
Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya dua manusia yang sering berseteru itu masuk ke mobil dengan sama-sama kesal. Akhirnya perdebatan itu di menangkan oleh Arumi.
Begitu Bari masuk mobil, ia langsung mengarahkan seluruh tubuh dan pandangannya ke arah Arumi. Ia memandanginya dengan pandangan yang seakan mengagumi wanita di sampingnya. Hal itu sukses membuat Arumi salah tingkah. Wanita itu memutuskan untuk mendengarkan musik yang ada di mobilnya, untuk menutup kegugupan nya. Hal itu sangat jelas di mata bari, sebagai mantan Casanova, Bari sudah hapal bagaimana seorang wanita salah tingkah. Tidak perlu melihat wajahnya, dari sikap dan matanya saja sudah menjelaskan.
Entah kebetulan macam apa atau memang ini sudah rencana sang Maha pemilik hati, lagu yang diputar oleh Arumi tepat sekali, lagu tidak romantis tapi mewakili keadaan mereka.
Biarkan hati bicara
Katakan semua rasa kita
Hentikanlah kebisuan membohongi kita
(Ruri ft Ivana pesan dari hati)
Tak sampai selesai lagu itu dinyanyikan, Arumi kembali mematikannya dan menambah kecepatan laju mobilnya.
Sementara Bari tak ada niatan untuk memindah posisi duduknya. Dari masuk mobil hingga kini, seluruh tubuhnya masih menghadap Arumi dengan senyum dan pandangan mengagumi.
"Kenapa di matiin sih Rum. Enak juga lagunya," protes Bari seraya kembali menyalakan musik.
"Kalau numpang nggak usah banyak protes," balas Arumi ketus seraya kembali mematikan musiknya.
"Ya kan kamu sendiri yang jadikan aku penumpang. Kalau aku yang nyetir kan lain cerita. Lagian kalau aku nggak ke rumah sakit, sampai sekarang juga kamu masih duduk diam melamun dengan tangan yang menopang dagu."
"Nggak usah sok tahu."
__ADS_1
"Emang aku tahu. Oh ya, gimana menurut kamu soal Caca? Apa kamu akan terus mempertahankan egomu? Kamu akan terus melindungi diri dan hatimu tapi anakmu akan terluka hatinya? Sebenarnya sudah terluka sih dia. Kalau kamu begini terus lukanya akan semakin menganga." Dengan tatapan menerawang jauh ke jalanan Bari mengatakan itu. Entah bagaimana reaksi Arumi ia tak tahu. Besar harapan Bari untuk segera mendapatkan jawaban dari pejuangannya yang sudah satu bulan lebih ini.
Arumi menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Seandainya pria itu tahu jika Arumi pun sejak tadi memikirkan hal itu.
"Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana tulusnya sesorang sama kamu, ketika kamu tidak membuka hati untuknya. Tolong kabulkan permintaan Caca, Rum. Kali ini aku meminta kamu untuk jadi istri ku bukan lagi karena perasaan aku. Tapi karena untuk mempertahankan mental anakmu agar tetap waras. Bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi. Rasa itu masih ada Rum. Memang benar apa kata kamu dulu. Cinta nggak akan pergi secepat saat kita jatuh hati."
"Tolong biarkan aku untuk berpikir, Bari. Menikah bukanlah hal yang sepele buat aku. Menikah adalah tindakan yang besar, ibadah terpanjang dan berat. Aku nggak mau gagal lagi untuk kedua kalinya."
"Ya udah, kau sabar nunggu kamu kok. Aku berharap Caca pun sama. Tadi aku sebelum ke rumah sakit, aku ke rumah kamu. Dia juga cerita kalau ibunya Arkan datang katanya. Itu sebabnya aku membicarakan ini lagi. Mungkin aku akan sabar nunggu kamu sampai kamu siap. Tapi ini sulit untuk aku melindungi kalian dari Akan dan keluarganya. Aku nggak ada hak apapun atas kalian. Aku hanya mikirin kata-kata bang Alvin aja sih, Rum. Kamu tahu sendiri nekatnya Arkan gimana? Nggak menutup kemungkinan nggak ada Arkan, keluarga yang lain membahayakan Rum."
