
Bari masih berdiri di depan Arumi dengan harapan agar ia diberi kesempatan untuk bertemu dengan Caca seperti biasa. Namun, Arumi yang tak kunjung buka suara membuat mulut Bari kembali terbuka.
"Rum, aku melakukan kesalahan kecil yang bisa saja di maafkan oleh orang lain. Arkan yang kesalahannya begitu besar kamu beri dia akses bebas untuk bertemu dengan Caca. Aku baru kali ini lupa dengan apa yang sudah aku ucapan. Izinkan aku untuk minta maaf Arumi."
"Siapa bilang aku beri dia kebebasan untuk betemu dengan anakku? Lagipula kenapa kamu jadi ngatur aku Bari."
"Nggak ngatur Rum. Kamu udah nggak adil, hanya karena Arkan nolong Caca kamu langsung meluluhkan hati dan berbelok sama keteguhan kamu untuk tidak lagi mempertemukan mereka. Kamu seakan lupa sama aku yang sudah buat hari Caca berwarna. Aku yang mengembalikan tawa Caca ketika dia sedih Rum."
"Kamu dengar tadi apa kata Caca, kamu diminta pulang. Itu artinya dia sudah biasa saja ada atau tidaknya kamu dikehidupan dia."
"Aku yang nggak biasa Rum."
"Bisa, hanya masalah waktu saja."
"Sejak kapan anak ibu tidak menghargai orang begini? Apan ibu pernah mengajarkan kamu untuk berbuat begitu sama orang?" sahut ibu Arumi dari pintu utama. Entah sejak kapan wanita itu berdiri di sana.
"Bu, bukannya aku nggak menghargai Bari bu. Tapi dia sangat susah untuk diberi tahu. Caca tadi bilang kalau udah nggak mau ketemu dia. Mangkanya aku suruh pulang. Salahku dimana? Lagipula nggak baik Bari atau Caca saling ketergantungan, meraka bukan siapa-siapa."
"Caca anak kecil Rum. Tidak seharusnya kamu begitu, birkan saja dia dekat dengan siapapun. Dia masih terlalu dini untuk kamu kekang begitu."
"Ibu aku ngekang dari mana? Apa aku salah jika aku menjaga anakku sendiri bu? Ini yang aku takutkan, Caca jadi nggak semangat menjalani harinya karena hal sepele seperti ini. Caca juga jadi nggak nurut sama aku bu."
"Bukan nggak nurut, dia berhak untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan."
Melihat pertengkaran itu membuat Bari tak enak hati. Ibu dan Alvin selalu memberikan dukungan pada pria yang belum bisa apa-apa ini. Tapi, hal itu justru membuat hubungan meraka selalu dihiasi perdebatan panjang.
__ADS_1
"Maaf Bu, Rum. Sudah cukup. Kalian tidak perlu berdebat seperti ini. Terima kasih bu, ibu sudah mengerti perasaan saya. Dan untuk kamu Arumi, yang marah padaku adalah Caca, mungkin aku bukan siapa-siapa dalam kehidupan kalian. Tapi bukankah siapapun yang berbuat salah wajib untuk minta maaf langsung pada orangnya. Urusan ku sekarang dengan Caca, Rum. Jadi aku hanya ingin waktunya sebentar."
"Caca nggak mau dan aku ibunya. Aku melarang mu untuk menemui Caca."
"Aku tidak akan pulang sebelum bertemu Caca dan berbicara langsung dengannya."
"Terserah," jawab Arumi ketus lalu berjalan masuk ke rumah.
Kini tinggalah ibu Arumi dan Bari yang berada di teras. Sangat terlihat wajah kecewa dari Bari. Rupanya benar apa kata Alvin, susah untuk mendapatkan hati Caca kembali.
Ah apa aku ini, belum ada sehari membujuk anak sekecil itu. Tapi, aku sudah mengeluh saja.
"Maafkan anak ibu ya nak," kata Ibu Arumi berjalan mendekati Bari.
"Nggak apa-apa bu. Saya maklum kok dengan perlakuan Arumi."
