
Beberapa minggu berlalu, perubahan Widya yang semakin mencolok, sudah mulai terbaca oleh Arumi. Itulah sebabnya hari ini ia akan memberikan seragam untuknya bekerja.
Sudah beberapa hari ini, Widya sudah menjadi baby sitter untuk Caca. Bari melarang keras Arumi untuk melakukan apapun disaat tahu istrinya tengah mengandung buah hatinya.
Satu minggu yang lalu, Arumi dinyatakan hamil saat memeriksakan diri. Tentu saja hal yang membahagiakan bagi pasangan manapun. Bari langsung mengadakan syukuran saat itu juga. Banyak yang ikut bahagia atau hamilnya Arumi. Namun tidak dengan Widya, gadis itu hanya menatap datar sang majikan. Sejak itu pula, Bari meminta Arumi untuk tetap di rumah, tak mengantarkan Caca sekolah apalagi pergi tanpa dirinya.
"Widya, ini ada seragam buat kamu. Setiap hari kan kamu kemana-mana sama Caca, antar sekolah dia, kalau mau main kemana juga sama kamu kan. Alangkah baiknya jika kamu pakai ini saja." Arumi menyodorkan dua pasang seragan berwarna sama.
"Baik, bu. Terima kasih, saya akan pakai hari ini." Widya berbalik arah dan menunjukkan ekspresi yang berbeda. Jika di depan Arumi, ia biasa saja dan menampilkan senyumnya, tapi tidak ketika ia berbalik arah dan berjalan menuju kamarnya.
"Mas, mulai hari ini kamu ngga perlu antar Caca. Biar supir aja yang antar."
Bari mengernyitkan dahi sejenak sebelum mengangguk, "iya sayang, apa sih yang nggak buat kamu? Caca nggak apa-apa kan sayang?" imbuh Bari pada anak istrinya.
"Nggak apa-apa yah. Sama aja siapapun yang antar."
Mereka lalu melanjutkan makan dengan hening, hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang beradu. Kehamilan Arumi kali ini tak jauh beda dengan saat hamil Caca. Tidak ada keluhan apapun selain mual di pagi hari. Ia juga bisa beraktivitas seperti biasa, hanya saja larangan dari Bari membuatnya sedikit mengurangi kegiatannya.
Selesai dengan urusan perut, Bari dan Caca meninggalkan Arumi di rumah dengan segala kemewahan yang semakin hari semakin bertambah.
Sementara itu, Widya bertanya-tanya kenapa supirnya yang mengantarkan Caca sekolah. Sebelumnya se sibuk dan apapun keadannya, Bari lah yang selalu mengantar anak kecil itu.
"Pak, kok tumben bapak yang antar?" tanya Widya tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Memang mulai hari ini saya yang antar Wid."
Widya hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Ayah sama bunda nggak sayang lagi sama aku." Tiba-tiba saja Caca berucap dan ucapan Caca sukses membuat Widya langsung menoleh padanya.
"Memang kenapa? Kenapa Caca berpikir seperti itu?"
"Bunda nggak ngebolehin Caca dianter ayah, ayah juga nggak ngebolehin bunda nemenin aku dan main lama-lama sama aku."
Widya tersenyum licik dengan apa yang baru saja ia dengar. Seperti sedang menemukan sebuah jalan untuk melakukan sesuatu yang cenderung ke hal negatif.
"Kan bundanya Caca lagi hamil. Sebentar lagi Caca akan punya adik, jadi ya sekarang lebih sayang sama adik Caca. Kasih sayang untuk Caca dibagi sama adiknya juga."
"Kan belum lahir. Nanti bagaimana kalau sudah lahir? Apa aku nggak di sayang lagi sama bunda dan ayah?"
"Di sayang sih, tapi sedikit. Kan Caca bukan anak kandung ayah, sedangkan adik Caca anak kandung ayah, pasti nanti sayangnya beda dan lebih mementingkan adik bayinya di banding Caca."
