
Mulai bab ini dan seterusnya akan menggunakan sudut pandang orang ke tiga ya (sudut pandang author)
Arumi masih diam ketika Bari menanyakan apa yang terjadi dengannya. Arumi sebenarnya bingung harus menjawab apa. Ia masih ragu dan bimbang apa harus jujur atau mengarang cerita. Jika ia mengarang cerita, cerita apa yang akan ia karang?
"Arumi," panggil Bari lagi.
"Aku... Aku tadi.." Belum sempat Arumi menyelesaikan ucapannya datang seorang pria yang yadi tak sengaja bertabrakan dengannya.
"Mbak maaf ini dompetnya tadi jatuh," ucap pria itu seraya menyodorkan sebuah dompet warna coklat.
Dengan tangan sedikit bergetar Arumi menerima dompetnya. Mengucapkan terimakasih pun dengan suara sedikit bergetar.
"Kok dompet kamu bisa di dia? kamu kenal?" tanya Bari setelah pria itu pergi.
"Nggak. Tadi aku nggak sengaja tabrakan sama dia."
Arumi masih menatap kepergian pria itu bersama istrinya yang sedang hilang besar. Sungguh Arumi masih sedikit takut bila bertemu pria itu. Sudah bertahun-tahun tak bertemu nyatanya membuat ketakutan itu tak hilang begitu saja.
"Terus kenapa kayak kamu ketakutan begitu?"
"Nggak, aku hanya kaget aja tadi. Aku nggak apa-apa."
"Ya udah kalau nggak mau cerita nggak apa-apa. Se siap kamu aja ceritanya. Jangan takut selagi ada aku."
Bari tak ingin memaksakan kehendak dengan meminta Arumi untuk bercerita tentang ketakutan dirinya yang tiba-tiba. Ia tak mau membuat Arumi tak nyaman.
"Caca mana Bar?" tanya Arumi dengan paniknya.
"Tadi di sini," jawab Bari dengan berjalan cepat menyusuri kolam renang sekitar.
Arumi hanya mengikuti langkah Bari dengan kesulitan. Ia terus saja bertanya dan bergumam pada Bari dimana Caca, hal itu membuat Bari tambah panik.
Tak berselang lama, telinga Bari menangkap suara yang memanggil bunda. Ia hapal betul suara siapa itu. Mata tajamnya seketika mengarah pada kolam yang tak jauh darinya.
"Bari, Caca dimana Bar?" entah ke berapa Arumi mempertanyakan pertanyaan yang sama.
"Kamu jalan ke ujung sana ya. Buruan!"
Perintah Bari membuat Arumi takut dan berpikir yang tidak-tidak. Namun, di tengah pikirannya yang berkecamuk ia tetap melangkahkan kaki ke ujung kolam yang di tunjuk Bari.
Arumi baru sadar jika Caca tenggelam di kolam saat Bari menjeburkan dirinya ke kolam. Air mata tak dapat lagi bisa di tahan. Air bening itu meluncur begitu saja dari sudut matanya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bagi Bari untuk membawa Caca ke permukaan. Dengan wajah yang tak kalah panik, Bari berusaha mengeluarkan air yang sempat terminum oleh Caca.
"Caca bangun nak," kata Arumi dengan histeris.
Kejadian ini membuat seluruh pengunjung kolam memusatkan perhatian pada Caca dan pasangan yang mungkin saja mereka anggap suami istri.
Tak berselang lama, Arumi mengeluarkan air melalui mulutnya. Arumi dan Bara akhirnya bisa bernafas lega. Tak mau menjadikan diri mereka tontonan yang lebih lama, akhirnya Bari menggendong Caca dan membawanya ke tempat yang sedikit sepi.
"Caca kamu nggak apa-apa kan? Mana yang sakit?" tanya Arumi memeluk sang anak.
"Nggak apa-apa bun. Aku baik-baik saja. Bunda jangan nangis, maaf buat bunda sedih."
"Udah Rum, kamu mandiin Caca kita pulang."
"Nggak mau pulang om. Mau main dulu di area bermain itu. Pokoknya nggak mau pulang." Caca mulai merengek.
"Iya iya. Kita main."
"Tapi Bar..."
"Udah nggak apa-apa. Kamu lihat sendiri dia baik-baik aja."
Bari dan Arumi berpisah saat Caca sudah masuk kamar mandi. Ia pun juga melakukan hal yang sama. Pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat sampai di toilet pria, Bari bertemu lagi dengan pria yang tadi mengembalikan dompet Arumi.
