat enam anak buah Arkan yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Alvin menatap ke lima anak buah Bari yang sama sekali tak tersentuh kulitnya.
Baru saja hendak melayangkan perintah untuk membantu Bari yang masih adu pukul. Mobil polisi sudah datang dengan tanpa sirine. Alvin cepat-cepat membawa Arumi ke mobil dan menghampiri mobil polisi tersebut.
"Pak, teman saya masih berada di dalam dengan si penculik. Itu ada anak buahnya juga yang sudah dilumpuhkan oleh teman saya."
__ADS_1
"Baik Pak. Bapak tenang saja. Biar kami yang melanjutkan."
Ketiga polisi itu kemudian melakukan tugas. Satu diantara mereka mengamankan anak buah Arkan dengan bantuan anak buah Bari, sedangkan dua yang lain masuk ke dalam bangunan untuk menuntaskan Arkan.
"Berhenti!"
Arkan dan Bari refleks menghentikan kegiatan mereka. Nampak wajah biasa saja di wajah Arkan. Sepertinya ia sudah menduga bahwa hal ini pasti akan terjadi.
Tak mau berlama lama, kedua polisi tersebut segera menangkap Arkan yang nampak pasrah. Ada setitik kecurigaan di hati dan pikiran Bari. Kenapa pria itu tidak memberontak atau setidaknya memberikan pembelaan pada dirinya sendiri? Batin Bari bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Jangan pernah mengira kau akan bebas dariku Bari. Kita secara pribadi memang tak ada masalah apapun. Tapi kau mencari masalah denganku ketika kau masuk ke dalam kehidupan Arumi dan membawa pengaruh buruk padanya dan juga anakku. Kau tunggu saja tanggal mainnya, Bari." Di saat dirinya sudah tak memiliki daya dan kekuatan lagi masih sempat-sempatnya mengeluarkan kalimat ancaman.
Arkan diseret pergi setelah mengatakan itu.
"Bar, kamu nggak apa-apa kan? Kita pergi dari sini. Kita ke rumah sakit."
"Arumi bagaimana bang?" Disaat dirinya sendiri sudah babak belur dan terlihat ada luka di perutnya masih saja menanyakan Arumi.
"Ini perut kamu?" Alvin tak mengindahkan pertanyaan Bari. Di saat dirinya membawa tangan Bari ke pundaknya untuk di papah, ia sekelebat melihat perut Bari yang terluka.
"Nggak apa-apa bang. Tadi kegores pisaunya."
"Arkan bawa senjata tajam," pekik Alvin seakan terkejut dan tak percaya.
"Arumi gimana bang? Dari tadi aku tanya nggak dijawab." Bari kembali bertanya.
"Arumi baik, hanya saja dia msih lemas. Sudah aku beri minum dan roti yang sempat kita beli tadi."
__ADS_1
Bari melangkah dengan bantuan Alvin seraya meringis kesakitan. Sangat bohong jika dirinya mengatakan tak apa-apa. Luka yang di perutnya memang lah tak dalam. Namun panjang luka yang kira-kira lima belas centi meter itu nyatanya mampu membuat dirinya merasakan kepedihan. Di tambah lagi dengan wajah yang penuh luka. Sudut bibir, dahi, hidung dan juga pasti lebam di pipi kanan kiri.
Bersambung