Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 73


__ADS_3

"Sayang, kita mau langsung pindah ke rumah kita apa kamu mau tinggal di rumah ibu dulu?" tanya Bari siap-siap meninggalkan hotel.


"Langsung ke rumah kita aja mas. Lagipula kita harus meenyelesaikan Mira secepatnya, tidak akan leluasa kalau kita tinggal di rumah ibu dulu. Nanti sehabis antar Caca, kita ambil pakaian dulu ya. Setelah itu kita harus ketemu sama Mira."


"Kita mau pindah rumah bun?" tanya Caca di sela makan paginya.


"Iya sayang, pindah rumah ke dekat sekolah Caca yang baru. Kita mulai hidup baru di sana bertiga sama ayah."


"Oma sendirian dong bun."


"Kan ada abi, umi sama kak Zafran. Mereka dekat dengan rumah oma kan? Jadi oma nggak sendirian."


Setelah obrolan itu usai, mereka meninggalkan hotel dan menuju sekolah Caca. Anak kecil itu sangat senang, ini adalah hari pertama ia berangkat ke sekolah dengan membawa ayahnya. Namun sayangnya, ia tak bisa memamerkan apa yang ia punya pada teman-teman yang menghinanya dulu. Lantaran ia sudah pindah sekolah dan teman-teman yang sekarang jauh lebih baik dari teman yang di sekolah lama.


Selesai dengan urusan Caca, mereka melipir ke rumah ibu Arumi. Sesuai dengan apa yang ia rencanakan tadi. Wanita itu pulang hanya untuk mengemasi pakaian dan juga pamit pada ibunya. Meminta restu agar rumah tangga yang baru saja ia mulai bisa dibawa hingga akhir hayat.


Pukul dua siang mereka memutuskan untuk pulang. Hanya membutuhkan waktu dua belas menit untuk sampai ke rumah Bari yang baru.


"Kamu udah memperkerjakan orang mas?" tanya yang Arumi yang sedikit kaget karena susah ada beberapa pegawai yang bekerja di rumah suaminya.


"Udah dong. Aku sudah memperkerjakan mereka lima belas hari sebelum kita menikah. Aku juga udah urus semuanya untuk pengajian nanti malam. Kita tinggal terima beres."


"Masya Allah, bahkan aku sampai lupa dengan hal sekecil itu. Terima kasih ya mas, kamu sudah mengatur semuanya. Harusnya kan aku yang mengerjakan itu, kok kebalik sih," ucap Arumi terkekeh pelan seraya melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya.


"Harus saling melengkapi, kalau kamu lupa ya aku yang turun tangan."


"Ayah, ini rumah kita? Besar sekali," kata Caca menganggumi rumah dua lantai yang megah itu.


Bari yang melupakan anak tirinya sesaat itu kemudian berjongkok menjajarinya. "Iya dong. Ini rumah Caca yang baru. Mau lihat kamar kamu? Ada di atas, ayo kita lihat. Caca pasti suka." Bari sangat antusias menceritakan rumah itu pada anaknya. Dengan semangat membara, ia membawa Caca ke dalam gendongannya dan berjalan menuju lantai dua. Sedangkan Arumi memilih untuk berkenalan dengan para orang yang akan menemaninya selama di rumah.

__ADS_1


Ya, Arumi sudah tak lagi bekerja di rumah sakit setelah menikah. Ini adalah permintaan Bari yang tak rela jika istrinya kelelahan mengurus rumah tangga dan pekerjaan. Suaminya ingin, dirinya fokus mengurus suami dan anak.


"Assalamu'alaikum," sapa Arumi yang berada di ambang pintu dapur.


Kedua wanita yang sibuk dengan masakannya itu seketika menoleh.


"Waalaikumsalam. Eh nyonya, maaf saya tidak dengar nyonya dan tuan datang. Mana kopernya biar saya bawa," ujar wanita yang Arumi perkirakan tak jauh dari usia ibunya.


"Nggak apa-apa bi. Tidak perlu minta maaf, kopernya sudah dibawa sama suami saya. Nggak banyak kok bajunya. Oh ya saya Arumi, bibi bisa panggil saya ibu saja." Arumi menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman.


"Oh iya bu. Saya Darmi bu dan ini anak saya Widya. Maaf Bu, tangan saya kotor. Nggak jijik kalau ibu bersentuhan dengan saya?" ucap bi Darmi merendahkan diri.


"Kita semua sama dia mata Allah. Tidak perlu merendahkan diri," balas Arumi seraya menyentuh telapak tangan bi Darmi agar wanita itu tak merasa dirinya tak pantas bersentuhan dengannya.


