Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 54


__ADS_3

"Tenang sayang. Bunda akan kembali ke Caca ya. Om janji akan cari bunda sampai ketemu. Caca tenang ya." Bari memberikan pelukan terhangatnya pada anak semata wayang dari wanita yang ia cintai.


Begitu sampai di negara kelahirannya, pria itu hanya pulang untuk mandi lalu melencong ke rumah Arumi. Sudah sejak kemarin nomernya dan nomer Alvin sulit dihubungi. Nomer Tegar pun sudah tak aktif lagi. Hal itu tentu saja membuat Bari berpikir yang tidak-tidak. Ia sangat takut jika apa yang ingin khawatir akan terjadi.


Dan apa yang ia takutnya benar-benar menjadi kenyataan. Bak mimpi buruk yang panjang, Bari berharap bisa terbangun dan melihat Arumi di depan matanya. Pertemuan yang tidak terjadi selama seminggu ini membuat kerinduan Bari terasa di puncak ubun-ubun. Namun, begitu waktu bertemu tiba, kenyataan malah membuat dirinya kalut.


"Belum ada kabar dari pihak kepolisian bang?" tanya Bari dengan wajah khawatir yang tak dapat ia sembunyikan. Tangannya terus saja mengelus pelan kepala anak kecil yang berada dalam pangkuannya.


"Belum. Aku sendiri juga pusing, kenapa mereka bekerja sangat lambat?" Keluh Alvin seraya sesekali menengok ponselnya. "Bar, berdasarkan apa yang diceritakan Tegar, apa kamu juga punya pemikiran yang sama?" Imbuhnya


"Bisa jadi bang. Memang siapa lagi manusia yang berurusan dengan Arumi selain Arkan? Nggak ada kan? Kalau memang dalang dibalik semua ini bukan dia, atau anggap saja yang melakukan ini adalah murni penculikan. Maka seharusnya sejak kemarin dia menghubungi kita untuk meminta tebusan. Ini tidak ada sama sekali bang."


"Rupanya Arkan benar-benar keterlaluan. Selain mengancam Arumi ternyata dan juga ancam kamu?" gumam ibu Arumi geleng kepala.


"Arumi diancam juga?"


Mengalir lah cerita Arumi yang saat bersama dengan ibunya di dapur.


Nampak Bari yang mengepalkan tangan mendengar penuturan sang ibu.


Getaran di saku celana Bari membuyarkan lamunannya.


Pria itu menyerahkan Caca pada istri Alvin dan memberikan kode untuk membawa Caca pergi dari ruang tamu.


"Bagaimana?" tanya Bari begitu sambungan terhubung, tak lupa mode speaker ia aktifkan.


"Kami sudah menemukan gedung untuk penyekapan ibu Arumi. Tapi sepertinya Arkan sudah tahu bahwa kita akan datang tuan. Itu sebabnya dia bawa bu Arumi pergi dari tempat ini. Kita juga menemukan seperti kain yang ada talinya tuan, kemungkinan besar ini adalah cadar yang sudah dibakar separuhnya tuan. Ada sepasang sepatu juga di sini."


"Anggota kalian banyak dan kalian mencari di tempat yang sama? Dimana otak kalian. Cari berpencar sekarang! Cari ke seluruh sudut di kota ini. Aku mau dapat kabar baik segera!"

__ADS_1


Bari yang kesal memutuskan sambungan telepon begitu saja. Emosi yang ia tahan sejak ibu Arumi bercerita tadi sudah tak mampu ia tampung.


Bagaimana bisa Arkan sekurang ajar itu melepas cadar lalu membakarnya. Mendengar kata cadar yang di lepas dan di bakar membuat Bari memikirkan hal terburuk.


"Sabar Bari. Kita harus tenang. Menghadapi sesuatu dengan emosi tidak akan ketemu jalan keluarnya." Alvin bergeser ke samping sofa Bari dan menepuk pelan pundak pria yang tengah emosi itu.


"Bagaimana bisa aku tenang bang? Arkan melepas cadar Arumi. Aku sungguh tiak rela jika dia melihat wajah Arumi," sungut Bari kesal.


"Istighfar Bar. Dia melihat Arumi sudah sejak lima tahun yang lalu."


"Iya bang, aku tahu tapi aku tetap saja tidak rela," kekeh Bari tak mau kalah. "Bang, kita tidak bisa diam saja begini menunggu kabar. Kita harus melakukan sesuatu, tapi aku sendiri juga bingung harus melakukan apa," keluh Bari frustasi.


