
Setelah puas makan cemilan, Bari mengajak mereka ke satu wahana favoritnya sejak kecil. Rumah hantu, entahlah, ia hanya merasa senang saja jika masuk ke dalam wahana itu. Waktu kecil, ia selalu jadi pelindung bagi anak perempuan yang berada di dalam rumah seram itu. Entah mereka saling kenal atau tidak, Bari akan dijadikan pegangan bagi mereka jika mereka ketakutan atau terkejut melihat hantu-hantu yang berada di sana.
"Ngapain sih ke sini? Kurang kerjaan aja. Nggak usah, ayo pulang aja. Udah malem Bar," Protes Arumi saat berada di depan wahana itu.
"Takut? Masak kalah sama Caca sih. Kan ada aku, suamimu," goda Bari menahan tawa.
"Masuk berdua aja, aku nggak mau."
Karena hari sudah sedikit malam dan Bari tak mau berdebat lebih panjang, akhirnya pria itu hanya masuk berdua dengan Caca. Sedangkan Arumi menunggu di luar wahana sembari mengotak atik ponselnya.
Baru saja mendudukkan dirinya di sebuah kursi panjang yang entah milik siapa, ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Untuk sejenak ia mengalihkan perhatian dan mendongak. Hembusan nafas malas dan jengah menjadi jawaban atas panggilan dari seseorang yang sebenarnya tidak ingin lagi ia temui.
"Caca mana?" tanya ibu Arkan.
Arumi diam tak menjawab. Ia justru memalingkan pandangan dan menyilangkan tangan. Sungguh Arumi tak dapat lagi menyembunyikan kebencian terhadap Arkan dan keluarganya.
"Aku tidak menyangka, iparku ternyata banyak berubah. Dia jadi pemberani sekarang," kata Aksan, saudara kembar mantan suami Arumi.
Meskipun tinggal di negara terpisah, Aksan tahu apa yang terjadi dengan keluarga saudara kembarnya.
"Apa yang aku takutkan dari kalian? Aku diam bukan berarti aku takut. Aku manusia waras, aku tidak akan menanggapi manusia-manusia gila seperti kalian."
Aksan urung membalas ucapan Arumi yang menghina keluarganya lantaran sang anak yang merengek ingin pulang. Arumi menatap sekilas anak kecil yang seusia dengan anaknya itu.
Tak berselang lama, Bari dan Caca keluar dari wahana yang berada di dekat mereka berdiri. Pria itu mengernyitkan kening melihat orang-orang yang bersama Arumi.
__ADS_1
Bari memasang muka malas saat tahu siapa yang bersama dengan wanita yang melahirkan Caca itu. Sekilas ia memperhatikan wajah Aksan yang benar-benar mirip dengan Arkan. Bahkan jika mareka di sandingkan, mungkin Bari tak akan mengenali mana Arkan dan Aksan. Istri Aksan bahkan tak luput dari penglihatan Bari. Wanita cantik yang dibalut hijab itu memiliki wajah yang sejuk, teduh dan adem. Hal itu membuat Bari berpikiran mungkin wajah Arumi kurang lebih sama seperti wanita itu.
Sayang sekali wanita seanggun ini bisa masuk ke keluarga bajigur. Umpat Bari dalam hati.
"Kelihatannya saja religius dan seakan mengerti dengan agama. Tapi kelakuannya sama saja seperti janda-janda lainnya, sama-sama gatelnya," ucap ibu Arkan dengan ekspresi menghina.
Bari heran dengan wanita tua itu, sudah jelas beliau salah tapi masih saja menghina wanita yang sudah ia dzolimi. Entahlah ada apa dengan keluarga Arkan, menginginkan sesuatu bukannya mengambil hati Arumi, atau berubah menjadi lebih baik justru ini yang terjadi adalah sebaliknya.
"Oh, apa pria ini yang bernama Bari? Yang setengah mati mengejar cinta janda ini?"
"Jaga mulut mu. Aku dengar kau adalah seorangg pengacara, tapi mulut mu sama sekali tidak berkelas. Ayo kita pergi Arumi! Tidak penting meladeni manusia hina macam meraka."
