Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 25


__ADS_3

POV BARI


Pagi ini, aku berencana untuk ke rumah Arumi. Masa bodo nanti dengan respon yang dia berikan. Aku akan mendekati Caca dan ibunya saja. Et, jangan salah. Jangan mengira aku pindah haluan ke hati ibunya. Aku bermaksud menikung Arumi melalui ibu dan anaknya.


Coba bayangkan jika aku bisa mendekati dan mengambil hati kedua wanita yang berarti bagi Arumi. Pasti dia lama kelamaan juga akan membuka hatinya untuk ku. Bagaimana cerdas bukan?


Aku sampai di kediaman Arumi pukul tujuh kurang lima belas menit. Aku berkaca terlebih dahulu sebelum turun, merapikan kerah kemeja, membenarkan letak rambut dan yang paling penting adalah membasahi bibir seksi ku.


"Assalamu'alaikum," teriakku seraya mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam." Entah siapa yang menjawab salamku. Yang jelas suara wanita, mungkin saja ibunya.


Tunggu dulu, kenapa aku jadi gugup begini? Sungguh aku sangat gugup dan gemeteran. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup, aku mendatangi orang tua dari wanita yang mengisi hatiku. Bayangkan, selama tiga puluh tahun hidup baru kali ini aku akan terang-terangan mendekati keluarga wanita yang aku dekati.


"Maaf cari siapa ya nak?" tanya seorang wanita yang aku tebak itu adalah ibu Arumi. Wajahnya masih cantik meskipun sudah memiliki cucu yang berusia lima tahun.


Aku bersalaman terlebih dahulu sebelum menjawab, "maaf mengganggu pagi-pagi bu, saya Bari. Saya...." Aku bingung hendak memperkenalkan diri sebagai siapa. Teman Arumi? Ah rasanya tak elok sekali. Teman Caca? Ah apa lagi ini.


"Bu, a..." ucapan Arumi terhenti karena melihat ku yang berdiri di ambang pintu.


Dengan gerakan cepat dia kembali membelakangi aku dan ibunya. Jika aku tebak, dia pasti sedang tak memakai cadar. Ah sayang sekali, aku tak sempat melihat wajahnya. Tapi tak apa, semakin penasaran akan membuat semangat ku seakan terbakar. Tak apa aku tak bisa melihat wajahnya sekarang, mungkin Tuhan akan memperlihatkan padaku wajah Arumi ketika kami sudah sah nanti. Ah kehaluan ku semakin menjadi.


"Ngapain kamu pagi-pagi bertamu ke rumah orang? Ada kepentingan apa?" tanya Arumi masih dengan membelakangi aku.


"Kamu kenal sama dia? Kenapa bicaranya begitu? Ke dalam dulu sana pakai cadarnya," titah ibu Arumi yang sampai saat ini aku tak tahu namanya siapa.


"Silkan masuk nak, siapa tadi namanya?"


"Bari, tante."


Aku masuk dan duduk di salah satu sofa tunggal yang polos itu. Aku melihat sekeliling saat ibu pamit ke belakang. Terpampang banyak foto keluraga di dinding ruang tamu tersebut. Aku bergantian melihat foto itu satu persatu, hingga mataku terhenti di foto seorang pria yang pernah aku lihat sedang bercanda dengan Arumi.


"Itu foto kakaknya Arumi," sahut ibu Arumi yang tak ku sadari kedatangannya.


Astaga, jadi dia kakaknya Arumi? Aku cemburu pada orang yang salah.


Aku tertawa geli mengingat hal itu.

__ADS_1


"Nak Bari kenal Arumi dari mana?"


"Saya tahu Arumi dari Diana, kebetulan saya pernah dekat dengan Diana. Lalu saya mengantar ibu saya ke sini untuk arisan..." Aku mulai menceritakan asal usul aku mengenal Arumi dan Caca. Tentu saja tidak semua aku ceritakan.


"Ya Allah jadi kamu anaknya jeng Rahma? Astaghfirullah, sudah besar kamu ya. Dulu waktu kamu masih bayi, ibu sering ke rumah kamu. Jadi dulu kak Alvin tuh seneng lihat bayi kan. Jadi ibu ajak dia ke rumah kamu setiap pagi."


Jujur saja aku sedikit terkejut dengan pengakuan ibu Arumi. Ibu tak menceritakan ini padaku. Ah rasanya aku tak kesulitan jika aku mendekati Arumi. Keluarga kami sudah saling kenal, bahkan sudah dekat dari lama.


Tidak ada yang tahu betapa jungkir baliknya hatiku saat ini. Sungguh aku bahagia dengan kenyataan yang aku dengar. Kalaupun ibu Arumi tidak dekat dengan keluarga ku, mungkin saja aku tetap tak akan kesulitan mendapatkan hatinya. Ibu Arumi sangat menyambut baik kedatangan ku, beliau juga lebih ramah dari pada Arumi yang selalu ketus padaku. Tapi aku paham kenapa Arumi begitu, dia hanya ingin melindungi hati dan dirinya yang pernah tersakiti.


