Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 27


__ADS_3

Samar-samar aku mendengar suara Arumi yang entah sedang bicara dengan siapa. Aku bisa mendengar suaranya, namun mataku terasa berat untuk terbuka. Aku masih memejamkan mata dengan selimut yang menyelimuti tubuh ku.


"Astaghfirullah, Bari apa-apaan ini. Bagaimana bisa kamu tidur di sini?"


Aku yang mendengar suara teriakan dari Arumi seketika gelagapan. Aku terduduk seketika dengan jantung yang bergemuruh. Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya Arumi menatap ku dengan durasi yang lama. Meskipun tatapannya penuh dengan amarah dan kekesalan, aku tetap bahagia. Kini aku dan Arumi saling tatap dalam diam.


Dia menatap ku dengannya marah, tapi bisa jadi dia juga terpana dengan ketampanan yang aku punya. Bahkan di saat baru bangun tidur sekalipun ketampananku tetap paripurna.


Setelah beberapa saat aku tersadar, aku tak boleh saling tatap dengan Arumi terlalu lama. Aku takut jika jantungku lepas dari tempatnya lalu meledak.


Aku melihat tubuh kenyang tertutup selimut. Aku seketika mengintip kakiku.


"Alhamdulillah, masih pakai celana. Masih suci," ucapku tanpa sadar.


"Silakan keluar, dasar laki-laki tidak sopan," gumam Arumi lalu beralih pada pasangan suami istri yang sedang ingin memeriksakan calon buah hati mereka.


"Saya minta maaf atas kekacauan ini ya pak, bu. Ini teman saya punya kelebihan beban hidup jadi mohon dimaklumi."


Apa? Kebanyakan beban hidup? Astaga enteng sekali bicaranya. Aku menatap Arumi sejenak, wanita itu kini tak lagi sungkan menatap ku meski dengan pelototan dan durasi yang singkat. Jika aku boleh menebak, dia pasti terpesona dengan wajahku yang bak opa-opa Korea. Itu sebabnya dia mencari alasan untuk menatap ku barang sebentar aja.


Aku juga meminta maaf pada pasangan suami istri itu atas ketidaknyamanan yang aku ciptakan. Aku sendiri bingung, bagaimana bisa aku tidur senyenyak itu di ranjang yang sempit itu.


Mataku terbelalak begitu membuka pintu. Di depan ruangan sudah banyak pasangan suami istri yang sedang antri menunggu giliran. Semua mata mau tak mau menatap ku, aku yang mendadak salah tingkah hanya membalas tatapan mereka dengan nyengir yang paling tampan.


Aku bejalan dengan langkah lebar. Melirik jam tangan yang sudah menunjukkan di angka sembilan. Aku merogoh saku untuk mencari ponsel ku. Ada sedikit pertanyaan dalam benakku, biasanya Firdaus akan mengganggu hidupku jika aku belum sampai di kantor tepat waktu. Tapi kenapa ini sama sekali tidak ada panggilan yang menyebabkan aku tertidur begitu lama.


"Ya Allah, pantesan nggak ada telepon. Orang hape aku ketinggalan di mobil. Ini kan hape Arumi. Lupa nggak kembaliin lagi tadi. Kalau balik ke sana, bahaya sih. Ngamuk nanti dia. Udah ah bawa aja biar ntar ada alasan kalau mau ketemu."


Ah ada-ada saja rencana Tuhan ini. Aku baru ingat juga apa yang di obrolkan oleh kedua suster tadi. Aku datang ke ruangannya berniat untuk menghibur dan menenangkan dirinya jika dia benar-benar sedih atas apa yang menimpa pasiennya. Tapi yang terjadi malah aku ketiduran di ranjang pasien. Mudah-mudahan saja Arumi baik-baik saja. Kalaupun iya dia down dengan apa yang terjadi tadi, aku berharap dia bisa mengatasinya sendiri.


Baru saja masuk mobil, dering ponsel Arumi membuat jiwa kepo ku meronta ingin dikeluarkan. Aku meraih ponsel yang aku letakkan di kursi samping kemudi.


"Bu Asna? Siapa?" tanyaku pada diri sendiri.


Aku abaikan saja, aku takut jika aku menerima panggilan ini akan berujung pada kesalahanku lagi. Lagipula tidak sopan juga jika harus menerima panggilan di ponsel orang lain.


Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Aku harus segera kembali ke rumah dan ke kantor. Firdaus saat ini pasti sedang ngomel dengan dirinya sendiri dan memaki ku sepuas hatinya.


Beberapa kali ada panggilan dari orang yang sama. Aku berusaha untuk menahan diri agar tak menyentuh ponsel milik Arumi. Tak berselang lama, ada pesan masuk. Aku coba intip dari layar depan.


[Maaf bu, sedang ditunggu Caca]

__ADS_1


Hanya itu yang bisa terbaca olehku. Ingin ku balas tapi tak mungkin juga. Ah sudahlah lebih baik aku langsung ke sana saja.


Bunyi telepon dari Arumi berhenti sudah, kini giliran ponselku yang terus berirama minta diperhatikan. Sudah bisa aku tebak bahwa Firdaus yang mengganggu hidup ku di hari dan jam kerja seperti ini.


"Iya," jawabku enteng.


"Tuan hari ini kita ada meeting penting dengan klien besar pukul sepuluh."


"Tunda atau lo aja yang dateng sama Hanin. Gue ada urusan penting."


"Urusan apa yang lebih penting dari perusahaan tuan?"


"Urusan keluarga. Repot banget lo tanya-tanya. Udah lo aja yang hadir sama Hanin ya. Ntar gue kasih bonus gede." Aku memutuskan sambungan telepon setelah itu.


