
Setelah jam istirahat Dinda habis, Bari dan Arumi pamit pulang. Mereka berencana akan langsung membelanjakan apa yang diminta Mira. Agar esok hari Bari bisa langsung ke rumahnya tanpa harus belanja terlebih dahulu. Jiwa ogah-ogahan Bari masih bersarang di tubuhnya. Seandainya saja ini tak demi rumah tangganya, mungkin Bari malas meladeni Mira.
Setelah apa yang diminta Mira sudah terbeli, mereka membuat langsung pulang karena hari sudah petang.
Seperti biasa, mereka sudah di hadang oleh Caca saaat memasuki pintu utama. Anak itu kesal, akhir-akhir ini sering ditinggal oleh kedua orang tuanya.
"Bunda sama ayah jahat, bunda sama ayah selalu ninggalin aku," ujar Caca dengan wajah kesal lalu kembali masuk ke rumah.
"Kenapa masih diam di sini? Sana bujuk, kehadiran aku bagai angin sejak kamu masuk ke dunia Caca. Maunya kan Caca sama kamu terus," sungut Arumi lalu berjalan menuju dapur entah apa yang akan ia lakukan.
Bari menghela nafas berat. Ia mengira sudah mengenal dan memahami istrinya, rupanya ia salah. Ia sama sekali belum memahami wanitanya itu. Terkadang istrinya sangat dewasa, namun juga tak jarang Arumi menunjukkan sisi ke kenak-kanakannya. Seperti saat ini, jika sudah di posisikan seperti ini, Bari bingung hendak membujuk siapa dulu.
Setelah berpikir beberapa detik, Bari putuskan untuk menghampiri anak tirinya, ia merasa lebih gampang membujuk Caca dibanding istrinya.
Caca terlihat meringkuk di bawah selimut dengan menghadap pintu. Namun, begitu Bari membuka pintunya, gadis cilik itu langsung mengganti posisinya.
"Anaknya ayah marah ya? Pernah dengar cerita nggak kalau ada orang yang gampang marah akan terlihat cepat tua dan nggak cantik lagi," kata Bari dengan memeluk anaknya yang berbaring membelakanginya
"Itu kan buat orang gede. Bukan buat anak-anak."
"Nggak dong, buat anak-anak juga. Nanti kamu kalau marah terus sama bunda dan ayah, kamu cepat tua. Nanti anak ayah nggak cantik lagi, ayah nggak mau dekat-dekat ah."
Anak itu seketika mengubah posisi tidurnya dan memeluk Bari. Caca dengan sesenggukan mengatakan, "aku baru punya ayah, jangan di tinggal."
Satu kalimat yang membuat hati Bari terasa perih. Bukannya membuatnya bahagia, justru Bari membuat anak itu menangis. Rasa bersalah tiba-tiba saja menjalar di sekujur tubuhnya.
"Nggak gitu maksudnya sayang. Ayah nggak akan meninggalkan kamu atau bunda, nggak akan pernah. Tapi kamu juga nggak boleh bersikap seperti tadi sama bunda atau ayah. Nggak baik nak, kalau ayah dan bunda keluar rumah dan nggak ngajak kamu, itu artinya ada urusan orang dewasa yang harus kita selesaikan. Nggak mungkin kita jalan-jalan tapi nggak ngajak Caca. Janji yang tadi nggak boleh diulangi ya."
"Janji, maaf ayah aku salah."
__ADS_1
"Iya, nggak apa-apa. Turun yuk, Caca juga minta maaf sama bunda."
Dengan menggendong Caca, Bari menuruni satu persatu anak tangga yang berada di rumahnya. Ia mencium bau masakan yang menggelitik hidungnya. Bau masakan yang berbeda dari biasanya. Apa ini masakan istrinya? Batin Bari menerka-nerka.
Yang benar saja, ternyata benar dugaanya. Bari melihat istrinya yang sedang sibuk memainkan alat dapur diatas kompor yang menyala.
"Kok kamu yang masak? Bibi mana?" tanya Bari berjalan mendekati istrinya.
"Widya masuk angin, aku suruh bi Darmi buat ngerok anaknya dulu. Mas, Widya masih terlalu muda untuk jadi asisten rumah tangga, kenapa kamu izinkan dia bekerja juga?"
