
Tak terasa hari yang dinantikan Bari akhirnya datang juga. Setelah penantian dan perjuangan beberapa lama, perjuangan Bari berakhir kemenangan.
Dengan degup jantung tak beraturan, Bari berdiri di depan cermin dengan beskap putih yang membuatnya semakin gagah dan tampan.
Kepercayaan diri dan sifat songong Bari hilang seketika tatkala ia berjalan menuju meja akad bersama iringan keluarganya. Sungguh saat ini ia sangat gugup. Kegugupannya kian meraja lela saat tangan halusnya menjabat tangan pak penghulu.
SAH
Bak beban hidup yang sudah terangkat sepenuhnya, akhirnya Bari berhasil melewati ijab qobul dengan lancar tanpa hambatan. Akhirnya ia bisa bernafas lega, senyum yang sempat hilang kini sudah kembali ke bibir seksinya. Rasa bahagia dan haru tak dapat dijelaskan dan tak bisa digambarkan dengan apapun.
Pria tampan itu berdiri saat melihat Arumi yang sedang berjalan diapit oleh ibu dan kakak iparnya. Senyum bahagai dan haru tak dapat Bari sembunyikan. Meskipun tertutup cadar, aura Arumi sangat terpancar dimata Bari.
Debaran halus yang sejak tadi ia rasakan kini semakin gaduh saat Arumi berdiri di depannya. Sungguh aura Arumi dangat berbeda, tubuhnya yang dibalut kebaya putih itu sungguh membuat Bari ingin merebahkan dirinya di ranjang.
Tangan sepasang pengantin baru itu bergetar saat kulit mereka sama-sama bersentuhan. Seperti pengantin pada umumnya, rasa haru akan menyelinap ke setiap sel-sel yang berada di tubuh dan menjalar ke bagian sudut tubuh manapun.
Mata Bari berkaca-kaca ketika mereka saling bersitatap dalam status dan waktu yang berbeda. Bari mendekatkan kepalanya dan mencium kening sang istri begitu lama. Ia tak tahu harus bagaimana menggambarkan rasa bahagianya mendapatkan Arumi.
"Om, aku mau dicium juga," rengek Caca menarik narik beskap Bari.
Pria itu segera membawa caca ke dalam gendongannya dan memangkunya.
"Manggilnya sekarang ayah, bukan om lagi." Bari memberikan hujan kecupan pada anak lima tahun itu. "Ngobrolnya nanti ya. Ayah sama bunda mau menyelesaikan acaranya dulu. Mau sama ayah apa oma?"
"Emang boleh aku di sini?"
"Boleh."
Bari dan Arumi lalu menyelesaikan rangkaian akad yang sempat tertunda. Dengan Caca di pangkuan Bari tentunya.
Setelah selesai dengan urusan buku nikah, mereka duduk di pelaminan bak raja dan ratu. Senyum bahagia tak luput dari bibir Bari sejak tadi. Para tamu undangan bergantian naik turun untuk menyalami dan memberikan ucapan selamat.
Pukul satu siang meraka memutuskan untuk istirahat makan siang. Caca sejak tadi tak ingin pisah dari Bari dan juga ibunya. Ia mengikuti kemanapun orang tuanya pergi. Para oma sudah membujuk Caca untuk ikut dengan mereka namun hanya penolakan yang mereka dapat.
Makanan sudah tersedia begitu meraka masuk ke kamar. Caca memutus untuk merebahkan dirinya lantaran lelah seharian menemani orang tuanya di pelaminan.
"Boleh aku buka Rum?" tanya Bari gugup. Entah kemana perginya kepercayaan diri yang selama ini meninggikannya. Hari ini mendadak hilang begitu saja.
__ADS_1
"Apanya?"
"Cadar."
Arumi mengangguk lalu memutar tubuhnya membelakangi suaminya.
"Nggak usah diputer badannya, aku bisa tanpa kamu hadap sana," protes Bari
"Biar suprise. Ayo buka."
Bari mulai meraih tali pengait yang terpasang di cadar itu dan membukanya dengan pelan. Tak membutuhkan waktu lama, cadar itu terlepas dari wajah Arumi. Jantung Bari tiba-tiba saja berdegup-degup dengan kencang.