Jujur saja, Arumi tak tahu harus bagaimana? Sungguh ia bingung dengan situasi ini. Ia masih tak tahu langkah apa yang akan ia ambil. Semua sungguh merumitkan.
Apa yang dikatakan Bari ada benarnya juga, namun di sisi lain ia juga tak ingin salah langkah dan memasuki lubang yang sama. Namun, jika hubungannya begini-begini saja, Caca lah yang kan kena dampaknya.
"Ya udah, gimana enaknya kamu aja. Selagi itu baik untuk kalian. Nggak masalah."
Arumi tak tahu kenapa, ada rasa kebahagiaan saat Bari mengatakan itu. Ia hanya merasa dihargai olehnya. Banyak perubahan di diri Bari yang sebenarnya membuat perlahan namun pasti, hati Arumi akan terbuka untuknya. Hanya saja saat ini trauma yang pernah ia alami masih saja bersarang di hati, pikiran dan menari-nari di matanya.
Percakapan mereka terhenti lantaran sudah sampai rumah. Mereka sampai hampir petang karena keadaan jalan yang macet. Caca sudah menyambut kedatangan mereka di tengah-tengah pintu. Namun, ada yang berbeda dari anak kecil itu. Ia menemukan wajahnya dan mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa centi meter. Serta tangan yang ia silangkan di depan dada.
"Kamu kenapa? Kok begitu mukanya?" tanya Arumi menjajari tinggi badan sang anak lalu di susul oleh Bari.
"Kok pulangnya kalian lama? Jalan-jalan dulu, nggak ngajak aku. Om Bari sudah dari jam setengah empat ke rumah sakit dan kalian baru pulang jam setengah enam. Perjalanan dari rumah sakit ke sini tidak sejauh itu." Caca menampakkan wajah kesalnya.
Kedua manusia dewasa itu hanya menjawab dengan tertawa kecil. Sadar mereka memberi respon yang sama, keduanya saling tatap sejenak lalu kembali fokus pada Caca.
__ADS_1
"Siapa yang bilang kita jalan-jalan? Tadi tuh macet banget, jadi lama sampainya. Kamu mau jalan-jalan?" tanya Bari
"Mau, udah lama nggak jalan-jalan sama om Bari. Aku mau ke pasar malam."
"Ya udah, habis sholat isya kita jalan kemanapun kamu mau."
"Yeee. Makasih om Bari," teriak Caca kegirangan seraya memeluk pria tampan itu.
"Nggak minta persetujuan bunda?" sela Arumi.
"Kan om Bari sebentar lagi jadi ayahku. Masak bunda mau larang kalau anak jalan sama ayahnya?" jawab Caca dengan polosnya.
Mendengar jawaban itu membuat Arumi melayangkan pandangan ke arah Bari, seakan mengerti arti tatapam tersebut, Bari hanya memberi kode untuk tidak lagi menyanggah apa yang Caca ucapkan.
Bari sebenarnya tak ingin mengumbar janji seperti ini. Ia bersedia menjadi ayah Caca kapan saja. Bahkan jika detik ini juga Arumi bersedia menikah dengannya maka akan ia lakukan.
"Kamu masuk gih. Siap-siap sholat."
Seakan terhipnotis oleh ucapan Bari. Anak itu sama sekali tidak membantah dan menuruti apapun yang keluar dari mulut Bari.
"Kamu kasih apa ke anakku? Minta bantuan dukun mana sampai Caca nggak bisa nolak apa yang kamu minta."
"Mau tahu? Aku hanya minta sama sang Maha pencipta. Aku minta pada-Nya di saat semua orang tertidur nyenyak." Bari mengatakan dengan percaya diri lalu melangkah ke dalam rumah.
Bersambung
__ADS_1