
"Ya kalau lo mau bebas cepat, seengaknya lo harus berkepribadian baik di sini. Lo dari dulu gegabah, sama kayak ibu. Apa-apa nggak mikir panjang. Masih untung Arumi nggak membeberkan kelakuan lo pas masih jadi suaminya. Kdrt juga bisa memperpanjang masa lo di penjara."
Arkan yang dikenai sanksi penjara tiga tahun itu masih saja berusaha untuk membujuk saudara kembarnya agar bisa di beri keringanan. Tiga tahun bukah waktu yang singkat bagi siapapun yang menghabiskan waktu di penjara.
"Ya setidaknya jadiin gue tahanan kota San." Arkan masih kekeh dengan permohonannya.
"Udah gue bilang nggak bisa. Udah ah gue balik, masih banyak urusan gue Ar, masih banyak kasus yang gue harus urus."
"San, seengaknya lo bisa balas dendam buat gue."
"Lo nyuruh gue buat bujuk Arumi aja ogah. Ini lagi lo suruh balas dendam buat lo. Kagak!" jawab Aksan dengan mantap.
"Gue nggak mau ada urusan lagi sama dia. Gue juga mau lo sama ibu juga begitu. Kalau lo merasa sakit hati sama perlakuan Arumi, ya sudah, jangan berurusan lagi sama dia. Nggak usah nuntut hak lo buat diakui ayah sama anak lo. Biar bagaimanapun, dimata mereka lo tetaplah salah. Mau berubah kayak gimana juga akan tetap salah."
"Terus gue harus gimana? Lo nggak sakit hati saudara lo dipenjara."
"Itu sebabnya gue nggak mau lagi ada keluarga gue yang berurusan sama keluarga mereka. Kalau lo kangen anak lo, ya udah lihat dari jauh aja. Gue tahu ini sulit, tapi ada ganjaran di setiap perbuatan."
"Nasib bini gue gimana kalau gue di sini? Ibu selalu menghujani Dinda dengan kata-katanya yang menyakitkan."
"Pasti bisa, buktinya dia bisa bertahan sampai sini kan?"
"Ya karena ada gue San."
Inilah salah satu alasan Arkan tak ingin berlama-lama di sel. Bagaimana dengan nasib istrinya yang pasti akan terus dihantui dengan kata-kata ibunya sendiri.
"Ya udah gue balik ya. Lo ikutin saran gue tadi kalau lo mau di sini kurang dari tiga tahun dan please nggak usah cari masalah lagi sama Arumi. Dua minggu yang lalu mereka sudah tunangan dan itu artinya Bari akan jadi tameng buat Arumi sama anak lo. Nggak usah main-main sama mereka."
"Lihat nanti."
Arkan sudah merasa buntu, tak tahu lagi apa yang akan ia lakukan jika keluar dari tempat terpenjara ini. Di sisi lain, apa yang dikatakan Aksan adalah hal yang benar. Ia tak mungkin bisa mendapatkan kembali kepercayaan Arumi hanya untuk sekedar menemui Caca. Atau bahkan anak itu sudah membencinya karena sudah menculik ibunya. Apa mengikhlaskan segalanya dan pergi dari kehidupan anaknya adalah keputusan yang tepat?
*
Hal yang berbeda di rasakan Bari. Pernikahan yang tinggal menghitung minggu menjadi penyemangat Bari akhir-akhir ini. Ya, pernikahan mereka akan di langsungkan satu bulan lagi. Beberapa persiapan sudah ia lakukan untuk membuat pesta pernikahan mewah dan meriah.
__ADS_1
Sebenarnya Arumi tak ingin mengadakan pesta yang terlalu mewah. Mengingat dirinya yang seorang janda membuat dirinya insecure dengan rekan bisnis dan juga teman-teman Bari nantinya. Ia merasa tak sepadan dengan mereka.
"Istri seorang Bari nggak boleh berpikiran se sempit itu. Banyak hal yang bisa kamu banggakan ke mereka Rum. Kamu seorang perempuan kuat dan tangguh, kamu dokter, kami perempuan hebat. Kalau kamu ceritakan kisah hidup kamu ke mereka, pasti mereka akan kagum. Aku aja bangga sama kamu, kok kamunya mikir begitu," tukas Bari saat mereka sedang membicarakan perihal konsep pernikahan.
Seperti pasangan pada umumnya, pasti akan ada perdebatan diantara keduanya perihal hari jadi mereka yang akan dikenang sepanjang masa. Hal-hal kecil pun tak luput dari perdebatan. Karena keduanya menginginkan hal yang berbeda. Bari ingin mewah, sedangkan Arumi ingin sederhana yang penting sah dan berkesan.
"Nggak, ini gaun akan terlalu kecil jika kamu pakai Rum. Akan kelihatan lekuk tubuh kamu nanti. Aku nggak mau." Bari melihat gaun yang diinginkan istrinya, namun saat melihat gaun tersebut, Bari merasakan ini gaun itu sangat pas di tubuh Arumi.
