Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 76


__ADS_3

Seperti biasa, Dinda akan pulang dari tempat kerjanya pukul sepuluh malam. Pria yang mengantarkan dirinya kemanapun itu juga tak pernah terlambat untuk melayani Dinda.


Beberapa menit melakukan perjalanan, mata Dinda mengernyit begitu melewati rumah ibu mertuanya yang masih terang dan ada satu mobil yang terparkir di sana.


Mengingat apa yang di ceritakan oleh Arumi membuatnya memutuskan untuk putar balik dan mencari tahu tamu siapa yang masih di sana hingga malam begini. Rasa-rasanya sangat tak mungkin jika pemilik mobil itu adalah orang lain, bukankah tak pantas jika bertamu ke rumah orang lain hingga larut?


Dinda mengendap-endap memasukkan pekarangam rumah ibunya. Ia tak tahu pemilik mobil yang kini sedang ia perhatikan. Tapi mobil ini adalah mobil yang sering terparkir di halaman rumah ibu mertuanya akhir-akhir ini.


Dinda berjongkok serendah-rendahnya agar tak terlihat saat sedang menguping pembicaraan orang yang berada dalam rumah itu. Sesekali ia mengintip, ingin tahu siapa yang sedang bertamu.


Perjuangan yang tak sia-sia. Rupanya yang berada di dalam adalah Mira dan ibu mertuanya. Meskipun tak mendengar dengan jelas semua yang mereka bicarakan, ia samar-samar mendengar nama Arumi dalam pembicaraan tersebut.


"Tante akan melakukan apapun untuk merebut Caca dari Arumi. Menghancurkan rumah tangga mereka, membuat mental Arumi rusak, lalu mengambil Caca dari keluarganya."


Setidaknya itulah yang Dinda dengar dari mulut ibu mertuanya. Sekarang ia tahu maksud dan tujuan Mira kembali hadir dalam kehidupan Bari.


Setelah dirasa cukup mengetahui informasi mengenai mereka, Dinda memutuskan pergi dari sana. Naas, di tengah perjalanan ia tersandung batu berukuran sedang, tubuhnya ambruk mengenai tanah dan tentu saja menimbulkan suara.


Dengan tergesa-gesa dan memaksakan diri untuk berdiri, Dinda tertatih berusaha berjalan cepat dengan menahan sakit di pergelangan kakinya. Persetan dengan rasa sakit yang ia rasakan, ia tak mau kehadiran dirinya diketahui oleh ibu mertua dan Mira. Jika sampai itu terjadi, sia-sia saja perjuangannya tadi.


Dinda membantu Arumi bukan semata-mata karena kesal dengan ibu mertuanya. Ia ingin mengembalikan nama baiknya sendiri di depan Arumi dan suaminya. Meskipun ia tak turut andil dalam rencana Arkan.


"Siapa di sana?" teriak ibu Arkan.


Dinda menahan nafasnya si balik pohon mangga yang menjulang tinggi. Keringat di dahi bercucuran tiada henti.


Untuglah situasi mencekam itu tak berlangsung lama. Setelah sepersekian detik melihat ibu mertuanya di teras, Dinda melihat ibunya sudah kembali masuk ke rumah. Dinda membuang nafas lega dan berlalu dari sana dengan cepat.


"Mbak Dinda kenapa?" tanya anak buah Arkan yang melihat Dinda berjalan tertatih.


"Nggak apa-apa, kesandung aja tadi. Antar aku pulang sekarang!"

__ADS_1


Begitu sampai rumah, Dinda teringat dengan kartu nama yang sudah diberikan Arumi tadi. Ia langsung menghubunginya, ia tak mau membuang waktu. Kejahatan dan kedzoliman harus segera di tuntaskan dengan cepat.


*


Sementara di tempat lain, Bari dan Arumi sedang melakukan perkembangan biakkan di kamar mandi. Terpaksa mereka melakukan itu karena sejak tadi Caca tak ingin lepas dari sang ayah.


Dan ketika anak perempuan yang polos itu sudah lelap, mereka langsung ke kamar mandi untuk melakukan itu. Mereka tak ada pilihan lain selain tempat yang dingin itu, akan lebih membahayakan jika mereka melakukan di ranjang yang sama dengan Caca.


