CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 100.Malam Pertama


__ADS_3

Masih dengan malam yang sama, Revandra menghela nafas lega saat serpihan kaca yang menancap dijari tengah Angelicha sudah terlepas.


Walau Revandra harus menerima omelan dan makian dari istri kecilnya itu kala tak sengaja mengigit jemari Angelicha yang tengah dirinya isap.


"Makanya lain kali, untung cuma vas yang kamu pecahin. Kalau kepala kamu yang pecah gimana tadi?" celetuk Revandra.


Angelicha hanya mendesis lalu menatap tajam Revandra. Revandra benar-benar membuatnya sangat-sangat kesal. Intinya malam ini Revandra berkali-kali lipat lebih mengesalkan dibanding hari-hari biasa.


"Minggu depan sidang kan?" tanya Angelicha membuka topik pembicaraan.


"Iya kamu benar. Tolong kerja samanya," tutur Revandra.


Angelicha merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Besok Soya akan dijemput Janetta, percobaan tinggal dengan sang ibu sebelum sidang ditetapkan.


Agak sulit juga sih melepas Soya, tapi mereka yakin keputusan Soya adalah yang terbaik.


Revandra berjalan mendekat kearah Angelicha. Mengungkung gadis itu dibawahnya, tersenyum manis sebelum memagut bibir mereka.


Angelicha juga menerima dengan senang hati. Entahlah, hatinya berkata jika dirinya harus membalas.


Jemari lentik Angelicha sudah menanggalkan piyama tidur Revandra. Dada bidang yang nyaman dijadikan sandaran terpampang nyata didepannya.


"Ternyata jauh lebih panas melihat langsung dari pada membayangkan!" batin berseru, jemari lentiknya mulai meraba nakal dada tersebut.


"Tidak Angelicha, kamu masih sekolah..." tutur Revandra kala merasakan Angelicha ingin lebih.


Angelicha mendesah pasrah. Benar juga, dirinya masih sekolah. Tapi yang membuatnya bingung, kenapa mereka bisa melahkukan itu? Padahal pernikahan ini terpaksa.


Revandra juga tidak menunjukan gelagat aneh. Memakai kembali atasan piyamanya lalu merebahkan tubuh disamping Angelicha.


"Boleh saya memeluk kamu?" tanya Revandra.


"A-apa?" Angelicha reflek tersenyum canggung.


"Cabulin istri dapet pahala kan?" goda Revandra.


"Yak!! Mesum!!!" Angelicha berteriak, membuat Revandra menutup kedua telinganya.


______


Violet dibuat mendecak berkali-kali karna kesal. Malam ini dirinya harus berbagi kamar dengan si pembenci keramaian. Violet yang dasarnya hyperaktif sama sekali tidak cocok dipasangkan dengan Icha sipendiam.


"Jadi orang tuh jangan nolep-nolep. Ngga baik, manusia itu makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup." oceh Violet namun hanya dibalas anggukan oleh Icha.


"Astaga, gw nggak tahu apa yang terjadi sama lo. Ayolah, lo bangkit. Hidup lo tuh masih panjang, dan raih mimpi yang udah lo cita-cita in!" gerutu Violet.


"Bahkan yang gw cita-citain aja jadi hal yang paling gw benci sekarang," cicit Icha sambil menunduk.


Violet segera mengambil duduk disebelah Icha, anak ini bisa ngomong juga pikirnya. Sedari tadi dirinya sama sekali tidak pernah berbicara dan hanya mengangguk menangapi cibiran dan ocehan dari Violet.


"Gw pengen jadi bintang musik, sama kayak kak Angelicha, tapi sekarang... hal yang paling gw benci adalah musik," lirih Icha menunduk dalam.


"Nggak papa, mimpi masih banyak. Kenapa harus membenci musik? Apa lo pernah ada trauma sama sesuatu?" tanya Violet.


"Gitar," gumam Icha.


Violet jadi semakin kepo dengan masalalu gadis ini. Dirinya akan mengulik dan menemukan jalan untuk menyadarkan Icha.


"Kenapa gitar?" tanya Violet lagi.


"Satu temen club musik gw, ada yang meninggal dengan cara dipukul dan dicekik menggunakan senar gitar." jawab Icha.


Dadanya sesak jika mengingat hal tersebut. Mengingat bagaimana pria-pria bejat tersebut menyiksa teman-teman band-nya dan membunuh mereka dengan sangat sadis.


Icha menoleh kala merasakan tepukan hangat dibahunya. Rupanya Violet tengah tersenyum seolah-olah memberikannya semangat untuk bangkit.


