
3 tahun kemudian
"Damar, jangan lari sayang," teriak Arumi mengejar anak balitanya yang sedang berlari mengelilingi taman.
Bruk!
Yang benar saja, anak laki-laki Bari yang berusia dua tahun itu tak sengaja menabrak seseorang. Pria yang di tabrak Damar lalu berjongkok, ia menggendong seorang anak bayi yang berusia sekitar enam bulan. Baru saja hendak beucap, Arumi datang dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan, lalu di susul Bari dan Caca yang kini sudah berusia delapan tahun.
"Maaf, anak saya mengganggu anda?" tanya Arumi seraya menggendong anaknya.
"Arumi," ujar wanita yang bersama dengan pria itu.
Mereka sama-sama terkejut, pasalnya sudah lama mereka tak bertemu. Setelah sepersekian menit berlalu begitu saja, meraka berpelukan melepas kerinduan.
"Dinda, kita sangat lama tidak bertemu, kamu kemana saja nggak pernah main ke rumah? Nomor mu juga tidak bisa dihubungi," tanya Arumi yang tak mempedulikan para pria di sekelilingnya.
"Maaf Rum, aku aku hanya menuruti apa kata mas Arkan, dia nggak mau kalau aku terus berhubungan sama kamu. Bukan apa-apa, dia takut kalau udah bebas nanti malah keinget Caca kalau kita dekat. Itu sebabnya aku menghilang. Tapi ternyata takdir mempertemukan kita lagi," ujar Dinda berkaca-kaca.
"Kau sudah bebas?" tanya Bari dengan tatapan yang masih tersirat kebencian.
Hal berbeda di tunjukkan oleh Arkan, ia nampak biasa saja dan bahkan sedikit melengkungkan bibirnya. Ia banyak belajar dari apa yang sudah menimpanya, banyak pengalaman dan hal baik yang ia dapat selama di rumah tahanan.
"Sudah. Dari delapan bulan lalu, alhamdulillah bisa bebas dengan cepat."
__ADS_1
Bari hanya mengangguk saja.
"Oh ya, aku minta maaf untuk semunya. Aku sadar aku sudah salah dan berdosa. Aku sudah menerima konsekuensi atas apa yang sudah aku perbuat. Dan aku berharap, masih ada maaf buat aku."
"Lupakan Ar, aku sudah mendengar banyak hal dari Dinda. Awal-awal kamu di penjara, Dinda dekat denganku. Akan selalu ada maaf untuk siapapun yang berbuat kesalahan, menyadari, lalu merubahnya."
"Terima kasih Rum."
"Ini anak adopsi kalian?" tanya Arumi mengalihkan topik.
"Ah iya. Ini kami mengadopsinya sejak dia masih berusia sepuluh hari. Dan usianya sekarang sudah enam bulan. Namanya Felisa," jelas Arkan.
Mata Arkan beralih pada anak kecil yang wajahnya seperti foto copi dirinya. Ingin sekali rasanya hati memeluk anaknya itu, namun ia berusaha untuk menahan dan menekan perasaannya agar tak timbul masalah baru.
Dinda yang mengerti perasaan suaminya, lalu memberikannya kode untuk pergi saja. Ia tak tega melihat suaminya yang pasti tenggelam dalam rasa rindu yang membuncah.
"Oh iya, hati-hati ya. Oh ya Arkan, Dinda, kalau kalian ingin main ke rumah, pintu akan selalu terbuka lebar. Dan aku juga sudah memberikan izin, kalau seandainya ingin ketemu dengan Caca sewaktu-waktu nggak apa-apa. Tapi untuk mengatakan yang sebenarnya aku harap kamu mengerti, usia Caca masih delapan tahun. Belum waktunya untuk tahu kenyataan. Jadi datanglah sebagai teman."
Tentu saja Arkan senang bukan main. Ia sangat berterima kasih pada mantan istrinya itu. Saking senangnya, ia hampir saja menitikkan air matanya. Arkan sempat menyunggingkan senyumnya sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Sayang, kamu apa-apaan sih, kok jadi ngizinin Arkan ketemu sama Caca?" protes Bari.
"Mas, kamu kan juga dengar sendiri dari Dinda bagaimana perubahan Arkan. Dan kamu juga tahu sendiri tadi bagaimana Arkan membuktikan perubahannya. Aku rasa di benar-benar berubah, mas. Jangan berprasangka buruk sama orang."
__ADS_1
"Ya udah terserah kamu aja lah." Akhirnya pria itu pasrah meskipun sebenarnya hatinya berat.
"Om tadi yang pernah nyulik bunda bukan sih, bun?"
"Iya sayang. Tapi nggak apa-apa, om Arkan udah baik kok, nggak jahat lagi kayak dulu. Nggak usah takut ya."
"Nggak takut sih, bun. Biasa aja."
*
Hari terus berlalu, hari ini adalah hari ulang tahun Caca yang ke delapan tahun. Seperti hari ulang tahun sebelumnya, ke dua orang tuanya selalu merayakan hari jadi Caca dengan meriah dan wah.
Saat acara akan di mulai, anak kecil itu di kejutkan dengan kedatangan Arkan dan keluarga kecilnya. Meskipun dalam hati bertanya-tanya, ia berusaha untuk tak mau memikirkannya. Yang Caca tahu, mereka adalah teman-teman ibunya yang pernah jahat. Meskipun ia masih ingat betul, tiga tahun yang lalu ada yang mengatakan bahwa Arkan adalah ayah kandungnya. Ia tak ambil pusing, ia hanya tahu Bari lah orang yang mengerti dirinya. Untuk urusan yang lain Caca tak mau memikirkannya.
"Selamat ulang tahun ya kak, nudah-mudahan Caca jadi anak sholehah, jadi anak yang baik, kakak yang baik, pokoknya semuanya yang baik-baik. Ini ada kado dari adek Felisa, mudah-mudahan suka," ujar Arkan.
"Terima kasih om, terima kadih adek Felisa."
Acara berlanjut dengan bermain dan bersenang-senang. Bari untuk sejenak melupakan kekesalannya pada Arkan. Ia tak mau merusak acara spesial anaknya. Mereka bergurau bersama, mengambil foto dan bertukar cerita.
TAMAT
Terima kasih untuk yang sudah mengikuti Bari dan Arumi dari awal hingga akhir. Untuk yang merelakan jempolnya kehilangan sedikit tenaga karena menekan icon like, terima kasih sekali. Untuk yang baca saja dan mungkin kelupaan like, masih ditunggu di novel selanjutnya😆. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam hal penulisan, tata bahasa dan kekurangan lainnya.
__ADS_1
Salam sayang dan sehat untuk kalian semua. InsyaAllah akan rilis bulan depan jangan lupa mampir 😊