Bari baru sadar bahwasanya ia seperti mengenal pria itu. Ia seperti pernah melihatnya tapi dimana? Batin Bari bertanya tanya.
*
Sudah lima menit Arumi duduk diam di tempat ayunan bersama dengan Caca. Mereka sedang menunggu Bari selesai dengan ritualnya. Sambil bersenda gurau dan menikmati mie yang tadi sempat diminta Caca.
"Om Bari lama banget bun."
"Sebentar lagi juga datang. Sabar dong, mungkin toiletnya lagi antri."
Tak sadar ada sepasang mata yang sedang menatap mereka lekat-lekat. Sepasang mata itu adalah milik pria yang tadi sempat bertubrukan dengan Arumi. Ia berjalan menghampiri mereka yang duduk di ayunan.
"Arumi?" panggil pria itu.
Merasa di panggil, tentu saja Arumi menoleh ke sumber suara. Ekspresi wajah yang berubah tentu saja tak terlihat di balik cadarnya.
"Kamu Arumi?"
__ADS_1
"Maaf anda salah orang."
Arumi menjawab dengan takut dan menggeret Caca menjauh dari sana. Namun, entah kenapa pria itu mengejar Arumi.
"Arumi tunggu Rum. Apa dia anakmu?" tanya pria itu menghadang jalan Arumi.
"Iya, di anakku. Kenapa?" tanya Arumi yang berubah menjadi berani. Entah memaksakan diri untuk berani atau memang keberanian itu muncul begitu saja.
Pria itu menatap Caca dengan tatapan nanar. Ia berjongkok dan berusaha untuk menyentuh kepala anak itu. Namun, dengan cepat Arumi membawa Caca ke dalam dekapannya.
"Jangan sentuh dia. Kamu tidak pernah mengakuinya sebagai anak waktu masih di dalam kandungan. Bahkan kamu berusaha untuk melenyapkan dia. Caca bukan anakmu kan? Caca anak selingkuhan ku kan? Itu yang selalu kamu katakan padaku. Jangan pernah lupakan itu Arkan!" gertak Arumi tegas. "Bingung sekarang kamu? Menyesal? Iya? Karena anak yang nyatanya aku lahirkan memiliki wajah yang sama persis seperti mu? Menyesal kan kamu? Penyesalan mu tidak akan berpengaruh apapun padaku. Pergi dari hadapan ku atau aku berteriak!"
"Baik, aku pergi. Maaf untuk semuanya."
Arkan pergi setelah mengatakan itu. Terpaksa ia menuruti perkataan Arumi, ia ta mau jika sampai Arumi berteriak, ia akan dinilai yang tidak-tidak. Wajah penyesalan terlihat dari wajahnya. Rupanya anak yang ia tolak dahulu, berusaha untuk ia lenyapkan dengan memberikan tendangan keras adalah darah dagingnya sendiri. Wajah dari Caca memang tak bisa bohong. Semua wajah yang dimiliki Caca adalah warisan dari Arkan, hanya bentuk matanya saja yang mirip dengan Arumi.
Arumi berusaha menyembunyikan air matanya, ia tak mau terlihat menangis di depan anaknya.
"Siapa bun?" tanya Caca bingung.
"Orang gila, dia hanya orang gila yang sedang ganggu kita nak. Jangan dipikirkan."
"Bunda nangis?"
"Ah nggak, kelilipan aja ini."
Tak berselang lama, Bari datang dengan wajah paniknya. Ia sudah berkeliling sejak tadi mencari keberadaan Arumi dan Caca namun tak kunjung bertemu.
"Astaga, aku cariin dari tadi. Habis dari mana? Aku bilang suruh tunggu di ayunan kan?" kata Bari khawatir
"Tadi ada yang ngejar kita om," adu Caca.
"Ngejar? Siapa?" tanya Bari menatap Arumi dan Caca bergantian.
"Bukan siapa-siapa, salah orang aja kok dia. Jadi main apa pulang?" tanya Arumi mengalihkan pembicaraan.
"Main dulu," sahut Caca.
Bari merasa ada yang disembunyikan darinya. Gelagat aneh dari Arumi sangat terlihat jelas di mata Bari. Tidak mendapat apapun dari Arumi, ia bertekad akan menanyakan hal ini pada Caca. Anak kecil tak akan bisa bohong. Meskipun nanti tidak mendapat infomasi yang jelas, setidaknya ia bisa mendapatkan clue nya saja, begitu kira-kira pikir Bari.
Bersambung
__ADS_1