
"Widya, ke ruang kerja saya sekarang!" titah Bari.
Widya lalu mengikuti langkah Bari, dalam hati ia bertanya-tanya ada apa gerangan, sampai-sampai majikannya itu memintanya ke ruang kerja dan hanya berdua, tanpa istrinya. Lalu ia teringat dengan momen semalam, gadis itu jadi senyum-senyum sendiri. Karena ia merasa benar-benar sudah berhasil mengambil hati majikannya.
"Apa ini?" tanya Bari memperlihatkan rekaman CCTV beberapa waktu lalu.
Sontak mata Widya terbelalak, ia merutuki diri sendiri dalam hati. Bagaimana bisa ia melupakan CCTV yang terpasang di setiap sudut rumah.
"Pak, saya.... "
"Apa? Tidak bermaksud mencelakai siapapun, tidak sengaja meletakkan kelereng di tengah jalan? Siapa sebenarnya target kamu?" tanya Bari dengan tatapan mautnya.
Widya hanya diam memikirkan kata yang tepat untuk ia lontarkan sebagai jawaban. Sembari menautkan jari jemarinya dan menggigit bibir bawahnya ia masih berkutat dengan jawaban untuk pertanyaan Bari.
"JAWAB WIDYA!" bentak Bari yang hilang kendali. "Kamu tahu apa yang terjadi karena ulahmu itu? Anak saya hampir tiada. Kamu membahayakan nyawa janin yang bahkan bentuk tubuhnya belum terbentuk sempurna. Beruntung nyawa anak saya masih bisa di selamatkan, jika tidak, saya pastikan kamu mendekam di penjara. Terlepas dari siapapun orang yang akan kamu celakai, tindakan kamu sudah di luar batas, Widya. Silakan angkat kaki dari sini!" ujar Bari berdiri dan membuat gestur mengusir seseorang.
"Pak saya minta maaf Pak saya khilaf." Widya mulai menumpahkan air mata yang entah palsu atau tidak.
"Khilaf dari mana? Yang namanya khilaf itu melakukan sesuatu yang tidak sengaja, anak-anak kalau di kasih lihat video ini juga nggak akan percaya kalau kamu bilang ini khilaf. Saya nggak mau tahu dan nggak peduli kamu melakukan ini untuk siapa dan tujuannya apa? Yang saya tahu, kamu sudah melakukan percobaan untuk mencelakai keluarga saya. Kemasi barang kamu, angkat kaki dari sini."
"Pak saya mohon maafkan saya. Beri saya kesempatan kedua pak," pinta Widya memelas.
"Tidak ada, silakan kemasi barangmu."
Widya hendak berucap kembali, namun kalah cepat dengan Bari. Gadis itu akhirnya pasrah, tak ada lagi kata pembelaan darinya.
Widya berlari sambil menangis, sekali lagi entah menangis karena menyesal atau menangis karena ketahuan dan ia di pecat, tak ada yang tahu.
__ADS_1
"Kamu kenapa Wid? Kenapa nangis? Ada apa?" tanya bi Darmi bingung.
Widya masih sesenggukan, bibirnya tak mampu berucap, lidahnya terasa kelu untuk ia gerakkan. Hingga datanglah Bari dan menjelaskan semuanya. Tak ada sangkalan dari Widya, gadis itu hanya menunduk dalam-dalam. Sementara ibunya hanya mampu menutup mulutnya yang mungkin saja terbuka lebar. Bi Darmi tak menyangka dan seakan tak percaya dengan apa yang beliau dengar.
"Bikin malu kamu, Wid. Mau di taruh dimana muka ibu. Ibu nggak pernah ajarin kamu jadi jahat, kita ini sudah hidup susah, miskin. Tapi kita jangan miskin akhlak, ibu kecewa sama kamu, Wid," tutur bi Darmi dengan berbisik dan menahan tangis.
"Kamu tahu Wid? Sebenarnya istri saya mau kamu kuliah, biar kamu bisa membenahi ekonomi keluarga kamu. Biar kamu punya masa depan cerah, kedua orang tua kamu juga bahagia dan bangga, ayah kamu juga bisa berobat dengan cepat kalau kamu berpendidikan dan punya pekerjaan layak. Saya bukannya menghina atau menganggap asisten rumah tangga itu kerjaan nggak layak, nggak. Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang, dan bisa di raih. Saya diminta untuk membiayai kuliah kamu, saya mau melakukan ini nanti, setelah istri saya sehat dan bisa beraktivitas seperti biasa. Tapi sayang, takdir tidak menghendakinya."
