Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 74


__ADS_3

"Langsung ke intinya saja Mira. Kita nggak punya banyak waktu untuk meladeni penipuan ini," kata Bari tak mau berlama-lama dengan masalah yang tak ia buat.


Sebenarnya ia sangat malas untuk melanjutkan permasalahan ini apalagi untuk menyelesaikannya. Karena Bari memang tak salah dan tak ada sangkut pautnya dengan kehilangan Mira.


"Bari, ini memang anak kamu. Kamu jangan belagak lupa dengan apa yang pernah kita lakukan."


"Melakukan apa? Aku tidak pernah melakukan apapun dengan mu. Ke intinya saja Mira. Apa yang kau mau? Uang? Atau apa? Atau jangan-jangan kau memang berniat untuk merusak rumah tangga ku dengan Arumi? Kau tak terima aku tinggalkan waktu itu?"


"Aku tidak perlu uang. Aku mau kamu tanggung jawab."


"Apa kau sudah gila? Nggak..."


"Mas Bari akan tanggung jawab," sela Arumi tegas.


"Kamu ngomong apa sih sayang?" protes Bari tak terima sekaligus terkejut dengan ucapkan istrinya. Bagaimana bisa ia bicara seperti itu dengan mudah. Padahal sebelum berangkat tadi ia meyakini bahwa Mira berniat menipu.


"Iya. Kamu harus tanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat mas. Kamu bisa menikah dengan Mira setelah dia melahirkan anakmu. Bagaimana Mira?"


"Tapi aku mau, aku jadi satu-satunya. Aku tidak mau membagi suami."


Dalam hati Mira senang bukan kepalang. Usaha yang ia butuhkan rupanya tak terlalu sulit. Dengan mudahnya Arumi bisa percaya dengan sandiwara ini.


"Sayang sadar dong. Kamu ngomong apaan sih? Aku nggak mau tanggung jawab, bukan aku yang melakukannya. Kenapa kamu bisa berubah pikiran secepat ini?" kata Bari yang sudah panik.


"Mas Bari akan tanggung jawab setelah kamu melahirkan. Selesai kan? Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku. Kamu nggak perlu ke dokter lain untuk memeriksakan kandungan. Datang saja padaku. Jika kamu perlu uang, kamu juga bisa bilang mas Bari atau aku. Aku anggap permasalahan kita selesai sampai sini. Bagaimana Mira?" Arumi sama sekali tak mengindahkan pertanyaan Bari.


Pria itu sampai dibuat berkaca-kaca dengan ucapan istrinya. Sungguh ia tak bisa memahami cara berpikir Arumi yang dengan begitu mudah dan cepat berubah. Bagaimana biasa memainkan hati dan pernikahan yang bahkan baru berumur satu hari.


"Ok. Aku tunggu surat cerai kalian setelah aku melahirkan," jawab Mira dengan penuh senyum kemenangan.


Arumi lalu berdiri dan pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.


"Sayang kamu nggak serius kan? Kamu pasti khilaf dengan apa yang kamu ucapkan tadi. Kamu pasti nggak sadar kan? Sayang dengerin aku dulu." Bari terus berceloteh seraya mengejar Arumi yang berjalan cepat menuju parkiran mobil mereka. Sementara Bari semakin bingung sekaligus panik dengan perubahan istrinya.

__ADS_1


"Arumi, bilang ke aku kalau itu semua bohong," kata Bari menghadang langkah Arumi.


"Kita bahas di mobil ya."


Bari semakin was-was. Tubuhnya mendadak lunglai dan lemas. Bahkan kakinya tak sanggup untuk ia ajak menggeser tempat dimana ia berdiri. Ia tersadar dari lamunan begitu istrinya memanggilnya.


"Apa yang harus aku lakukan jika kamu pergi dari hidup aku Rum? Kenapa kamu berubah pikiran begitu cepat? Bukankah tadi kamu bilang kalau ini adalah penipuan?"


"Itu sebabnya kita juga harus menipu Mira." Arumi meraih tangan Bari untuk ia genggam. "Mas, bagaimana bisa kamu berpikir kalau aku berubah begitu cepat? Aku sudah bilang kan tadi, kalau kita harus ikuti apa maunya. Kita ikuti cara main dia, dengan begitu dia merasa dia menang. Seperti dalam pertarungan, kita perlu bersandiwara lemah dan tak berdaya di depan lawan agar dia merasa menang. Kalau sudah begitu, yang terjadi adalah dia lengah. Karena dia menganggap kita sudah tak bisa apa-apa. Sampai sini paham?"