Sifat Widya semakin lama semakin keluar. Beberapa minggu bekerja di rumah Bari dan setiap hari bertemu dengannya membuat gadis itu diam-diam mengagumi Bari. Hal yang wajar, karena Bari memang memiliki tubuh yang bagus, wajah yang tampan nan rupawan, kekayaan yang melimpah ruah, kasih sayang pada keluarganya yang tak bisa ia ragukan. Tapi bukan lagi hal yang wajar jika mengagumi itu menjadikan Widya mengarah ke hal negatif.
Setelah mendengar ucapan Widya, tentu saja Caca seketika mendadak murung. Mengetahui ayah dan ibunya yang akan lebih menyanyangi adiknya membuat Caca cemburu. Padahal saat pertama kali ia tahu akan memiliki adik, ia sangat bahagia.
Pukul sepuluh pagi, terdengar bel yang berbunyi. Arumi yang saat itu sedang duduk melihat acara TV, seketika memakai cadarnya dan berjalan untuk membuka pintu.
"Dinda, ayo masuk! Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini? Gimana kalau aku nggak di rumah?" tanya Arumi seraya berjalan masuk. "Bi tolong buatkan minum ya," imbuhnya ketika bi Darmi melintas di ruang tamu.
"Nggak surprise dong kalau aku bilang," jawab Dinda terkekeh. "Caca masih sekolah?" tanyanya basa basi.
"Mungkin masih di jalan, biasanya juga sudah pulang sih kalau jam segini."
Tak berselang lama, terdengar langkah kaki yang berjalan menuju ke dalam rumah. Ternyata Caca dan Widya yang baru saja pulang dari sekolah. Arumi pun datang menghampiri dan mengajak Caca untuk bergabung dengannya.
__ADS_1
"Caca ganti baju dulu habis itu salim," jawab Caca dengan ekspresi datarnya.
Arumi mengernyit bingung. Seperti ada yang berbeda dari gadisnya itu, "Caca kenapa Wid? Apa terjadi sesuatu saat di sekolah?" tanyanya pada Widya.
"Nggak kok bu, Caca baik-baik saja di sekolah. Nggak ada berantem juga sama temannya."
Arumi mengangguk lalu kembali duduk dengan Dinda.
"Ada apa Rum?" Dinda bertanya karena seperti ada sesuatu yang terjadi.
"Nggak apa-apa Din. Kayak ada yang beda aja dari Caca. Biasanya dia nggak seperti itu."
"Mungkin masih capek Rum. Oh ya, maksud kedatangan aku ke sini, aku kau meminta sesuatu ke kamu Rum."
"Apa? Apa yang bisa aku bantu?"
"Bolehkah aku kalau main ke sini, meminta waktu Caca sebentar? Hanya sekadar untuk berfoto dan merekam kegiatannya aja Rum. Jadi, mas Arkan pernah bilang ke aku kalau dia kangen sama Caca. Ini bukan keinginan mas Arkan kok Rum, ini murni ide aku. Nggak masalah kan kalau mengabadikan keseharian anak dari suamiku? Kamu bisa pegang janji aku Rum, aku ataupun mas Arkan tidak akan melakukan kejahatan lagi. Hanya hari ini saja Rum. Boleh?"
Arumi tak langsung menjawab, ia nampak berpikir terlebih dahulu. "Boleh kok Din. Cuma ambil foto sama video kan? Nggak masalah, kamu bisa datang ke sini kapanpun. Aku berharap kesempatan yang aku berikan ini tidak dijadikan ladang untuk kembali merebut Caca dari aku. Aku tahu nggak ada yang bisa merubah keadaan, tapi kamu tahu sendiri apa yang dia lakukan padaku dulu kan? Aku harap kamu bisa mengerti Din."
"Iya Rum, aku sangat paham dan mengerti apa yang kamu rasakan. Aku nggak akan meminta lebih dari ini."
Sesaat kemudian, Caca sudah datang menghampiri ibunya dan bersalaman dengan Dinda.
Mereka bertiga lalu bercengkrama bersama. Meskipun terlihat wajah Caca yang sedikit di tekuk, Dinda tetap merekam momen langka ini. Ia tak bisa setiap hari ke sini, hanya beberapa kali dalam satu bulan. Itu sebabnya, Dinda tak mau membuang kesempatan.
Bersambung
__ADS_1