"Oh ya? Wah suatu kebetulan yang sangat tidak di sangka ya tan," balas ku terkekeh.


Tak berselang lama, Caca datang dengan dirinya yang sudah siap berangkat ke sekolah. Anak itu sedikit terkejut dengan kehadiran ku di rumahnya.


"Loh, om Bari kok tahu rumah bunda sih?"


"Tahu dong. Mau berangkat sekolah? Mau om antar nggak? Naik mobil kita." Aku sengaja meng iming-imingi dengan kendaraan. Meskipun aku yakin dia mungkin saja sudah sering naik mobil.


"Sama bunda juga?"


"Tanya aja bunda mau apa nggak."


Belum sempat aku membalas ucapan Arumi, dering telepon miliknya tiba-tiba saja berbunyi dengan mendayu dayu di dalam tasnya.


"Ya sudah, sehabis saya antar anak saya langsung ke rumah sakit ya. Dua puluh menit lagi paling lama. Pastikan pasien untuk tidak makan apapun sebelum saya datang ya. Takutnya pasien harus di operasi."


Aku menebak ada yang urgent dan butuh pertolongan dari Arumi. Lagi-lagi semesta mendukung ku. Cara Tuhan memang indah dan tak terduga untuk umatNya.


"Ayo sayang berangkat sekarang, bunda buru-buru."


"Arumi ijinkan aku mengantar kalian. Akan lebih cepat jika aku mengantarmu."


"Maaf aku tidak ada waktu berdebat dengan mu. Ada manusia yang butuh pertolongan ku." Arumi pergi ke teras untuk mengambil motornya. Aduh manusia ini, dokter tidak ada elit-elitnya, masak ke rumah sakit naik motor.


"Bu, ibu tahu kunci motor aku dimana ya? Kok nggak ada." Arumi bembali masuk rumah dengan tergesa-gesa dan berjalan ke sana kemari mencari kunci motornya. Aku menduga Arumi sedang gugup dan salah tingkah sampai-sampai dia sendiri lupa dengan kunci motornya.


"Biasanya kan kamu taruh laci sini?" Ibu Arumi mulai bergerak untuk membantu anaknya mencari benda kecil berharga itu.

__ADS_1


Aku diam saja seraya menyembunyikan senyumku. Tidak ada pilihan lain lagi, Arumi mau tak mau akan bersedia aku antar ke rumah sakit.


"Arumi, waktumu akan habis di rumah jika kamu terus mencari kuncinya yang entah kemana perginya. Ayo aku antar, Caca juga harus segera berangkat ke sekolah. Pasien mu juga butuh kamu. Pikirkan mereka."


"Sudah Arumi, nggak apa-apa. Apa yang dibicarakan Bari benar. Kamu akan jadi dokter yang gagal kalau sampai pasien mu kenapa napa karena keegoisan kamu."


"Baiklah, aku berangkat ya bu. Assalamu'alaikum." Arumi mencium punggung tangan ibunya dan langsung berjalan keluar. Aku tahu dia terpaksa menerima tawaran ini.


Aku dan Caca kemudian menyusul apa yang di lakukan Arumi dan melangkah keluar rumah sederhana itu namun ternyata benar dugaanku, bangunan itu sangat besar.


Aku membukakan pintu penumpang bagian depan setelah membantu Caca duduk di kursi penumpang. Bermaksud untuk meminta Arumi duduk di depan. Namun, justru wanita itu membuka pintu penumpang dan mendudukkan diri di sana bersama Caca.


"Rum, aku buka pintu depan buat kamu duduk. Aku bukan supir. Duduk di depan!" ucapku bak perintah seorang suami pada istrinya.


"Caca aja yang duduk di depan."


"Kok jawab aja, Caca udah enak duduk di situ. Buran naik, nanti kalian telat lagi. Ah heran nggak nurut banget sama suami. Aku cium nih."


"Bicara yang sopan," balas Arumi ketus namun tetap masuk ke mobil juga.


"Memang aku bicara apa? Aku bicara nggak ada kata-kata yang menyakitkan, menyinggung perasaan atau hati siapapun."


"Terserah. Mau sampai kapan di sini? Ayo jalan!"


"Iya iya. Sama calon suami nggak boleh gitu ngomongnya. Dosa nanti."


"Calon suami itu apa om?" sahut Caca dari belakang.


"Caca mau nggak punya ayah? Kalau punya ayah kayak om Bari mau?" tanyaku dengan sumringah.


"Mau."


"Nggak."


Jawab Arumi dan Caca serempak. Arumi mengatakan tidak dan Caca sebaliknya. Tak masalah, kuncinya ada pada Caca. Jika Caca sudah menerima ku dalam hidupnya, tidak sulit untuk ku membuat Arumi juga melakukan hal yang sama.


"Aku nanya Caca, kenapa kamu juga jawab? Kalau kamu jelas nggak mau punya ayah kayak aku. Aku pantesnya jadi suami kamu." Mulai lagi gombal recehku yang sudah lama tak aku keluarkan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2