Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 88


__ADS_3

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah, Caca mendatangi ibunya ke kamar, hanya sekedar berpamitan.


"Bun, aku ke sekolah dulu ya," ucapnya sembari menghampiri ibunya yang sedang duduk dengan memainkan ponselnya.


"Iya, hati-hati ya sayang."


Caca mencium punggung tangan ibunya sebelum pergi. Saat ia berbalik, Bari membuka pintu. Pria itu menunjukkan gigi putihnya saat melihat Caca.


"Mau berangkat sekolah?" tanya Bari basa-basi.


"Iya."


Bari lalu menyodorkan tangannya untuk bersalaman, namun Caca melipir pergi begitu saja tanpa menyambut uluran tangan Bari. Kening pria itu hanya mengernyit, ia bingung kesalahan apa lagi yang ia buat hingga anak tirinya itu berbuat tak sopan seperti itu.


"Kenapa lagi sih dia? Makin ke sini Caca kok makin sering ngambek nggak jelas," keluh Bari bingung dan bertanya-tanya.


"Dari pada ngeluh, cari tahu mas. Cari tahu kenapa begitu."


"Dengan cara apa? Aku setiap tanya aja nggak pernah di jawab. Perempuan emang ribet, nggak dewasa nggak anak-anak sama aja," gerutu Bari memasang dasi di lehernya. "Aku kerja dulu ya sayang." Bari berpamitan, tak lupa ia mengecup singkat kening dan perut istrinya.


Bari berjalan pelan seraya memikirkan anaknya yang berubah sejak di asuh oleh Widya. Pria itu juga sebenarnya tak suka dengan perubahan penampilan Widya yang terkesan menggodanya. Namun kembali lagi, ia tak punya bukti atau petunjuk apapun jika memang Widya melakukan sesuatu yang buruk.


"Caca kok belum berangkat? Nunggu apa?" tanya Bari begitu melihat Caca duduk di teras.


"Mbak Widya ambil tas," jawabnya dengan nada dingin.


"Kamu kenapa sih? Kok akhir-akhir ini jutek banget ke ayah. Nggak kayak dulu, Ayah salah apa?"


"Ayah nggak sayang lagi sama aku, ayah sering nyalah-nyalahin aku sejak ada dedek bayi di perut bunda."

__ADS_1


"Kok kamu ngomong gitu? Kapan ayah nyalahin kamu? Ayah marah sama kamu juga nggak pernah kan? Kalau yang waktu itu kan ayah nggak sengaja nak, nggak ada maksud untuk marah sama kamu. Nggak boleh mikir begitu ya. Kamu sama adik kamu yang ada di perut bunda itu sama-sama anak ayah. Sama-sama ayah sayangi."


"Kemarin ayah nyalahin aku karena kelereng. Aku hanya main di atas karpet ruang tengah, ayah. Aku nggak main kelereng sampai ruang tamu."


Tak berselang lama, Widya datang. Meskipun sudah memakai seragam pemberian istrinya, Widya tetap terlihat mencolok dengan dandanannya yang terbilang cukup menor.


Setelah berpamitan, Widya dan Caca pergi dari teras. Bari hanya melihat mereka dari belakang sembari memikirkan kata-kata anak gadisnya. Ia berpikir, Caca tidak akan punya pikiran seperti itu jika tidak ada yang mengotori otaknya.


*


Sejak Arumi bedrest, Bari selalu menganggur setiap malam. Sudah dua minggu ini kejantanannya tak ia pergunakan. Ia terlalu takut jika harus melakukannya, janinnya masih belum bisa menerima goncangan.


Di tengah malam, ia terbangun karena haus. Dan sialnya, persediaan air di kamarnya sudah habis. Mau tak mau ia turun ke dapur untuk mengambil air.


Begitu sampai di dapur, ia heran kenapa lampu dapur menyala. Ternyata ada Widya yang entah ia sedang melakukan apa. Ia melihat Widya yang hanya mengenakan daster yang hanya selutut. Di tengah malam seperti ini, sepi, sunyi, senyap, siapa yang tidak kesusahan menelan ludahnya jika di posisi Bari. Dari belakang nampak sangat menonjol, besar dan padat. Entah bagaimana kenyal nya benda bulat itu.


