
Selesai mandi dan bersiap akan ke masjid, aku menimbang-nimbang kartu nama dari Bari. Membaca sekilas namanya lalu bingung hendak menghubunginya atau tidak.
Beberapa jam yang lalu aku sangat yakin ingin mengajak Caca jalan sendirian, tapi kenapa semakin ke sini aku dibuat bingung dengan pilihanku. Ah dasar aku ini memang labil.
"Bunda ayo," ajak anakku yang tiba-tiba saja masuk kamar dan sukses mengagetkan ku. Aku buru-buru memasukkan ponsel dan juga kartu nama Bari.
"Kunci motor bunda udah ketemu belum? Jadi kan jalan-jalannya?" tanya Caca yang nampaknya takut sekali jika aku membatalkan apa yang sudah aku janjikan.
"Udah. Tapi nanti jalan-jalan sendiri nggak apa-apa kan? Umi sama abi dan kak Zafran lagi ke rumah neneknya. Pokoknya kemanapun Caca mau bunda akan turuti. Janji."
Caca tak langsung menjawab, ada raut kecewa yang tak dapat di sembunyikan olehnya.
"Ya udah kalau gitu sama om Bari, bunda," rengek Caca manja.
"Kita berangkat ngaji dulu ya. Biasanya kan om Bari sudah ada di sana." Sengaja aku mengubah topik agar Caca tak merengek.
Sepanjang perjalanan Caca hanya diam saja. Akupun juga diam memikirkan bagaimana cara membuat Caca mengerti agar tetap menjaga jarak dengan Bari.
Begitu sampai masjid, aku tak melihat mobil Bari. Ah kenapa terbesit rasa kecewa saat aku tahu Bari tak ada ke sini. Apa-apaan hatiku ini. Aku segera beristighfar dalam hati.
*
Pukul 19.30
"Bunda, om Bari nggak ke sini," kata Caca dengan raut wajah sedih.
"Mungkin om Bari lagi sibuk sayang. Kan kita juga biasa jalan berdua."
"Ya udah pulang aja bun. Aku males jalan-jalan." Caca bangkit dari duduknya dan berjalan menuju halaman.
Apa aku egois dengan tidak mengabulkan keinginan anakku? Tapi aku benar-benar tak ingin anakku bergantung pada pria manapun. Inilah yang aku takutkan jika Bari terus menerus mendekati kami, terutama Caca.
"Kita pulangnya lewat taman mau nggak? Biar nggak cepet sampai rumah. Sekalian keliling sebentar kan nggak apa-apa. Nanti kita mampir beli mie ayam mau? Kita makan sama-sama di rumah sama oma juga."
"Mau," sahut Caca cepat.
__ADS_1
Alhamdulillah dia sedikit melupakan keinginannya. Tak apa pulang melewati jalan yang sedikit jauh dari rumah. Yang penting Caca senang dan tak memikirkan Bari terus terusan.
Di tengah jalan, aku merasa ada yang aneh dengan motor ku. Aku menepi untuk melihat adakah yang salah dengan bannya atau bagaimana.
"Yah, bocor Ca. Aduh mana nggak ada bengkel yang dekat lagi," keluhku pada Caca.
"Terus gimana dong bun? Telepon om Bari aja bun, suruh jemput di sini. Kan abi lagi di rumah nenek. Kan nggak mungkin minta tolong abi."
Ya salam Caca, kenapa yang ada di otak anakku ini hanya Bari saja. Aku melihat sekeliling barang kali ada taksi lewat, namun yang aku temukan hanya lalu lalang kendaraan pribadi dari orang-orang.
"Ayo bunda, telepon om Bari." Caca kembali mengulang kalimatnya seraya menarik narik gamis ku.
"Kita naik taksi online saja ya nak. Motornya biar bunda titipkan di warung sana," bujuk ku sambil menunjuk salah satu warung yang sederhana. Memang hanya itu yang bangunan berpenghuni yang paling dekat dengan posisi ku saat ini. Yang ada di sekitar ku hanyalah pepohonan yang minim penerangan dan juga bangunan. Rumah dan bangunan lainnya masih harus melewati beberapa meter lagi.
"Nanti motornya gimana? Kalau motor bunda di jual sama orang itu gimana?"
"Nggak boleh suudzon sama orang nak. Lagian kan sama aja, kalaupun om Bari yang ke sini motor bunda juga akan tetap di titipkan."
