
Hari terus berlanjut, Dinda sudah menjalani aktivitas seperti dahulu. Di saat ia tak punya suami, namun hari-harinya membahagiakan.
Setiap pagi, ia berangkat bekerja dan pulang malam. Meskipun letih ia tetap bahagia, setidaknya ia terhindar dari ibu mertuanya yang selalu menggerogoti kesehatan mentalnya.
"Dinda!" teriak ibu Arkan dengan lantang dan penuh penekanan.
Baru saja beberapa hari bisa merasakan kedamaian, datang lagi perusak. Batin Dinda memutar bola matanya malas.
"Dinda, dasar perempuan murahan kamu ya. Kamu nggak malu jadi omongan tetangga, ha? Kamu ngapain aja sering pergi pagi pulang malam?" tanya ibu Arkan ketus.
"Iya, aku jadi gundik suami orang. Kenapa? Memangnya ibu mau kasih aku makan, nanggung kebutuhan sehari-hari aku? Mau? Gara-gara nuruti apa mau ibu, mas Arkan jadi masuk penjara." Dinda semakin berani karena di rasa ibu mertuanya sudah keterlaluan.
"Dasar, perempuan tidak tahu diri. Malu-maluin saya kamu ya." Ibu Arkan sudah mengangkat tangannya hendak memberikan tamparan. Namun, dengan cepat tangan Dinda menahan tangan ibu mertuanya dan mencengkram dengan kuat.
"Malu-maluin? Memang aku siapanya ibu? Apa ibu selama ini menganggap aku menantu? Selama ini hanya penghinaan yang aku dapat. Ibu jangan pernah berani untuk melayangkan tangan di depan aku."
"Arkan harus tahu, kelakuan istrinya benar-benar keterlaluan. Berani dengan ibunya. Tidak punya sopan santun. Sudah mandul, belagu."
"Kasih tahu anak ibu sana. Kasih tahu juga kalau aku punya gundik. Aku mau lihat bagaimana reaskinya. Mas Arkan lebih pilih aku atau ibu. Tidak perlu terlalu percaya diri dengan status ibu, saat ini yang peduli dengan anak ibu hanya aku. Ibu saja yang berperan sebagai ibunya jarang menjenguk dia."
"Nggak usah banyak bicara Dinda."
"Ibu yang buat aku banyak bicara. Mau sampai kapan di sini? Selama ibu tidak pergi dan terus berceloteh di sini, aku juga akan terus banyak bicara."
"Saya pastikan kamu akan di talak Arkan," ancam ibu Arkan lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Dinda sama sekali tak takut dengan ancaman yang sudah keluar dari mulut ibu mertuanya itu. Dinda meyakini bahwa Arkan tak akan percaya begitu saja dengan ibunya yang sudah jelas-jelas membenci dirinya.
Tak mau berlama-lama memikirkan hal yang tidak penting, Dinda lebih memilih melakukan kegiatan sehari-harinya yang setiap hari selalu di awali dengan bertemu sang suami.
Dinda sudah punya ojek langganan sejak ia kembali bekerja. Mungkin itulah penyebab beberapa tetangga mengadu pada ibunya mengenai dirinya yang setiap hari pergi pagi pulang malam. Mungkin orang-orang mengira bahwa Dinda ada hubungan dengan tukang ojek yang ditunjuk Arkan untuk menjaga istrinya. Tukang ojek itu bukan tukang ojek biasa, melainkan anak buah Arkan sendiri.
*
"Ibu malu Ar, ada beberapa tetangga yang bilang sama ibu, kalau sudah Dinda setiap hari pergi pagi pulang malam. Begitu ibu tanya dia malah marah-marah," adu ibu Arkan seraya bibir bergetar seperti menahan tangis.
"Dia kerja bu, buat mencukupi kebutuhan dia sendiri."
"Tidak, dia jadi pelakor biar bisa tetap hidup. Padahal dia bisa minta kebutuhan ke ibu kalau dia mau."
"Minta ibu? Selama ini saja ibu buat dia sakit hati kok minta ke ibu. Udahlah bu, janggan selalu ngadu soal Dinda ke aku. Aku udah pusing dengan menghabiskan waktu di sini. Ibu nggak usah ke sini nggak apa-apa, biar Dinda aja yang ke sini. Seengaknya dia selalu buat aku bahagia dengan hadirnya."
