
Tidak ada hal yang membahagiakan bagi Bari selain bercengkrama dengan Arumi dan keluarganya. Melakukan hal-hal yang sederhana namun berkesan cukup membuat Bari berbunga dan merasa dicintai oleh mereka.
Seminggu setelah makan malam itu, Bari belum bertemu kembali dengan kedua wanita yang memenuhi ruang hatinya. Jangan tanyakan bagaimana beratnya meninggalkan mereka meskipun hanya satu minggu lamanya.
Bari tak bertemu bukan semata mata karena sengaja membuat mereka rindu atau bagaimana. Tapi pekerjaanlah yang membuat mereka terpisah. Bari harus keluar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis sang ayah yang berkat kerja kerasnya dengan Firdaus membuahkan hasil yang besar.
"Om Bari berapa lama ke luar negeri? Kenapa ke sana? Nanti kalau aku kangen gimana?" tanya Caca seminggu yang lalu saat Bari pamit akan berangkat keluar negeri.
"Hanya tujuh hari sayang. Om Bari ke sana nggak liburan kok. Om Bari ke sana kerja. Ada pekerjaan yang harus om selesaikan. Nanti kita jalan-jalan kemanapun Caca mau ya," balas Bari nelangsa melihat manik mata Caca yang sudah penuh dengan cairan bening.
"Maaf tuan, bisa kita berangkat sekarang?" sela Firdaus
"Nanti telepon aku kalau udah sampai ya om. Pokoknya om harus rajin telepon aku kalau di sana," rengek anak kecil itu hampir menangis.
Bari hanya mengangguk lalu berdiri dan menatap Arumi yang sejak tadi hanya memperhatikan Caca tanpa menyela omongan anak kecil itu. Tumben sekali, pikir Bari.
"Aku pamit dulu ya Rum, Tegar masih aku suruh jaga Caca dari jauh."
"Iya, terima kasih."
"Aku akan menghubungi Caca melalui nomer kamu. Jangan lupa di buka blokirnya ya. Jangan di blok lagi. Kan nggak mungkin aku ganggu bang Alvin cuman mau ngomong sama Caca."
"Iya, nanti akan aku buka blokirnya."
Setelah di rasa selesai, Bari meninggalkan halaman rumah yang pasti akan ia rindukan. Mungkin Bari terlihat lebay di mata orang, hanya seminggu dan terpisah oleh negara saja. Tapi sedihnya seakan akan meninggalkan seluruh manusia di jagat raya.
"Hati-hati di jalan Bari," ucap Arumi setengah berteriak karena jarak mereka yang sudah lumayan jauh.
__ADS_1
Bari yang hendak masuk mobil seketika tertegun. Hanya kalimat hati-hati di jalan mampu menghipnotis dirinya.
Bari kembali menoleh pada wanita yang berdiri di teras. Sudah persis seperti anak dan istri yang melepas suaminya ke medan perang. Ah bahagianya Bari jika itu benar-benar terjadi.
Baru masuk mobil setelah melambaikan tangan dan memberikan kiss bye pada Caca.
Hari ini adalah hari ke lima Bari berada di negara orang. Selama berada di sana, Bari benar-benar tak tenang. Setiap malam selalu mimpi buruk mengenai Caca. Entah Caca di bawa paksa Arkan, entah Arkan mengarang cerita agar anak itu menjauhi dirinya, dan terkadang juga mimpi Arumi yang di sakiti lagi oleh mantan suaminya itu.
Meskipun setiap hari berhubungan melalui telepon, perasaan itu selalu saja hadir tiba-tiba dan membuat Bari gelisah. Ia tak bisa pulang jika urusan di sini belum usai, namun di sisi lain ia juga tak bisa fokus dengan pekerjaannya karena kepalanya hanya memikirkan Caca dan ibunya.
"Fir, kita bisa pulang tepat waktu kan?" tanya Bari di suatu malam seraya tangannya yang sejak tadi sibuk menekan nekan layar ponselnya.
