
Bak keluarga kecil bahagia, Bari, Arumi dan caca mengelilingi lapangan yang penuh dengan manusia. Pasar malam sejak dulu memang tak pernah sepi pengunjung. Meskipun permainan yang ada di sana sangatlah sederhana dari pada di mall, tapi nyatanya hiburan ini tak pernah musnah di telan zaman.
Bahkan Bari masih ingat, puluhan tahun yang lalu dirinya masih sering membujuk ibunya agar diizinkan untuk memainkan semua wahana. Tak terkecuali, rumah hantu.
Tingkah Caca membuat Bari merindukan sang ayah. Ia ingat betul, tiap kali mengunjungi hiburan ini tak pernah ayahnya mengatakan tidak. Apapun yang diinginkan oleh Bari akan dikabulkannya. Meskipun harus berdebat sedikit dengan bu Rahma, tetap lah yang menang ayahnya.
Sekarang, Bari tahu maksud dari perlakuan ayahnya. Sang ayah secara tak langsung memberikan edukasi untuk Bari agar saat dewasa nanti, ia juga memperlakukan anaknya seperti itu.
"Om mau mewarnai gambar," kata Caca yang entah sudah berapa wahana ia jajal. Tak ada rasa lelah yang tinggal diwajahnya.
"Sayang udah dong. Dari tadi kamu main." Ternyata tak hanya bu Rahma saja yang melarang anak-anaknya ini dan itu. Tapi, Arumi juga melakukan hal yang sama.
"Udah sana main!"
"Bar, jangan ajarin anakku untuk meminta apapun lalu kamu kabulkan. Ini bukan pengajaran yang baik."
"Apa tiap hari kalian ke sini? Apa permintaan Caca untuk bermain adalah hal yang membahayakan bagi dirinya? Apa permainan ini hanya akan merugikan Caca? Arumi, ini hanya permainan kecil saja. Sangat sederhana, kamu nggak perlu larang-larabg dia untuk jangan main ini itu. Nggak ada alasan buat kamu larang dia. Dia bahagia, jangan jadi penghalang kebahagiaan anak sendiri."
"Bukan itu maksudnya Bar. Sebagai orang tua kita juga harus mengajarkan untuk tidak terlalu boros dan tidak memanjakan dia. Dengan kamu memperlakukan begini ke Caca, tidak menutup kemungkinan akan ada permintaan yang besar dan dia menuntut untuk di turuti juga."
"Apa kamu bilang tadi? Kita? Kamu sudah mulai menganggap aku ada Arumi?"
Jujur saja Bari ingin guling-guling di lapangan yang di penuhi manusia itu.
Aruilmi gelagapan seketika, ia tak sadar sudah salah sebut. Satu kata sederhana yang mungkin saja berarti untuk pria yang kini di depannya.
"Aku... . Aku hanya salah bicara. Lupakan!"
"Baiklah, akan aku lupakan. Untuk masalah Caca, harus diajarkan mana permintaan yang besar dan kecil. Kita harus ajarkan dia mulai dari sekarang, mana yang perlu di turuti dalam satu permintaan, mana yang harus di turuti dalam jangka waktu yang panjang, alias menunggu dulu. Dan mana permintaan yang tidak boleh dia minta. Kalau kamu larang dia dalam hal kecil saja, maka dia akan berpikiran kalau hal kecil saja dia tidak dapat bagaimana hal besar? Aku memang belum punya anak Rum, tapi aku pernah punya ayah. Begitulah yang selalu ayah terapkan dalam kehidupan ku dan adikku."
"Tuhan itu adil ya. Kamu memang mempermainkan perasaan wanita, tapi ternyata kamu malah mengerti bagaimana cara memperlakukan anak. Sepertinya aku tidak ada apa-apanya kalau harus di hadapkan sama kamu yang sudah jauh lebih siap untuk jadi orang tua."
__ADS_1
"Karena Tuhan tahu, aku akan memiliki anak sebelum aku menikah."
