
Beberapa hari berlalu, suasana keluarga Arumi sudah kembali seperti dulu. Meskipun Caca masih ada rasa cemburu pas janin yang masih di perut ibunya, namun tak kentara seperti sebelumnya. Widya pun masih mencuci otak anak kecil itu. Ia masih gencar berusaha untuk menjadi gundik Bari, menjadi istrinya kalau perlu.
"Caca beresin mainannya yuk, ikut bunda sama ayah apa nggak? Kita mau ke rumah nenek."
"Iya bunda," jawab Caca lalu merapikan semua mainannya di bantu dengan Widya. Setelah selesai anak itu lalu pergi ke lantai atas menyusul ibunya.
Tiba-tiba Widya kembali mendapatkan ide untuk mencapai tujuannya. Ia sengaja meninggalkan satu kelereng kecil di dekat kursi ruang tamu. Ia meletakkan itu di tengah jalan yang sudah pasti akan dilalui oleh siapapun jika ingin keluar masuk rumah. Ia berharap Arumi tak sengaja menginjak kelereng ini dan jatuh terpleset. Gadis itu bergegas pergi begitu terdengar kaki yang sedang melangkah di lantai atas.
"Jangan lari-lari Caca, nanti jatuh," kata Arumi memperingati anaknya.
"Aku nggak sabar mau main sama tente Farah," teriak Caca sambil terus berlari.
Arumi lebih dulu keluar rumah, sedangkan suaminya masih berkutat di depan cermin. Hingga tiba-tiba ia menginjak sesuatu yang bulat dan kakinya tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Dak akhirnya ia terjatuh dengan pantat terlebih dahulu menyentuh lantai.
"Arrggh. Mas!" teriak Arumi sekencang kencangnya karena ia mengeluarkan darah dari jalan lahir dan perutnya terasa sangat sakit.
Bari yang mendengar teriakan dari istrinya berlarian tunggang langgang ke lantai bawah. Ia sudah terlihat sangat panik meski ia tak tahu apa yang membuat istrinya berteriak. Caca yang sudah sampai di teras pun kembali masuk ke dalam rumah. Bi Darmi dan anaknya juga berlarian ke ruang tamu. Sementara Arumi meringis kesakitan menahan sakit di perutnya.
"Astaga." Hanya itu yang keluar dari mulut Bari. Pria itu bergegas menggendong istrinya dan berteriak memanggil sang supir. "Caca di rumah sama mbak Widya dulu ya, ayah janji akan cepat pulang," teriak Bari berlari menuju mobil. Mobil melaju menggilas jalanan setelah Bari dan istrinya masuk mobil.
"Sayang, tahan sebentar ya. Aku yakin kamu kuat," ujar Bari merangkul istrinya yang sedang merintih.
*
"Bagaimana dok? Bagaimana keadaan istri dan anak saya? Mereka selamat kan? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Bari begitu dokter perempuan yang biasa memeriksa Arumi keluar ruangan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, bu Arumi dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Keduanya selamat dan baik-baik saja. Tapi karena kandungan bu Arumi masih sangat muda, jadi lebih baik setelah ini bu Arumi bedrest selama satu atau dua bulan. Karena guncangan yang di terima janin cukup keras dan tidak akan baik jika bu Arumi terus beraktivitas atau jalan-jalan setelah ini."
"Baik dok, saya akan melakukan apa yang dokter sarankan. Terima kasih banyak dok," kata Bari senang. Ia lalu masuk ke ruangan istrinya.
"Sayang, apa ada yang sakit?" tanya Bari duduk di kursi yang berada di dekat ranjang.
"Nggak mas, udah nggak sakit. Maaf aku ceroboh, tadi aku jatuh karena menginjak seuatu mas. Aku nggak tau itu apa, tapi kayak bulat dan bisa menggelinding gitu, kayak kelereng."
"Nanti akan aku tanyakan ke orang-orang. Udah nggak usah dipikirkan ya. Yang penting anak kita dan kamu baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup. Setelah ini kamu harus bedrest selama satu atau dua bulan. Nurut ya, buat kebaikan semuanya juga. Jangan bangkang dan ngeyel," kata Bari memberitahu sekaligus memperingatkan.
