Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 65


__ADS_3

Hiruk pikuk keramaian tetangga dan juga beberapa saudara dekat sedang terjadi di rumah Arumi. Mereka bergotong royong bersama untuk menyiapkan lamaran Arumi besok. Semuanya yang serba mendadak rupanya tak menghalangi semangat mereka dalam mempersiapkan semuanya.


Begitulah jika tinggal dalam sebuah kompleks yang sederhana. Semua orang yang berada dalam lingkungan tersebut akan bergotong royong dalam acara apapun.


"Mbak, kamu yakin mau di lamar sama si Bari?" tanya Diana yang baru saja datang dengan membawa kebutuhan yang diperlukan.


"Kenapa memang?"


"Apa? Kamu masih bertanya? Kamu lupa kalau dia itu pemain?"


"Semua orang bisa berubah. Aku sudah melihat perubahannya, dia sangat menyanyangi anakku Di."


"Halah mbak, itu triknya dia aja. Aku takutnya dia itu cuman penasaran sama kamu."


"Penasaran sama apanya?"


"Muka kamu lah, apanya lagi. Manusia kayak dia mah, cari wanita dari luarnya doang."


Arumi hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Diana. Entah kenapa ia begitu sensi dengan Bari. Entah karena ia pernah di khianati atau justru ia belum move on dari mantan kekasihnya itu.


"Kalau dia penasaran sama aku, harusnya dia mencuri kesempatan dalam kesempitan Di. Dia ada loh beberapa kali kesempatan curi curi pandang wajah aku kalau dia mau. Tapi dia nggak melakukan itu, itu artinya dia sudah mulai bisa menghormati dan menghargai wanita. Kita harus apresiasi perubahannya."


Ada yang melengkungkan bibirnya mendeteksi pembicaraan kedua wanita itu. Siapa lagi kalau bukan Bari. Sudah sejak tadi pria itu berdiri dan berhenti diambang pintu mendengar semua obrolan calon istri dan juga mantan kekasihnya itu. Ternyata selama ini Arumi tak buta dan tak menutup mata melihat perubahan padanya, batin Bari sumringah.


"Mbak, tapi orang yang suka selingkuh itu bukan kebiasaan yang mudah hilang." Diana masih tak mau kalah dengan perdebatan mereka.


"Kamu ini sebenarnya mau mengingatkan atau kamu belum move on dari aku?" sahut Bari berjalan mendekati mereka yang duduk di ruang tamu seraya melakukan sesuatu untuk acara besok malam.


Keduanya sama-sama terkejut, salah tingkah tak dapat disembunyikan oleh Diana. Ia curiga bahwa mantan kekasihnya itu mendengar semua obrolannya dengan Arumi. Sementara Arumi hanya menahan tawa melihat tingkah sepupunya yang tiba-tiba saja mendadak gugup.


"Siapa bilang aku belum move on dari kamu? Nggak usah ke ge er an."


"Ya terus ngapain ngomong begitu sama Arumi? Udah di bilang dari awal kalau aku udah berubah masih aja ngeyel. Bilang aja belum ada pengganti aku kan? Belum ada yang lebih ganteng dari aku kan?"


"Apaan sih. Orang kayak kamu gantengnya dari mana? Muka kayak kaki cantengan aja balagu." Entah Diana sungguh emosi atau hanya ingin menutupi kegugupannya tak ada yang tahu. Satu yang pasti, ia saat ini sungguh ingin kabur dari tempat yang tiba-tiba menjadi tempat terkutuk itu.


Bari tertawa mendengar ucapan mantan kekasih yang dahulu membuat hari-hari nya penuh dengan gelak tawa. Hingga saat ini sudah menjadi mantan pun gadis itu masih saja membuatnya tertawa.


"Kaki cantengan? Selera kamu rendah banget berarti ya. Kamu pernah jadi pacar aku loh."


Diana semakin kesal dan pergi meninggalkan ruang tamu menuju dapur.


"Dasar, dari dulu nggak pernah berubah," gumam Bari di tengah tawanya.


Tanpa Bari sadari, ada wanita yang cemberut dibalik cadarnya. Arumi merasa kesal melihat interaksi singkat antara calon suami dan juga sepupunya.

__ADS_1


Sejurus kemudian Bari sadar sesuatu.


"Rum," panggilnya


Tak ada jawaban


"Arumi," panggilnya lebih keras


Masih tak ada jawaban.


"Rum, jawab dong."


"Apa?" jawab wanita itu sekenanya.


Mendengar nada jawaban dari calon istrinya membuat Bari mengernyitkan kening. Ia bertanya-tanya dalam hati. Namun, sedetik kemudian ia mengerti apa yang terjadi.


"Coba katakan padaku, apa kamu cemburu Arumi?"


"Tidak. Cemburu pada siapa?"


