
Seharian ini, Arumi tak fokus bekerja. Fokusnya hanya pada anak semata wayangnya yang rupanya menanggung kepedihan seorang diri di usia yang masih dini.
Wanita itu memijat kepalanya yang mendadak nyut-nyutan. Hingga sebuah ketukan di pintu membuat terkejut. Pintu berwarna putih itu terdorong ke dalam. Entah siapa pemilik tangan yang sedang mendorong benda tersebut. Arumi juga ingin tahu, itu sebabnya netranya tak ia alihkan kemana pun selain pintu.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Rupanya yang datang adalah pria yang menjadi topik utama di kehidupan Caca. Siapa lagi jika bukan Bari, pria yang mungkin saja mulutnya akan gatal jika tidak menjanjikan apapun pada manusia lainnya.
Jika dulu, ia mengumbar janji pada semua wanita yang jadi kekasihnya, sekarang ia mengumbar janji pada anak kecil yang masih tak tahu apa-apa.
Bukan dia yang umbar janji Arumi. Dia hanya mengatakan akan jadi ayah Caca. Jika kamu mengizinkannya untuk menikah dengan mu, maka kata-kata itu bukan lagi sebuah janji.
Tapi, tidak seharusnya dia bicara sejauh itu jika belum ada kejelasan dari kamu Arumi. Dia terlalu lancang untuk mengatakan hal sebesar itu yang berimbas pada anakmu Rum.
Rasanya sudah lama Arumi tak bertengkar diri sendiri. Kini pertengkaran itu kembali terjadi, kepalanya semakin pusing saja memikirkan jalan hidupnya.
"Ada apa Bar?" tanya Arumi setelah beberapa saat terdiam dan saling tatap dalam diam.
Akhir-akhir ini Arumi seperti lupa atau entah tak sadar seringkali menatap Bari.
"Apa jika aku ke sini harus menyediakan alasan?"
"Tentu saja, ini adalah tempat ku mencari nafkah dan aku harus ikut aturannya. Mana bisa aku melayani kedatangan kamu di saat jam kerja. Ada yang lebih penting yang harus aku kerjakan."
"Ini bukan lagi jam kerja kamu Arumi, ini sudah sore. Bahkan sebentar lagi seharusnya kamu sudah berada di masjid."
Arumi lalu melihat jam yang berada di tangan kirinya. Bola mata Arumi seakan lepas dari tempatnya begitu melihat benda kecil yang berada di tangannya itu menunjukkan angka empat.
Bagaimana bisa aku terlambat pulang? Padahal aku sejak tadi di sini. Jadi aku menghabiskan waktu satu jam hanya untuk melamun? Batin Arumi bertanya-tanya.
__ADS_1
"Ada yang kamu pikirkan?" tanya Bari begitu melihat Arumi yang nampak gugup dan bersiap pulang.
"Nggak ada. Ayo kita pergi dari sini!" ajak Arumi melangkahkan kaki menuju pintu.
"Bohong. Kamu masih saja bohong sama aku Rum. Rupanya kamu belum memahami aku dengan benar." Bari berjalan menjajari wani mta tersebut. Tak peduli dengan pandangan orang yang berlalu lalang di sekitar rumah sakit menatap dirinya dengan pandangan terheran.
Mungkin mereka heran bagaimana bisa ada manusia setampan Bari atau mungkin tatapan mereka mengartikan bagaimana bisa Bari berjalan sedekat itu dengan wanita titisan kulkas dua pintu.
"Memang apa untungnya aku memahami kamu?" Arumi masih terus berjalan melewati lorong demi lorong bangunan yang tak pernah sepi orang itu.
"Setelah kamu tahu semuanya, kamu masih bertanya?"
"Ngomong yang jelas Bari, jangan pakai kata-kata kiasan yang aku nggak paham, jangan hanya kasih-kasih aku kode dan kamu nuntut aku ngerti apa yang kamu maksud. Aku bukan malaikat yang bisa paham dengan kode kamu, aku juga bukan dukun yang ngerti apa yang kamu maksud hanya dengan kata-kata kamu yang setengah-setengah begitu."
"Aku apa sih Rum di mata kamu?" tanya Bari kesal.
"manusia lah, masak tuyul."
