
Laki-laki yang tengah duduk di atas sofa itu seketika bangkit. Keisengannya membuka aplikasi WhatsApp yang selama beberapa waktu ini ia abaikan membuat jantungnya memompa lebih cepat.
Kontak bertuliskan nama 'Mama' itu adalah penyebabnya. Dilihat kapan wanita yang melahirkannya itu mengirim, satu jam yang lalu.
Keanu langsung berlari menuju mobilnya, tangannya sibuk menghubungi nomor Mamanya. Astaga, di tempatnya sekarang sudah pukul sepuluh siang. Jika begitu, akibat perbedaan waktu yang sangat panjang menjadikan posisi Mamanya sekarang pukul sembilan malam.
Sambungan telponnya tidak aktif. Kembali Keanu cek isi pesan dari Mamanya. Memang banyak sekali pesan dari Rayna untuknya, ungkapan rindu, bertanya pulang, tidak ada yang Keanu jawab. Kabar hilangnya Rayna -lah yang menjadi pusat perhatian Keanu .
Pesan itu tetap sama, mengabarkan hilangkan Rayna.
"Keanu ! Kau mau ke mana?!" Bianca berlari dengan belanjaan di tangannya.
Keanu tadi memang pasrah saat Bianca membawanya pergi. Bukan pasrah sebenarnya, tapi jika dipikir-pikir, mengikuti mau Bianca bisa mengalihkan fokus Keanu tentang mimpi buruk itu.( Bianca itu sepupu Keanu, yang terobsesi sama Keanu ).
"Jangan menggangguku, Bi. Lanjutlah belanja, nanti ku minta Daddy-mu untuk meminta orang menjemputmu," jawab Keanu buru-buru.
"Kau mau kemana?" Bianca mendekati Keanu , memegang tangan laki-laki yang tengah membuka pintu mobil itu.
"Aku harus kembali ke Indonesia." Setelah terdiam sebentar, Keanu memutuskan jawabannya dengan tegas.
"Tidak boleh!" Keanu menyentak tangan Revano. Belanjaannya berjatuhan, wajahnya yang memerah menandakan amarah tidak peduli dengan benda-benda mahal di dalam paperbag itu.
"Aku tidak butuh persetujuan mu, Bi." Wajah Keanu berubah marah. Waktunya terbuang hanya dengan meladeni Bianca, dia selalu tidak suka dengan sikap sepupunya itu.
"Kau punya kontrak kerja dengan Deddy! Daddy tidak akan menyetujui kepulangan mu ke Indonesia, Keanu !" Tidak putus asa, Bianca mencari alasan lain untuk menahan Revano.
"Bahkan jika Oma yang melarang ku pulang, dengan tegas aku menolaknya!" Keanu mengibaskan tangan Bianca, masuk ke dalam mobilnya.
Tidak ingin ditinggal Keanu , Bianca segera berlari masuk ke mobil Keanu juga. Wajahnya mengisyaratkan ketakutan. Dia tidak akan rela Keanu pergi, apalagi secepat ini. Belum tau dia jika Revano pergi karena Rayna. Jika tahu ....
"Aku akan ikut ke Indonesia!" Bianca bersuara dengan lantang setelah menutup pintu mobil dengan kesal. Keputusan sepihak yang diambilnya membuat Keanu menggeram kesal, namun memilih diam.
Mobil mulai membelah padatnya kota Paris.. Keanu tidak henti-hentinya menghubungi Mamanya. Sambungan tetap sama, di luar jangkauan. Terhitung belasan kali dia menghubungi Mamanya itu beberapa menit terakhir.
"Apa yang membuatmu se cemas ini, Keanu?" Bianca mendelik tidak suka.
Keanu melirik sekilas, tidak menjawab.
"Pasti gara-gara gadis bodoh itu!" Bianca membuang muka, menoleh ke arah jalanan.
"Berhenti mengatai Rayna gadis bodoh. Dia punya nama!" Keanu protes, tidak terima.
"Jadi benar karena perempuan itu kau pulang?" Bianca menoleh ke arah Keanu , menatap kesal.
