Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 50


__ADS_3

Bari saat ini sedang berdiri paling depan, rasa dag dug dug tak dapat ia sembunyikan dan kendalikan. Menjadi imam sholat untuk keluarga Arumi bukanlah hal yang pernah terpikirkan oleh Bari sebelumnya. Dengan modal bismillah dan nekat ia mulai memimpin sholat.


Debaran haluspun di rasakan oleh Arumi, pertama kali mendengar lantunan ayat suci dari mulut Bari membuat debaran halus itu berubah menjadi gaduh dan bertalu talu.


Tak disangka oleh wanita itu, pria yang nampak selengek'an dan tak pernah serius dalam hal apapun itu mempunyai suara yang lembut dan indah. Diam-diam Arumi menikmati suara yang diciptakan oleh Bari.


Bari mengucap salam tanda sholat telah usai. Mengingat kebiasaannya waktu kecil, saat usai sholat ayahnya selalu mengulurkan tangan pada anak istrinya. Hal ini pun refleks Bari terapkan saat ini.


"Mudah-mudahan untuk sholat berjamaah selanjutnya kita bisa salaman," kata Bari menghadap Arumi yang menunduk.


Bari mengulum senyum tatkala Arumi menunjukkan bahwa ia salah tingkah, Bari menebak saat ini pasti wajah Arumi sedang memerah.


Jujur saja, hati Bari menghangat saat ini. Ia ingin begini di hari-hari berikutnya. Seusai bersalaman, ia kembali menghadap kiblat dan melantunkan doa dalam hati. Nama Arumi tak pernah absen ia sebutkan dalam doa-doanya.


"Om Bari temani aku kerjain PR sebentar," rengek Caca.


"Besok kan sabtu, sekolah kamu libur kan? Di kerjain hari minggu aja," saran Bari seraya melipat sajadahnya.


"Nggak boleh gitu. Kalau ada pekerjaan dan kita bisa melakukannya sekarang, ya harus di lakukan sekarang. Kalau ditunda-tunda nanti lupa," balas Caca dengan nada bicara yang ia buat sebijak mungkin. Hal itu mengundang tawa di mulut Bari.


"Iya iya, om temani. Pinter emang anaknya bunda," ucap Bari mencubit hidung Caca pelan.


Tanpa sadar Arumi tersenyum di balik cadarnya. Sejujurnya, ia senang melihat kedekatan mereka. Namun, di sisi lain terkadang logikanya mengingat hal-hal pahit yang sudah ia lalui, hal itu membuat Arumi menentang keras apa isi hatinya. Ia selalu menunjukkan bahwasanya ia tak butuh sosok pendamping, padahal sebenarnya hal itu hanya ia lakukan untuk mengontrol hatinya agar tak jatuh cinta dengan sosok Bari yang dahulunya adalah seorang pemain wanita.


Arumi pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Rupanya sudah ada ibunya yang sedang memasak nasi goreng kesukaan Caca.


"Istirahat aja Rum. Ibu cuman masak nasi goreng kok. Ibu buat agak banyak barangkali nanti kamu mau makan lagi. Kamu istirahat temani Caca sama Bari aja," titah ibu Arumi seraya tangannya sibuk memotong sawi.


"Haruskah aku ke sana?" tanya Arumi ragu.


"Kenapa nggak? Nggak ada salahnya kamu dekat sama Bari. Ibu lihat dia tulus kok sama kamu."

__ADS_1


"Ibu seyakin itu?"


"Dia sudah menghargai kamu banget loh Rum. Tadi aja pas kamu pingsan dia nggak ambil kesempatan dalam kesempitan. Tadi kata mas mu juga kamu dibiarkan tergeletak di lantai tanpa dia sentuh. Dia berusaha menyadarkan kamu tanpa menyentuh kamu. Rum, ibu ingin kamu juga punya masa depan nak, ibu mau kamu nggak sendiri terus begini. Kasihan Caca, apa kamu nggak nelangsa tiap kali ada acara di sekolah yang harusnya Caca bawa ayah ibunya, dia hanya bawa ibunya sama omanya."


"Aku hanya masih takut saja bu. Ibu tahu kan masa lalu Bari, dia mudah untuk jatuh cinta dengan wanita. Aku takut jika aku terima dia begitu saja, apa yang sudah menjadi kebiasaannya di masa lalu akan datang. Biar bagaimanapun, perselingkuhan tidak sembuh begitu saja bu."


