
Masih di hari pernikahan sang Casanova, pasangan pengantin baru itu masih berdiri di pelaminan menyalami para tamu Bari dari kalangan bisnis maupun teman masa sekolah dan kuliahnya.
Di hari yang sedikit malam, kedua sahabat ajaib Bari datang dengan membawa istrinya. Nampaknya mereka sengaja datang sedikit lebih malam untuk membuat Bari terlambat melakukan ritual malam pengantin.
"Sayang, itu ada sahabat aku dari SMA. Kita gabung ke meja meraka mau? Aku mau kenalin kamu ke mereka."
"Aku malu mas."
"Kamu harus kenal sama mereka juga. Minimal akrab sama istrinya. Meraka udah kayak saudara aku."
Sekali lagi Arumi melihat ke arah dua pasang suami istri yang duduk berada di deretan meja tengah. Ia sedikit insecure dengan statusnya, dilihat dari penampilan pun kedua wanita itu tampak seperti wanita sosialita meskipun kepala mereka dibalut hijab.
Dengan ragu Arumi, mengikuti langkah kaki sang suami. Wanita itu digeret dengan mesra oleh Bari.
"Eh, kenapa jadi pengantinnya yang ke sini?" kata Alex berdiri menyambut Bari dan istrinya.
Bari hanya menjawab dengan kekehan, lalu duduk bergabung dengan mereka.
"Hai Rum, kenalin aku Anisa istri nya Alex."
"Arumi. Senang bisa kenal mbak Anisa."
"Panggil Anisa aja, biar akrab."
Arumi hanya mengangguk canggung lalu menatap satu wanita yang belum memperkenalkan dirinya. Wanita itupun seakan paham tatapan Arumi.
"Ria, istrinya Rizal." Dengan senang hati Arumi menyambut uluran tangan dari Ria.
Obrolan mereka berlanjut dengan pembahasan yang ringan-ringan saja. Hingga tiba-tiba ada yang datang dan memanggil Bari. Semua orang yang duduk di meja itu sedikit terkejut dengan kedatangan mantan kekasih Bari.
__ADS_1
Bari sedikit gelagapan dengan datangnya wanita itu. Pasalnya, tidak ada satupun mantan yang ia undang dalam acara pernikahannya. Bagaimana bisa Mira datang dan masuk ke dalam gedung acaranya itu, begitulah kira-kira isi kepala Bari.
"Siapa yang kasih izin kamu ke sini? Nggak ada yang bisa masuk ke sini kalau nggak bawa pin dari aku," tanya Bari dengan gugup.
"Emang kenapa? Gugup banget kayaknya?" Mira melangkah ke dekat dimana Arumi berdiri. "Pasti ini istrinya Bari ya? Jauh sekali dengan selera Bari sebelumnya." Mira bicara dengan nada yang seperti mengejek atau menyindir, entahlah.
Bari hendak menjawab namun sudah didahului oleh Arumi.
"Alhamdulillah, itu artinya mas Bari sudah bisa melihat mana yang baik di jadikan istri dan mana yang tidak." Jawaban Arumi sangat terdengar santai dan tak ada nada kemarahan atau kesal di dalamnya.
"Jangan bangga punya suami kayak Bari, nanti kalau kumat penyakitnya nangis-nangis lagi," ejek Mira.
Arumi tersenyum kecil lalu berucap, "Terima kasih sudah peduli denganku. Oh ya, apa kamu ke sini ada urusan yang belum selesai dengan suamiku? Akan aku beri waktu kalian untuk menyelesaikannya. Selesaikan sekarang, besok dan seterusnya jangan temui lagi suami aku."
Bari sangat kagum dengan istrinya, ia pandai mengendalikan emosinya. Respon yang ditunjukkan Arumi jauh dari ekspetasi Bari.
"Sudah selesai kamu bilang? Kamu lupa dengan apa yang kita lakukan? Kita sudah melakukannya dan aku hamil anakmu sekarang."
Tentu saja ucapan Mira membuat Arumi dan teman-teman Bari terkejut. Tatapan Bari sudah memerah menahan amarah. Ia merasa tak pernah berhubungan badan dengan wanita mana pun, bagaimana bisa Mira datang dan dengan entengnya mengatakan itu. Ia ingat betul pertemuan terakhir dengan Mira kala itu. Ia akui memang hampir saja mereka berhubungan badan, namun karena kesalahan Mira sendirilah yang membuat hubungan itu gagal dan berakhir sampai sana.
