
Kini Bari dan Arumi sedang berada dalam kamar. Tidak ada perbincangan sejak insiden tadi di taman. Bari tak henti-hentinya minta maaf meski tak di gubris oleh Arumi.
"Mas, aku tahu kamu pasti kesal dan bingung dengan sikap Caca yang aku sendiri baru kali ini melihat Caca seperti itu. Caca masih terlalu kecil untuk menerima bentakan. Tegas dan membentak itu beda mas. Tolong mas, kalau merasakan masih belum bisa jaga emosi, jangan dekati Caca kalau kalau merasa ada sesuatu sama dia."
"Sayang, aku khilaf. Semua manusia pasti punya salah kan, pasti pernah khilaf. Aku akan berusaha untuk tidak seperti itu lagi. Please sayang, udah ya aku minta maaf. Caca udah marah sama aku, tolong jangan marah sama aku juga," ujar Bari melas.
"Aku nggak marah sama kamu mas, aku hanya ngasih tahu. Nanti biar aku yang ngomong sama Caca juga ya. Udah kita turun, kita makan," ajak Arumi menggandeng suaminya.
Mereka turun berdua dengan tangan Arumi yang masih melingkar di lengan Bari. Dari lantai bawah, Widya menatap tak suka dan terlihat kesal. Apa yang ia pikirkan justru terbalik dengan apa yang ia lihat.
Kok malah mesra sih? Bukannya berantem malah pamer kemesraan. Sialan! Batin Widya kesal.
"Caca, lihat deh, ayah sama bunda turun. Kamu mau sarapan di meja makan bareng mereka? Eh tapi tunggu, kok bunda nggak marah ya sama ayah? Apa jangan-jangan, bunda nggak marahin ayah ya? Kan ayah udah bentak kamu tadi. Jangan-jangan bunda udah nggak sayang sama Caca juga."
Widya masih berusaha untuk memporak-porandakan keluarga kecil yang baru saja di mulai. Entah sejak kapan pikiran-pikiran jahat menggelayut di kepala Widya. Awalnya gadis itu hanya mengagumi sosok Bari yang jika ia lihat, ja sangat menyanyangi Arumi dan juga anak tirinya. Dimana hal itu sangat langka dan tidak semua janda bisa mendapatkan sosok Bari.
Karena keseringan melihat perlakuan Bari pada anak istrinya, diam-diam rasa kagum semakin menumpuk dan menggunung. Lama-lama rasa itu sudah tak lagi rasa kagum, tapi rasa ingin memiliki.
Bisikan setan yang terus terngiang-ngiang nyatanya berhasil membuat sifat Widya berubah. Apalagi ia tahu jika Bari dahulu adalah pria yang suka mengoleksi wanita, Widya berpikir jika Bari seperti itu, pasti ia bisa membuat Bari berpaling dari istrinya. Tak apa jika hanya menjadi wanita simpanan, yang penting kehidupannya terjamin. Sungguh ia sangat bosan dengan keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan.
Arumi berjalan mendekati anaknya yang duduk beralaskan karpet di depan TV. Lalu ia duduk di samping anaknya. Sementara Bari duduk di meja makan terlebih dahulu dengan pandangan yang tak lepas dari kedua wanita yang tiga bulan ini sudah menemani dirinya.
__ADS_1
"Sayangnya bunda sama ayah makan di sini? Gabung sama ayah bunda di meja makan yuk!" ajak Arumi dengan lembut.
"Nggak mau," jawab Caca ketus.
"Caca sejak kapan ngomongnya jadi ketus sama bunda? Menurut Caca bicara begitu salah apa benar?"
"Salah, aku nggak mau makan bareng kalian, aku mau makan di sini aja sama mbak Widya sambil main." Caca masih memfokuskan matanya pada layar yang menyala di depannya.
"Tadi ayah udah minta maaf kan sama Caca? Bunda pernah bilang apa sama Caca dulu? Caca lupa? Mau bunda ingatkan?"
