Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 79


__ADS_3

"Tante," teriak Mira seraya mengeluarkan semua barang dari Bari.


Ibu Arkan pun langsung mencuat keluar begitu mendengar namanya dipanggil. Beliau langsung menyerbu barang yang sudah tertata di meja ruang tamu. Mencari barang yang beliau minta dan menimang tas branded di depan wajahnya dengan senyum yang tentunya mengembang.


"Ini baru permulaan Mira. Kamu harus meminta lebih dari ini, harta Bari melimpah, dia nggak akan jatuh miskin dengan memanjakan kamu seperti ini."


"Iya tan. Aku tidak tahu kenapa Bari bisa sebodoh ini. Dia sangat mudah untuk dikibuli. Oh ya, tante juga jangan lupa untuk menciptakan bara api diantara Bari dan Arumi, biar rumah tangga mereka hanya dihiasi dengan pertengkaran."


Prok prok prok


Kedua wanita yang sedang menikmati barang mewah itupun seketika terdiam mendengar suara tepukan dari seseorang. Mata mereka tertuju pada pintu utama.


Betapa terkejutnya mereka sudah ada Bari dan juga beberapa orang tetangga Mira. Kedua wanita beda usia itu seketika panik dan gelagapan. Jika dilihat dari wajahnya, mereka ingin menanyakan banyak hal, namun lidah mereka mendadak kaku, tenggorokan rasanya seperti tercekat dan badan yang mulai lunglai.


"Apa-apa an ini Bari?" tanya Mira setelah sekian lama hanya menatap dengan wajah terkejutnya.


"Kau yang apa-apa an. Kau berniat menipu orang yang sudah pernah menipu banyak wanita. Apa kau pikir aku sebodoh yang kau kira? Kau berurusan dengan orang yang salah Mira!" teriak Bari murka.


"Jangan pernah kau datang lagi di kehidupan ku atau Arumi dan untuk kau wanita tua. Kau seorang perempuan, kau sama-sama seorang ibu. Bagaimana bisa kau berpikir sepicik itu, kau orang tua yang harusnya di hormati. Tapi tindakan mu sama sekali tidak pantas untuk di hormati. Sekarang aku beri kalian dua pilihan. Pergi dari kota ini dan jangan pernah ganggu kami dengan cara apapun, atau akan aku sebar luaskan video kalian. Video yang menyatakan bahwa kalian berniat menipu dan menghancurkan rumah tangga orang lain. Mungkin kalian tidak akan di penjara karena hal ini, tapi setidaknya kalian pasti akan dikucilkan. PILIH SEKARANG!" bentak Bari seraya memutar video yang sudah berhasil diambil oleh anak buahnya. Di video tersebut menampilkan sesaat sebelum Bari datang.


Mira dan ibu Arkan yang bergeming. Mereka mendengar kasak kusuk dari tentangga yang menyaksikan kejadian ini. Berberapa di antara mereka ada yang menghujat Mira dan ibu Arkan.


"Dasar, udah punya suami masih aja gatel. Pakai acara ngibulin suami orang lagi."

__ADS_1


"Ini wanita tua juga, nggak sadar usia. Kenapa nggak duduk diam di rumah ngemong cucunya aja sih?"


Itulah ucapan beberapa warna yang di sana. Sungguh ihu Arkan dan Mira tak punya muka saat ini. Wajahnya sudah dilempari kotoran oleh Bari.


"Jangan menatap ku seperti itu. Apa kau akan berniat balas dendam padaku? Lakukan saja kalau kau bisa. Pilihannya ada dua, membusuk di penjara atau langsung ke alam baka. Aku tidak peduli kalian wanita atau bukan, jika sekali lagi kalian usil dengan keluarga ku. Akan aku pastikan kalian tidak akan bisa lagi berkeliaran di dunia ini. Coba saja jika tidak percaya!"


Bari pergi dengan kepala yang masih terselimuti emosi. Beberapa langkah dari sana, ia berhenti sejenak.


"Akan aku beri kesempatan kalian untuk mengemas barang sampai matahari terbit besok. Kalau tidak, aku pastikan kalian melihat diri kalian di TV esok hari."


Bari melanjutkan langkah setelah itu. Lalu di susul oleh ibu-ibu yang menyaksikan pertunjukan drama antara Bari dan kedua wanita yang sudah memucat itu.


