Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 38


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Hubungan Bari dan Arumi masih sama saja. Tidak ada peningkatan yang berarti. Justru hubungan Bari dan Caca lah yang semakin dekat. Entah apanya yang salah, Bari masih kesulitan membuka hati si wanita bercadar yang sudah memporak-porandakan hatinya. Bukan Bari namanya jika ia menyerah begitu saja. Ia masih berusaha untuk menjadi laki-laki yang diinginkan oleh Arumi. Perdebatan di mobil sepekan yang lalu adalah terakhir kalinya bagi mereka. Bari juga tak pernah membahas lagi soal hati dan perasaan. Ia membiarkan Arumi sadar akan cintanya dengan caranya sendiri.


Beberapa hari yang lalu, Bari tahu kenyataan yang mengejutkan. Dari anak buahnya ia tahu bagaimana sosok wajah mantan suami wanita idamannya itu.


"Ini anak buah gue nggak salah cari foto mantan suami Arumi?" tanya Bari dengan sebuah foto di tangannya.


"Memang kapan anak buah tuan pernah salah dalam mencari informasi?" tanya balik Firdaus.


Bari ingat betul, bahwa pria ini adalah pria yang mengembalikan dompet Arumi yang jatuh. Itu artinya Arumi bisa jadi ketakutan dan panik karena sadar dan tahu bahwa ia bertemu dengan mantan suaminya yang sudah pernah merusak mentalnya?


Brak!


Bari tiba-tiba saja menggebrak meja di depannya yang sukses membuat Firdaus melompat dari kursi yang ia duduki. Firdaus meraba raja dadanya, masih adakah detak jantungnya karena kejadian barusan.


"Lo masih ingat nggak, gue pernah cerita ke lo, kalau gue selalu memimpikan wanita yang di siksa sama laki-laki. Dan mimpi itu gue alami berkali-kali? Ingat kagak?" tanya Bari tanpa dosa di saat Firdaus masih terkejut.


"Masih, memang kenapa?"


"Dia. Laki-laki ini yang nyiksa perempuan itu. Pantesan pas ketemu kayak pernah lihat mukanya."


"Tuan yakin? Apa itu artinya, perempuan yang disiksa itu Arumi?"


"Bisa jadi. Gue nggak ngeliat jelas gimana rupa perempuan itu. Kalaupun gue lihat jelas juga nggak tahu itu Arumi apa bukan."


"Kemungkinan besar sih mereka perempuan yang sama tuan. Karena Arkan ini menikah hanya dua kali dan istri yang ke dua ini baru saja mengalami keguguran."

__ADS_1


"Jahat banget kalau memang di mimpi gue itu adalah gambaran kenyataan yang pernah di hadapi Arumi. Wajar kalau dia sempat depresi dan trauma hingga sekarang," gumam Bari pelan.


Semenjak hari itu, Bari menyewa seseorang untuk mengawasi Arumi. Kemanapun Arumi pergi akan ia ikuti. Tak tanggung-tanggung, Orang yang di sewa Bari mengawasi Arumi dari matahari terbit hingga tengah malam hampir menyapa. Hal ini Bari lakukan karena ia curiga, om-om yang dimaksud Caca di kolam renang kala itu adalah Arkan.


Mungkin Arkan sudah bahagia dengan rumah tangganya, tapi mendengar kabar bahwa rahim istrinya diangkat, jujur saja membuat perasaan Bari tak enak. Ia khawatir apa yang ia pikirkan akan jadi kenyataan.


*


Sementara itu, wanita yang sedang dipikirkan Bari kini sedang bersitegang dengan Arkan dan juga Dinda. Ya, pasangan suami istri itu berkunjung ke rumah Arumi bermaksud ingin meminta maaf. Mereka sudah sadar atas apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Meskipun mereka tak yakin, mereka akan di sambut baik oleh Arumi dan keluarganya.


"Sudahlah, semua sudah berlalu. Tidak perlu diingat. Lebih baik kalian pulang. Maaf kalian sudah kami terima. Kasihanilah anak saya, lihat, emosinya masih belum stabil jika berhadapan dengan kalian kembali," ujar ibu Arumi.


"Baik bu. Terimakasih sebelumnya sudah berlapang dada untuk memberi kami maaf. Kalau boleh, saya ingin bertemu dengan anak Arumi boleh bu? Mungkin saya pernah melakukan kesalahan, tapi anak Arumi adalah anak saya juga. Dia darah daging saya."


"Yang sempat tidak kamu akui. Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku mengandung anakmu, tapi kamu bersikeras dengan asumsi mu yang tidak jelas. Dan sekarang kamu ingin bertemu? Sampai mati pun aku tidak akan pernah sudi untuk mempertemukan kalian. Aku sudah menganggap ayah anakku telah tiada. Dia anakku, bukan anakmu," kata Arumi dengan emosi.


"Nggak. Sudah benar jika kamu melakukan ini, tapi aku nggak kasih ijin kalau kamu mau ketemu anakku. Sudahlah Arkan, aku harap ini yang terakhir kali kamu datang. Untuk kedamaian kita bersama."


"Apa tidak dapat kesempatan untukku, aku hanya ingin mengatakan aku ayah anakmu."


"Tidak perlu Arkan. Aku sudah lama mengatakan kalau anakku tak punya ayah. Sudah titik, silakan pergi. Aku sudah memaafkan kalian bahkan sebelum kalian datang untuk minta maaf."


Arkan tak bisa lagi berkata-kata, dengan langkah gontai dan pasrah ia berjalan keluar. Di saat di teras, seakan dewi fortuna berpihak padanya. Caca baru saja pulang dari sekolahnya, dan yang lebih mengejutkan lagi, Caca datang bersama Bari.


Wajah terkejut di tampakkan oleh semua orang yang berada di teras, termasuk Arkan.


"Asalamualaikum," kata Bari memberi salam lalu bersalaman dengan ibu Arumi.

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Bari bergerak cepat saat anak buahnya mengabari bahwa Arkan sedang datang ke rumah Arumi. Untunglah kecerdasan yang ia miliki di atas rata-rata.


Saat Bari bertatap muka dengan pria bajigur yang pernah menyakiti Arumi, ingin sekali rasanya ia juga melakukan hal yang sama yang pernah Arkan lakukan. Tatapan kebencian sudah ia lempar ke arah pria yang sedang menatapnya dengan intens.


"Caca langsung masuk sama oma ya," kata Bari memamerkan pada semua yang di teras bahwasanya ia sudah bisa membuat Caca menurut padanya.


"Maaf siapa ya?" tanya Bari pada Arkan setelah ibu Arumi dan Caca tak terlihat.


"Mantan suami Arumi."


"Oh, ada keperluan apa ke sini?"


"Saya rasa tidak ada yang perlu saya jawab dari pertanyaan Anda. Kita adalah orang lain yang kebetulan bertemu."


Nampaknya Arkan menyadari sorot mata Bari yang tajam dan penuh kebencian.


"Bukankah kau dengan Arumi juga sudah jadi orang lain? Rasanya tidak pantas bertamu ke rumah mantan istri dengan istri barunya."


"Anda ada hak apa berbicara begitu?"


"Kenapa kalian jadi ribut di sini? Silakan pergi jika sudah tidak ada kepentingan," sela Arumi yang kesal sejak tadi.


Arkan dan Bari saling tatap dalam sorot kebencian. Seakan akan bendera perangkat sudah berkibar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2