Jujur saja, ucapan Bari membuat ibu dan anak itu tercengang. Terlebih lagi Widya, seluruh badannya bergetar dan tangisnya semakin pecah.
"Atas nama Widya saya minta maaf, pak. Tindakan Widya memang tidak pantas untuk di maafkan, sekali lagi saya minta maaf," ujar bi Darmi malu.
"Saya sudah memaafkan bi, istri saya juga sudah. Tapi maaf, untuk membiarkan Widya di sini saya tidak bisa. Jadi, saya minta Widya untuk pulang sekarang."
"Baik, baik Pak. Kami akan pulang sekarang."
"Saya malu pak."
"Lihat Widya, apa yang kamu lakukan sangat besar dampaknya ke orang-orang terdekat kamu, termasuk kamu sendiri."
Widya masih sesenggukan dengan menundukkan kepala.
"Bi, kalau bibi pergi juga siapa yang akan urus kami? Bibi kan tahu, Arumi masih belum bisa beraktivitas. Saya mewajarkan kalau bibi malu dengan kelakuan Widya, tapi bibi nggak perlu pergi juga dari sini. Bibi kan juga butuh uang untuk keluarga di kampung, apalagi anak bibi masih ada yang sekolah kan?"
Bi Darmi membenarkan kata majikannya, jika ia pergi dari rumah yang selama beberapa bulan ini menghidupi keluarganya di kampung, maka tidak ada lagi pemasukan. Beliau adalah tulang punggung kelurga di usia yang tak lagi muda. Beliau harus membiaya adik Widya yang masih mengenyam pendidikan dan juga suaminya butuh uang untuk berobat sakitnya.
Akhirnya dengan menahan malu, beliau setuju untuk tidak pergi dari rumah itu. Berkali-kali beliau berterimakasih pada majikannya, dan maaf yang entah sudah kali berapa beliau lontarkan.
__ADS_1
*
"Kamu ini, Wid. Bikin malu ibu, kamu tahu? Seandainya saja bapak kamu nggak sakit dan adik kamu sudah lulus sekolah, ibu akan pergi dari sini. Rasanya ibu nggak punya muka lagi di hadapan pak Bari dan bu Arumi. Kamu tahu maraka semua baik, udah nganggap kita kayak keluarga, mana ada majikan yang baik seperti mereka. Makan makanan yang sama, bebas ambil apa aja di kulkas, kalau pak Bari dari luar kota kita juga nggak ketinggalan oleh-oleh. Ibu nggan tahu lagi setan apa yang masuk ke tubuhmu dan dimana kamu meletakkan otak kamu itu," omel bi Darmi seraya meletakkan baju ke dalam tas anaknya. "Sebenarnya kenapa kamu melakukan itu? Kamu ingin siapa yang jatuh?" imbuhnya.
Widya diam saja.
"Jawab Widya!" Bi Darmi bertanya lebih keras.
"Bu Arumi," jawab Widya pelan.
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu," tanya bi Darmi menggoncang-nggoncangkan tubuh anaknya.
"Aku suka sama pak Bari, aku iri sama bu Arumi. Dia janda, kaya, kenapa hidupnya jauh beda sama aku. Aku juga pengen bahagia bu, itu sebabnya aku selalu berusaha untuk membuat keduanya tak akur dan akhirnya berpisah."
Plak
Untuk pertama kalinya, bi Darmi menampar anaknya sendiri. Sungguh bi Darmi seperti tak mengenal anaknya sendiri.
"Masih untung kamu hanya di suruh pulang. Pulang sana, dan jangan cari pekerjaan sebelum otak kamu benar."
Bi Darmi semakin murka mendengar jawaban sang anak. Beliau cepat-cepat memasukkan seluruh pakaian ke dalam tas.
"Maafin aku bu," ujar Widya lirih.
"Kalau orang yang kamu dzolimi aja maafin kamu, kenapa ibu nggak? Ibu maafin kamu, tapi pulang sekarang, ibu masih kecewa."
Bersambung.
__ADS_1