"Aarrrgh, bisa-bisanya Bari menjebak kita tante. Ini salah kita juga, kenapa kita nggak langsung lempar api ke rumah tangga mereka. Aku kira Arumi sudah termakan dengan omonganku," maki Mira kesal.


Dengan berdecak kesal mereka terpisah untuk pergi dari sana. Cibiran rupanya tak henti sampai sana, telinga ibu Arkan memanas ketika keluar rumah Mira dan mendengar cibiran dari tetangga sekitar Mira.


"Dasar, jadi wanita kok jahat ke wanita lainnya," sindir salah satu wanita yang sedang bergosip di dekat rumah Mira.


"Heh, kalau kalian nggak tahu duduk perkaranya, mending diam. Nggak usah banyak bicara, jangan sok tahu," sungut ibu Arkan.


"Siapa yang sok tahu? Hanya wanita jahat yang berusaha untuk merusak kebahagiaan wanita lain dengan mengusik rumah tangganya. Apalagi sampai memisahkan anak dari ibunya. Sama-sama perempuan kok saling menyakiti."


Sialan si Bari. Dia sudah benar-benar membuatku tak punya harga diri di sini. Bagaimana bisa dia laki-laki tapi mulutnya lemes seperti perempuan. Batin ibu Arkan menahan amarah.

__ADS_1


Dalam hatinya ingin sekali rasanya untuk membalas apa yang sudah dilakukan oleh pria itu. Tapi saat pikiran balas dendam itu hadir, ancaman Arkan yang baru saja beberapa saat beliau dengar membuatnya takut dan terpaksa urung untuk melakukannya.


Tak berhenti di situ saja, entah tahu dari mana tetangga sekitar ibu Arkan tahu apa yang beliau alami. Begitu sampai rumah pun, beliau mendapat tatapan sinis dari tetangga kompleksnya. Padahal rumah ibu Arkan dan Mira tidak satu kompleks dan jarak rumah mereka sekitar dua kilometer, bagaimana bisa para tetangganya juga ikut memusuhi dirinya? Begitulah kira-kira yang ada dalam benak ibu Arkan.


Dinda yang kala itu akan berangkat kerja, memutuskan untuk melihat keadaan ibu mertuanya. Sebenarnya ia ogah untuk berbaik-baik pada ibu dari suaminya itu. Tapi di sisi lain ia merasa perlu ingin tahu apakah di saat seperti ini ibunya masih bersikap tidak baik terhadapnya.


"Assalamu'alaikum bu."


"Waalaikumsalam. Ada apa kamu ke sini? Mau tertawa juga? Mau melihat penderitaan saya?" tanya bu Arkan dengan ketusnya.


"Penderitaan? Penderitaan yang mana bu? Bukankan selama ini yang menderita itu orang yang ada di sekeliling ibu? Lagian aku heran sama ibu. Aku ini datang ke sini dengan niat baik, mau tanya ada apa sebenarnya yang terjadi. Tapi aku rasa tidak perlu, mungkin benar apa kata tetangga soal ibu. Terus ibu mau kemana? Kenapa masukin baju ke tas?" tanya Dinda yang heran.


Dinda tak tahu apakah ini dampak dari peringatan Bari atau memang Bari menyuruh wanita ini pergi. Karena seingat Dinda, dalam rencana Arumi kemarin hanyalah memberikan peringatan dan efek jera pada mereka dengan ancaman penyebaran hasil rekamanrekaman, bukan untuk mengusir.


"Saya harus pergi dari sini jika ingin selamat. Lagipula entah apa yang dikatakan Bari pada orang-orang di sini. Mereka jadi ikut sinis juga sama saya," jawab ibu Arkan seraya tangannya terus memasukkan baju ke dalam tas.


"Ibu mau kemana?"


"Ke kosnya Ulfa, biarlah saya akan tinggal di sana atau cari rumah yang bisa saya kontrak. Kamu rawat rumah ini dan kasih pengumuman kalau rumah ini saya jual."


Dinda hanya diam. Ia tak tahu harus memberikan respon yang bagaimana. Ingin bahagia, tapi di sisi lain ia juga merasa iba. Tapi rasa iba itu hanya sekelebat saja datang karena ia ingat dengan perlakuan ibu mertuanya.


Setidaknya tidak ada yang berniat akan merusak hubunganku dan juga mas Arkan seperti yang pernah ibu bilang. Aku bisa tenang sekarang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2