"Gw akan mencoba kok, lo tenang aja," tutur Icha lalu tersenyum manis.


_______

__ADS_1


"Momy! Daddy!!" seru Soya bersemangat lalu menaiki ranjang dan mendusel ditengah-tengah Angelicha dan Revandra yang tengah saling memeluk.


"Bangun! Bangun! Bangun! Momy! Daddy! Bangun!" ocehnya sambil menghentak-hentakan kakinya diatas ranjang.


"Apasih Soya, daddy masih mengantuk," gumam Revandra masih dengan mata terpejam.


"Ayo bangun!!" teriak Soya dan segera dua manusia itu tersentak kaget.


Angelicha mengucek matanya menyesuaikan sinar mentari yang menerpa wajahnya. Dibuat mendesis kala dengan kencangnya kaki Soya mengenai perutnya.


"Soya anak baik, soya cantik," gumamnya dalam hati.


Angelicha segera bangkit dan memindahkan Soya kedalam pangkuannya. Sesekali Angelicha melirik Revandra yang kini merubah posisinya jadi tengkurap.


"Ada apa Soya?" tanya Angelicha.


"Ini sudah siang, momy!" protes Soya.


Angelicha menoleh kejam elektrik diatas meja nakas. Benar, ini sudah jam sembilan siang. Menarik bibir hingga menciptakan senyuman indah dibibir Angelicha.


"Daddy, ayo bangun. Udah siang ini," tutur Angelicha sambil mengusap kepala Revandra.


"Lima menit lagi momy..." gumam Revandra masih enggan untuk bangkit dari kasurnya.


"Hmm yaudah kalau gitu. Ayo Soya kita turun, pasti yang menyuruh Soya nenek ya?" tanya Angelicha.


"Bukan, tadi malah Soya dilarang masuk kamar momy. Tapi karna bantuan dari om Shin aku bisa deh kabur dari meja makan." celoteh Soya.


"Kamu kabur dari meja makan? Kenapa?" tanya Angelicha lagi.


"Pengen bangunin momy sama daddy!" seru Angelicha kemudian tersenyum.


"Karna Soya belum pernah bangunin daddy sama bunda," lanjutnya lalu memeluk leher Angelicha.


Angelicha tersenyum. Dirinya ibarat memilik keluarga kecil yang sangat harmonis.


"Manjanya anak momy, ya sudah ayo kita turun. Oh iya, kamu harus janji bakal balik ke momy sama daddy ya," ucap Angelicha lirih.


"Apa sayang? Kalau momy sama daddy bisa, udah pasti akan kami turuti," jawab Angelicha.


Soya tersenyum malu-malu kucing dan bersembunyi diceruk leher Angelicha. "Soya pengen adik, kembar tiga!" ucap Soya semangat.


Soya sudah rapi dan siap untuk menunggu jemputan dari Janetta. Ya, seperti kata pengadilan Soya harus mencoba tinggal serumah dengan sang ibu dan membiarkan anak itu merasakan nyaman dimana.


Angelicha bahkan sedikit menitikan air mata merasakan akan berpisah dari Soya. Takut juga Soya tidak menepati janjinya.


"Soya berjanji sama momy kan? Soya tahu kalau janji nggak boleh diingkari kan? Soya harus kembali kerumah ini ya," lirih Angelicha.


"Momy nggak usah sedih, Soya kembali kok. Kan karna Soya daddy nikah sama momy, jadi biar daddy nggak sendirian lagi Soya akan kembali. Itu janji Soya kepada momy!" ucap Soya lalu memeluk erat Angelicha.


"Mmmm... kamu udah janji loh ya, nggak boleh diingkari." kata Angelicha dan Soya hanya mengangguk mantap.


Tak lama bel rumah berbunyi, Hanum segera membuka pintu dan rupanya Janetta sudah datang. Wanita itu tersenyum sinis menyapa Hanum, mantan mertuanya.


"Soya sayang, bunda datang!" seru Janetta.


Arum, Violet dan Icha yang tengah bersantai sambil menonton film langsung menoleh dan mendapati Janetta yang menatap mereka dengan pandangan tak bisa diartikan.


Janetta membulatkan mata kala melihat Soya berada dalam gendongan Revandra dan yang lebih membuatnya kaget adalah, sosok wanita yang mengikuti dari belakang.


"Jaga putriku, ingat perkataanku ini. Aku tak segan membunuhmu jika Soya sampai terluka, bahkan hanya luka seujung kuku." desis Angelicha menatap tajam Janetta.


