Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 53


__ADS_3

Usaha Arumi untuk membebaskan diri berhasil ia lakukan setelah semalaman terjaga. Meski lelah dan letih kini menerpa dirinya, ia bersyukur bisa melepaskan tali yang mengikat tubuhnya. Rasa dahaga yang mendera tak menyurutkan dirinya untuk mencari benda yang sekiranya bisa tertumpuk.


Apapun yang ada di sana Arumi tumpuk untuk menjadi sebuah tanjakan agar ia bisa keluar dari ruangan tersebut melalui jendela yang terletak lebih tinggi dari tubuhnya.


Kejadian yang menimpa dirinya saat ini bukanlah hal yang pahit, ia pernah mengalami hal lebih pahit dari ini. Itulah sebabnya ia tak mau menghabiskan waktu dengan pasrah dan menangis tanpa ada usaha.


Yes, Arumi sudah sampai di jendela, tinggal melangkah dan melompat dari sana. Gamis yang selalu melindungi dirinya tak membuat Arumi patah semangat dan merasa kerepotan.


Bola mata Arumi membulat saat ia melihat luar gedung tersebut. Rupanya anak buah Arkan tak hanya di depan pintu saja, ada beberapa yang berada di halaman belakang gedung tersebut. Meskipun mereka masih terlelap, tak menutup kemungkinan mereka nanti akan terbangun ketika Arumi menjatuhkan dirinya ke tanah.


Tak apa, jika nanti mereka terbangun dengan suaraku. Akan aku timpuk mereka menggunakan ini. Batin Arumi melepaskan satu persatu sepatu yang ia kenakan.


Brugh


Tak ada waktu untuk menikmati rasa sakit yang lagi-lagi mampir di tubuhnya. Ia bergegas lari dari sana, meskipun ia tak tahu ke arah mana ia harus lari, yang penting lari saja.


Beberapa langkah menjauh dari dua penjaga yang sedang menyelam mimpinya, langkah Arumi terhenti karena di depannya sudah ada komplotan Arkan yang berdiri tegap dengan sangarnya.


Arumi membalikkan badan dan hendak berlari ke arah yang berlawanan. Namun, rupanya ada lagi anak buah Arkan yang siap kembali menangkap dirinya. Arumi heran pada mantan suaminya itu, kenapa ia harus menyuruh orang sebanyak ini untuk menjaga seorang janda saja.


"Jangan mendekat atau aku pukul kalian pakai ini," ancam Arumi dengan menunjukkan sepatu yang memiliki hak namun tumpul.


Bukannya menuruti atau setidaknya mendengar ancaman Arumi, kedua pria yang sedang mengelilingi dirinya itu justru maju selangkah demi langkah dengan pelan. Dalam hati Arumi takut jika kedua pria ini bertindak yang macam-macam, namun ia memasang badan tegap seakan dirinya berani dan menantang mereka.


Semakin lama mereka saling dekat dan tinggal selangkah lagi mereka bisa mendapatkan tubuh Arumi dengan mudah. Sedetik kemudian

__ADS_1


Hap


Kedua pria itu saling berpelukan karena tak berhasil menangkap Arumi. Tak mau membuang waktu lagi, Arumi lari tunggang langgang menjauh dari meraka.


Jalan yang ditumbuhi banyak ilalang membuat Arumi kesulitan untuk melangkah. Berlari tanpa alasan kaki rupanya membuat telapak kaki wanita itu terasa sakit. Dan ia menebak mungkin saja telapak kakinya sudah terluka di beberapa tempat.


Brugh


Arumi terjengkal di tanah dengan posisi tengurap, dahinya mengenai batu yang berukuran besar sehingga menimbulkan memar di dahi wanita itu.


"Berani sekali kau kabur dariku," ujar Arkan sengaja merentangkan kakinya untuk menjegal Arumi.


Dengan gerakan cepat yang tak bisa dihindari lagi oleh Arumi, Arkan menyeret dengan kasar lengan Arumi untuk dibawa kembali masuk ke gedung tersebut. Ia melempar tubuh Arumi dengan kasar. Sungguh tindakan Arkan mencerminkan bahwa dirinya tak bisa memanusiakan manusia.