"Sungguh? Baiklah, kalau begitu aku harus menemui ibu. Ibu pasti sedang di dapur kan, terdengar ramai orang di sana." Bari berdiri dan hendak melangkah.


"Ibu sedang sibuk. Lebih baik tidak usah. Kamu bisa temui besok bersama dengan bu Rahma kan."


"Rasanya tidak sopan aku ke sini tapi tidak bertemu dengan ibu, Rum."


Bari tersenyum menang. Sudah tidak bisa dibantah lagi. Calon istrinya itu sedang cemburu dengan sepupunya sendiri.


"Memang kenapa kalau aku ketemu Diana? Lagi pula dia kan sepupu kamu yang akan jadi sepupu ku juga."


"Ya sudah sana pergi." Arumi semakin menjawab ucapan Bari dengan nada dingin seperti awal-awal bertemu.


"Kok kamu kayak marah sama aku?"


"Nggak. Marah untuk alasan apa?"


"Itu artinya kamu nggak cemburu dan nggak mencintai aku?"


"Tidak cemburu bukan berarti tidak cinta."


"Ya terus apa namanya?"


"Itu artinya memberikan kepercayaan penuh pada pasangan bahwa dia tidak akan pernah mengkhianati. Kalau kepercayaan di rusak ya tinggal pergi."


"Itu artinya kamu percaya sama aku kalau aku nggak akan mengkhianati kamu?"

__ADS_1


Arumi menganggukkan kepala setelah menghembuskan nafas panjang.


"Terus kenapa kamu menunjukkan kalau kamu seakan cemburu?"


"Bari jangan membuatku marah. Sejak tadi kamu membicarakan hal yang tidak penting. Entah itu dengan Diana atau denganku. Untuk apa kita bahas Diana?"


Seperti sadar akan kesalahannya, Arumi mendadak gelagapan. Ia berusaha untuk meralat kata-kata yang sudah terlanjur terucap.


"Maksudnya, aku.... Aku..."


"Cemburu," potong Bari cepat. "Rum, percayalah. Aku sangat bahagia jika kamu memiliki rasa cemburu terhadap ku. Aku merasa kamu sudah mencintai aku. Mulai sekarang, kamu harus bilang apa yang kamu rasakan ke aku. Kalau aku salah di mata kamu, kamu bilang. Ada yang sikapku yang tidak membuatmu nyaman, bilang ke aku biar aku nggak mengulangi salahku. Biar aku nggak melakukan apa yang nggak kamu suka. Sebesar itu cinta aku buat kamu Rum."


Arumi hanya menanggapinya dengan menundukkan kepala menahan haru. Bukan wanita yang wajar jika diperlukan seperti itu tidak terbawa perasaan. Hati Arumi tidak mati, ia hanya menutup hatinya selama ini. Hatinya akak tetap luluh jika Bari terus menerus menghujani dirinya dengan cinta.


"Udah nggak usah terharu begitu. Oh ya, aku ke sini mau ngasih ini. Gamis sederhana yang aku beli sudah lama, sengaja aku menyimpannya dan akan memberikan waktu yang tepat. Aku rasa ini waktu yang tepat untuk kamu pakai ini besok malam. Aku harap kamu suka." Bari mendorong paper bag yang sejak tadi ia letakkan di depannya.


"Boleh aku lihat?"


"Boleh dong. Kan buat kamu."


Jika dilihat dari mata Arumi, ia begitu bahagia dan senang saat mengangkat gamis pink cerah itu.


"Terima kasih Bar. Warnanya cantik, aku suka."


"Nggak ada yang lebih cantik dari kamu. Meskipun aku nggak tau wajah kamu, aku yakin kamu jauh lebih cantik dari baju ini."


"Sudah Bar, kenapa kamu terus menggombali ku?"


"Aku nggak gombal. Aku bicara jujur."


Tiba-tiba datang Caca dengan pakaian seragamnya yang sudah rapi. Untuk sejenak, bisa-bisanya Bari melupakan gadis cilik itu.


Sudut mata Caca melihat seonggok pakaian yang berada di pangkuan Arumi.


"Itu apa bunda?"


"Ini? Baju dari om Bari nak. Buat dipakai besok pas acara."


"Om Bari beliin bunda aja? Aku nggak?"


"Caca nggak boleh gitu, nanti dibeliin sama bunda ya," sela Arumi tak enak. Biar bagaimanapun, Bari masih menjadi calon suami, belum menjdi suaminya. Tak seharusnya Caca menanyakan hal seperti itu.


"Nggak apa-apa Rum. Baju kamu nanti ya sayang. Masih ada waktu, kan acaranya masih besok. Mau warna pink kayak bunda?"


"Bari ja...." Arumi tak melanjutkan kata-katanya karena Bari memberikannya kode agar tetap diam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2