"Kan om Bari bisa minta tolong ke temannya bun buat antar motor ke rumah atau bawa motornya ke bengkel. Pasti om Bari punya cara buat masalah kita bun."
Astagfirullah Caca. Entah anak ini mendapat pemikiran dari mana. Kenapa dia selalu saja punya jawaban dan alasan untuk bertemu dengan Bari. Sebenarnya apa yang sudah Bari lakukan sampai-sampai Caca bisa nempel begini. Hanya di ajak jalan ke taman dan es krim, bisa se nempel ini sama orang?
"Hai cantik. Kenapa wajahmu kau tutup begitu?" tahya salah satu pria.
"Jangan dekat-dekat," teriakku saat kedua pria itu semakin maju. Aku memeluk dan menyembunyikan Caca ke dalam dekapan ku.
Mereka mulai menyentuh dan mencolek colek tanganku. Aku berteriak minta tolong, namun seakan tak ada yang mendengar teriakan ku. Caca sudah mulai menangis ketakutan.
Aku berusaha keras menepis tangan-tangan kurang ajar mereka. Sekeras apapun aku berusaha melindungi diriku dan juga Caca, tetap saja aku kalah tenaga dengan mereka. Mereka memiliki tubuh besar dan garang apalagi mereka berdua.
Crass
Aku menjerit sejadi-jadinya saat salah satu pria berhasil melepas cadarku. Aku menangis dengan menutup wajahku dengan hijabku menggunakan salah satu tangan sedangkan tangan yang lain memeluk Caca yang semakin histeris. Aku tak tahu dimana hati nurani manusia jaman sekarang. Kenapa mereka hanya melintas dan menatapku tanpa memberi pertolongan.
Hijabkupun tak luput dari incaran mereka. Aku dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan benda yang selama ini menutup aurat ku.
__ADS_1
Brak!
Aku yang semula memejamkan mata karena ketakutan sedikit melompat dari tempat ku jongkok. Aku tak tahu suara apa barusan. Tapi sepertinya ada yang menolongku. Seketika aku membuka mata dan degup jantungku seakan menari nari dengan lincahnya.
Benarkah mataku ini? Aku melihat Bari yang sedang bertarung melawan dua orang sekaligus. Sesekali ia mendapat pukulan dari mereka yang membuat sudut bibirnya berdarah.
"Arumi masuk mobil," teriak Bari di sela-sela bertarungnya.
Tanpa pikir panjang aku mengangkat Caca dan membawanya ke mobil. Aku terus berdoa dalam hati agar Bari baik-baik saja. Aku melupakan sejenak bahwa aku kesal dengannya.
"Bunda, om Bari bun," pekik Caca yang rupanya baru sadar bahwa yang menolong kami adalah Bari.
"Iya sayang."
Beberapa saat kemudian, dua orang yang mulanya terlihat beringas kini nampak kabur dengan lari tunggang langgang. Aku kembali menutup wajahku dengan jilbab yang di selamatkan Bari.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bari begitu masuk mobil.
Aku hanya menggeleng pelan, jujur saja aku masih takut dan syok.
"Caca nggak apa-apa nak? Kamu di sakiti sama mereka?"
"Nggak apa-apa om. Makasih udah selamatin kita ya om. Untung ada om Bari tadi."
" Iya sayang sama-sama."
Aku merasa Bari sedang menatapku dengan intens. Hal itu terlihat dari ekor mataku. Apa dia berharap aku juga mengucapkan terimakasih?
"Cadar kamu mana?"
"Di lepas sama mereka. Aku nggak tahu dibuang kemana." Sungguh aku ingin menangis jika mengingat hal itu.
"Ini ada masker, kamu bisa pakai ini dari pada kamu tutup begitu. Nih minum sekalian." Bari menyodorkan sebotol air mineral dan masker padaku. Seakan mengerti apa yang aku maksud, Bari membuka pintu lalu keluar dan berdiri membelakangi mobilnya.
Aku segera minum dengan cepat dan memakai masker darinya. Setelah itu aku beri Caca minum dan menyuruh Bari kembali masuk.
__ADS_1
"Motornya udah aku suruh orang untuk ambil dan bawa ke bengkel. Bagaimana bisa kamu lewat sini? Mau kemana? Udah tahu ini udah malam. Nggak baik berkendara motor kalau sendirian." Bari mencerca ku dengan berbagai pertanyaan. Sangat terlihat dia khawatir padaku tanpa mempedulikan lukanya. Ah kenapa aku jadi deg deg an begini?
Bersambung