"Ya kamu maunya gimana sih Bar? Namanya juga pesta pernikahan, pasti gaunnya akan pas di badan. Yang mau nikah pakai mewah-mewahan siapa? Kamu sendiri kan? Ya udah ini nyaman juga di badan aku Bari," protes Arumi sedikit kesal.
"Aku nggak mau ada orang lain yang lihat lekukan tubuh kamu."
"Bari, pernikahan kita sudah dekat dan nggak mungkin kita menghabiskan waktu hanya untuk gaun," ucap Arumi dengan nada lemah lembutnya. "Lagi pula hanya untuk sehari kan? Kamu ingin pernikahan kita diundur karena perkara gaun. Hari cepat berlalu, mana mungkin desainernya bisa menyelesaikan ini dalam waktu kurang dari satu bulan?" Imbuhnya.
Sengaja Arumi merayu Bari agar semuanya bisa segera selesai dan bisa istirahat. Ia sudah merasa lelah karena akhir-akhir ini membagi waktu untuk bekerja dan juga mengurus pernikahan.
"Ya udah," jawab Bari setelah menghembuskan nafas panjangnya.
Setelah selesai dengan fitting baju, mereka memutuskan untuk langsung pulang karena hari sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Rum," panggil Bari melajukan mobilnya.
"Kamu maunya rumah seperti apa kalau kita sudah menikah nanti? Sebenarnya aku ada sih rumah yang udah jadi. Tapi aku takutnya nanti nggak sesuai sama selera kamu."
"Kemanapun pun kamu pergi aku akan ikut jika sudah menikah. Aku tidak mementingkan harta benda yang kamu punya. Mau tinggal di gubug sekalipun kalau cinta kamu buat aku sama Caca masih utuh, aku nggak masalah. Mau tinggal di rumah yang bagaimanapun aku mau."
"Alhamdulillah kalau begitu. Aku boleh minta satu hal Rum?"
"Apa? Asal nggak aneh-aneh aja ya."
"Aku mau kamu panggil aku mas kayak malam kita lamaran."
"Kenapa?"
"Ya biar romantis aja gitu."
__ADS_1
"Ya udah iya. Mas Bari, begitu kan?"
Bari seketika mengatupkan mulutnya menahan senyum-senyum salah tingkah. Bari seperti tak mengenal dirinya sendiri akhi-akhir ini, ia merasa tak pernah seperti ini sebelumnya.
"Oh ya, kamu mau bulan madu kemana nanti?"
Arumi diam. Entah sedang tak fokus atau tak mendengar pertanyaan Bari.
"Arumi." Sekali lagi Bari memanggilnya lebih keras.
Masih tak ada jawaban.
"Arumi, kamu bisa dengar aku?"
"Ha, iya ada apa? Kita sudah sampai?" tanya Arumi gelagapan.
"Belum, lagi mikir apa sih kamu? Dari tadi aku panggil nggak nyahut."
"Nggak kok, nggak mikir apa-apa."
"Rum, selangkah lagi kita akan jadi suami istri. Aku nggak mau ada privasi apapaun. Aku mau kita terbuka dalam segala hal, jangan menyembunyikan apapun, nggak akan baik untuk hubungan kita. Apapun yang jadi beban kamu, harus kamu bagi ke aku juga. Biar semua menjadi ringan. Jangan pernah kamu berpikir apa yang menjadi beban kamu, akan jadi beban aku juga dan kamu nggak mau aku kepikiran apa masalah kamu. Itu bukan pilihan yang tepat."
"Mungkin ke depannya akan banyak masalah yang berakar dari masa lalu ku. Aku hanya takut saja."
"Takut apa?"
"Lambat laun Caca akan dewasa dan mengerti dengan permasalahan orang tuanya. Dia juga pasti akan tahu ayahnya pernah menculik ibunya dan pernah tinggal di sel. Aku takut kalau di kemudian hari Arkan kembali datang dan merusak kebahagiaan yang kita ciptakan untuknya."
"Apa perlu kita pergi dari sini? Tinggal di luar negeri?"
"Aku nggak bisa jauh dari ibu. Lagipula ibu kita hanya punya dua anak. Kasian kalau mereka harus kita tinggal kan?"
"Kalau begitu ya kamu harus berpikir positif, jangan mikir yang nggak-nggak. Kalaupun nanti itu terjadi, kita hadapi sama-sama. Kita berdoa mudah-mudahan Tuhan kasih hidayah biar cepat taubat. Dan ya, selagi ada aku, kamu harus tetap tenang. Kamu sudah pernah melewati masa ini jauh lebih pahit dan menyakitkan sendirian. Sekarang ada aku, pasti akan jauh lebih kuat."
Arumi mengangguk pelan.
__ADS_1
"Udah dong sedihnya, kita belum menikah, aku nggak bisa peluk kamu," goda Bari yang sukses membuat Arumi kembali tersenyum kecil.
Bersambung