Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 59


__ADS_3

"Kenapa? Bingung? Bingung apa yang saya maksud?" ujar ibu Arkan dengan nada mengintimidasi.


"Sudahlah bu. Jangan bertengkar di depan anak kecil, tidak baik. Ibu sudah bicaranya kan? Saya dan Caca permisi." Arumi meraih tangan anaknya lalu menggeretnya pelan.


"Saya serius ya Arumi. Kamu nggak bisa se egois ini. Kamu tahu? Caca di olok-olok temannya hanya karena dia nggak punya ayah? Harusnya kamu bertindak, kenalkan dia ke ayahnya. Kenalkan Arkan sebagai ayah biologis Caca. Biar mental Caca juga sehat. Saya yakin kamu nggak tahu soal ini, karena memang kamu ini nggak becus jaga anak." Ucapan ibu Arkan sontak saja membuat langkah Arumi terhenti.


Wanita dua puluh enam tahun itu diam mencerna kata-kata ibu Arkan. Sejurus kemudian ia menatap sang anak yang tangannya dalam genggamannya. Pandangan mata ibu dan anak itu bertemu. Mata sang ibu seakan mengartikan apakah yang dikatakan oleh wanita sosialita itu benar adanya.


"Arumi. Saya tidak akan merebut atau mengambil paksa Caca jika kamu menyetujui apa yang saya mau." Ibu Arkan berjalan mendekat ke arah ibu dan anak itu.


Arumi hanya menjawab dengan hembusan nafas dengan pandangan ke jalan raya. Sebenarnya ia muak dengan Arkan dan keluarganya. Ia sudah lelah dan jengah menghadapi keluarga yang menurutnya tak tahu diri itu.


"Kamu cabut tuntutan Arkan dan bebaskan dia untuk bertemu Caca kapanpun dan dimanapun tanpa ada batasan waktu dan tempat. Bagaimana?"


"Maaf, saya tidak bersedia."


"Itu artinya kamu siap membawa ini ke pengadilan. Saya dan Arkan akan mudah mendapatkan Caca. Kamu nggak becus jaga dia, kamu teledor, kamu mengarang cerita agar Caca tak kenal dengan ayahnya. Apa kamu tidak paham kalau itu juga melanggar undang-undang?"


"Saya rasa sebelum anda membawa masalah ini ke sana. Alangkah baiknya jika anda berkaca, bercermin dan ingat-ingat apa yang terjadi lima tahun lalu dan setelah Anda memulangkan saya pada ayah dan ibu saya. Sampai sekarang saya pun heran bagaimana bisa orangtua saya bersahabat baik dengan manusia seperti anda. Seharusnya anda sadar jika akar permasalahan ini ada pada anda dan anak tercinta anda. Silakan jika anda membawa masalah ini ke meja yang lebih tinggi. Akan saya ladeni, tapi jika nanti saat sidang mulut saya mengatakan kejujuran dan kenyataan lima tahun lalu dan setelahnya, ya jangan salahkan saya. Kan anda yang mempermalukan diri sendiri dengan membawa masalah ini ke sana." Arumi merasa cukup bicara dengan wanita itu. Ia memutar badannya dan melangkah pergi. Dua langkah menjauh dari wanita itu, ia kembali memutar badannya, "oh ya, satu lagi bu. Saya sarankan untuk mempertimbangkan apa yang saya katakan tadi. Karena sebenarnya ini adalah masalah yang simply tapi anda sendiri yang membuat rumit. Saya akan tunggu surat undangan dari pengadilan untuk mempermalukan anda." Terakhir kali sebelum ia benar-benar pergi, tatapan tajam dan penuh amarah ia layangkan pada satu-satunya wanita yang membuat rusak mentalnya.


Ibu Arkan hanya bisa menatap punggung mantan menantu dan juga cucunya dengan wajah penuh amarah namun tak bisa melakukan apa-apa. Beliau tak mengira, Arumi akan menjawab dengan berani seperti itu. Sangat berbeda dengan Arumi saat masih menjadi menantunya. Jangankan untuk melawan atau menyanggah setiap ucapannya, untuk menatap matanya saja ia merasa tak berani.