Keanu mendengus, tidak menjawab.
"Sial**! Aku tidak akan membiarkanmu pulang!"
__ADS_1
Keanu tidak peduli.
"Aku benar-benar tidak akan membiarkanmu pulang, Keanu !" Bianca berbicara bertambah keras. Kesal karena Keanu mengabaikannya.
"Diamlah! Atau aku tidak akan membiarkanmu ikut!"
Akhirnya Bianca diam saat Keanu membentaknya. Mata laki-laki itu mengisyaratkan kemarahan, membuatnya takut. Tidak apa, dengan kalimat itu Keanu jelas mengizinkannya ikut.
"Hallo? Assalamualaikum, Keanu ?"
Setelah puluhan panggilan tidak terjawab, akhirnya suara lembut --yang terdengar bergetar-- itu terdengar.
"Waalaikumsalam, Ma. Kenapa Rayna bisa hilang, Ma? Mama dapat informasi dari mana? Apa Dimas tidak menjaganya dengan benar? Mana anak itu! Biarkan Keanu bicara dengannya!"
Bianca kembali mendelik ke arah Keanu. 'Ternyata benar. Karena gadis bodoh itu Keanu meminta pulang!' Bianca membatin kesal.
"Rayna hilang sepulang dari mall Sayang.Mama nggak bisa cerita banyak, Mamanya Rayna lagi shok ini. Anak buah Papa kamu sama Papanya Rayna masih berusaha mencari. Kamu jangan khawatir, Rayna pasti bisa ketemu," jawab mama Luna pelan.
"Keanu akan pulang, Ma."
"Benar, Sayang? Tapi, kerjaan kamu?" Ada rasa bahagia dan sedih dalam hati wanita paruh baya itu. Bahagia karena kepulangan sulungnya lebih cepat, tapi sedih karena sosok yang paling mengharapkan kepulangan sulungnya malah hilang.
"Bisa Keanu kerjakan lain waktu. Keanu akan ambil penerbangan tercepat, Ma. Bilang sama Mamanya Rayna , Keanu akan bantu cari Rayna ."
"Tentu, Sayang, tentu."
"Jadi benar karena perempuan itu kau pulang?" tanya Bianca sinis. Berusaha mati-matian ia menahan amarah saat Keanu masih menelpon Tantenya, saat sudah terputus itulah saat ia meluapkan kekesalannya.
"Iya," Keanu menjawab singkat, tidak menangkap raut wajah Bianca yang bertambah kesal.
"Hallo, Oma. Siapkan tiket pesawat untuk Keanu pulang ke Indonesia. Cari penerbangan tercepat, Oma. Situasi darurat."
Keanu langsung mengungkapkan keinginan nya saat telepon untuk Oma tersambung. Bianca yang mendengar ucapan Keanu membulatkan matanya, terkejut.
"Dua tiket, Oma! Bianca ikut Keanu !" Bianca berteriak sambil mendekat ke arah Keanu. Laki-laki itu menatap sinis sepupunya.
Sempat terjadi perdebatan sebelum Oma mengiyakan permintaan Keanu --juga Bianca. Tapi bukan Keanu namanya jika tidak dilawan dengan kekeras kepalaannya.
Keanu menambahkan laju mobilnya, ia harus segera sampai di rumah Omanya. Mengambil barang-barang pentingnya dan akan langsung terbang saat itu juga.
***
"Rayna ! Kamu di mana, Sayang?!"
Bryan berjalan dengan lambat. Penerangan yang hanya dari lampu HP-nya itu cukup membantu. Berharap bisa menemukan sosok yang sebenarnya masih mengisi relung harinya itu.
"Sayang, kalau kamu denger aku jawab! Aku janji nggak akan macam-macam sama kamu!"
__ADS_1
Peluh sudah membasahi wajah Bryan . Raut khawatir tergambar jelas di wajahnya. Dia tidak menginginkan ini. Dia juga tidak menduga Rayna akan senekat ini.