"Wahh jal*ng ini berani juga ya!" sarkas Janetta.


"Jaga bicaramu Janetta, masih ada Soya disini!" tegur Revandra.


"Kau tak salah memilih istri dia? Menemukan di club mana wanita itu?" tanya Janetta meremehkan Angelicha.


"Maaf, setidaknya putrimu lebih menyayangi jal*ng ini dibanding ibunya sendiri." sinis Angelicha.

__ADS_1


"Heh, lihat saja Revandra. Soya akan berada ditanganku!" sarkas Janetta.


Soya turun dari gendongan Revandra. Memeluk erat anggota keluarganya, bahkan Violet dan Icha sampai menangis mendengar perkataan Soya.


"Bibi-bibi cantik, aku titip momy dan daddy ya. Soya kembali kok," ucap anak itu polos.


Violet dan Icha hanya mengangguk dan mengusap air mata mereka. Rumah akan sepi tanpa Soya, mengingat Icha dan Arum sore nanti akan pulang.


"Kamu baik-baik disana ya, kalau kamu kembali kakak mau diajak ketaman hiburan," lirih Icha dan Soya mengangguk antuasias.


Kembali Soya memeluk Angelicha dan Revandra secara bersamaan. Angelicha sudah menangis, dirinya tak bisa jauh dari Soya.


"Momy jangan nangis. Nanti momy jelek, jaga daddy untuk Soya ya. Soya sayang momy dan daddy," ucap Soya lalu menghapus air mata Angelicha.


"Daddy, jangan marah-marah sama momy ya. Kalau momy sampai nangis, aku bakal marah sama daddy." lirih Soya lalu memeluk Revandra sekali lagi.


"Sudah Soya, jangan kebanyakan drama. Ayo kita segera menuju istana." ucap Janetta jengah.


Angelica hanya bisa menangis dalam dekapan Revandra. Seminggu dirinya akan dipisahkan dengan Soya. Namun mau bagaimana lagi, perintah pengadilan.


"Sampai jumpa semua!" seru Soya sebelum masuk kedalam mobil.


_____


Malam tiba, sejak tadi Angelicha murung. Makan malam tadi terasa sangat sepi tanpa Soya. Angelicha dan Revandra juga tidak nafsu makan.


Hanum yang melihat keduanya hanya bisa menghela nafas, mereka berdua seperti sudah kehilangan Soya saja. Walau tak bisa dipungkiri Hanum sendiri juga cukup khawatir tentang Soya.


"Kami akan kekamar saja." kata Revandra lalu bangkit disusul Angelicha yang mengekor.


Hanum hanya tersenyum sendu. Semua yang ada dalam rumah ikut galau ditinggal Soya, termasuk para pelayan dan tukang kebun.


Revandra berjalan menuju balkon sedangkan Angelicha meringkuk diatas ranjang. Mereka berdua sama-sama galau dan malas melahkukan apapun.


Line!


Angelicha mendesah lalu menggapai ponselnya. Ternyata pesan dari Fahmi yang jauh disana.


Angelicha rindu dengan sahabatnya tapi rasa galaunya jauh lebih besar dibanding rasa rindunya. Tak berminat membalas, namun takut mengecewakan temannya itu.


'Kata anak-anak, lo discors ya?'


Revandra menoleh menatap kedalam kala Angelicha memutar pesan suara diponselnya. Kebetulan volumenya dibesarkan jadi Revandra bisa dengar.


Wajah Angelicha semakin ditekuk kala mendapat kabar menyedihkan dari Fahmi. Pria itu sudah memiliki kekasih.


"Dia udah punya pacar rupanya," gumam Angelicha.


Angelicha tertawa sumbang melihat balasan dari Fahmi. Fahmi menyuruhnya mencari pria lain disaat Angelicha saja menginginkan Fahmi yang menjadi kekasihnya.


Sejak kelas sepuluh Angelicha merasakan ada yang mengganjal dihatinya setiap Fahmi memperlahkukan dirinya manis. Namun berusaha ditepis karna Fahmi adalah sahabat terbaiknya.


"Sesakit inikah friedzone?" gumamnya.


Berakhir malam itu Angelicha menangisi double galaunya sambil meringkuk diatas ranjang. Angelicha merasa ingin menangis meraung-raung sambil memukul samsak.


"Ini semua karna friendzone sialan!!" teriak batinnya.


Btw gimana nih? Kita buat Fahmi juga suka sma Angelicha nggak?


Aku up lagi niehh.. senengkan kalian?


Lagi butuh komenan panjang kalian nih wkwkwkw.




__ADS_1




__ADS_2