*


Di tempat lain, Arumi kembali duduk terikat di sebuah kursi. Wajahnya kini sudah gamblang dan tertutup cadar. Arumi hanya bisa diam menangis dalam diam dan merasa tubuhnya lemas tak bertenaga.


"Apa kau ingin minum?" tanya Arkan dengan nada mengejek.


"Hahaha, tidak bisa melawan ku kah kau? Kasian sekali. Sayangnya aku tak membawa minum sekarang. Bagaimana kalau kita hubungi saja pahlawan mu itu. Tenang, aku tidak akan melakukan sambungan video call. Wajahmu hanya aku yang menikmati. Aku akui kau semakin cantik dan menggairahkan." Arkan menelusuri wajah Arumi dengan jari jemarinya.


Sejurus kemudian, Arkan menekan nekan layar di ponselnya dan meletakkannya ke dekat telinga. Tak berselang lama terdengar sambungan telepon yang sudah terhubung dengan Bari.


"Halo kawan. Kenalkah kau dengan suaraku?"


"Bajingan kau Arkan. Katakan dimana kau sekarang atau aku akan mengirimu hujan teluh detik ini juga."


"Uuuu takut. Hahaha. Kau ini ada-ada saja. Khawatir kah kau dengan bidadarimu? Dia sedang aku nikmati sekarang. Mau dengar suaranya?" Semakin Bari menunjukkan emosinya maka Arkan akan semakin menggoda dirinya.


"Bar, tolong ak...." ucapan Arumi terputus lantaran Arkan yang memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Lalu Arkan kembali menghubungi Bari.


"Jangan main-main dengan ku Arkan. Katakan dimana kau sekarang!" bentak Bari yang sudah jengah.


"Tenanglah Bari. Aku akan mengembalikan bidadari mu ini asalkan kau bersedia untuk menukarnya dengan Caca. Serahkan Caca padaku, akan aku kembalikan Arumi mu."


"Air putih. Air putih," teriak Arumi sekuat tenaga. Ia tak tahu apakah Bari mendengar suaranya atau tidak. Ia sudah mengerahkan segala tenaganya untuk berteriak. Ia juga tak tahu apakah Bari paham dengan kode yang ia berikan.


"Hey. Apa kau haus? Tunggulah sebentar. Aku sedang berbicara dengan pria mu."


"Kau tidak memberinya apapun? Tunggu aku Arkan, akan aku pastikan kau lenyap di tangan ku sendiri."


Arkan memutuskan sambungan telepon setelah ia tertawa lebar.


*


"Bang, abang dengar sendiri kan tadi bagaimana Arumi beteriak dengan lemas dan terlihat sangat memaksa. Bisa jadi dari kemarin dia tidak di beri apapun bang. Permintaan Arkan sangat konyol, bagaimana bisa dia minta Caca untuk sama dia setelah lima tahun kejadian itu. Nggak masuk akal banget bang," cerocos Bari merasa kesal.


"Bar, kenapa aku merasa apa yang diteriakin sama Arumi adalah kode. Kamu pikir deh, untuk apa Arumi berusah payah berteriak kalau hanya bicara dengan Arkan? Air putih? Kira-kira apa?"


"Kode? Air putih?" Bari jadi ikut memikirkan. Meskipun ia sendiri masih ambigu dengan kode yang diberikan Arumi. Namun, kalau di pikir-pikir benar juga apa yang di katakan oleh Alvin. Untuk apa Arumi sudah payah berteriak jika hanya bicara dengan Arkan.


"Air putih. Apa maksudnya Arumi ada di bangunan baru yang terbengkalai ya bang? Di daerah dekat kantor pemerintahan ada bangunan yang memang belum selesai dibangun dan entah kenapa ditinggalkan begitu saja. Entah kehabisan dana atau bagaimana aku nggak paham. Dan daerah situ ada danau kecil bang."


"Kamu yakin?"


"Hanya itu yang aku tahu bang. Bangunan apa lagi kalau nggak di situ? Bangunan itu berwarna putih dan dekat dengan danau. Nggak ada waktu lagi bang, kita ke sana. Nggak ada salahnya kita buat coba."


Mereka benar-benar meluncur ke sana untuk memastikan apakah yang dimaksud Arumi adalah bangunan yang sama dengan pemahaman Bari. Tak lupa mereka minta restu terlebih dahulu pada ibu Arumi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2