"Mau lagi," rengek Bari manja.


"Mas, mandiku terus tertunda karena ulahmu. Akan masuk angin jika di sini lebih lama lagi. Lagi pula kalau Caca bangun gimana?"


"Nggak sayang. Udah lelap tidurnya." Bari masih merengek seraya menggerayangi tubuh Arumi.


Lebih baik minta maaf dari pada meminta izin, setidaknya itulah yang dilakukan Bari sekarang. Tanpa aba-aba atau pembicaraan yang lebih banyak, ia kembali melakukan serangan mendadak. Tentu saja Arumi tak bisa mengelak karena ia juga terbuai dengan sentuhan yang Bari berikan.


Tak mau berlama-lama, Bari kembali membimbing bondan untuk menyelam ke gua yang memabukkan. Baru setengah jalan, mereka mendengar pintu di gedor dengen keras di sertai panggilan ayah dan bunda.


Namun, sedetik kemudian ia sadar dengan pakaiannya. "Ya ampun mas, aku lupa kalau aku sedang memakai pakaian minim bahan dan sangat tipis ini, tidak ada handuk juga di sini. Bagaimana bisa aku memakai baju ini di hadapan Caca?" kata Arumi kesal dengan menjereng lingerie di depan wajah Bari.


"Pakai dulu kemeja ku sayang. Ini besar, ini akan menutupi setengah kaki bagian atas. Ayo cepat pakai," ucap Bari seraya membantu Arumi memakai kemeja.


"Mas, aku tidak pernah berpakaian seperti ini. Apa kata Caca nantinya?" protes Arumi tak terima.


"Sayang, lupakan. Buka pintu dan temui Caca. Dia sudah berteriak sejak tadi."


Dengan menetralkan gugupnya Arumi berjalan menuju pintu kamar mandi dan membukanya. Entahlah, ia sangat gugup. Padahal Caca hanyalah anak kecil yang bisa saja ia kelabuhi dengan memberikan jawaban yang dapat di mengerti saat ia banyak bertanya nantinya.


"Bunda ngapain di kamar mandi? Kenapa lama sekali?"


"Maaf sayang, bunda nggak dengar. Ada apa kamu panggil bunda?"

__ADS_1


Caca memperhatikan penampilan ibunya yang tampak aneh dimatanya.


"Ada apa sayang? Apa yang kamu perlukan? Apa kamu lapar?" tanya Arumi yang mengerti arti pandang Caca.


"Dari tadi hape bunda bunyi. Aku mau kasih tahu itu aja. Bunyinya berkali-kali dan aku nggak bisa tidur jadinya."


"Benarkah? Baiklah akan ibu bereskan nanti. Sekarang kamu tidur lagi ya."


"Ayah mana?"


"Caca tiduran dulu di ranjang ya. Ayah di bawah. Iya, nanti akan bunda panggil. Kamu rebahan," jawab Arumi dengan gugup.


Arumi segera mengambil pakaian untuk suaminya setelah Caca berbaring di tempat tidur.


"Cepat pakai! Caca dari tadi cari kamu, aku bingung jawabnya."


Arumi kembali keluar setelah itu. Ia melihat Caca yang sudah kembali terpejam, akhirnya ia putuskan untuk melihat siapa yang menghubunginya malam-malam.


Ada dua panggilan tak terjawab dan sebuah pesan dari nomor yang sama.


[Rum, ini aku Dinda. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat mu. Aku hanya ingin mememberi tahu sesuatu mengenai ibu dan Mira. Besok temui aku tempat kerjaku ya]


"Ayah juga di kamar mandi?" ucap Caca yang sukses mengejutkan Arumi. "Bunda tadi juga di kamar mandi. Ayah sama bunda ke kamar mandi bersama-sama?" tanya Caca menyelidik.


"Sayang, ayah sama bunda tadi sedang membersihkan kamar mandi bersama. Kamar mandinya bau sekali. Jadi, tadi ayah dibantu bunda membersihkannya biar cepat selesai begitu."


"Malam-malam?"


Aduh, kenapa anak ini banyak tanya sekali?Batin Bari bingung hendak jawab apa lagi.


"Sayang, ayo kita tidur. Ini sudah malam, besok sekolah," sela Arumi menghampiri sang dan berbaring di sampingnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2