Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 39


__ADS_3

Kini tinggal Bari dan Arumi yang masih tersisa di teras. Mereka saling diam entah memikirkan apa.


"Kok kamu bisa jemput Caca?" tanya Arumi memecah keheningan.


"Itu nggak penting Arumi. Yang lebih penting itu ngapain mantan suami kamu ke sini? Ada urusan apa?"


"Nggak apa-apa kok. Cuman minta maaf aja."


"Dia tahu Caca anaknya?"


Arumi hanya mengangguk pelan.


"Terus?"


"Apanya?"


"Ya nggak mungkin dia tahu kalau Caca anaknya dan nggak melakukan apapun. Maksudnya apa dia ingin mengambil Caca?"


"Nggak. Cuman mau ketemu aja tadi sebenarnya. Tapi aku nggak kasih ijin. Lagian kenapa sih? Mau tahu banget urusan orang."


"Nggak gitu sayang. Eh sorry, Rum maksudnya."


Ada yang aneh dengan Arumi saat Bari salah panggil. Namun sebisa mungkin ia berusaha menampilkan gaya tubuh yang biasa saja.


"Dasar pemain, belum apa-apa panggil sayang," gumam Arumi untuk menutupi rasa gugupnya lalu berjalan masuk ke rumah.


"Kamu ngapain ngikutin aku?" tanya Arumi galak saat menyadari Bari mengikuti langkahnya.


"Mau pamit sama ibu, mau kerja lagi. Ge er banget jadi orang," balas Bari tak kalah sengit.


"Nggak usah. Pergi sana, biar aku nanti yang bilang sama ibu kalau kamu balik kerja. Lagian ada nggak adanya kamu juga nggak penting buat ibu."

__ADS_1


"Nggak sopan dong. Sekarang masih nggak penting, suatu saat nanti kehadiran aku akan penting buat kalian."


Bari tak mengindahkan lagi kata-kata Arumi, ia langsung saja masuk rumah dan memanggil ibu Arumi. Setelah mengitari rumah, akhirnya Bari menemukan ibu Arumi yang sedang berada di dapur.


"Bu, Caca ke mana?" Entah kenapa justru pertanyaan itu yang muncul dari mulut Bari.


"Ada di kamar. Sengaja ibu suruh di kamar dulu tadi sama mainan hapenya Arumi. Kenapa?"


"Mantan suaminya Arumi kenapa ke sini bu?" Merasa tak puas dengan jawaban dari Arumi, ia mengorek informasi dari ibu Arumi. Nampaknya Bari benar-benar takut jika Caca akan di ambil oleh ayah kandungnya.


Bari hanya berpikir realita saja. Arkan tak akan bisa memiliki anak dengan istrinya yang sekarang, sebagai sama-sama seorang pria tak mungkin Arkan hanya akan diam dan rela hidup tanpa keturunan sampai akhir hayat. Mungkin saja sekarang masih bisa mengatakan itu, tapi lambat laun memiliki seorang anak pasti akan hadir di benak hati mereka.


Bari takut jika hal itu dapat memicu Arkan untuk mengambil paksa Caca dari tangan Arumi. Sudah pasti ia tak terima jika Caca diambil olehnya, karena itu pasti akan berdampak pada wanita yang ia cintai.


"Oh, dia mau minta maaf sama Arumi atas apa yang terjadi dahulu. Dan dia juga memastikan kalau anak yang bersama Arumi sekarang adalah anaknya. Tadi sempat minta ijin ke kita buat ketemu dan bilang kalau dia ayahnya. Tapi Arumi dengan keras dan tegas menolak. Memangnya kenapa?" tanya balik ibu Arumi.


Ibu Arumi sudah terbuka dengan Bari, melihat sikapnya yang baik pada cucu dan anaknya membuat ibu Arumi merasa bahwasanya Bari tulus pada mereka. Meskipun ibu Arumi tahu masa lalu Bari dari ibunya.


"Nggak. Sama sekali nggak bahas itu kok tadi. Bagaimana bisa kamu berpikir sejauh itu?"


"Sebenarnya saya itu nyuruh orang buat cari tahu soal Arkan bu. Informasi yang saya dapat, istrinya Arkan baru saja keguguran dan rahimnya juga diangkat. Saya takutnya Caca diambil sama mereka. Kita berpikir realita saja bu, Caca adalah satu-satunya darah daging Arkan. Besar kemungkinan hal itu akan terjadi entah cepat atau lambat."


"Jangan khawatir, nggak perlu suudzon. Kita berdoa saja untuk keselamatan Caca dan Arumi. Mudah-mudahan apa yang kamu takutkan tidak akan terjadi. Terima kasih sudah mengkhawatirkan anak cucu ibu se khawatir ini Bar."


