CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 117.Good Bye


__ADS_3

Adenra jatuh berlutut, bersamaan dengan tubuh Cello yang memeluknya erat. Tangan wanita itu menyentuh bahu belakang Cello dan mencabut pisau yang menancap disana.


Matanya melotot tidak percaya. Angelicha dan Andin yang melihat kejadian itu berteriak histeris, mengira Adenra yang tertusuk pisau tadi.


Adenra menggeram kala melihat Calvin tengah tertawa penuh kemenangan. Tangan wanita itu mengepal erat beriringan dengan air matanya yang menetes deras.


Adenra benci melihat pria yang dicintainya terluka!


"Sialan!!" Adenra berteriak murka lalu menembakan pistolnya.


Dorrr


"Arghh!" Calvin meringis kala daun telinganya terkena timah panas dari pistol yang dipegang Adenra.


"Mati kau iblis!" seru Adenra lalu berlari menerjang Calvin sambil membawa pisau yang tadi tertancap dibahu Cello.


Bugh!


Bugh


Bugh


Brak!!


"Arhhh sialan!" desis Calvin kala tubuhnya dilempar kasar hingga memental meja disudut ruangan hingga patah.


"Mati ditanganku kau *bl*s!!" sarkas Adenra kembali memukuli Calvin.


Bugh


Adenra mundur beberapa langkah kala Calvin menendang perutnya. Meringis dan takut dengan kondisi janin dalam kandungannya. Adenra hamil, you know?


Dorrr


Adenra meringis lalu terduduk kala betisnya terkena tembakan. Sakit bukan main kala peluru menancap dalam betisnya.


Brak!!


Dorr


Calvin tumbang. Kepalanya mengeluarkan darah akibat tembakan dari seseorang. Adenra tersenyum penuh kemenangan kala melihat Revandra nampak tersenyum sinis lalu mencium pistol ditangannya.


Revandra masuk lalu menghampiri Calvin yang sudah sekarat. Bukan main memang racun yang sudah dilumurkan dalam peluru pemberian Adenra tadi.

__ADS_1


"Kau ingin istriku?" tanya Revandra sinis.


"Jangan bermimpi! Kau yang akan ku kirim keneraka!" lanjutnya lalu menginjak jemari Calvin.


Angelicha yang melihat itu hanya bisa menganga dan menghentikan tangisannya. Seperti melihat Revandra menjadi super hero kali ini. Sungguh sangat keren.


Revandra berjalan mendekati Angelicha dan tersenyum manis. Melepas ikatan yang membelenggu tubuh istri tercintanya lalu memeluknya erat.


Andin yang mendengar dan melihat semua itu menganga tidak percaya. Apa maksud dari semua ini?


Lalu bersamaan dengan itu Calvin pingsan. Bersaman pula dengan petugas ambulance dan polisi yang mengamankan Cello serta mengobati luka Hanif dan Nichol yang ditemukan polisi berada diruangan sebelah.


"Kita tinggalkan gedung ini!" titah Adenra.


"Apa maksudmu? Kita harus menangkap si iblis itu!" seru salah satu petugas polisi.


"Kita langsung b*n*h saja!" tukas Adenra. Wanita itu memegang sebuah remot pengendali bom yang dirinya dapat dari saku jaket Cello.


"Kita ledakan tempat ini. Aku muak dengan iblis pecundang sepertinya!" ujar Adenra dingin.


_______


Revandra menggendong Angelicha dengan gaya bridal lalu membawa masuk kedalam mobilnya. Mereka berdua saling tersenyum penuh arti masing-masing.


"Akhirnya, kita bebas dari setan itu." gumam Revandra.


"Aku mencintaimu," ujar Angelicha disela-sela pagutan mereka.


Angelicha merangkak naik keatas pangkuan Revandra. Lalu mulai m***m*t b****r sang suami dengan penuh rasa cinta.


Bom!!!


Mereka berdua tidak perduli degung didepan mobil mereka sudah meledak dan runtuh menyatu dengan tanah lalu terbakar. Mereka berdua sudah hanyut dalam gelora ciuman yang semakin lama semakin panas.


Revandra menuntut dan semakin memperdalam.


Nichol yang melihat itu dari luar memilih memutar arah. Dirinya lebih baik ikut ambulance yang membawa Cello beserta Adenra dibanding harus menumpang dengan Angelicha yang malah akan mengakibatkan dosa saja.