__ADS_1


"Caca, ada yang mau kamu ceritakan ke bunda nak? Apa benar apa yang dikatakan oma-oma tadi?" tanya Arumi yang menepikan mobil setelah melajukannya beberapa menit.


"Yang mana bunda?"


"Kamu hampir keserempet motor?"


Caca hanya mengangguk lemah.


"Kok bisa? Kan biasanya kamu juga tunggu bunda di dalam sekolah, nggak sampai ke jalan."


"Bunda janji jangan marah kalau aku cerita."


"Iya sayang. Bunda janji nggak akan marah."


"Janji."


"Teman-teman aku sering ledek aku bun. Katanya aku anak haram yang nggak punya ayah. Padahal sudah aku jelaskan ke mereka kalau aku punya ayah tapi sudah meninggal seperti yang bunda bilang. Tapi aku nggak tahu kenapa mereka masih tetap ngatai aku anak haram. Tadi aku dikatain lagi. Aku nangis keluar kelas. Aku nggak sadar kalau udah di jalan raya." Caca mulai sesenggukan menceritakan apa yang ia alami di sekolah.


"Om Bari sering bilang kalau akan jadi ayah aku. Makanya aku bilang ke teman-teman kalau aku akan segera punya ayah. Aku kesal bun, mereka selalu mengejek aku. Sekarang mereka udah nggak ngejek aku anak haram. Tapi mereka mengatai aku pembohong dan tukang mengkhayal karena di acara pentas seni kemarin om Bari nggak datang. Padahal aku bilang sama mereka kalau aku akan bawa ayahku." Caca semakin meraung menceritakan kekecewaan nya terhadap Bari beberapa waktu lalu.


"Jadi ini alasan kamu kekeh kalau om Bari harus datang waktu itu?" tanya Arumi seraya memberikan pelukan hangatnya.

__ADS_1


Pelukan hangat namun pedih di dalam hatinya. Ia memaki diri sendiri kenapa masalah sebesar ini tak ia ketahui. Bahkan guru Caca yang ia percayai untuk menitipkan Caca padanya juga tak pernah bicara soal ini.


"Kenapa kamu nggak pernah cerita ke bunda masalah ini?"


"Aku nggak mau buat bunda sedih. Bunda sering menangis diam-diam. Aku nggak mau kalau bunda semakin sedih kalau aku cerita."


Ya Allah anakku. Maafin bunda yang belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu nak. Maafin bunda juga sudah mengira bahwa kamu baik-baik saja tanpa sosok ayah.


Arumi semakin membawa Caca lebih dalam ke pelukannya. Rasa bersalah tentu saja ia rasakan dan kini memenuhi ruang hatinya. Ia jadi teringat dengan ucapan Bari yang selalu kekeh dengan pendapatnya. Ia selalu mengatakan sekuat apapun Caca, ia tetaplah anak kecil yang membutuhkan figur sosok ayah.


"Bunda, oma-oma tadi siapa? Kenapa oma tadi bilang kalau dia tinggal sama ayah aku. Apa benar yang namanya om Arkan yang nyulik bunda itu ayah aku?" tanya Caca yang sudah mulai tenang.


"Oma tadi memang ibunya om Arkan. Sayang, jangan dengarkan apa kata orang. Percaya saja sama bunda. Nanti di saat kamu dewasa, kamu akan tahu sebuah kenyataan tanpa bunda jelaskan. Jadi jangan bahas ini lagi ya. Caca hanya punya bunda, oma, abi dan umi."


"Om Bari juga bunda. Om Bari pernah bilang kalau boleh anggap dia ayah. Bolehkan bunda?"


"Asal kamu bahagia nak. Bunda akan lakukan apapun untuk kebahagiaan kamu." Arumi mengecup singkat kening anak semata wayangnya.


"Aku bahagia kalau om Bari jadi ayah aku. Dan aku bisa panggil dia ayah. Tapi kata om Bari, aku belum boleh panggil ayah sebelum om sama bunda menikah."


Arumi sedikit tercengang sebenarnya, namun ia berusaha menyembunyikannya. Sudah sejauh itu hubungan Caca dan Bari.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2