Begitu sampai di sekolah Caca aku langsung saja masuk ke halaman. Nampak sekolah yang sudah sepi. Hanya ada Caca dan juga satu guru yang aku tebak adalah orang yang menelepon Arumi beberapa kali tadi.


"Selamat pagi bu. Saya mau jemput Caca."


"Maaf anda siapa ya? Saya tidak pernah melihat anda sebelumnya."


"Calon suami Arumi," jawabku enteng. Setiap perkataan adalah doa, itu sebabnya aku akan mengatakan yang baik-baik saja, apalagi itu berhubungan dengan Arumi.


"Iya bu, om Bari bilang kau jadi ayahnya Caca. Sebentar lagi Caca punya ayah. Nggak ada lagi yang ngeledekin Caca anak....."


Meledek? Ada yang meledek dan mengatai Caca di sekolah? Jujur saja aku baru tahu kenyataan ini. Caca sama sekali tak menunjukkan sikap anak yang jadi korban pem-bully-an. Dia menampakkan wajah yang bisa saja dan bahagia-bahagia saja.


Aku bergandengan tangan dengan Caca layaknya seorang ayah dan anak. Ngobrol dan bertanya apa saja kegiatan di sekolah dan lain-lain.


"Mau langsung pulang?" tanyaku saat kami baru saja berada di dalam mobil.


"Iya. Memang mau kemana lagi?"


"Mau beli beli krim? Atau jajan dulu juga nggak apa-apa. Kamu mau apa? Bilang sama om."


"Aku takut bunda marah sama om sama Caca juga."


"Kenapa marah? Caca nggak boleh jajan emang?"


"Bunda selalu marah kalau aku dekat sama orang lain. Terutama om-om, aku hanya boleh berteman dan dekat dengan perempuan dan teman sebaya saja. Sebenarnya banyak om-om yang deketin aku, kayak om Bari begini. Beli beli apapun buat aku, buat oma, buat ibu. Tapi ibu selalu nolak. Aku nggak tahu kenapa, kata bunda aku ngertinya nanti pas dewasa."


Jadi benar kata ibu? Arumi banyak yang menyukai dan banyak laki-laki yang bersedia menjadi suaminya? Ah aku jadi semakin ketar ketir saja.

__ADS_1


"Tapi sekarang ada yang deketin Caca sama bunda lagi nggak selain om Bari?"


"Udah lama nggak ada om. Bunda kan udah pakai cadar jadi nggak tahu deh orang-orang kalau bunda cantik. Dulu banyak banget yang deketin bunda."


Syukurlah, tidak ada yang mendekati Arumi lagi. Itu artinya aku tidak ada saingan. Bukannya aku takut jika ada saingan aku akan di tolak atau aku kalah tampan dengan pesaingku. Masalahnya adalah untuk mendapatkan perhatian dari Arumi sangatlah susah, tidak ada saingan saja harus berjuang apalagi kalau ada saingan?


"Kalau sama om bunda nggak akan marah kok. Kan om sering kasih hadiah ke kamu sama teman-teman kan? Dan bunda nggak marah kan waktu itu?" tanya ku menyelidik.


"Nggak om. Bunda nggak marah. Cuman bunda kasih tahu kalau aku nggak boleh dekat-dekat sama om. Nanti bunda cemburu kalau aku dekat sama orang lain juga."


Tak ku sangka se tertutup itu Arumi dengan laki-laki. Dia sampai mempengaruhi anaknya agar tak dekat dengan siapapun. Aku tahu maksud Arumi, dia takut Caca akan ketergantungan dengan seorang laki-laki dan lama kelamaan Caca akan menuntut ayah darinya.


"Om ada badut," ucap Caca senang kala melihat badut di taman yang kami lewati.


"Iya, kamu suka badut. Kamu mau lihat?"


"Nanti bunda marah kalau aku nggak lansung pulang."


"Biar om nanti yang gantian marahin bunda."


Aku membelokkan mobil ke arah taman. Caca tak lepas dari tanganku sepanjang kami melewati jalanan taman. Tak lupa kami beli es krim dahulu sebelum melihat badut yang di sana.


"Caca pernah di ajak kemana aja sama bunda?" tanya ku seraya mendudukkan dirinya di pangkuan ku.


"Caca duduk sendiri aja om. Caca nggak boleh manja kata bunda."


Astaga Arumi hal apa saja yang kamu ajarkan pada anakmu? Kenapa selalu ada kata tidak boleh dalam setiap tindakannya.


"Kata siapa kalau di pangku itu manja?"


"Kata Caca sendiri," jawab Caca terkekeh.


"Sekali kali nggak apa-apa sayang. Om mau kita dekat dan akrab. Biar om juga mudah buat menikah sama bunda. Mau kan punya ayah kayak om?" Aku menanyakan hal yang sama seperti tadi pagi. Padahal sudah jelas Arumi melarangku. Bari adalah seorang yang keras kepala, semakin dilarang apa maunya, maka akan semakin melakukannya.


"Mau," jawab Caca singkat seraya memindahkan posisinya di pangkuanku.


"Oh ya, tadi kata Caca pas di sekolah bilang sering di ledekin, emang Caca di ledekin siapa?"


"Temen Caca, katanya Caca anak haram yang nggak punya ayah."


Anak itu merubah ekspresi wajahnya ketika menjawab. Benar-benar ada guratan kesedihan yang terlukis di wajahnya. Sungguh aku tak tega melihat anak sekecil ini harus dihadapkan dengan kenyataan sepahit ini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2