Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 44


__ADS_3

Dengan sudah payah dan segala usaha, akhirnya Caca bersedia berangkat ke sekolah meskipun dengan setengah hati. Dengan bibir yang mengerucut ia memasuki mobil.


"Rum, nanti sepulang sekolah kamu ajak Caca ke rumah bu Rahma, siapa tahu nanti Bari ada di rumah. Atau paling nggak, kamu bisa minta alamat kantor Bari."


"Kenapa?"


"Tadi ibu bilang begitu biar Caca mau berangkat. Itu aja ibu bujuknya sampai pusing."


"Astaghfirullah bu, aku malu kalau mau nemuin Bari cuman karena Caca. Apa kata bu Rahma nanti? Lagipula hal ini akan membuat Caca akan semakin bergantung pada Bari."


"Bukannya memang begitu? Lihat saja apa-apa Bari. Dia begitu juga karena senang Rum. Dia baru merasakan kasih sayang seorang ayah. Ibu kasihan lihat dia yang merengek terus begitu."


"Bari bukan ayah Caca bu, nggak wajib di buat Caca bergantung sama dia."


"Terus bolehnya bergantung sama kamu aja? Atau bergantung sama Arkan? Kan kamu sendiri yang larang buat Arkan nggak ketemu lagi sama Caca. Nak, bukannya ibu mendukung Caca untuk bergantung sama orang lain selain kita. Tapi kita nggak tahu apa yang Caca rasakan selama ini. Anakmu itu kalau nggak ditanya dia nggak akan cerita, untuk cerita apa yang dia rasakan saja itu perlu kita yang pandai dalam memancing obrolan. Dia nggak pernah mengutarakan isi hatinya, bukan berarti dia nggak ada keinginan. Udah, berangkat sekarang sana, nanti telat. Oh ya, orangnya Bari masih jagain Caca kan?"


"Masih bu, tapi hari ini aku suruh libur. Di sekolah kan hari ini banyak orang dan ada aku juga. Aku nggak akan lepas Caca dari genggaman tangan aku. aku pamit ya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati."


Lagi-lagi pikiran Arumi mumet dengan hal seputar itu-itu saja. Orang-orang di sekelilingnya seakan mendukung dirinya untuk menerima Bari. Ia paham, mungkin saja meraka tak mau melihat dirinya yang sendiri terus. Biar bagaimanapun, dirinya tetap butuh seorang pendamping untuk mendampingi dirinya di masa tua. Tapi masalahnya adalah, Arumi masih dihantui dengan masa lalunya yang buruk.


"Anak bunda kenapa sih masih cemberut aja. Kan nanti habis pulang pentas seni kita ke rumah om Bari. Bunda mau kok antar kamu." Terpaksa Arumi mengatakan hal itu agar senyum Caca kembali hadir di bibirnya. Akan ia pikirkan nanti bagaimana caranya untuk mencari alasan agar tak ke sana.


"Aku marah sama om Bari. Om Bari nggak sayang aku. Om Bari ingkar janji," kata Caca kesal.


"Nggak boleh gitu sayang. Memang bunda pernah ngajarin kamu marah-marah? Nggak kan? Kalau om Bari nggak ke sini itu artinya om Bari ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal. Kan sekarang hari kerja, bukan hari libur."


"Tapi om Bari sudah janji mau datang bun. Kalau sudah berjanji kan harus ditepati."


"Iya, ya udah bahas om Bari nanti saja ya. Kita sekarang turun, udah sampai. Nanti anak bunda harus menyanyi yang ceria seperti biasa ya."

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada yang memperhatikan Mereka dari jarak jauh. Dari sampai jalan raya hingga mobil Arumi masuk halaman sekolah, Arkan beserta satu anak buahnya mengintai pemilik mobil mewah itu.


Rupanya Arkan membuktikan ucapannya beberapa hari lalu. Karena tekanan dari ibunya yang ia dengar setiap harinya membuat Arkan pelan-pelan memasukkan ucapan ibunya ke dalam telinga dan kepala. Akhirnya terciptalah drama dengan harapan, Arumi sedikit memberikan celah baginya untuk bertemu Caca. Dan pemikiran tentangnya akan berubah. Meskipun Arkan di tekan ibunya untuk mengambil paksa Caca dengan cara yang licik, ia masih kuat iman untuk tak melakukan itu. Ia masih menggunakan cara licik yang halus agar tak terlalu kentara. Pelan-pelan akan ia ambil Caca dari hidup Arumi.