Arumi mengarahkan tubuhnya ke samping menghadap Bari. Dengan memejamkan mata ia berusaha menahan kesal. Baru saja Arumi membuka mulutnya ingin memaki Bari, namun Bari lebih dulu berucap.
"Kamu memang tuyul yang udah nyuri hati aku Rum."
Arumi refleks membuka mata dan menatap Bari, ingin marah dan mengomelinya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Jarak wajah meraka yang cukup dekat rupanya mampu menghipnotis Arumi. Pandangan mata Bari yang dalam dan teduh membuat jantung wanita itu berdegup kencang.
Suara obrolan dari orang yang berlalu lalang membuat Arumi tersadar dari kebodohannya. Untuk menghindari rasa gugupnya, ia kembali berjalan dengan cepat.
"Rum tunggu Rum. Bukankan kita ini bukan mahram? Dan beberapa kali kamu sudah melihat ku kan? Sudah menatap mataku juga kan? Kita bahkan sudah betukar tatap dalam arti yang sama. Kamu dosa kalau nggak jadikan aku mahram kamu Arumi."
Perkataan Bari membuat Arumi semakin gugup saja. Jantungnya seakan menari nari dengan lihainya. Bingung hendak menjawab apa, Arumi memutuskan untuk diam dan mengarahkan pandangannya ke depan saja hingga ia sampai di parkiran.
"Kita harus menikah biar nggak nimbun dosa Arumi," ucap Bari tak menyerah.
__ADS_1
"Tadi nggak ada unsur kesengajaan. Udah sana pergi ke mobil kamu!"
"Aku nggak bawa mobil. Tadi ke sini naik ojek online. Sengaja, biar pulangnya satu mobil sama kamu."
"Ya udah sana, naik ojek lagi."
"Nggak bawa uang, sengaja bawa uang pas. Kalau nggak percaya nih geledah saku celana aku, kalau kamu nemu dompet atau uang aku akan pulang naik ojek." Bari memutar badannya dan menyodorkan pantatnya untuk Arumi geledah sakunya.
"Nih, uang buat naik ojek sana." Jika Bari tak mau kalah dalam perdebatan begitu pula dengan Arumi.
"Nggak mau, aku nggak mau uang kamu, maunya hati sama raga kamu aja."
"Ya sudah, kamu bawa mobil aku. Biar aku yang naik ojek."
"Bukan mahram Arumi, kamu nolak semobil sama aku malah dempet-dempetan sama kang ojek. Gimana sih," Protes Bari.
"Ya udah mangkanya kamu aja yang naik ojek. Sebenarnya yang bikin ribet tuh kamu sendiri Bari."
"Ya kamu dong Rum. Kalau sejak tadi kamu izinin aku semobil sama kamu, kita sudah sampai rumah. Dimana mana yang ribet tuh cewek. Apa? Aku yang salah? Iya, aku salah. Karena memang kamu wanita nggak pernah salah," tukas Bari begitu melihat mata Arumi yang nampak kesal dan menyilangkan tangan di depan dada.
Tak ingin membuang waktu lebih banyak, Arumi dengan pasrah melangkahkan kaki ke dalam mobil.
"Aku aja yang bawa," tukas Bari saat Arumi membuka pintu mobil bagian kemudi.
"Nggak usah banyak maunya Bar. Ribet banget sih kamu," rengek Arumi frustasi menghadapi Bari yang sejak tadi terlalu banyak maunya.
Rupanya Bari belum terlalu jauh mengenal Arumi, masih banyak sifat-sifat Arumi yang belum ia pahami. Bari sering dihadapkan dengan situasi yang berbeda saat dengan Arumi, wanita itu juga menunjukkan sifat-sifatnya terpendamnya dengan perlahan.
Sedikit demi sedikit Bari menjadi tahu jati diri Arumi yang sebenarnya adalah tak sedingin dahulu. Perlahan namun pasti, Arumi mulai menunjukkan sifat aslinya pada Bari. Mulai dari rengekan, tatapan yang sama dalamnya dengan dirinya, perhatian dan terhadap dirinya beberapa waktu lalu membuat Bari percaya diri bahwa perasaannya akan segera terbalaskan. Apalagi, Arumi sudah tahu kenyataan mengenai Caca yang sering di bully oleh teman-temanya.
Bersambung
__ADS_1