"Umur kamu berapa Widya? Kenapa ikut bekerja dengan ibumu?"


"Umur saya dua puluh dua tahun bu. Saya hanya lulusan SMA, sangat susah mencari pekerjaan jika hanya menggunakan ijazah SMA bu, jadi saya ikut ibu saya saja. Yang penting saya bisa mencari uang."


"Ada apa mas? Mana Caca?"


"Ada di kamar, baru aja tidur. Barusan Mira hubungi aku, aku minta untuk tunggu dia di restoran biasa kita makan."


"Katanya nggak bisa hubungi kamu, bagaimana bisa dia sekarang dengan mudahnya nelepon kamu? Berarti benar dong dugaan aku kalau dia niat nipu."


"Ini nomer aku yang lama sayang, memang baru aku aku aktifkan tadi pagi."


"Kenapa?"


"Ya biar gampang aja kalau sewaktu-waktu hubungi Mira. Udah ya, jangan mikir yang nggak-nggak. Ini nomer memang aku gunakan untuk pacaran dulunya, ok sayang sekarang kita berangkat." Bari mengalihkan topik agar pembahasan nomer ini tak kemana-mana.

__ADS_1


"Kenapa harus ketemu di restoran biasa tempat kamu makan sama dia mas?" Ternyata Arumi masih menginginkan perdebatan.


"Biar gampang sayang. Bukan Mira aja, semua pacar aku juga aku ajak makan di sana."


"Udah dong jangan cemberut," bujuk Bari seraya mencubit gemas pipi istrinya.


"Kamu tahu dari mana aku cemberut?"


"Jangan lupa, kita sudah suami istri. Hati aku sama hati kamu udah terpaut. Apapun yang kamu rasakan akan aku rasakan juga, begitupun sebaliknya."


*


"Tente jangan berharap besar kalau rencana ini akan berhasil. Aku dan Bari tak pernah melakukan apapun. Nggak mungkin dia mau bertanggung jawab sama kehamilan aku ini."


"Target kita bukan Bari, tapi Arumi. Kamu harus buat dia percaya sama kamu. Kamu yakinkan dia, kalau anak ini anak Bari. Pakai alasan apapun, pas Bari mabuk kek, nggak sadar kek, atau apapun. Tante hanya mau rumah tangga mereka hancur, itu saja. Tidak ada yang boleh bahagia di atas penderitaan Arkan," ucap Ibu Arkan dengan tatapan tajam.


Flashback back on


Setelah kepergian Bari dari rumahnya untuk yang terakhir kali, Mira masih mencari tahu Bari diam-diam. Ia masih mengintili Bari di saat-saat tertentu. Ia tak terima di tinggal Bari begitu saja meskipun ia sadar ia salah.


Hingga akhirnya ia tahu bahwa mantan kekasihnya itu mendekati Arumi. Wanita bercadar yang berstatus janda. Mira meyakini bahwa Bari mengejar wanita itu hanya untuk melampiaskan amarahnya terhadap pengkhianatan yang pernah ia lakukan.


Lambat laun, Mira mengetahui bahwa wanita yang sedang di kejar Bari adalah mantan istri sepupunya. Hal itu membuat Mira bersikap biasa saja, karena ia yakin Arumi yang pernah masuk rumah rehabilitasi jiwa itu tak mungkin menerima Bari dengan mudahnya. Hingga akhirnya, ia bertekad akan mendekati Bari kembali setelah ia lelah mengejar cinta janda itu.


Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Justru Mira mendengar kabar pertunangan mereka berdua dari ibu Arkan. Ya, ibu Arkan menceritakan hal ini pada Mira berharap bisa menggagalkan pernikahan Arumi dan Bari. Ibu Arkan meminta Mira untuk masuk ke dalam kehidupan mereka berdua sebagai penggoda.


Tentu saja dengan senang hati Mira menerima tawaran itu. Hingga akhirnya terciptalah rencana mereka untuk menghancurkan acara pernikahan Bari dan Arumi. Rencana mereka memang gagal kemarin, tapi meraka masih punya semangat membara untuk menghacurkan mahligai rumah tangga Bari yang baru saja dimulai.


Tujuan Mira pun sama. Ia juga ingin rumah tangga Bari hancur karena sudah meninggalkanya begitu saja. Dahulu ia ingin kembali bersama Bari karena rasa cintanya, namun akhir-akhir ini ia tahu sebuah fakta bahwa dirinuya dahulu adalah korban Bari. Ia baru tahu bahwa Bari memiliki banyak wanita ketika menjalin hubungan dengannya.

__ADS_1


Flashback off


Bersambung


__ADS_2