"Mempunyai mulut yang sama-sama tidak berkelas tidak usah saling menghina. Aku heran, kau kaya, tampan, bagaimana bisa jatuh cinta dengan janda macam dia. Wanita yang egois dan seenaknya sendiri."
Satu pukulan keras mengenai sudut bibir Aksan. Bari tak mempermasalahkan jika ada orang yang menghina atau mengolok dirinya. Tapi akan jadi masalah jika ada yang menghina Arumi.
"Sekali lagi aku dengar kau menghina Arumi, aku pastikan kau tinggal nama. Aku tidak peduli jika aku harus menghabiskan sepanjang usiaku di penjara, asal kau berangkat ke alam baka," kata Bari dengan mengeratkan giginya. Sungguh sakit hatinya mendengar Arumi yang di hina oleh keluarga Arkan. Jika saya ibu Arkan bukan seorang perempuan, maka Bari bisa saja melakukan hal yang sama.
"Kau marah aku menghinanya? Dia saja tidak mencintaimu. Cintamu bertepuk sebelah tangan. Untuk apa kau membela wanita seperti dia. Kau hanya menghabiskan waktu saja."
Bari sudah melayangkan tangannya untuk kembali memberikan pukulan pada Aksan. Namun, sebuah suara menghentikan laju tangannya.
"Siapa bilang aku tidak mencintainya? Kita akan menikah dalam waktu dekat," sahut Arumi dari belakang yang membuat Bari tertegun dan perlahan menurunkan tangannya.
Arumi melangkahkan kakinya lalu berdiri di samping Bari.
__ADS_1
"Manusia seperti kalian memang tidak akan pernah bisa berhenti menghina orang lain. Sudah salah, sadar kalau salah, bukannya minta maaf dan memperbaiki diri tapi malah semakin menjadi. Kita pergi dari sini Bari, berbicara dengan mereka sama seperti menegakkan benang basah, hanya sia-sia belaka dan membuang waktu saja."
Setelah berhasil membungkam mulut keluarga Arkan, Bari dan Arumi segera berbalik arah dan meningggalkan mereka yang masih berdiri tertegun. Arumi yakin pasti mereka sakit hati dan akan membuat ulah kembali. Semakin membuat ulah, Arumi akan semakin menunjukkan keberaniannya.
Sementara Bari masih terngiang-ngiang dengan ucapan Arumi tadi. Ia tak tau harus menggambarkan reaksi yang bagaimana. Ia harus merespon ucapan Arumi dengan kalimat apa. Beberapa ia kali menepuk dan mencubit pelan pipinya untuk memastikan apakah yang ia dengar nyata atau mimpi belaka.
"Rum."
"Hm."
"Aku hanya ingin memastikan apakah yang aku dengar tadi.."
"Iya, kamu nggak salah dengar. Aku tidak buta, aku melihat kebahagiaan Caca ada padamu. Tidak semua laki-laki bisa menerima anak seorang janda. Kebanyakan dari mereka mencintai ibunya, tapi tidak dengan anaknya. Jika seorang pria mencintai anak dari seorang janda, cinta untuk jandanya juga pasti ada. Maaf jika aku membuat mu menunggu terlalu lama."
Bari terasa dibawa terbang oleh kata-kata Arumi. Tak tahu lagi harus mengeluarkan kata-kata apa. Menggombal? Ah rasanya ia sudah kenyang dengan gombalan Bari. Menggendongnya? Ah belum mahramnya.
Melihat Bari yang diam saja membuat Arumi sedikit melirik ke arah pria yang di sampingnya, namun posisinya berdiri menghadap dirinya dan menatap dalam. Hal itu sederhana itu mampu membuat Arumi salah tingkah.
"Bisa kita pulang sekarang? Kasian Caca sepertinya sudah lelah dan ngantuk."
"Iya.. Iya.. Kita pulang." Bari masih gugup dan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Sudah lama bari menantikan ini, ia juga sudah lama merangkai kata untuk momen seperti ini. Momen dimana ia diterima dalam kehidupan janda anak satu itu. Tapi rangkaian kata yang sudah ia sisipkan dalam kepalanya mendadak hilang malam ini. Justru yang ia rasakan ia tak dapat berkata apapun.
Bersambung
__ADS_1