Sengaja ia memilih tempat di tengah hutan. Dengan keadaan yang sepi mungkin bisa membuat perempuan itu ketakutan dan menuruti keinginannya.
Jika saja Rayna tidak sok jual mahal, mungkin Bryan tidak akan mengancamnya begini. Ya minimal mereka balikan, dengan begitu Bryan tidak akan menodai Rayna. Fikir Bryan memang begitu, terlalu dangkal.
"Sayang! Rayna! Kamu denger aku nggak!" Laki-laki itu hampir putus asa. Dia menyenderkan tubuhnya di pohon besar, mengusap peluh di dahi.
"Aku janji nggak akan nakut-nakutin kamu lagi," ucap Bryandengan nada lirih. Tubuhnya yang tadi bersandar mulai berdiri tegak kembali, melanjutkan langkah.
Dia tidak menyadari. Di balik pohon besar itu, di tempat gelap yang hanya di terang oleh cahaya remang-remang dari ponsel pintarnya, di tempat ia mengusap peluh, gadis itu terlihat.
Badannya tergolek lemah bersandarkan pohon. Kakinya menjuntai ke depan. Matanya sempurna terpejam. Tangan terjatuh si sebelah tubuh lemahnya. Wajahnya pucat.
Terhitung dua jam lamanya ia menahan takut sendiri di tengah hutan itu. Menit-menit pertama badannya mengigil. Suara serangga kecil terdengar, sangat menakutkan. Bibirnya terus mengucap nama Keanu, meminta dijemput, dia takut.
Setengah jam berlalu. Bibirnya yang pucat tidak kembali bersuara. Badannya luruh dengan bersandarkan pohon besar itu. Memeluk lutut, berusaha mengurangi rasa dingin yang tiba-tiba mencengkeram. Membantin, meminta tolong pada Keanu , minta dijemput, dia dingin.
Beberapa menit setelahnya, dia tergolek tak berdaya, pingsan. Sampai saat ini ia terlihat tidak membuka matanya. Dia takut, dia kedinginan, dan dalam mimpinya, seolah ia tengah meminta bantuan dari seorang Keanu.
Tidak menyadari kehadiran orang membuatnya sampai di sini. Sampai orang itu berlalu, dengan sejuta kekhawatiran dan penyesalan yang tidak berarti apa-apa.
Di mimpi itu, dia terlihat bahagia sekali. Mereka bahagia sekali. Rayna dan Keanu dan keluarga kecil mereka.
Di dalam ruangan yang tamaran akan cahaya. Dua insan di sepertiga malam tengah mengadu kepadaMu. Mencurahkan sejuta kebahagiaan yang tengah dirasakan mereka. Bersyukur atas nikmat yang dicapai sampai mereka terduduk di bawah sajadah itu.
Keanu terlihat memutar tubuhnya, menghadap sang kekasih halal di dalam mimpi gadis yang tergolek tak berdaya itu. Wajahnya mengisyaratkan kebahagiaan tiada tara, tersenyum senang memandang wajah teduh sang bidadari.
Rayna mengambil tangan Keanu , menciumnya takjim. Keanu mengusap kepala Rayna yang terbalut mukenah, wajahnya terlihat menggemaskan.
"Larilah kepadaNya jika kamu mengalami kesusahan. Sekuat apa pun aku membantu, jika Dia tidak mengijinkan, aku tidak bisa membantumu."
Rayna tersenyum sambil mengangguk pada Keanu. Keanu lebih mendekat pada Rayna merengkuh tubuh mungil itu dengan sejuta cinta.
"Aku mencintaimu karena Allah, istriku."
Sungguh. Tubuh yang tengah kedinginan di bawah pohon besar itu mengalami kebahagiaan yang begitu besar dalam mimpinya. Kehangatan pelukan itu terasa nyata. Tanpa sadar, senyum simpul menghiasi wajah pucat yang tengah duduk dengan sejuta ketakutan dan kedinginan.
👋🙋Haii readers,
Gimana ketemu ga ya??
Nanti author flashback penculikan nya.
Tinggalkan jejak like dan komwelnya.
Terimakasih🙏💕
__ADS_1