Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 77


__ADS_3

Sesuai dengan perjanjian kemarin. Arumi dan Bari sudah berada di restoran tempat Dinda bekerja. Setelah menunggu beberapa saat, Dinda datang dengan kakinya yang masih terpincang-pincang.


"Kakimu kenapa Din?" tanya Arumi membantunya berjalan.


"Nggak apa-apa Rum. Kemarin kesandung pas nguping ibu sama Mira. Jadi kebetulan banget semalam pas aku pulang kerja, aku lihat rumah ibu masih terang dan ada mobil di halaman. Mobil itu sering sekali aku lihat akhir-akhir ini, ternyata itu mobil Mira. Jadi semalam aku dengar kalau ibu melakukan ini hanyalah untuk merusak rumah tangga kalian. Lalu ibu akan merusak mental kamu, Arumi. Dengan begitu dia akan bisa ambil anak kamu. Mungkin saja dia berpikir kalau kamu nggak di sisi anakmu, dia lebih mudah ambil cucunya."


Arumi menghembuskan nafas panjang. Sampai detik ini pun, ia masih tak percaya bisa menjalin hubungan dengan wanita seperti ibunya Arkan. Entah wanita itu sudah berubah atau memang begini sifat aslinya.


Arumi ingat betul, ibu Arkan dahulu adalah wanita yang baik. Arumi juga tak tahu, bagaimana wanita itu merasa tak bersalah sama sekali atas kesalahannya lima tahun lalu. Hingga detik ini pun, ibu Arkan tak pernah minta maaf atas apa yang beliau lakukan dulu. Meskipun sekarang beliau tahu bagaimana kenyataannya, beliau tahu yang jadi korban dan tersangka. Beliau tahu semuanya, tapi tak mau mengakui dan memilih untuk menutup mata dan telinga dari apa yang beliau lihat.


Bukannya meminta maaf atau memperbaikinya hubungan, beliau justru kembali mengambil jalan yang salah. Wanita itu terlalu gengsi untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Mungkin dipikiran wanita itu, minta maaf akan melukai harga dirinya sebagai orang yang lebih tua.


"Tidak ku sangka aku bisa berurusan dengan manusia-manusia yang tak sadar usia dan dosa," gumam Bari pelan memijat keningnya.


Arumi masih diam, ia lebih memilih memikirkan cara menyingkirkan mereka untuk selamanya dari pada harus berkomentar.


"Mas, sekarang ini kita harus memikirkan cara untuk memberikan efek jera pada mereka. Mungkin kita harus membuat membuat kenang-kenangan untuk mereka. Pengalaman yang tidak akan pernah mereka lupakan sepanjang hidup mereka."


"Caranya?"


Arumi lalu mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Mencoba untuk meminta pendapat pada dua orang yang duduk dengannya.


"Setuju, itu ide yang bagus. Kapan kita akan melancarkan aksi kita?" tanya Dinda.


"Lebih cepat lebih baik. Besok bagaimana mas?"


Dengan malas Bari menganggukkan kepala. Ia ingin tak setuju dengan apa yang Arumi sampaikan, tapi saat ini otaknya juga buntu untuk berpikir. Akhirnya, mau tak mau ia terima saja rencana istrinya.


*

__ADS_1


Di tempat lain, ibu Arkan dan Mira juga sedang merencanakan sesuatu. Mereka pun sama-sama tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengeruk harta Bari. Bagaikan menyelam sambil minum air, mereka tak mau melewatkan waktu dengan hanya duduk diam sambil menunggu Mira melahirkan. Untuk mengisi waktu luang yang banyak itu, mereka berpikir akan memanfaatkan kehamilan Mira untuk menikmati harta Bari.


"Tante mau apa? Biar nanti sekalian aku mintain ke Bari,"" tanya Mira seraya mengotak atik ponselnya.


"Apa aja lah, yang penting perhiasan mahal. Mau kalung, cincin, gelang terserah, apapun tante mau. Sama sekalian tas juga, lumayan buat pamer ke temen arisan," balas ibu Arkan semangat.


Mira menyatukan ujung jempol dan jari telunjuknya membuat sebuah bulatan sebagai jawaban.


"Eh tan, Bari telepon!" pekik Mira sumringah.


"Iya Bar, kenapa? Oh ok, akan aku kirim sekarang."


Baru saja memikirkan apa saja apa yang mereka butuhkan, Bari sudah memberi kabar bahagia.


Melihat wajah Mira yang sumringah membuat ibu Arkan bertanya-tanya.


"Ada apa?" tanya ibu Arkan penasaran.


