Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 56


__ADS_3

Arumi menyantap roti dan air yang di bawakan oleh kakaknya. Ia memasukkan roti ke dalam mulut dengan tergesa-gesa, lebih terkesan ke rakus. Entah apa yang membuatnya begitu, entah karena ia sudah sangat lapar karena sejak kemarin tak makan atau karena ia harus makan cepat karena ia khawatir Bari dan kakaknya akan segera ke mobil.


Sudut netranya tak sengaja melihat Arkan yang sedang pasrah di gelandang oleh dua orang polisi. Sungguh benci hati Arumi pada pria itu. Ia lebih tidak menghargai dirinya ketimbang Bari. Kebencian kian bertambah di diri Arumi jika mengingat hal itu.


Tak berselang lama, ia melihat kakaknya yang sedang memapah Bari dengan amat sangat pelan. Buru-buru ia menghabiskan roti dan menenggak sebotol minuman dan menyisakan seperempat. Lalu ia memasang cadarnya dengan rapi dan memperhatikan dua pria yang berjalan ke arahnya.


"Astaghfirullah, diapain si Bari sama Arkan? Bagaimana bisa wajahnya jadi babak belur begitu?" gumam Arumi terkejut lantaran ia sendiri juga tak ingat betul apa yang terjadi sebelum sang kakak membawa ia ke mobil. Ia hanya mendengar suara pukulan yang saling menyahut dan beberapa kalimat umpatan.


Netranya beralih pada tangan Bari yang memegang perutnya dengan tangan yang penuh darah. Refleks wanita itu menutup mulut yang sudah tertutup cadar.


Rasa khawatir tiba-tiba datang begitu saja menghampiri benaknya. Arumi tetaplah manusia yang memiliki perasaan, meskipun ia dan Bari seringkali tak akur, tetap saja ia merasa khawatir degan kondisi pria itu. Apalagi ia begitu karena menyelamatkan dirinya yang bukan apa-apa dan siapanya.


Arumi turun dari mobil dengan pelan, karena lemas masih sedikit mendera tubuhnya. Untuk saat ini bukan hanya makanan dan minuman yang ia butuhkan, tapi juga istirahat. Bahkan telapak kakinya juga terasa nyeri saat ia gunakan untuk berjalan membukakan pintu penumpang untuk kedua pria yang sudah dekat dengannya.


Senyum tiba-tiba saja menghiasi sudut bibir Bari yang memar. Sudah satu minggu lebih dirinya tak bertemu dengan wanita pujaan hatinya, dan saat ini ia sedang bertatap mata dengannya. Entah Arumi sadar atau tidak, wanita itu membalas tatapan bari dengan berkaca-kaca.


"Kamu nggak apa-apa kan? Kamu ngga ada yang luka? Kamu nggak disakiti sama dia?" tanya Bari menatap lekat manik mata Arumi yang sudah penuh dengan air.


"Nggak, aku nggak apa-apa." Arumi menjawab dengan mengalihkan pandangan ke arah perut yang masih tertutup oleh tangannya.


"Aku nggak apa-apa Rum. Ini hanya luka sedikit saja. Akan sembuh dalam beberapa hari," ujar Bari yang mengerti arah pandang Arumi.


"Aku akan obati lukanya. Kita tidak tahu, benda yang digunakan untuk melukai perutmu berkarat atau tidak, aku takut jika terjadi infeksi. Lagipula darah yang di keluarkan sudah terlalu banyak. Harus segera mendapatkan perawatan."


"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun ketika ingin merawat ku Rum. Lakukan saja, karena aku yakin apapun yang kamu lakukan untukku sudah pasti yang terbaik buat aku."


Alvin merasa tidak berguna berada di antara manusia yang sedang merasakan benih-benih cinta. Badannya pun sudah kesal karena sejak tadi menyangga tubuh Bari.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya Bari, kamu kayaknya bisa bediri dengan bersandar mobil sebentar ya. Aku capek," keluh Alvin.