"Aku masih ingat." Caca masih tak mau melihat ibunya.
"Caca, lagi ngomong sama siapa sih? Sama TV ya? Kok ngadepnya ke TV terus? Bunda pernah ngajarin kayak gini emang? Sopan ya yang Caca lakuin ke bunda sekarang?"
Sepasang mata yang sedikit jauh dari sana hanya memperhatikan dengan hangat. Dahulu ia sangat mengerti soal Caca, seakan ia lebih berpengalaman dari pada ibunya dan sekarang kenyataan berbanding terbalik. Ia msih belum memahami Caca dengan baik dan benar.
Bari masih setia duduk di sana tanpa mengambil makanan apapun, ia masih menunggu istrinya yang barangkali bisa membujuk sang anak untuk sarapan bersama.
"Ya udah, Caca makan habis itu boleh main sama mbak Widya. Tapi bunda mau kasih tahu Caca sebentar. Caca lain kali nggak boleh bicara seperti itu sama siapapun ya sayang, nggak boleh bicara ketus. Nggak boleh ngomong teriak ke ayah kayak tadi pagi. Ayah nggak sengaja marah ke Caca, itu artinya ayah sayang sama Caca. Ayah nggak mau kalau Caca jauh-jauh dari ayah. Dari kemarin kan Caca kayak ngejauh dari ayah sama bunda. Caca juga banyak diam nggak kayak biasanya. Ayah nggak bermaksud untuk bentak Caca tadi. Ayah di maafin kan?"
"Iya."
__ADS_1
Arumi hanya menghela nafas dalam-dalam. Ia tahu Caca pasti sedih sekaligus kesal karena di bentak. Ia tak pernah mendengar bentakan dari siapapun. Bari adalah orang pertama yang melakukan itu, wajar jika ia merasa Bari tak sayang lagi padanya. Karena sebelumnya Bari lah orang yang bisa membuat anak itu bahagia dan merasa punya ayah.
"Bunda makan sama ayah ya."
Caca hanya mengangguk.
Wanita itu beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke meja makan. Nempak suaminya yang menatapnya dengan harap-harap cemas. Wajahnya mempertanyakan kenapa dirinya sendirian berjalan ke meja makan.
"Caca nggak mau makan bareng kita?" Pertanyaan itu langsung terlontar begitu saja saat Arumi sampai di meja makan.
"Sudah mau habis mas makanannya, habis makan mau makan sama Widya katanya. Jangan dipikirkan mas, ini hal sepele, kamu kan tahu Caca nggak bisa marah lama sama orang," jawab Arumi menyendokkan nasi ke dalam piring.
"Gimana aku nggak kepikiran? Kamu juga dengar kan teriakan Caca? Dia ngira aku udah nggak sayang sama dia, dan aku nggak mau kalau anakku ngomong begitu, mana ada ayah nggak sayang sama anaknya."
"Namanya juga anak kecil mas, dia nggak pernah di bentak. Sekali di bentak ya pasti berpikir begitu. Udah ya, jangan dipikir lagi, nanti akan baik sendiri. Kamu mau lauk apa?" tanya Arumi sengaja mengalihkan obrolan.
*
Sepanjang hari sabtu yang seharusnya ia gunakan untuk mengajak anak istrinya jalan-jalan hancur sudah. Bari sepanjang hari ini tak menyerah untuk mendapatkan kembali senyum Caca untuknya. Ia sampai sedikit menghiraukan istrinya sendiri.
Bari tak mau jika statusnya itu menjadi momok bagi Caca. Biar bagaimanapun dan sesayang apapaun dirinya pada Caca, anak itu tetap paham bahwa dirinya dan Bari hanyalah hubungan tiri, bukan kandung.
__ADS_1
Setelah sepanjang hari berusaha, akhirnya Caca kembali melunak setelah makan malam. Anak itu sudah sedikit mencair, hal itu dapat di lihat dari tawanya yang sudah mulai menghiasi bibirnya.
Bersambung