"Bu, saya melakukan ini hanya untuk kalian. Saya sungguh-sungguh dengan Arumi. Tapi entahlah, sepertinya hati Arumi memang masih beku. Mungkin memang ini hukuman atas dosa saya di masa lalu. Besar harapan saya untuk bisa masuk ke keluarga ibu, saya juga nggak tahu kenapa rasa sayang sama Arumi dan Caca terus saja tumbuh tanpa bisa saya kendalikan."


Bari akhirnya mengutarakan isi dan keluhan hatinya. Di satu sisi ia mungkin sudah lelah dengan perjuangan yang tak terlalu dilihat Arumi. Tapi di sisi lain, hatinya sudah terlanjur terpaut di hati wanita itu beserta anaknya.


Tanpa mereka sadari, Arumi yang baru saja hendak masuk dapur mendengar obrolan ibunya dan Bari. Wanita itu hanya mendengar ucapan Bari yang mengungkapkan keluhannya.


Terbesit rasa bersalah pada pria yang beberapa bulan ini berusaha mendekatinya. Tapi hati Arumi sungguh masih belum siap jika harus kembali berhubungan dengan pria lain.

__ADS_1


*


"Loh ibu kok ke sini nggak bilang?" tanya Arkan saat baru saja sampai rumah dan melihat ibunya yang duduk di teras.


"Dari mana? Jadi ke rumah Arumi dan melakukan hal konyol? Bagaimana tanggapan Arumi dan keluarganya?" tanya ibu Arkan dengan nada tak bersahabat dan tangan yang beliau silangkan di depan dada.


"Tindakan kami bukan hal konyol bu. Memang terlihat memalukan, tapi itu jauh lebih baik dibandingkan kita tidak melakukan apapun," balas Arkan kesal.


"Terserah. Terus rencana kalian selanjutnya apa?"


"Rencana apa? Ya nggak ada, kami akan melanjutkan hidup seperti biasa. Memang apa lagi yang kami inginkan?"


"Kenapa nggak kalian ambil saja anak Arumi? Dengar ya Arkan. Anak yang sekarang bersama dengan Arumi adalah anak kamu. Darah daging kamu, kamu ambil dia, kan kamu udah nggak bisa punya anak. Ibu suruh nikah lagi juga kamu nggak mau. Jadi ya jalan satu-satunya harus kamu ambil itu anak Arumi. Dia kan subur, ntar kalau udah nikah juga bisa hamil lagi, nggak kayak istrimu ini."


"Ibu sadar bu. Ya ampun ibu, saran apa yang ibu kasih ke aku. Untuk ketemu sama anaknya aja aku nggak boleh. Gimana mau ambil paksa. Lagian dulu kan aku nggak nerima dia hamil, aku yang menolak kehamilannya kala itu. Aku juga nggak mengakuinya, bagaimana mungkin dengan mudahnya Arumi bisa menyerahkan anak yang selama ini dia rawat sendirian. Ibu juga nggak perlu bawa-bawa kondisi Dinda bu. Sudah berapa kali aku katakan, nggak usah bahas hal yang menyakitkan."


"Ambil paksa Arkan. Kalau nggak bisa dengan cara halus yang kasar. Kamu juga berhak atas anak kamu. Dulu kita nggak mengakuinya karena memang kita nggak tahu kalau anak itu anak kamu. Kalau nggak mau ambil paksa ya nikah lagi. Ibu nggak mau tahu, kamu harus kasih cucu buat ibu. Darah daging kamu sendiri, bukan adopsi," ucap Ibu Arkan lantang lalu meninggalkan anak menantunya.


Dinda yang sejak tadi berusaha menahan tangis akhirnya pecah begitu saja sesaat setelah ibu mertuanya pergi.


Sangat buruk nasibnya setelah menikah, meskipun pisah rumah, seakan-akan ibu mertuanya itu terus saja menghantui dirinya dengan kata-kata tajam. Semakin ke sini hidupnya semakin sengsara.


"Lebih baik kamu menikah lagi mas. aku nggak apa-apa di madu, asal ibu bahagia, biar aku juga nggak di hina terus sama ibu kamu."


"Nggak mungkin aku melakukan itu Din. Aku nggak mau nyakitin kamu. Udahlah, jangan dengerin apa kata ibu. Anggap saja angin lalu."


"Tapi lama-lama aku bisa gila mas kalau aku terus terusan di hina begitu."


Arkan berada di pilihan yang sulit. Ia bagaikan berdiri di jalan setapak yang dikelilingi oleh jurang. Kemanapun ia melangkah pasti akan jatuh juga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2