"Pak Bari, sejak kapan di sini?" tanya Widya sedikit terkejut.


"Ha? Baru, baru saja. Saya mau ambil minum. Kamu ngapain di sini malam-malam?" Bari bertanya seraya menuang air ke dalam gelas.


"Saya lapar pak, jadi saya masak. Bapak mau makan juga?"


Entah kenapa Bari nerasa berbeda, ia melihat Widya lebih cantik dari biasanya. Bahkan tak ada make up sedikitpun, wajah Widya masih terlihat ayu. Ia lebih suka melihat Widya yang seperti ini dari pada harus ber make up tebal.


Sementara itu, Widya merasa ge er dengan tatapan Bari. Ia merasa mulai bisa mencuri hati Bari dengan perlahan. Mungkin ia bisa memulai dari sekarang, batin gadis itu.


"Pak," panggil Widya sekali lagi.


"Ha? Iya? Kenapa?" tanya bari gelagapan.

__ADS_1


"Bapak yang kenapa? Ngelamun aja? Mau saya masakin pak? Atau mau nasi goreng saya? Kita bagi dua, ini banyak," tawar Widya memperlihatkan sepiring nasi goreng yang masih mengepul.


Sebenarnya Bari tak merasa lapar, tapi entah kenapa ia malah menganggukkan kepala. Akhirnya mereka pun makan bersama di meja makan dengan duduk berhadapan tanpa bicara. Bari tak tahu kenapa ia sangat canggung di situasi seperti ini.


"Gimana pak? Masakan saya enak nggak?" tanya Widya membuka suara.


"Iya, enak kok," jawab Bari gugup.


Bari cepat-cepat memakan nasi yang ada di depannya. Ia tak mau berlama-lama berduaan di tempat yang sepi begini, ia takut jika telinganya akan di bisiki oleh setan dan berakhir yang tidak-tidak.


"Saya ke atas ya Wid, makasih makan tengah malamnya," ujar Bari terkekeh lalu beranjak dari kursinya.


Widya hanya mengangguk tersenyum seraya mengunyah makanan yang masih tersisa. Saat berdiri, tak sengaja mata Bari menatap undukan daging bagian depan Widya. Lagi-lagi ia hanya menelan ludahnya kasar. Sebelum, ia benar-benar kehabisan akal, ia bergegas pergi dari sana.


Begitu sampai kamar, ia segera pergi ke kamar mandi, mengunci pintunya dan menyalakan keran kamar mandi. Ia duduk diam dengan memejamkan mata, membiarkan pikirannya berkhayal dan tangannya mulai bekerja.


Setelah selesai dengan ritualnya, ia kembali merebahkan dirinya ke ranjang. Memeluk istrinya dan memandangnya dalam-dalam. Ia beristighfar berkali-kali karena sejak tadi membayangkan Widya dengan pakaiannya.


Bari berusaha untuk memejamkan matanya kembali, namun tak kunjung terpejam. Akhirnya ia kembali keluar kamar dan menuju ruang kerjanya. Ia memeriksa CCTV dan berniat akan menghapus rakaman barusan. Ia tak mau jika Arumi melihat dan malah terjadi kesalah pahaman meskipun mereka tak melakukan apapun.


Lalu ia iseng untuk melihat apa saja yang terjadi di rumah saat ia bekerja. Hingga rekaman di CCTV itu sampai pada kejadian beberapa waktu lalu, di hari Arumi terjatuh dan nyaris kehilangan sang janin. Dengan begitu jelas, ia melihat Widya yang sedang meletakkan sesuatu si ruang tamu. Ia memperbesar bagian tersebut dan mengepalkan tangan seketika.


"Kurang ajar si Widya, berani sekali dia," gumam Bari berusaha menahan amarah.


Bari pun menjadi curiga pada baby sitter itu, ia terlihat sering mengatakan sesuatu pada anak tirinya, entah apa yang mereka bicarakan. Namun, dari yang terlihat, Widya nampak serius saat berbisik pada Caca.


Bari akhirnya keluar dari ruang kerjanya dan kembali ke kamar. ia harus bisa tidur malam ini, agar ia besok tak terlambat bangun dan bisa menginterogasi Widya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2