"Nggak gitu bu. Udah, mending ibu pulang istirahat ya."
Merasa kesal dengan pengusiran yang dilakukan oleh anaknya sendiri, membuat ibu Arkan kembali pulang dengan amarah. Ia memaki anak menantunya dalam hati seraya harus berjalan dengan cepat.
Entah dari mana datangnya pikiran jahat itu, terbesit di kepala ibu Arkan untuk memfitnah menantunya. Beliau mau Arkan dan Dinda berpisah. Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari Dinda. Wanita itu pun sudah berani menentang dan menjawab apapun yang beliau ucapkan. Begitulah kira-kira batin wanita yang sudah berusia lima puluh tahun lebih itu.
Entah kebetulan macam apa, wanita tua itu kembali di hadapkan dengan menantunya yang akhir-akhir ini membuatnya kesal. Wanita itu hanya menatap tajam ke arah Dinda yang sedang berjalan mendekat.
Dinda yang tak ingin adu mulut dengan ibu martuanya, lebih memilih hanya berjalan tanpa menyapanya. Biarlah ia dianggap tak tahu diri, tak punya sopan santun dan menantu durhaka. Akan lebih sakit hatinya jika ia meladeni ucapan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Dasar menantu nggak tahu diri. Akan aku buat kamu berpisah dengan anakku," gumam ibu Arkan namun masih terdengar di telinga Dinda.
Dinda diam saja. Meskipun sudah berani menjawab hinaan dari ibu mertuanya, wanita itu tetap saja mengeluarkan air mata saat mendengar sumpah serapah dari wanita yang melahirkan suaminya.
"Sarapan apa kita hari ini?" tanya Arkan membuka kotak makan di depannya.
"Kesukaan kamu, sup ayam."
Begitulah, Arkan dan Dinda memulai hari. Meski dipisahkan oleh jarak nyantanya tak membuat cinta mereka surut. Mereka masih bisa menikmati hari dan kehidupan dengan senyuman.
"Oh ya mas, tadi aku di depan ketemu ibu," kata Dinda seraya mengunyah makanan.
"Iya, dia habis dari sini tadi. Kenapa? Kamu diapain?"
"Nggak diapa-apain mas."
"Kamu yang kuat ya. Atas nama ibu aku minta maaf."
"Kenapa kamu minta maaf? Aku nggak benci ibu kok mas, hanya saja aku sedang melindungi diriku agar aku tetap sehat secara mental. Aku sekarang nggak ada pundak buat bersandar, itu sebabnya aku membentengi diriku sendiri dengan berani pada ibu. Aku yang harusnya minya maaf sama kamu. Aku sama sekali nggak ada niatan untuk membenci ibu, aku harap kamu ngerti maksud aku."
"Iya iya aku paham kok. Sudah ya, jangan bahas lagi. Jangan sedih, aku nanti juga sedih. Bagaimana kerjaan kamu? Lancar?" Arkan mengalihkan topik agar Dinda tak terus menerus bersedih hati.
"Lancar mas, tapi ya itu. Tetangga kayaknya pada salah paham. Mereka mungkin mengira kalau aku ada main sama tukang ojek yang kamu suruh buat antar kemanapun aku mau. Aku sih nggak masalah mereka mau pikir apa juga, yang penting pikiran kamu ke aku mas. Aku mau kamu tetap percaya sama aku dari pada sama omongan orang lain yang kamu dengar. Aku takut aja sebenarnya, aku takut kalau aku kehilangan kepercayaan dari kamu. Nggak ada yang aku takuti selain itu. Aku nggak peduli dengan penilaian orang yang ada di bumi ini. Aku hanya peduli dengan cara pandang kamu ke aku."
Dinda menyampaikan keluh kesahnya. Ia sebenarnya takut jika ibunya itu akan mengadu domba dirinya dengan sang suami. Kata-kata ibu mertuanya sebelum ia masuk ke kantor polisi membuat Dinda kepikiran dan takut sendiri.
__ADS_1
Bersambung.