"Iya itu aja, lagian kan jalan kita masih panjang. Kita bisa minta apa aja selama kamu hamil kan. Dasar bodoh, mau aja kita kibulin," ujar ibu Arkan dengan senyum menyeringai.


Tanpa pikir panjang lagi, Mira mengetikkan apapun yang ia mau lalu ia kirim ke nomer Arkan.


*


"Lihat, banyak sekali yang dia mau sayang. Ah, sayang sekali uangku untuk membelanjakan wanita ular macam mereka, jauh lebih baik aku kasih saja ke pengemis," gerutu Bari kesal melihat deretan permintaan Mira.


"Ya anggap aja mereka pengemis. Ini juga buat kebahagiaan kita sendiri. Kenapa sih kayak nggak ikhlas banget dari tadi, ya udah kalau nggak mau pakai uangku saja," sahut Arumi yang tiba-tiba mood nya berubah jelek mendengar ucapan suaminya.


"Apa sih sayang, nggak gitu maksudnya. Iya-iya aku salah aku minta maaf." Sengaja Bari melakukan itu agar masalah cepat selesai dan tidak ada perdebatan lagi.

__ADS_1


"Simpan maafnya untuk kesalahan lain," kata Arumi masih dengan nada kesalnya.


Bari semakin panik, sementara Arumi menahan tawa dibalik cadarnya.


"Astaghfirullah sayang, masih marah aja. Janji nggak akan begitu lagi. Maaf," kata Bari semakin melas.


Entah mereka sadar atau tidak, sepasang mata yang sejak tadi menemani mereka, tiba-tiba saja berembun dan memasang wajah sendunya.


Dinda teringat dengan suaminya, Arkan pun selalu panik dan bingung ketika dirinya merajuk. Kilasan-kilasan kebersamaan mereka yang sudah terjalin beberapa tahun kembali melintas dan menari-nari di ingatan.


"Dinda, kamu nggak apa-apa?" tanya Arumi menelisik wajah sendu Dinda.


"Ha? Nggak kok, aku nggak apa-apa. Ada debu masuk kayaknya," jawab Dinda dengan mengelap sudut netranya dengan satu tangan.


Sebagai sesama perempuan, Arumi menyadari dan ikut merasakan kepedihan Dinda. Berkeliaran di luar sana tanpa suami bukan hal yang mudah. Belum lagi ia harus mencukupi kebutuhannya sehari-hari seorang diri dan benar-benar menjalani harinya dengan sendirian tanpa teman.


Arumi menggenggam tangan Dinda yang tergeletak di atas meja.


"Dinda, aku tahu kamu pasti berat menjalani hari-hari kamu. Percayalah, aku tahu apa yang kamu rasakan. Harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sendiri, melewati hari seorang diri, melakukan apapun sendiri. Aku tahu kamu adalah perempuan hebat, itu sebabnya Allah memberikan ujian ini padamu. Pasti Allah tahu, kamu bisa melewati ini. Aku akan ada buat kamu, pintu rumahku juga terbuka lebar buat kamu. Kita akan jadi teman sekarang. Kalau ada apa-apa, kamu bisa bilang padaku Din."


Seketika air mata yang sejak tadi ditahan Dinda, dengan mudahnya luruh begitu saja, mengucur dengan derasnya. Dinda menumpahkan segala rasa yang ia pendam seorang diri.


Sejak Arkan di penjara, wanita itu hanya bisa menangisi nasibnya seorang diri di setiap malam. Tidak ada tempat untuk ia curahkan segala rasa, kesedihan dan kesepiannya. Dan hari ini Tuhan mengirimkan Arumi, wanita yang pernah ia sakiti hatinya, justru hanya wanita itu yang kini menjadi teman dikala ia terpuruk.


"Terima kasih Rum, aku pernah nyakitin kamu sesakit-sakitnya. Tapi kamu masih baik sama aku, aku minta maaf Rum," ujar Dinda terisak di pelukan Arumi.


"Lupakan, aku sudah melupakan itu. Jangan diingat-ingat kembali yang sudah berlalu. Kita tidak bisa memperbaiki apa yang sudah terjadi, tapi kita bisa merencakan hal baik untuk apa yang terjadi. Fokus pada sekarang dan masa depan, yang belakang kita tinggal. Sekarang kita adalah teman."


Bari mengulas senyum bahagia dan bangga. Ya, ia bangga memiliki istri berhati luas seperti istrinya yang tak pernah ia lihat dari wanita-wanita yang pernah menjadi kekasihnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2