Bari mengepalkan tangannya, Arumi yang melihat hal itu seketika menghampiri sang suami dan memberikan sentuhan dengan harapan pria itu tak terpancing emosi di saat pesta masih berlangsung.
"Jangan gunakan amarah mas, dia wanita, lagipula ini acara pesta kita," bisik Arumi menggandeng suaminya.
"Mira, jika memang kamu mengandung anak mas Bari, kenapa kamu nggak ngasih tahu dia sejak awal? Kenapa harus di hari pernikahannya? Mau berniat merusak pesta kita atau diri kamu sendiri? Lagipula kalau dilihat dari perut kamu, itu sudah lebih dari tiga bulan. Bisa jadi kamu sudah hamil duluan dengan pria lain di saat kamu masih berhubungan dengan suamiku," tukas Arumi dengan nada yang masih santai. Ia sama sekali tak terpancing emosi. Wanita itu benar-benar mengagumkan Bari.
"Kamu pikir aku wanita apa? Aku hanya berhubungan dengan Bari, dan kami tidak melakukan sekali, tapi berkali-kali. Aku kesulitan menghubungi Bari. Dia sangat sulit aku temui, dan aku dengar dia menikah di sini."
Arumi menatap Bari seakan meminta penjelasan. Pria itu lalu menggeleng cepat seakan mengerti arti tatapan Arumi.
__ADS_1
"Sumpah aku nggak melakukan hubungan sejauh itu sayang. Aku berani bersumpah demi apapun, aku mohon percaya sama aku."
"Rasanya tidak baik jika kita membahas ini sekarang. Kita bisa bahas besok, dan untuk kamu Mira, kamu ke sini untuk meminta pertanggungjawaban suamiku kan? Aku nggak tahu bagaimana bisa kamu bertahan dengan perut yang sudah mulai membuncit dan kamu kesulitan menemui suamiku. Dia nggak kemana mana, bahkan aku tidak yakin jika kamu tidak tahu dimana letak perusahaan mas Bari. Bagiku ini sangat janggal, kamu boleh pergi sekarang dan temui kami besok."
"Rum, aku nggak merasa merasa menghamili dia. Untuk apa kita meladeni dia," protes Bari.
"Tenanglah, jangan panik dan takut jika kamu tidak salah. Kenapa harus sepanik ini?" kata Arumi dengan lembut.
"Sayang..." Bari berhenti berucap karena jari telunjuk Arumi sudah menempel di bibinya.
"Silakan pergi dari sini, Mira. Aku dan suamiku akan bicara bagaimana baiknya."
Mira sedikit kesal di sini. Ia memutuskan pergi dengan wajah yang ia tekuk. Sudah jauh-jauh hari merencanakan rencana ini namun reaksi yang ditunjukkan Arumi tidak seperti dugaannya.
Sebenarnya selama ini Mira tidaklah benar-benar menghilang dari kehidupan Bari. Ia hanya diam-diam memperhatikan Bari dari jauh. Ia pun sudah lama tahu, jika Bari mengejar cinta Arumi. Mira merasa karena Arumi lah, Bari meninggalkannya. Meskipun ia sadar di pertemuan terakhirnya ia melakukan kesalahan fatal. Sampai saat ini pun ia kesal karena salah sebut nama saat dengan Bari.
Namun, Mira meyakini satu hal. Bari sangat mencintainya dan tak mungkin bisa melupakannya begitu saja. Tak mungkin Bari lupa dengan desisan-desisan manja yang selalu ia keluarkan saat bibir mereka sedang bersilaturahmi. Mira berpikir bahwa Arumi adalah wanita yang akan jadi pelampiasan pria itu. Tapi siapa sangka justru hubungan mereka sampai di pelaminan tanpa adanya pacaran.
Mira tak rela Bari menikah dengan wanita manapun kecuali dirinya. Jika Bari tak menikah dengannya, maka tak ada wanita yang boleh memiliki dirinya. Begitulah kira-kira yang ada dipikiran Mira.
"Bagaimana? Apa hubungan mereka sudah berantakan bahkan disaat rumah tangga mereka belum dimulai?"
"Tidak tante. Sungguh ini diluar dugaan kita."
Tante?
Siapakah kira-kira yang bekerja sama dengan Mira?
Berambung.
__ADS_1