
"Ca, ini dari om Bari. Om Bari sudah pulang, kamu sih nggak mau di temuin. Jadi pulang dan nitip ini buat kamu," kata ibu Arumi duduk di ranjang cucunya yang sedang menyiapkan keperluan mengaji.
Caca hanya melirik tas paper bag berwarna pink yang cantik. Sebenarnya ia kepo, penasaran ingin tahu apa yang ada di dalam tas tersebut tapi di sisi lain ia masih kesal dengan Bari.
"Nggak mau," jawab Caca cemberut.
"Nggak boleh gitu dong nak, kita harus menghargai pemberian orang. Om Bari tadi udah bilang ke oma. Katanya, mau minta maaf sama kamu, tapi kamunya nggak mau ketemu katanya. Sayang, kalau ada yang salah sama kita, dan dia mau minta maaf itu artinya dia mengakui kesalahan kita harus memaafkan selagi kesalahan itu tidak besar."
"Om Bari lupa sama aku, udah nggak sayang aku. Aku sebel," rengek Caca.
"Nggak lupa Ca, hape om Bari hilang, lupa naruhnya dimana, mangkanya kan nggak bisa dihubungi kan hapenya mati."
"Nggak usah maksa Caca bu. Dia nggak mau, ibu kembalikan saja," sela Arumi.
"Ya sudah oma kembalikan saja besok kalau kamu nggak mau terima." Ibu Arumi lalu beranjak pergi dari kamar cucunya.
Hal itu membuat Caca mengalihkan perhatian pada benda yang berada di tangan kanan omanya. Caca tetaplah anak kecil yang akan senang jika diberi hadiah meskipun ia sedang marah dengan orang itu.
Rasa kesalnya yang masih menyeruak tak dapat mengalahkan rasa sayang yang diam-diam sudah mulai tumbuh di hati anak itu. Sebenarnya bukan hadiah yang inginkan Caca, ia ingin Bari yang berusaha membujuk dan merayunya dengan kata-kata agar ia tak merajuk lagi.
"Emang itu isinya apa oma?" tanya Caca ketika omanya sampai di ambang pintu.
"Nggak tahu, oma juga belum buka. Caca mau lihat?"
Caca hanya mengangguk. Hal itu membuat Arumi bingung yang ia tampilkan dari ekspresi wajahnya.
Ibu Arumi kembali duduk di ranjang empuk sang cucu. Dengan semangat yang tiba-tiba saja muncul di diri Caca, anak itu mengambil salah satu benda yang terdapat di tas tersebut.
__ADS_1
Ekspresi yang sumringah seketika ia perlihatkan. Dua buah boneka hello kitty dan juga doraemon berukuran kecil, dua jilbab berwarna pink dan peach, buku dongeng anak islami. Dan juga beberapa camilan kesukaan Caca.
"Banyak banget yang dikasih om Bari, kok dia tahu semua kesukaan kamu?" tanya ibu Arumi.
"Iya, om Bari suka tanya-tanya kesukaan bunda apa, kesukaan aku apa, kesukaan oma apa. Semuanya ditanyain sama om Bari. Tapi om Bari cuman nanya doang. Nggak pernah beliin apa-apa bunda sama oma."
Pengakuan dari anak kecil berusia lima tahun itu membuat kedua wanita yang bersamanya sedikit terkejut. Ibu dan anak itu jadi saling pandang entah dengan tatapan yang menyiratkan apa.
Rupanya Bari seniat itu ingin dekat dengan ku, menanyakan hal yang terkecil sekalipun. Batin Arumi.
"Udah Caca, ayo ke masjid," ajak Arumi. Entah kenapa wanita itu sedikit kesal setelah pria itu menghilang selama dau hari. Meskipun sekarang ia tahu alasannya, rasa kesal masih menjalar di hatinya. Ia sendiri tak tahu kenapa bisa begitu.
"Tapi aku masih marah sama om Bari," ucap Caca tak mengindahkan ajakan ibunya.
"Kenapa? Kan udah minta maaf. Udah di kasih hadiah juga," tanya ibu Arumi.
