
Arumi mengerjapkan mata begitu merasakan ada sinar yang berusaha untuk menembus netranya. Dengan pelan namun pasti, kedua bola mata Arumi akhirnya terbuka sempurna. Ia melihat sekeliling yang sangat asing dimatanya. Di detik berikutnya ia menyadari bahwa saat ini sedang di culik oleh seseorang. Memorinya masih mengingat dengan jelas dan gamblang sesaat dirinya sebelum tak sadarkan diri.
Tubuh Arumi terasa pegal dengan ikatan yang rapat di seluruh tubuhnya dari atas hingga bawah.
"Hai, udah bangun?" tanya seseorang yang Arumi sangat kenal suaranya.
"Apa yang kau lakukan Arkan? Kau sudah gila. Untuk apa kau melakukan ini? Lepaskan aku!" ujar Arumi penuh penekan.
"Tentu saja untuk mendapatkan apa yang aku mau."
"Memang apa lagi yang kau mau? Aku sudah memberikan apa yang kau minta. Aku sudah memberimu ruang untuk bertemu dengan anakku. Apa lagi yang kau mau?" teriak Arumi.
"Mana ada seorang ayah bertemu dengan anaknya hanya seminggu dua kali dan tidak lebih dari setengah jam. Kau pikir aku manusia apa? Apa kau pikir akan diam saja diperlakukan tidak adil begitu?" pungkas Arkan dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Arumi.
Arumi tersenyum miring dibalik cadarnya. "Kau mempertanyakan keadilan? Tanyakan pada dirimu sendiri, adilkah dirimu memperlakukan aku lima tahun lalu," balas Arumi tanpa rasa takut.
"Lupakan lima tahun yang lalu Arumi. Semua yang kau lakukan tidak akan merubah apapun. Aku tetaplah ayah biologis dari Caca. Kau membiarkan anakku dekat dengan manusia laknat bernama Bari. Sedangkan aku kau batasi. Memang apanya yang sudah dia lakukan sampai kau terlihat sangat tunduk padanya. Bahkan keluarga mu pun sangat welcome pada pria itu."
"Bukan urusanmu. Yang jelas, dia tidak seperti mu, menyia-nyiakan anak istrinya. Sudahlah Arkan, kau dan Bari jelas dua manusia berbeda. Tidak perlu bawa nama Bari dalam masalah ini. Lepaskan aku atau aku akan teriak."
"Hahaha, teriak saja semampumu. Aku ingin lihat adakah yang menolong dirimu di saat pangeran Bari mu itu tidak ada di sini. Memangnya apa yang bisa dilakukan keluargamu tanpa pria itu? Aku akan melepasmu jika Caca kau serahkan padaku."
__ADS_1
"Tidak akan pernah. Sampai matipun aku tidak akan pernah memberikan anakku padamu. Aku tidak peduli kau ayahnya, aku tidak peduli kau punya hak atas Caca. Bagiku kau sudah mati saat kau mengembalikan aku pada orangtua ku."
Bruak!
Arkan melempar sebuah kayu ke arah samping Arumi. Wanita itu nyaris saja terkena benda tumpul yang keras dan bahaya itu. Ternyata Arkan tetaplah Arkan yang memang jati dirinya adalah seorang tempramental dan kasar.
"Berani sekali kau padaku?" Arkan mendekati Arumi dan mencengkram pipi wanita itu dengan kuat dalam durasi yang sebentar dan kembali melepasnya dengan kasar. "Nampaknya lima tahun tidak bertemu sudah banyak perubahan darimu," lanjut Arkan dengan menatap tajam manik mata Arumi.
"Apa kau pikir aku takut dengan ancaman mu? Sama sekali tidak Arkan."
"Kau menantang ku? Baiklah, di sini saja sampai kau mati kelaparan," ancam Arkan lalu pergi begitu saja.
*
Di tempat lain, tegar sudah sadar dengan kondisi yang lemas. Untunglah, tusukan benda tajam itu tak terlalu dalam sehingga tak mengenai organ dalam tubuhnya. Meskipun begitu, Tegar kehilangan banyak darah hingga ia harus menerima donor darah dari orang lain.
"Bagaimana keadaan mas Tegar? Apa sudah jauh lebih baik?" tanya Alvin memastikan apakah pria itu bisa di tanya-tanya atau tidak.
"Hanya lemas saja pak. Maaf saya tidak bisa menyelamatkan bu Arumi. Saya..." Tegar tak mampu menyelesaikan ucapannya karena perutnya terasa nyeri.