Dengan pelan namun pasti, Arumi kembali memutar tubuhnya menghadap Bari. Pria itu terasa berhenti bernafas dalam sesaat, matanya yang teduh memandang istrinya tanpa jeda, dirinya tertegun untuk beberapa lama.
Melihat Bari yang nampak terkesima membuat Arumi ingin mengerjai suaminya itu.
"Mas," panggil Arumi.
"I....iya... Ka...kamu..." Bari mendadak gagap dan berkeringat di ruangan yang dingin itu.
"Jangan, kamu jauh lebih cantik dari yang aku bayangkan." Bari mengangkat tangannya dan mengelus pelan pipi wanita yang beberapa jam lalu menjadi istrinya.
"Sekarang aku tidak heran kenapa banyak laki-laki yang ingin menjadi suamimu. Aku sangat beruntung."
Bari mendekatkan kepalanya ke wajah Arumi, ia merasa sudah lama tak memanjakan wanita dengan bibirnya. Jarak wajah mereka semakin dekat. Hanya tinggal satu gerakan saja bibir mereka akan menyatu dengan sempurna. Seakan tahu apa yang akan terjadi, sepasang pengantin baru itu memejamkan mata bersama.
Baru saja bibir mereka bertemu tiba-tiba sebuah ketukan dipintu membuat mereka sedikit terlonjak dari tempatnya.
"Siapa?" teriak Bari setengah kesal.
"Ibu."
Dengan malas Bari berjalan menuju pintu dan membuka benda itu dengan lemas.
"Ada apa bu?"
"Caca mana? Takut ganggu quality time kamu. Pengantin baru harus banyak berdua kan, untuk pengenalan." Bu Rahma mengatupkan mulut setelah itu, sungguh beliau ingin tertawa melihat ekspresi datar Bari.
__ADS_1
"Bukan Caca yang ganggu, tapi ibu. Tuh dia tidur." Baru membuka pintu lebih lebar dan sedikit menyingkir dari tengah-tengah pintu untuk memberi jalan ibunya masuk.
"Ya udah, ibu ambil Caca. Biar dia istirahat di kamar ibu sama ibunya Arumi." Mata bu Rahma mengarah pada Arumi yang sedang duduk manis di sofa panjang. Melihat wajah Bari yang masam, bu Rahma berniat mengejai anaknya. Beliau duduk di sebelah Arumi.
"Kamu masih aja cantik Rum, kayak masih gadis. Mungkin kalau orang lihat wajah kamu, mereka nggak akan percaya kalau kamu punya anak yang sudah berusia lima tahun," puji bu Rahma seraya melirik sang anak yang terlihat lebih masam dari sebelumnya.
"Ibu bisa aja. Alhamdulillah, saya selalu bahagia dengan apa yang saya punya. Mungkin itu salah satu faktornya."
"Eh iya, kamu..."
"Ibu katanya mau ambil Caca," sela Bari yang sudah tak tahan.
"Oh iya lupa." Bu Rahma berjalan menuju ranjang dan mengangkat anak lima tahun itu.
"Jangan ngapa-ngapain dulu. Nanti malam masih ada resepsi," bisik bu Rahma ketika berada di depan anaknya.
"Emang aku mau ngapain? Orang mau makan," jawab Bari salah tingkah dan menutup pintu dengan cepat.
Bari kembali duduk di dekat Arumi. Rasa canggung kini menyelimuti dua insan yang baru saja sah bersentuhan.
Krik krik krik
"Kenapa kamu lihatin aku begitu mas?" tanya Arumi salah tingkah.
"Diamlah, aku hanya ingin menikmati wajah cantik yang baru saja aku lihat."
"Makan dulu yuk, kamu mau makan yang mana?" Arumi berusaha untuk mengalihkan topik. Ia khawatir jika Bari terus terusan menyanjung dirinya, akan terlihat wajahnya yang memerah.
"Apapun, makanan apapun yang dari tanganmu akan aku makan," balas Bari merebahkan kepalanya di pundak Arumi.
Sedang bermanja-manja dengan istrinya tiba-tiba saja terdengar suara deritan pintu yang kembali terbuka.
Ceklek
"Astagfirullah, maaf tuan. Saya salah kamar," kata Firdaus tekejut.
Bersambung.
__ADS_1