_______


Adenra memegang erat tangan Cello. Wanita itu menangis sambil sesekali memanggil nama Cello dan meminta sang kekasih untuk bangun.


Adenra yakin ayah dari bayi yang sedang dikandungnya adalah pria yang kuat. Dan Adenra juga yakin jika Cello tidak mungkin meninggalkannya.

__ADS_1


"By, bangun dong. Kamu nggak akan ninggalin aku dan anak kita kan?" ujarnya lirih.


"Kamu tega lihat anak kamu tumbuh tanpa kamu? Sekarang kita udah bisa menikah, aku sudah bebas dengan terhormat tapi kenapa kamu malah tidur sih?" rengek nya sambil terisak.


Tangannya membelai lembut perut ratanya. Kandungannya baru berumur dua bulan, padahal Adenra ingin memberikan hadiah ini untuk ulang tahun kekasihnya minggu depan.


"Kamu bangun dong!" ujarnya mulai frustasi.


Masih belum ada respon apapun dari Cello. Pria itu masih setia memejamkan mata setelah menjalani operasi tadi.


Keadaannya sedang kritis akibat racun yang ada dalam pisau yang menusuknya. Ditambah luka tembak, nyawa Cello sedang berada diujung tanduk.


"By, kamu janji bakal nikahin aku kan? Sekarang aku pengen kamu tepatin janji kamu. Kamu tahu, madam Veronica bahkan sangat bahagia mendengar jika aku hamil tapi kenapa kamu malah seperti ini?" cercaannya.


Adenra menundukkan wajahnya. Menangis tanpa suara berharap Cello dapat mendengarnya. Hatinya sesak melihat keadaan Cello sekarang. Memejamkan mata erat berharap air matanya mau berhenti.


"A-Adenra,"


Adenra langsung mendongak dan menghapus air matanya kasar. Tersenyum haru melihat Cello sudah sadar dan tersenyum menatapnya.


"Kamu bangun? Aku yakin kamu kuat. Aku seneng banget!" ujarnya senang.


"Sebentar aku panggilkan dokter dulu!" lanjutnya.


"Kamu disini saja... aku baik-baik saja. Aku butuh kamu bukan dokter," ujar Cello pelan.


Cello menggapai tangan Adenra dan menggenggamnya erat. Senyuman manis terpatri indah dibibir tipis milik Cello.


"By, aku hamil tau. Aku hamil, kapan kamu bakal nikahin aku?" tanya Adenra penuh harap.


"Aku seneng banget kamu hamil. Kamu harus janji sama aku. Rawat buah hati kita dengan sepenuh hati, kita tahu bagaimana rasanya hidup sendirian. Sekarang kamu sudah tidak sendirian." lirih Cello lalu mengecup punggung tangan Adenra.


"Kamu harus berjanji. Jika nanti ada orang yang melamar kamu lebih dulu dari aku, tolong kamu terima dia. Tapi, dia harus bisa nerima kamu dengan bayi kita. Tolong kamu janji it--"


"Nggak! Maksud kamu apa?! Kamu nggak mau nikahin aku hah?! Kamu tega ngebiarin aku hidup sendirian sama bayi kita? Dimana tanggung jawab kamu?!" cerca Adenra berapi-api.


"Bukan begitu. Tapi aku lelah menjalani segala kehidupan ini. Dulu aku bertahan karna kamu sendiri, tapi sekarang kamu sudah bersama bayi kita. Aku ingin tidur dan istirahat, aku ingin berhenti menatap dunia. Aku tunggu kamu dikehidupan selanjutnya," ujar Cello manis.


"Maksud kamu apa ngomong kayak gitu? Nggak usah mengada-ngada! Kita diciptakan Tuhan untuk saling bersama dikehidupan ini dan kehidupan selanjutnya. Aku cuma mau kamu, aku nggak mau siapapun selain kamu!" tegas Adenra.


"Hidup kamu masih panjang. Kamu akan menemukan pengganti diriku nanti, dadaku sakit sekali seolah ada sesuatu yang menggerogoti jantung ku. Hidupku hanya sampai disini, Adenra." ujarnya lalu terisak lirih.


"Aku hanya ingin kamu melepasku dengan iklas. Tolong rawat anak kita, aku mencintaimu." tutup Cello kemudian matanya tertutup erat bersamaan dengan genggaman tangannya yang mengendur.

__ADS_1


"Cello!!" Adenra berteriak histeris sambil memegang erat tangan Cello.


👋Haii readers next orang stop ya??


__ADS_2