"Lo serius kan nggak ada orang yang biasa jaga Caca?" tanya Arkan pada anak buahnya.


"Yakin bos. Sejak tadi pagi saya pantau nggak ada yang jaga."


Arkan turun dari mobil setelah melihat para orang tua dan juga anak-anaknya berhamburan keluar sekolah. Arkan menerobos keramaian yang ke dalam bangunan yang tak terlalu besar itu. Ia celingukan ke sana kemari, menyipitkan mata demi mencari sosok wanita yang ia cari.


Senyum sumringah ia pancarkan dari sudut bibirnya ketika melihat Arumi yang menggandeng erat tangan Caca.


"Rum," panggil Arkan begitu jarak meraka sudah dekat.


"Ada apa lagi ke sini?" tanya Arumi ketus.


"Ijinkan aku bertemu sebentar saja. Toh aku juga nggak minta jalan berdua. Aku hanya ingin ngobrol, kamu kan bisa awasi aku dan Caca. Cuma ngobrol di taman depan sana Rum. Kamu bisa ikut."


"Aku mau ketemu om Bari, ngomong-ngomong, ada apa om mau ngobrol sama aku?"


"Sebentar saja kok nak. Satu jam aja," tawar Arkan.


"Sepuluh menit atau tidak pernah," sahut Arumi.


"Baik, nggak apa-apa sepuluh menit saja. Asal aku bisa ngobrol."


"Tunggu dulu, kan bunda janji mau bawa aku ke rumah om Bari," protes Caca.


"Sepuluh menit nggak lama sayang. Udah ngobrol dulu sama teman bunda. Namanya om Arkan."


"Ayah, bukan om."

__ADS_1


"Arkan, jangan pernah katakan apapun pada anakku. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang sudah terjadi," ucap Arumi pelan.


"Terserah kamu aja. Yang penting aku bisa ketemu."


Arkan beralih pada Caca dan mengajaknya ke taman yang terletak di dekat gerbang sekolah. Taman mini itu memang di sediakan untuk anak-anak bermain atau para orang tua yang menunggu anaknya pulang.


"Om kenapa mau ngobrol sama aku?"


"Kamu mengingatkan om sama anak om. Perempuan juga, seusia kamu juga. Tapi dia ikut ibunya. Ada sesuatu yang membuat kita berpisah. Dan kamu belum cukup umur untuk tahu permasalahan orang dewasa," balas Arkan mencubit pelan hidung sang anak.


Caca hanya melihat mereka berdua dengan bosan. Sesekali ia mengecek ponselnya untuk melihat apa ada pesan penting.


Arkan celingukan ke sana kemari, melihat situasi yang sudah nampak sepi. Fokus Arumi kini juga tak lagi pada dirinya dan anaknya. Tak mau buang waktu, dengan cepat Arkan memberi kode pada anak buahnya untuk melakukan apa yang sudah ia perintahkan.


Dengan secepat kilat anak buah Arkan menggendong dan membawa Caca pergi dari tempat tersebut. Arumi refleks berteriak dan mengejar penculik itu.


Dengan sandiwaranya yang apik, Arkan berhasil menghadang langkah si penculik yang sedang menggendong Caca yang terus menerus memanggil ibunya.


"Minggir atau mau gue kirim ke neraka," ancam penculik itu dengan menyodorkan senjata tajam.


Tanpa banyak bicara, Arkan melawan penculik itu dengan mengajaknya bertarung. Dengan kepura-puraan yang sudah di setting sedemikian rupa, Arkan seakan bersusah payah merebut Caca dari si penculik. Bahkan ia rela tangannya terluka karena senjata tajam demi menarik simpati dari Arumi. Bukan ingin menjadi suaminya lagi, tapi untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya, yakni mendapatkan pengakuan dari Caca bahwa dirinya adalah ayahnya.


Dengan yang berceceran, Arkan membawa kembali pada Arumi yang masih syok dengan keadaan.


"Kamu nggak apa-apa kan? Nggak dan yang luka?" tanya Arumi meraba seluruh tubuh Caca.


"Nggak, om Arkan yang berdarah."


Arumi bangkit dan beralih pada pergelangan tangan Arkan yang tergores pisau. Ia lalu berlari ke mobilnya dan mengambil kotak P3k.


"Ini, kamu bisa obati tanganmu biar nggak infeksi. Terimakasih sudah menyelamatkan Caca."

__ADS_1


Arkan hanya menganggukkan kepala dengan menyembunyikan senyum liciknya.


Bersambung.


__ADS_2