
Tak terasa sudah satu bulan Bari dan Arumi membina mahligai rumah tangga. Sudah tak ada lagi yang usil dengen kehidupan mereka. Seperti pasangan pada umumnya, mereka menikmati hidup dengan kebahagiaan.
Namun, pagi ini Arumi mendapatkan kabar yang tidak baik. Ia mendengar kabar dari sang kakak bahwa ibunya masuk rumah sakit. Arumi mondar-mandir sejak tadi, ia berusaha menghubungi suaminya untuk meminta izin keluar rumah. Tapi sejak tadi nomornya tak bisa dihubungi.
Tak ada pilihan lain, ia terpaksa meminta izin melalui pesan. Entah dibaca kapan, yang penting Arumi sudah meminta izin padanya. Bari adalah sosok suami yang posesif, Arumi tak pernah di beri izin untuk keluar rumah jika tidak bersamanya.
"Widya, bibi!" teriak Arumi menuruni anak tangga dengan setengah berlari.
"Iya bu, ada apa?" sahut Widya yang kebetulan ada di dekat tangga.
"Wid, saya nitip rumah dulu ya. Ibu masuk rumah sakit. Mas Bari nanti sore InsyaAllah sudah pulang. Jadi Caca nanti sama kamu aja ya, kalau belum pulang sampai petang kamu kasih tahu saya."
"Baik bu."
Dengan buru-buru Arumi keluar rumah. Dengan tergesa-gesa pula ia mengendarai motornya. Arumi memilih mengendarai motor bukan tanpa alasan, Ia ingin sampai rumah sakit lebih cepat.
Jujur saja, Arumi sangat panik mendengar ibunya masuk rumah sakit. Sebelumnya tak pernah beliau sakit hingga harus di bawa ke sana. Arumi memikirkan ibunya sepanjang perjalanan, pikirannya yang tak fokus membuat Arumi juga tak fokus pada jalanan.
Arumi tak sadar lampu lalu lintas berubah warna. Ia baru sadar ketika ada seorang ibu yang menyebrang jalan. Refleks Arumi membelokkan setir motornya ke arah kiri yang terdapat trotoar di sana. Kecelakaan pun tak dapat dihindari, ia tersungkur ke trotoar, kepalanya terbentur pinggiran trotoar, kakinya terjepit badan motor hingga ia tak mampu berdiri sendiri. Untunglah Arumi masih sadar dan lukannya tak terlalu parah.
Arumi di bantu beberapa orang yang berada di dekat lokasi, untunglah ia memakai helm. Kepalanya tak terluka meskipun ia mendadak merasakan pening. Namun, kakinya terasa sangat sakit. Ia menduga bahwa ada yang salah dengan tulangnya, mungkin tergeser dari tempatnya atau ada yang patah.
"Mbak nggak apa-apa? Ini minum dulu mbak," kata salah satu warga.
"Terima kasih bu. Saya ngga apa-apa. Hanya keseleo saja."
Arumi lalu menghubungi kakaknya agar menjemputnya. Tak mungkin ia melakukan perjalanan sendiri dengan keadaan kaki yang sedikit membengkak.
Sembari menunggu kakaknya sampai, Arumi berusaha untuk menghubungi suaminya lagi. Namun, tetap sama. Pria itu sepertinya tak mengaktifkan ponselnya. Arumi lagi-lagi menghela nafas panjang.
Tak berselang lama, Alvin datang dengan wajah panik.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Bagaimana bisa jatuh? Nggak apa-apa kan?" Alvin datang dengan mencerca berbagai pertanyaan.
"Nggak apa-apa mas. Kakinya aja yang keseleo, kita jalan sekarang aja. Ibu sendirian kan?"
Alvin hanya mengangguk dan menggotong Arumi ke mobilnya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada warga yang sudah membantu adiknya.
"Bari mana? Kenapa nggak diantar? Lebih penting kerjaan apa gimana?" omel Alvin seraya melajukan mobilnya.
"Mas Bari ada di luar kota. Harusnya hari ini ia pulang kalau nggak ada hambatan. Ibu sakit apa mas?" tanya Arumi mengalihkan topik.
"Ibu kepeleset di kamar mandi. Kepalanya kebentur pinggiran pintu dan ada pendarahan. Tapi nggak apa-apa, udah jauh lebih baik kok sekarang. Untung lukanya juga nggak parah. Sebenarnya ibu nggak mau, kalau mas kasih tahu kamu. Takut kamunya khawatir katanya, tapi mas tetep kasih tahu karena beberapa hari lalu beliau bilang kangen sama Caca."