"Ada hadiah yang harus kau tanggung untuk perbuatan mu ini." Arkan mengambil balik kayu yang berada di dekat kakinya lalu hendak melayangkan pada bagian tubuh Arumi.


Dering ponsel yang berbunyi nyaring membuat Arkan berhenti dengan kegiatannya dan fokus pada benda pipih yang dimiliki oleh semua orang itu.


"Oh, jadi pria itu sudah datang? Permainan akan segera dimulai," ucap Arkan yang entah bicara apa orang yang berada di seberang sana.


Arkan kemudian berjongkok di depan Arumi.


"Pangeran mu pasti saat ini sedang kebingungan dan dilanda kepanikan yang teramat sangat. Karena bidadarinya aku bawa. Ok baiklah, aku yakin anak buah pangeran mu itu pasti sudah menemukan tempat ini, jadi kita harus pergi sekarang."


"Sudah cukup Arkan. Lepaskan aku! Kau tahu apa yang kau lakukan ini tidak kan membuahkan hasil apapun, justru akan membuat Caca benci dirimu karana sudah melakukan tindakan konyol seperti ini. Kau harusnya bersyukur dengan pencapaian mu saat ini. Sudah bisa bertemu dengan anak yang tidak kau harapkan dahulu. Kau lupa kau pernah mengemis maaf dariku dan ibu? Kau mengatakan kau menyesal dengan apa yang sudah kau lakukan, tapi kau ulangi lagi. Aku bersumpah aku tidak akan pernah memberi mu maaf setelah ini, apalagi untuk bertemu dengan anakku."

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Jika saja Bari mu itu tidak main-main denganku, aku juga tidak akan melakukan ini. Aku sudah memberinya peringatan untuk tidak lagi menyuruh anak buahnya itu mengintili Caca kemana-mana. Tapi rupanya dia menantang ku."


Arkan menggeser tubuhnya dan tangannya bergerak untuk membuka cadar Arumi. Dengan tenaga yang masih ada Arumi menepis tangan-tangan nakal Arkan.


Blush


Arkan berhasil melepas cadar Arumi. Untuk sesaat mereka saling pandang dalam diam. Pandangan Arkan seketika berubah tatkala melihat wajah Arumi yang rupanya jauh lebih cantik dari lima tahun yang lalu. Wajahnya jauh lebih terawat dan ada guratan manis yang menghisi wajahnya.


Sadar dengan pandangan Arkan yang jauh berbeda dari sebelumnya, Arumi dengan cepat menutup wajahnya dengan hijab panjangnya.


"Tanganmu tidak akan melindungi wajahmu jika aku membuatku tidak sadar. Ikut denganku secara sukarela atau aku paksa?"


"Lepaskan aku," balas Arumi dengan tegas.


"Pikirkan ini Arumi! Jika kau ikut denganku secara sukarela, maka mari ikuti aku dan tutupi wajahmu dengan hijabmu itu. Tapi jika kau masih berani menantang ku, aku tidak yakin anak buahku tidak melihat wajahmu dan meraka akan tergoda dengan wajah yang kau punya. Mau nanti malam di gilir mereka?"


"Kembalikan cadar ku!" bentak Arumi.


Arkan menyunggingkan senyum yang tak dapat di artikan. Ia mengambil Cadar yang sempat tergeletak di lantai lalu membakarnya.


"Inilah akibatnya jika kau berani padaku. Ikut sekarang atau ku buka kerudung mu!" Tangan Arkan mencengkram pergelangan tahun Arumi dengan keras hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Ikut!" Tak mendapat jawaban dari mantan istrinya, tanpa ba bi bu lagi Arkan menyeret Arumi kembali dengan kasar.


Arumi tak dapat melawan lantaran tenaga yang ia punya sudah habis untuk membebaskan diri dan berlarian tadi. Ditambah lagi ia tak mengonsumsi apapun sejak kemarin siang. Wanita itu melangkah mengikuti tarikan Arkan dengan menahan sakit di telapak kakinya yang ia rasa perih dan terluka tambah besar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2