"Itu artinya kita sedang sandiwara? Kamu nggak sungguh-sungguh melepaskan aku? Nggak mempermainkan pernikahan kita?"


"Ya nggak lah. Mana mungkin aku bermain dengan hal sebesar itu. Tugas kita sekarang adalah menyelidiki Mira."


"Kalau untuk menyelidiki Mira saja kenapa harus kita juga ikut sandiwara? Aku bisa menyelidiki nya dengan bantuan anak buahku. Nggak perlu repot-repot sayang."


"Ini yang nggak aku suka. Sesekali kamu selesaikan masalah kamu sendiri mas. Jangan sedikit-sedikit anak buah."


"Kamu tahu rumah Mira kan? Kamu bisa main ke sana dengan membawa kebutuhan ibu hamil, sambil kamu cari tahu kegiatan Mira beberapa bulan terakhir. Bisa lewat tetangganya atau Mira sendiri. Dari sana kamu juga bisa cari tahu kegiatan Mira apa aja, siapa tahu dengan kamu baik ke dia, kita bisa tahu sebenarnya siapa yang menghamili Mira, apakah dia tanggung jawab apa nggak."


"Kenapa aku nggak kepikiran sampai sana ya?" ucap Bari bingung. "Istriku ini memang cerdas," puji Bari mengecup punggung tangan istrinya.


"Mas, bisa aku balik ke dalam restoran? Aku mau ke toilet."


"Aku antar."


"Nggak usah mas, aku bisa sendiri."


Baru kali ini Bari merasa bodoh dalam menyelesaikan masalah.


Sementara itu, Arumi kembali ke dalam restoran untuk menumpang ke toilet. Karena tak tahu dimana letak toilet, ia bertanya pada salah satu karyawan resto yang sedang membersihkan meja.


"Permisi mbak, maaf saya mau ke toilet sebelah mana ya?"

__ADS_1


"Mbak bisa lu.... Arumi."


Tak disangka tak dinyana, wanita yang sedang ditanya Arumi adalah Dinda. Meraka sama-sama terkejut.


"Kamu kerja di sini Din?"


"Iya Rum. Atas nama mas Arkan aku minta maaf Rum. Aku tahu apa yang dilakukannya tidak baik dan tindakan kriminal. Aku mohon beri dia pengampunan, aku nggak minta kamu untuk membebaskan suamiku. Aku hanya ingin kamu memaafkan kami." Tiba-tiba Dinda mengucapkan permintaan maaf untuk suaminya dengan mata berkaca-kaca.


"Lupakan. Aku hanya berharap kalian berubah dan tidak mengulang kesalahan yang sama."


"Nggak Rum. Mas Arkan sudah merencanakan akan pindah dari sini begitu dia bebas. Dia tidak mau lagi terkekang oleh ibunya dan merugikan dirinya sendiri."


"Maksudnya?"


"Iya, mas Arkan melakukan tindakan kriminal juga terpaksa karena ibu selalu mengekangnya dengan memberi dua pilihan. Merebut anaknya atau menikah lagi dengan pilihan ibunya. Dia nggak mau melepas aku Rum, hingga akhirnya dia memilih untuk marebut anakmu."


"Bagus lah kalau kalian sadar dan ingin berubah menjadi lebih baik. Aku sudah memaafkan apa yang sudah terjadi. Lupakan saja."


"Terima kasih Rum. Oh ya, aku tadi lihat kamu di sini dengan Mira. Apa kalian ada masalah? Aku lihat tadi Mira seperti sedang marah."


"Kamu kenal Mira?" tanya Arumi mengerutkan kening.


"Ya kenal. Kan dia keponakan ibu. Masak kamu lupa."


Sungguh kenyataan yang tak terduga. Arumi benar-benar tak tahu kalau Mira ada hubungan keluarga dengan mantan mertuanya. Pasalnya, selama menjadi istri Arkan ia tak pernah bersua dengan wanita itu.


"Tunggu Din. Aku sama sekali nggak kenal sama Mira. Aku juga baru tahu dia kemarin. Selama aku jadi istrinya Arkan, aku nggak pernah ketemu dia."


"Oh iya aku lupa. Waktu itu dia masih kuliah di luar negeri. Dan kamu udah pisah dengan mas Arkan sebelum dia lulus. Jadi wajar kalau kamu nggak kenal."


Mengetahui hal ini membuat Arumi merasa masalah yang ia hadapi dengan suaminya akan tuntas lebih cepat dari perkiraan. Ia bisa meminta bantuan Dinda atau mengorek informasi mengenai Mira darinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2