"Lah kan tadi kamu yang nggak mau ketemu. Kamu yang masuk rumah."
"Iya, harusnya om Bari susul aku, bujuk aku biar nggak marah lagi. Nggak dikasih hadiah juga nggak apa-apa. Masak aku bilang nggak mau ketemu om Bari langsung pulang," balas Caca kembali cemberut.
"Ya kan takut kamu makin marah nanti."
"Ya aku makin marah kalau aku nggak dibujuk."
"Ya udah nanti oma akan kasih tahu om Bari. Sekarang, kamu ngaji dulu sama bunda nanti telat."
*
__ADS_1
Sementara itu, Bari dan Arkan rupanya belum benar-benar pergi dari rumah Arumi. Mereka masih berada di sekitar gang dimana rumah Arumi berada. Nampak anak buah Bari yang sedang bersitegang dengan Arkan.
"Kau beri tahu anak buah mu ini, tidak perlu jaga Caca. Tidak ada yang akan menyakiti anak itu. Apa kau berpikir aku akan menyakiti anakku sendiri? Kau tidak punya hak untuk melakukan apapun pada mereka. Kau hilangkan dia dari keseharian Caca dan Arumi, atau aku akan melukai wanita kesayangan mu itu."
"Kenapa aku harus menuruti apa katamu? Bukan aku yang minta Caca untuk di jaga. Tapi Arumi sendiri. Lagipula kalau kau tidak ada niatan jahat, kenapa kau harus ribut dengan persoalan bodyguard? Kan udah dikasih izin ketemu Caca. Apa lagi yang kau inginkan?"
"Ingin kau pergi dari kehidupan anakku. Aku yakin kau yang membuat Arumi dan Caca jadi jauh dariku. Seandainya saja kau tidak hadir dalam kehidupan mereka, mungkin aku bisa bertemu dengan Caca sesuka hatiku."
"Memang kita ada masalah apa sampai aku harus melakukan itu? Aku tidak mempengaruhi siapapun, apa untungnya buat aku? Harusnya kau sadar, hal ini terjadi karena kesalahan mu sendiri. Kenapa kau jadi menyalahkan aku?"
"Aku tidak mau tahu. Suruh anak buah mu ini pergi dan kau juga pergi dari kehidupan anakku. Atau aku melakukan cara yang lain untuk membuatmu pergi tanpa aku minta," ancam Arkan dengan mengacungkan jari telunjuknya di wajah Bari lalu pergi begitu saja.
Bukan Bari jika namanya jika ia takut degan ancaman receh dari Arkan. Ia tak peduli dengan apa yang keluar dari mulut pria itu. Ia merasa ancamannya hanyalah bualan semata agar dirinya takut dan tak ikut campur dalam urusan anaknya. Nampaknya ia sangat takut jika Bari menikah dengan Arumi, ia takut jika tak lagi diberi akses untuk menemui anaknya.
"Tetap awasi Caca dari jarak jauh! Aku ingin tahu apa yang dia lakukan," titah Bari lalu meninggalkan tempat itu.
Bari tak pulang, ia ingin melihat Caca yang berada di masjid. Ingin hati menemui anak itu tapi suasana hatinya masih tidak baik untuk ditemui. Ia putuskan untuk melihat dari jauh saja, tak apa meski sebentar, yang penting ia bisa melihat anak itu baik-baik saja.
Melihat tawa dan bahagia yang Caca perlihatkan membuat hati Bari menghangat. Sampai detik ini ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi dan ia rasakan. Ia baru mengetahui apa itu cinta sesungguhnya saat bertemu denga Arumi. Bahkan, ia tak hanya jatuh cinta dengan wanita itu, tapi juga mencintai anaknya.
Setelah di rasa sudah cukup untuk melihat dua wanita yang sudah mengalihkan dunia nya, Bari memutuskan untuk pulang. Baru saja men-stater mobilnya terdengar suara anak-anak yang berteriak.
"Bu Arumi," tariak anak-anak sengaja nyaring.
Sontak saja Bari menjadi menole je arah teras masjid. Pria itu langsung melompat keluar mobil begitu melihat ke arah teras.
Bersambung
__ADS_1