"Maksudnya? Kamu pernah punya anak dengan mantan-mantan kekasih mu?" tanya Arumi dengan menaikkan nada bicaranya sedikit saking terkejutnya.
Bari tertawa mendengar pertanyaan konyol Arumi. " Ya nggak lah. Lah ini apa? Bukankah aku sudah punya Caca bahkan sebelum kita menikah?"
"Seyakin itu kamu? Seyakin itu bahwa kita akan menikah?"
Bari mengangguk mantap.
"Apa yang membuat kamu yakin?"
"Aku sudah dekat dengan seluruh keluargamu. Bahkan separuh jiwamu sudah sangat dekat denganku. Separuhnya lagi masih aku perjuangkan untuk hatiku."
"Separuh jiwaku sudah dekat?" Arumi mengulangi perkataan Bari dengan tanda tanya dan kerutan di dahi.
"Caca, separuh jiwa mu kan? Dia sudah dekat denganku dan bisa jadi aku sudah memilikinya. Masih ada separuh jiwamu yang belum ada memiliki. Dan aku sedang memperjuangkan itu untuk mendapatkannya."
"Gombal." Arumi bergumam pelan sembari berjalan menuju sang anak yang sedang mewarnai gambar yang terlukis di kanvas.
"Aku nggak gombal. Aku bicara sungguhan, jangan buat aku memintamu untuk belah dadaku Arumi."
"Ada apa di sana?"
"Ada namamu, Caca dan bahkan anak-anak kita yang belum lahir."
Entah apa yang lucu dari kalimat Bari. Alih-alih marah seperti yang sudah-sudah, respon tak terduga ditunjukkan oleh wanita bercadar itu. Ibu Caca justru tertawa renyah setelah Bari mengeluarkan jurus yang sudah lama tak ia keluarkan.
Terkejut! Setidaknya itulah yang Bari rasakan kini. Tak ia sangka akan begitu respon Arumi. Sebulan lebih mengenal wanita itu, baru kali ini Bari mendengar tawa yang sedikit terbahak dari Arumi.
Sadar di perhatikan, seketika Aruki bungkam dan melempar pandangan ke segala arah.
__ADS_1
"Ada yang lucu dari kata-kata ku Rum?"
"Bukan kata-kata, tapi khayalan. Khayalan kamu yang buat aku ketawa."
Obrolan hangat mereka berakhir karena Caca sudah selesai dengan kegiatannya. Ia menunjukkan hasil mewarnai gambar karakter yang disukai banyak anak-anak perempuan.
Bari dengan antusias memuji dan mengagumi hasil karya anak lima tahun itu.
"Sekarang mau apa lagi?"
"Jajan."
"Bar, lebih baik kita pulang. Caca sudah banyak menghabiskan uang mu dalam waktu satu jam," sela Arumi tak enak hati.
"Uang nggak ada artinya kalau nggak bisa bahagiain orang yang kita sayangi. Nggak dan yang lebih berharga selain kalian. Kamu kenapa sih? Kok kayaknya lagi ngetes aku banget. Pengen banget kayaknya aku bikin terbang?"
"Ya udahlah terserah kamu aja. Nggak akan protes lagi aku," sungut Arumi.
Bari lalu mengajak keduanya untuk istirahat di stand camilan dan juga aneka minuman lengkap. Layaknya anak kecil lainnya yang akan girang jika dihadapkan dengan banyak jajanan. Caca dengan semangat dan antusiasme yang tinggi, memilih apapun yang ia suka. Bari sengaja memanjakan anak itu sepanjang malam.
"Rum, kamu nggak mau jajan? Ini kan makanan ringan, kamu nggak perlu buka cadar."
"Iya aku tahu."
"Ya terus kenapa dari tadi diem aja."
"Masak sama suami nunggu ditawarin mbak." Penjaga stand yang aku perkiraan usianya empat puluhan itu tiba-tiba saja menyahut.
Jujur saja Bari ingin tertawa mendengar sahutan ibu penjaga stand. Sedangakan Arumi hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang mungkin saja kembali memerah.
"Suami itu apa?" sahut Caca.
__ADS_1
Bersambung