"Eh astafirullah, sorry sorry bang. Mending kita masuk mobil aja bang. Biar salah satu anak buah aku aja yang bawa mobilnya bang. Abang pasti capek. Nggak mungkin juga abang yang bawa mobil kalau aku akan diobati Arumi. Pasti nanti kan aku duduk di belakang berdua, masak abang jadi supir kita," ujar Bari menahan sakit di sudut bibirnya dan perutnya.


"Ada kotak p3k kan?" tanya Arumi saat semua orang sudah masuk mobil.


Alvin lalu mengambil kita p3k yang berada di laci mobil tersebut atas permintaan Bari.


Bari hanya diam dengan mata yang ia fokuskan pada wanita yang kini akan mengobati dirinya. Kepalanya ia letakkan di sandaran kursi, sangat nyaman berada di dekat orang-orang yang ia cintai.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Bari yang memperhatikan Arumi sedang berusaha menahan air mata agar tak jatuh.


"Tidak, aku hanya kelilipan saja."


"Kelilipan apa? Nggak ada debu di sini."


"Baiklah aku akan diam."


Arumi mengenyampingkan prinsip yang harus ia jaga. Ia melakukan ini atas dasar kemanusiaan. Sebagai seorang dokter, tak mungkin ia membiarkan luka Bari menganga begitu saja dan membiarkan darah mengalir terus.


"Mas, aku minta minum," kata Arumi sebelum mengobati luka Bari.


"Apa nggak ada yang baru mas? Ini sudah aku minum tadi."


"Lah, emang minumannya buat siapa? Kamu yang minum kan? Tadi kayaknya aku beli dua botol kemana yang satu?" gumam Alvin mengubek ubek tas kresek ala supermarket. "Emang buat siapa sih?" tanyanya lagi.


"Bari mas."

__ADS_1


Mendegar jawaban dari Arumi, Bari seketika merebut botol yang ada di tangan kanan Arumi. Lalu ia menenggak air yang ada di dalamnya hingga habis.


"Nggak masalah kalau bekas kamu Rum. Makasih udah perhatian ya."


Arumi hanya melongo, sedetik kemudian ia ingat bahwa ia harus segera melakukan tindakan untuk luka Bari. Jantungnya tak berhenti berdetak dengan gugup. Tangannya sampai gemeteran saat membersihkan darah yang bercucuran di perut Bari.


"Au," pekik Bari sedikit tertahan.


"Sakit? Tahan sebentar ya, aku tahu ini perih. Tapi obat ini akan membuat lukamu lebih cepat kering."


Dengan telaten Arumi meneteskan obat merah ke luka Bari. Pria itu hanya meringis menahan pedihnya luka bercampur dengan obat tetes itu.


"Sudah selesai," kata Arumi menatap Bari sesaat lalu menatap ke bawah.


"Bagaimana bisa kamu mengobati luka yang ada di wajahku jika kamu sendiri tak bisa menatapku Arumi? Jika kamu melakukan ini sebagai seorang dokter pada pasiennya maka harusnya kamu bisa profesional," pancing Bari.


Deg deg deg


Tak dapat lagi di sembunyikan, jantung keduanya sama-sama berlomba untuk berdetak lebih cepat dan kencang. Dengan tangan yang kembali bergetar, Arumi mendekatkan wajahnya dan membersihkan luka-luka yang terdapat di wajah Bari.


Bari tak ingin mengambil kesempatan dalam hal ini. Ia lebih memilih memejamkan mata dan menikmati sentuhan-sentuhan halus dari Arumi. Terasa perih, namun tak seperih tadi.


Bau Arumi yang sangat harum bagi Bari kini memenuhi hidungnya. Dan Bari akan pastikan Bari akan mengingat aroma Arumi yang membuat ia bepikir yang tidak-tidak.


Tunggu tunggu, ada yang menggeliat di salah satu bagian tubuh ku. Astaga, bagaimana ini? Hanya mencium dan menikmati aroma saja, kenapa kau bangun bondan. Oh astagfirullah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2