"Udah lama aku nggak ke sana. Mas Bari sibuk mas, dan aku nggak pernah di kasih izin untuk keluar sendirian."
"Nggak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan, mungkin ibu juga butuh adaptsi, butuh waktu untuk terbiasa nggak ada kalian. Biar bagaimanapun, kalian pernah sama-sama selama lima tahun. Jadi hal yang wajar kalau ibu masih gampang kangen kan."
Perbincangan mereka selesai karena sudah sampai di dunia sakit. Dengan langkah terpincang-pincang Arumi dan Alvin melewati koridor rumah sakit. Alvin sudah menawari untuk memakai kursi roda, namun Arumi menolak karena takut jika ibunya malah khawatir dan memikirkan dirinya.
Seperti yang di perkirakan Arumi, Bari benar-benar pulang hari ini. Bahkan lebih cepat dari yang Bari katakan. Pukul tiga sore, pria itu sampai di rumah. Ia bingung mendapati rumah yang sepi, biasanya Arumi akan nonton TV di rumah tengah atau menghabiskan waktu di taman bersama Caca. Kenapa hari ini terasa sepi? Batin Bari.
Saat hendak ke lantai atas, datanglah Widya dengan penampilan yang tak seperti biasanya. Jika biasanya ia berpakaian kaos dan rok yang panjangnya hingga mata kaki, tidak untuk kali ini. Entah apa alasannya, ia hari ini memakai rok yang panjangnya diatas lutut.
Bari sempat melihat penampilan Widya uang berbeda, namun ia di detik berikutnya ia mengacuhkannya.
"Wid, ibu mana?"
"Ibu sejak tadi pagi ke rumah sakit, katanya ibunya masuk rumahsakit pak. Ibu hanya berpesan itu saja."
Bari hanya mengibaskan tangannya tanda menyuruh Widya pergi dari hadapannya. Setelah itu ia melaju ke lantai dua dengan meng-aktifkan ponsel yang sudah sejak pagi ia matikan. Yang benar saja, ada beberapa panggilan dan juga pesan di sana.
[Mas, kenapa nomer kamu nggak aktif? Ibu masuk rumah sakit mas, aku ke sana ya]
__ADS_1
Bari lalu memutuskan untuk menghubungi istrinya. Dengan kaki yang terus melangkah menuju kamar anak satu-satunya, ternyata anak gadisnya sedang tertidur lelap.
"Halo sayang, kamu ke sana sama siapa? Bagaimana keadaan ibu?" tanya Bari begitu sambungan telepon terhubung.
"Maaf mas, aku sendirian ke rumah sakit. Ibu sudah jauh lebih baik mas, ibu nggak apa-apa kok."
"Iya nggak apa-apa. Kamu baik-baik aja kan? Kamu ke sana naik apa? Aku merasa nggak enak dari tadi."
"Aku.. Aku, aku. Aku nggak apa-apa mas. Aku baik-baik saja," jawab Arumi dengan tergagap. Ia melakukan ini agar Bari tak mengkhawatirkan keadaannya.
"Ya udah, tunggu di situ aja ya. Nanti selepas maghrib aku ke sana. Kirim lokasi rumah sakit ya sayang. Jaga diri di sana, jangan kelayapan, jangan keluar-keluar dari kamar. Aku nggak mau banyak pria hidung belang yang melihat istriku."
Selalu begitu, Arumi hanya membalas dengan tertawa kecil. Ia sudah mulai terbiasa dengan sikap Bari yang memang posesif padanya.
Bari membersihkan diri dan istirahat sejenak. Ia membiarkan Caca yang masih terlelap, entah apa yang anak kecil itu lakukan hingga sore begini masih tidur.
"Bi!" teriak Bari menuruni anak tangga.
Bari memanggil bi Darmi, namun yang datang justru anaknya.
"Ibu sedang menyiram tanaman pak, ada yang bisa saya bantu?"
Bari hanya mengernyit melihat Widya yang nampak berbeda. Biasanya ia tak pernah dandan, dan memakai rok yang sopan.
Jangan lupa Bari adalah mantan pemain, ia hapal betul bagaimana gelagat wanita yang jatuh, mencari perhatian, wanita centil dan genit. Ia hapal betul.
"Buatkan saya teh hangat," ujar Bari lalu kembali ke kamar.
Widya menatap punggung Bari yang perlahan menjauh seraya menyungging senyum yang sulit diartikan.
Bersambung
__ADS_1