"Kemungkinan besar bisa tuan. Ini urusan kita sudah hampir selesai, mungkin kita bisa pulang besok malam tuan, jika tuan ingin segera pulang."
"Urus kepulangan kita besok ya."
Sejak tadi Bari menghubungi Arumi namun tak kunjung mendapat jawaban. Tidak seperti biasanya, di saat jam seperti ini biasanya Arumi selalu on time untuk mengangkat telepon darinya. Hal itu tentu membuat Bari semakin khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak.
Tak kehabisan akal, Bari mencoba untuk menghubungi nomer Alvin. Nomer sedang dialihkan, itulah setidaknya yang Bari dengar saat menghubungi Alvin.
"Tuan, jika tuan merasakan hal yang tak enak dan membuat khawatir alangkah baiknya tuan segera ambil wudhu dan melaksanakan kewajiban. Kita minta perlindungan pada sang Pencipta."
Tak ada pilihan lain, sepertinya memang hanya itu yang bisa Bari lakukan. Menjaga kedua wanita yang msih ia perjuangkan melalui doa.
*
Di tempat lain, kecemasan, kegundahan, panik, dan khawatir bercampur jadi satu di sebuah bangunan yang berisi banyak orang sakit di dalamnya.
__ADS_1
Ya, ibu Arumi, Alvin dan juga Caca sedang merasakan hal yang bercampur aduk jadi satu, sampai-sampai mereka tak bisa memisahkan rasa tersebut.
Saat ini meraka sedang berada di rumah sakit, dimana anak buah Bari yang ditugaskan menjaga Caca di tusuk oleh orang yang tak di kenal.
Ibu Arumi tak henti-hentinya memanjatkan doa dalam hati agar Tegar segera sadar dan Arumi baik-baik saja. Arumi? Ya wanita itu kini entah sedang berada dimana. Menurut penuturan Caca, ibunya di bawa oleh orang yang di duga satu komplotan dengan si tersangka penusukan Tegar.
Caca terus menerus menangis tergugu seraya memanggil sang ibu. Sedangkan Alvin sibuk menghubungi kakak iparnya yang berprofesi sebagai polisi.
Hal ini bukan hal yang mudah untuk di ungkap. Pasalnya, tak ada yang melihat kejadian selain Caca. Situasi sekolah yang sudah sepi menyebabkan tak ada saksi mata selain Caca. Sedangakan anak sekecil Caca tak mungkin juga memberikan kesaksiannya bak orang dewasa.
"Al, gimana? Apa kakak kamu bisa bantu?" tanya ibu Arumi.
"Belum tahu juga bu. Masalahnya di sini kita tidak tahu Arumi di bawa siapa dan dibawa kemana. Satu-satunya yang mengerti kronologis kejadian kan hanya Caca dan Tegar. Anak sekecil Caca nggak bisa dijadikan saksi, paling kita hanya bisa tanya-tanya dan menyimpulkan sendiri berdasarkan apa yang Caca lihat. Mau nggak mau kita harus tunggu Tegar pulih untuk dimintai keterangan. Begitu katak kak Han tadi."
"Ya Allah, apa itu artinya kasus ini nggak bisa diusut sebelum Tegar pulih?"
"Bisa kalau si penculik mengubungi kita untuk meminta terbusan. Tapi nyatanya sejak tadi nggak ada yang hubungi kita bu?"
"Terus kita harus bagaimana Al?"
"Berdoa saja bu, mudah mudahan kita segara di beri jalan dan Arumi baik-baik saja. Ini kak han juga sedang berusaha untuk melakukan yang tebraik bu.*
"Abi, bunda dibawa pergi sama om-om galak. Ayo kita susul bunda. Bunda pasti takut kalau di sana sendirian," ujar Caca menangis.
Alvin hanya mampu memberikan pelukan untuk kedua wanita yang kini sedang duduk dengan ditemani air mata. Ingin melakukan apa? Ia sendiri juga tak tahu. Saat ini ia hanya mengandalkan kakak iparnya dan juga menunggu Tegar yang sejak tadi tak kunjung selesai di periksa.
Bersambung
__ADS_1