"Kenapa? Itu sebenarnya ibu yang nyari. Masih saudaraan sama bibi yang di rumah ibu. Nggak apa-apa lah sayang, toh kerja dia juga bagus. Apa jangan-jangan kamu takut aku tergoda?" ujar Bari menaik turunkan alisnya mengoda Arumi.
"Nggak lah, kalau kamu suka ya udah sana sama dia."
Bari tertawa kecil melihat tingkah istrinya. "Sebenarnya Widya akan jadi baby sityer di rumah sayang. Tapi karena kita belum punya baby jadi dia bantu ibunya dulu." Bari menggeser tubuhnya agar lebih dekat degan istrinya lalu berbisik. "Itu sebabnya aku ingin segera punya bayi." Bari mengatupkan mulutnya melihat wajah istrinya yang memerah.
"Au sakit," pekik Bari menerima cubitan di perutnya.
*
Keesokan harinya.
Satu persatu impian sederhana Bari terwujud. Salah satunya adalah sekarang ini, hal sederhana yang membuat Bari tak tahan untuk tak melengkungkan bibirnya. Dengan senyum yang tersinggung ia memperhatikan istrinya yang sedang memasang dasi untuknya. Ia mengagumi kecantikannya meskipun tanpa seoles make up pun, istrinya tetap terlihat cantik.
"Kenapa kamu lihatin aku begitu? Apa aku terlalu lama masang dasinya? Maaf aku nggak biasa."
"Nggak apa-apa sayang. Malah kalau bisa aku begini terus, nggak usah kerja."
"Aku yang nggak mau kamu begitu, meskipun kamu seorang pimpinan, kamu nggak boleh begitu. Ada banyak karyawan kamu yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan kamu. Nanti aku akan ke sana jam makan siang ya. Boleh kan?"
__ADS_1
"Boleh banget sayang. Aku masih tak percaya, Tuhan mengirim ku bidadari yang kecantikannya hanya aku yang menikmati. Betapa beruntungnya aku."
"Jangan mulai. Udah sana berangkat, kamu harus ke tempat Mira dulu. Kamu udah kirim orang buat ngawasin rumah ibunya Arkan kan?"
"Sudah sayang. Ya udah aku berangkat sekarang, biar masalah juga kelar. Empet aku lama-lama sama mereka."
*
Di tempat yang lain, Mira sedang duduk santai di teras menunggu kedatangan Bari. Sudah sepuluh menit Mira duduk di sana, namun yang datang bukannya Bari malah ibunya Arkan.
"Tante ngapain ke sini? Nanti kalau Bari tahu bagaimana?" tanya Mira seraya celingukan ke sana kemari.
"Makanya ini tante lansung mau masuk, tante udah nggak sabar mau lihat perhiasan tante," ujarnya penuh semangat.
"Ya udah sana masuk!" titah Mira yang diikuti anggukan oleh ibu Arkan.
Tak berselang lama, Bari pun datang. Sebelum ia turun, ia mendapat pesan dari anak buahnya bahwa wanita yang sedang ia awasi baru saja masuk ke dalam rumah dimana Bari berhenti.
[Ok, tetap laksanakan tugas sesuai perintah] balas Bari lalu turun dari mobilnya.
Bari sangat muak melihat Mira yang sangat berbeda dari yang ia kenal. Ia merasa Mira sudah berubah banyak.
"Ini yang kamu minta. Aku langsung pergi. Ada banyak kerjaan yang aku tinggal karena aku sibuk dengan istriku. Kabari saja kalau kau butuh sesuatu." Tanpa basa-basi lagi, Bari meletakkan semua barang yang ia bawa. Ia meletakkannya begitu saja di teras.
"Bari, kamu kira-kira dong. Aku kan lagi hamil, masa kamu suruh aku bolak balik bawa ini ke dalam rumah. Jangan sampai kehamilan ku ini di dengar oleh ibumu dan ibu mertuamu ya," ancam Mira.
Tak mau berdebat dan ingin segera pergi dari tempat terkutuk itu. Bari yang sudah berjalan beberapa langkah balik arah dan memasukkan semua barang ke ruang tamu. Ia pergi begitu saja setelah semua barang masuk.
Mira langsung masuk dan menutup pintu begitu mobil Bari keluar halamannya. Padahal Bari tak benar-benar pergi, ia hanya memindahkan mobilnya ke arah yang tak terlihat dari rumah Mira. Ia sedang menunggu kabar dari anak buahnya.
__ADS_1
Bersambung