"Iya mas. Maaf ya, aku jadi nggak bisa melayani kamu lagi selama beberapa waktu."
"Ngomong apa sih. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
Bukan itu yang Arumi khawatirkan, ia sangat yakin dan percaya bahwa suaminya itu bisa mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan darinya. Ia hanya takut jika kondisi yang dialaminya sekarang akan menjadi kesempatan untuk Widya melakukan aksinya mencari perhatian Bari. Meskipun ini masih firasatnya saja, Arumi sangat meyakini kalau suaminya itu jadi incaran baby sitter anaknya.
"Bunda nggak apa-apa?" tanya Caca menghamburkan diri ke pelukan ibunya.
"Nggak apa-apa sayang. Bunda sehat kok, tapi setelah ini bunda harus banyak tiduran di kasur, jadi nggak bisa menemani Caca main. Mainnya sama mbak Widya ya."
Caca hanya mengangguk mengerti.
Widya sedikit kesal dan membuang nafas kasar. Ia kesal karena anak yang di kandungan majikannya itu terselamatkan.
Mata Bari masih berkeliaran di lantai ruang tamu. Barangkali ia masih bisa menemukan benda yang dimaksud Arumi tadi. Hingga sudut netranya melihat ada kelereng yanng terdiam di sana. Ia pun berjalan dan mengambil kelereng tersebut.
__ADS_1
"Ini punya Caca?" tanya Bari berjongkok di depan sang anak.
"Iya, kenapa?" tanya Caca dengan polosnya.
"Kenapa nggak diberesin? Caca tahu nggak? Tadi bunda kepleset gara-gara ini. Lain kali setelah bermain, harus di bereskan ya."
"Udah aku beresin ayah. Mbak Widya juga bantu beres-beres kok."
"Lain kali lebih teliti lagi ya, biar nggak kejadian lagi. Untung aja dedek bayi yang ada di perut bunda nggak apa-apa."
Semua perkataannya Bari membuat Caca merasa sang ayah tak lagi menyanyanginya dan menyalahkan dirinya atas insiden yang menimpa sang ibu. Anak kecil itu jadi teringat kata-kata Widya yang selalu mengatakan ayah dan ibunya tak lagi sayang padanya. Padahal kata-kata yang Bari lontarkan dibuat dengan selembut mungkin.
Caca hanya menganggukkan kepala dan mengucapkan maaf lalu beranjak dari sana. Ia berjalan gontai menuju kamarnya.
"Mas, kenapa musti ngomong begitu sih?" protes Arumi.
"Apa salahnya? Aku hanya memberi tahu kalau untuk membereskan mainan lebih teliti lagi biar nggak tertinggal," balas Bari membela diri.
"Ya tapi kamu harusnya nggak ngasih tahu ke Caca aja, ke Widya juga. Kamu tahu sendiri Caca sensitif dan kamu mengulangi kesalahan lagi."
"Salah apanya sih Rum. Ini aku lakukan juga bukan buat aku loh. Buat kamu, anak kita. Aku hanya memberi tahu Caca kamu nyalahin aku? Caca jangan di belain terus, nanti dia nggak akan tahu dia salah apa benar. Kita harus didik dia tegas dari kecil, kita beri tahu dia kalau dia salah dengan bahasa yang halus dan mudah di mengerti. Kamu sendiri yang bilang kan?"
"Iya aku tahu, siapa yang nyalahin sih, mas? Aku hanya bilang kalau sebaiknya kamu memberi tahu Widya juga. Nggak ada kata-kata ku yang menyalahkan kamu."
"Arumi sudah ya, aku tidak ingin membahas apa-apa yang berujung pada pertengkaran kita. Kamu masih lemah dan harus banyak istirahat."
__ADS_1
Arumi diam mengehela nafas panjang. Ia merasakan ada yang berubah dari Bari. Ia jadi memikirkan yang tidak-tidak. Namun, sedetik kemudian ia membuang jauh-jauh pikiran buruknya.
Bersambung.