"Maafin Caca juga ya. Dia memang begitu, kalau sudah dekat dengan orang. Dia akan dekat sekali, dan dia akan memberikan kepercayaan penuh pada orang itu untuk memberikan apa yang dia mau. Ngomong-ngomong bisa kita ngobrol sebentar nak?"
"Tentu saja bu. Dengan senang hati," jawab Bari menampakkan wajah yang bahagia bak tak terjadi apa-apa.
Mereka memutuskan untuk duduk di kursi panjang yang terletak di teras.
"Apa yang sudah terjadi? Ibu merasa hubungan kalian semakin rumit saja. Bukankah sebelum kejadian ini semua baik-baik saja? Ya meskipun, Arumi masih sering jutek sama kamu. Nggak perlu jawab jika ini memberatkanmu nak. Ibu hanya ingin tahu, barangkali ibu bisa bantu."
"Iya jadi, memang aku sempat ada perdebatan kecil saja bu. Aku waktu itu sedang nggak baik aja mood nya. Aku sempat bilang kalau aku pamit, aku kesal waktu itu karena Arumi sering kali usir aku di saat aku berkunjung ke rumah sakit. Aku ke sana nggak jam kerja kok bu, aku ke sana selalu jam istirahat dia. Tapi ya itu tadi," balas Bari sendu.
__ADS_1
"Apa ini yang buat kamu hilang kabar dua hari?"
"Nggak juga kok bu. Aku lupa taruh hape aja, sampai habis baterai. Dan aku baru baca pesan Caca tadi siang pas di kantor. Mangkanya aku ke sini buat minta maaf. Apa Caca cari saya pas saya nggak ada kabar bu?" tanya Bari penasaran.
"Kalau kamu nggak ke sini sih, dia nggak terlalu mikir ya. Maksud ibu kan, kamu ke sini juga beberapa hari sekali. Nggak yang tiap hari, cuma dia kesel aja sih kamu nggak angkat teleponnya dua hari kemarin."
"Apa menurut ibu saya salah dengan kekeh di sini untuk dapat maaf?"
"Nggak nak, kamu nggak salah dalam hal ini. Maafkan anak cucu ibu ya," ujar ibu Arumi tak enak hati.
"Nggak bu. Ibu nggak usah minta maaf, memang inj ujian saya untuk mendapatkan Arumi. Sudah mendapatkan dukungan dari ibu dan bang Alvin saja saya sudah senang. Bahkan mungkin, saya tidak pantas mendapat apa yang ibu berikan pada saya. Saya malu dengan apa yang saya lakukan di masa lalu."
"Semua orang punya masa lalunya sendiri-sendiri nak. Masa lalu di setiap individu berbeda dan pasti akan ada kenangan pahit manis di dalamnya. Pasti ada sisi gelap seseorang di masa lalu nak. Tidak ada manusia yang suci di dunia ini. Nggak perlu kamu merasa rendah diri dengan masa lalu kamu."
Bari hanya mengangguk tersenyum. Ia beruntung bertemu dengan Arumi yang mempunyai ibu yang baik, bijak dan sabar. Setidaknya ia mendapatkan dukungan dan penyemangat untuk berjuang.
"Lebih baik kamu sekarang pulang dulu nak, biarkan situasi sedikit lebih adem dulu. Besok atau lusa kamu boleh ke sini lagi," ujar ibu Arumi memberi saran.
"Saya di sini saja bu. Tidak apa-apa jika saya harus di sini sampai besok."
"Nak, ini soal kecil. Permasalahan kecil saja, bukan hal yang besar. Tidak perlu kamu melakukan ini. Kasihan sama badan kamu, berikan mereka ruang dulu. Nanti akan semakin panas kalau kamu memaksakan kehendak."
Dengan pertimbangan yang matang, akhirnya Bari menganggukkan kepala setelah beberapa saat terdiam. Tak lupa ia menitipkan sesuatu untuk Caca.
"Saya pamit ya bu, besok saya akan ke sini lagi. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati ya nak."
Bersambung