"Apa hanya itu yang kamu khawatir kan?"


"Iya, jujur saja bu. Aku sendiri juga merasa ada yang berbeda dari Bari, aku bahkan merasakan kasih sayangnya buat Caca itu tulus. Tapi ada ketakutan yang terus menghantui aku bu."


"Ketakutan bukan untuk dinikmati Rum. Rasa itu harus dilawan, kalau kamu terus terpenjara dengan rasa takut kamu, kamu nggak akan maju. Jangan lupa Rum, bukankah mas mu dulu tidak jauh beda dengan Bari. Dulu mas mu kan juga pacaran seminggu putus ganti lagi, dua minggu putus ganti lagi. Kurang lebih sama kan kayak Bari. Tapi begitu ketemu sama mbak mu tobat juga dia. Semua buaya akan takut juga kalau udah ketemu sama pawangnya."


"Ibu bisa aja bu."


"Sebenarnya kamu lagi mikir apa sih Rum?"


"Nggak mikir apa-apa bu. Kenapa memang?"


Arumi tahu, sebuah kepercumaan jika dirinya menyembunyikan sesuatu dari ibunya. Sekuat dan serapat apapun ia menyembunyikan hal itu, layaknya bangkai yang tersimpan lama. Pasti akan terendus juga oleh ibunya.


"Arkan bu, dia bilang kalau mau bawa paksa Caca kalau aku masih pakai bodyguard. Justru dengan ancamannya itulah aku jadi takut kalau aku nggak pakai bodyguard, Arkan akan dengan mudah bawa Caca."


"Untuk apa dia melakukan itu? Toh sekarang dia sudah bisa ketemu Caca meskipun sebentar kan? Dari pada tidak sama sekali."


"Entahlah bu, aku hanya merasakan Arkan akan melakukan apa yang dia mau. Aku juga nggak ngerti kenapa dia mau ambil Caca. Aku pernah ketumu dia dan istrinya, bahkan istrinya sedang hamil besar. Mungkin sekarang sudah melahirkan, kenapa masih sibuk ngurusin Caca."


"Kamu nggak tahu kalau istrinya Arkan sudah keguguran dan rahimnya diangkat?"


Jeduar!


Bagai tersambar petir di tengah hari, Arumi seketika lemas mendengar kabar dari mulut ibunya.

__ADS_1


"Ibu tahu dari mana?" tanya Arumi dengan suara begetar.


"Bari. Kamu nggak di kasih tahu sama dia?"


"Nggak bu, itu artinya dia pasti ingin rebut Caca dari aku bu. Dan cepat atau lambat dia akan melakukan itu," ujar Arumi panik.


"Jangan panik Rum. Kita serahkan dan pasrahkan sama yang maha pencipta. Ibu yakin Bari nggak akan tinggal diam. Pasti dia sudah melakukan cara untuk melindungi Caca. Bersikap santai saja Rum, tunjukkan pada Arkan kalau kamu nggak takut sama ancamannya. Justru jika kamu terlihat takut, Arkan dengan mudah akan mengelabui kamu."


Arumi mengangguk setuju, ia akan kuat dan berani melawan Arkan. Akan ia tunjukkan bahwa ia tak mudah diancam apalagi di perdaya.


"Sudah sana ke ruang tamu. Kasian Bari kalau nggak kamu temui kan. Kesannya kayak nggak menghargai tamu."


Arumi menghela nafas panjang lalu bangkit dari kursi dan berjalan keluar dapur. Tiba-tiba saja jantungnya kembali berdegup kencang saat kakinya hendak sampai di ruang tamu. Ia sampai beristighfar berkali-kali agar degan jantungnya kembali normal.


Begitu sampai sana, Arumi melihat kedua manusia itu sedang asyik ngobrol dengan suara pelan.


"Caca mau ngerjain tugas apa ngobrol nak?" tanya Arumi pelan namun seperti sindiran.


"Udah selesai bunda, nih," kata Arumi menyodorkan buku tugasnya.


"Yang ngerjain kamu apa om Bari nih?"


"Aku bunda. Aku sendiri yang ngerjain. Om Bari cuman lihat aja dari tadi."


"Ya kan kamu bisa ngerjain sendiri. Udah selesai kan tugasnya? Om pulang ya."


"Ibu lagi masak banyak Bar, kamu bisa tunggu sebentar. Kita makan sama-sama," kata Arumi gugup.


Dengan senang hati Bari mengganggukan kepala.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2