"Istirahat saja dulu mas. Sepertinya mas Tegar mungkin butuh banyak istirahat. Kalau gitu kami pamit saja mas. Besok kita kembali lagi ke sini." Alvin merasa Tegar masih perlu banyak istirahat, sebenarnya ia ingin permasalahan ini segera tuntas. Tapi ia tak mungkin memaksakan kehendak dan egoisnya jika itu merugikan orang lain.
__ADS_1
"Jangan pak. Saya tidak apa-apa, boleh saya pinjam hapenya untuk menghubungi teman-teman saya. Meraka pasti bisa bantu untuk menemukan ibu Arumi. Saya takut kalau tuan Bari tahu soal ini saya bisa habis ditangannya pak."
"Memang apa yang kamu tahu tentang mereka jika kamu saja tidak tahu Arumi dibawa siapa dan kemana? Atau kamu mengenal orang-orang yang bawa Arumi?" Alvin tak bisa menyembunyikan rasa keingin tahuannya seraya tangan kanannya menyerah ponsel yang diminta oleh Tegar.
"Tidak pak. Setidaknya saya sempat melihat plat mobil yang mereka bawa. Saya tidak kenal mereka siapa dan yang menyuruh siapa. Tapi saya curiga sama Arkan. Beberapa hari lalu, saya sempat bersitegang dengannya. Saya diminta untuk tidak lagi menjaga Caca dengan bayaran lebih tinggi dari tuan Bari, tapi saya belum sempat menjawab apapun, tuan Bari sudah datang menghampiri kami. Dan saya sempat mendengar Arkan mengancam tuan Bari agar menjauh dari bu Arumi dan anaknya, kalau tuan Bari masih memakai saya untuk menjaga Caca, dia akan melakukan sesuatu terhadap bu Arumi. Tapi tuan Bari tidak mengindahkan ancaman Arkan. Jadi kemungkinan besar, Arkan di balik semua ini pak." Tegar menjelaskan dengan panjang lebar serta sesekali meringis menahan sakit di perutnya.
Alvin dan ibu Arumi saling pandang dalam diam. Seakan mereka menyiratkan perasan yang sama. Entah percaya atau tidak, Arkan adalah pria yang di kenal baik oleh keluarga Arumi. Bahkan kedua orangtuanya pun bersahabat dengan kedua orangtua Arumi. Tapi rupanya, Alvin dan ibunya tidak tahu sisi lain dari Arkan. Mereka hanya tahu bahwa Arkan adalah pria yang baik. Namun, pandangan mereka kembali berbeda saat Arumi di pulangkan dalam keadaan yang mengenaskan.
Dan sekarang, takdir kembali menunjukkan sisi gelap Arkan yang lain. Sebegitu tega dan jahatnya ia jika sampai apa yang di sampaikan oleh Tegar benar adanya.
"Memang alasan Arkan untuk kamu nggak boleh jaga Caca apa?" Alvin bertanya setelah Tegar selesai dengan aktivitasnya menelepon temannya.
"Arkan merasa tuan Bari membawa pengaruh buruk untuk ibu Arumi. Dia merasa karena tuan Bari lah yang membuat ibu Arumi tak mengijinkan dia untuk bertemu dengan anaknya. Kalau dari percakapan yang saya tangkap, sepertinya Arkan hanya takut jika bu Arumi dan tuan Bari bersama atau menikah, maka dia tidak akan mendapatkan akses kebebasan untuk bertemu dengan Caca, pak. Itu hanya dugaan saya. Karena seperti yang kita lihat, Caca sangat dekat dengan tuan Bari. Mungkin Arkan juga takut akan kehilangan status di mata Caca."
"Jadi menurut kamu, ini adalah cara Arkan untuk menjauhkan Bari dengan Arumi? Maksud saya begini, kalau sampai Bari mendengar berita ini pasti dia mau nggak mau akan menuruti Arkan? Karena dia tahu kelemahan Bari ada pada Caca dan Arumi. Dan jika itu terjadi, maka kami akan bebas hubungan dengan Bari dan itu tentu saja akan memudahkan dia untuk ambil Caca dari kita." Alvin menduga duga dan berusaha untuk mencari titik dari permasalahan ini.
Jika mendengar cerita dari ibunya mengenai Arkan yang mengancam Arumi dan juga Tegar, tujuan Arkan hanyalah satu. Pria itu tak ingin Arumi kembali atau merebut Arumi dari Bari, hanya Caca yang ia inginkan.
"Memang kenapa om Arkan ingin aku abi? Memang om Arkan siapa?" tanya Caca dengan polosnya.
Bersambung
__ADS_1