
Keanu pun membawa Rayna langsung ke Rumah Sakit terdekat karena mengingat Rayna sedang hamil.
Tiba di Rumah Sakit para suster berlarian membawa brankar, tubuh Rayna dibaringkan di brankar dan dibawa keruangan ICU
Keanu terus mondar-mandir di depan ruang ICU. Sesekali ia melirik ke dalam ruangan itu untuk memastikan apakah dokter sudah menyelesaikan tugasnya atau belum. Helaan nafasnya terdengar keras, ia begitu khawatir.
Di dekatnya hanya ada Dimas dan papa Wijaya Kedua orangtuanya sudah lebih dulu pulang, begitu pun dengan mama Diana . Perempuan yang melahirkan Rayba itu begitu terpukul dengan hilangnya putri semata wayangnya.
Dokter terlihat membuka pintu ruangan. Belum sempat Keanu berucap, di belakang Dokter disusul beberapa suster yang sedang mendorong ranjang Rayna . Gadis itu terlihat terlelap di atas ranjangnya, wajah pucatnya berangsur cerah.
"Rayna mau dibawa ke mana, Dok?" Sebelum melanjutkan langkahnya, Keanu lebih dulu bertanya pada Dokter paruh baya itu.
"Keadaan pasien tidak terlalu buruk,dan kedua janin sangat kuat,cuma butuh banyak istirahat bisa dipindahkan ke ruang inap malam ini. Silahkan administrasinya diselesaikan terlebih dahulu, sementara kami memindahkan pasien," jelas Dokter itu sambil tersenyum menatap Keanu.
"Dokter sudah memastikan dengan benar? Jika masih perlu dirawat di ICU, sebaiknya lakukan saja, Dok. Saya akan menanggung biayanya saat ini juga," ucap Keanu . Kali ini lelaki itu tidak bisa menutupi raut khawatirnya.
"Pasien hanya demam biasa, juga kekurangan lumayan banyak energi. Tapi hanya perlu dirawat beberapa hari di ruang inap, pasien sudah bisa dinyatakan sembuh. Kami akan terus memantau keadaan pasien selama di ruangan inapnya, Tuan. Jangan khawatir." Dokter itu tersenyum, dengan pelan menjelaskan pada Keanu .
"Kamu ikut Dokter ke ruang rawat Rayna , Keanu Biar Om membayar administrasinya dengan Dimas," ucap papa Wijaya sambil menyentuh pundak Keanu tersenyum.
Keanu mengangguk, mengikuti langkah Dokter yang sudah lebih dulu berada di depannya. Sedangkan papa Wijaya dan Dimas berlalu ke arah berlawanan dengannya untuk membayar administrasi Rayna.
Tak lama kemudian Keanu sampai di ruang rawat Rayna . Ruang rawat kelas VVIP itu sangat luas, Keanu sudah memastikan ruangan itu akan nyaman untuk Rayna nanti.
"Jika pasien bangun, anda bisa memintanya untuk makan bubur ini, Tuan. Setelah itu pastikan pasien untuk meminum obatnya." Suster terakhir yang berada di ruangan itu berucap pada Keanu . Dia baru saja mengecek infus Rayna .
Keanu mengangguk, memilih duduk di sebelah Rayna . Suster itu sudah pergi meninggalkan Keanu setelah mendapat respon dari sang empu.
Keanu terdiam, melipat tangan di ranjang Rayna, memandangi wajah yang terlihat berangsur berwarna, tidak sepucat tadi.
Memandang wajah Rayna mengingatkan Keanu akan ucapan Dimas dan papa Wijaya saat di depan ruang ICU tadi.
"Aku tahu Risya tidak pernah menyukaiku, Keanu . Aku juga tahu kalau aku egois saat itu. Mementingkan perasaanku sendiri tanpa tahu tersiksanya dua orang hanya karena kebahagiaanku." Dimas tersenyum. Selalu tersenyum saat bicara dengan Keanu
"Om juga sudah membicarakan ini dengan orangtua Dimas. Mereka yang awalnya tidak setuju dengan batalnya perjanjian kerjasama ini akhirnya bisa menerimanya walau dengan perasaan yang sedikit dongkol. Tapi tenang saja, semuanya sudah teratasi," papa Wijaya menimpali.
Waktu yang sekitar satu jam untuk meminta mereka menunggu di depan ruang ICU itu membuat Keanu banyak menerima kesimpulan. Intinya sudah ia dapatkan, kesempatan itu terbuka lebar.
Mata lelah itu masih menatap Rayna, dalam sekali. Ingin sekali ia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa pusing yang lumayan mendera. Tapi ia tidak ingin kehilangan moment, di mana saat Rayna bangun dia adalah orang pertama yang dilihatnya.
Keanu menyentuh tangan Rayna menggenggamnya. Senyum lelaki itu terukir, mengingat Rayna yang entah sadar atau hanya mengigau, memanggil namanya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika mengingat itu. Entahlah, rasa itu begitu menggelitik perutnya.
"Keanu ." Tepukan di pundak yang Keanu rasakan membuatnya seketika sadar. Papa Wijaya berdiri di sebelahnya, tersenyum lebar. Keanu seketika melepaskan genggaman tangan putri dari sosok di sebelahnya itu, tersenyum canggung.
"Istirahatlah.papa ingat, kamu langsung mencari Rayna saat tiba dari Paris tadi. Kamu juga perlu istirahat, Keanu " papa Wijaya menatap wajah putrinya dan Keanu bergantian, tersenyum.
" Papa saja yang istirahat. Saya tidak masalah untuk menjaga Rayna ," jawab Keanu canggung.
Papa Wijaya tertawa pelan, berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu. "Kamu canggung sekali bicara dengan papa. Biasakan untuk tidak terlalu formal, papa tidak menyukai menantu yang canggung dengan mertuanya."
Keanu terdiam, menatap papa Wijaya yang mulai membaringkan tubuhnya. Dia masih mencoba untuk mencerna ucapan papa Wijaya.
Papa Wijaya kembali mengeluarkan tawanya. "Papa istirahat di sini. Kamu jangan macam-macam dengan putri papa ."
Wajah Keanu seketika memerah. Untunglah Papa Wijaya sudah mulai menutup matanya, tidak melihat wajah Keanu yang terlihat merona.
Keanu kembali duduk di tempatnya, kembali menggenggam tangan Rayna . Memperhatikan kelopak mata gadis yang terpejam itu. Bibirnya mengukir senyum. Keanu senang sekali bisa kembali dekat dengannya.
__ADS_1
Lelaki itu memutuskan untuk tidur dengan posisi terduduk, tangannya terus bertautan dengan tangan Rayna , menggenggamnya. Itu untuk pertama kalinya, Keanu tidur dalam keadaan sebahagia ini.
๐ฃ๐ฃ๐ฃ๐ฃ๐ฃ
Mata Rayna mengerjap pelan. Sebelum cahaya terang menyilaukan matanya, suara lumayan berisik memasuki indra pendengarannya. Matanya berangsur membuka.
Dokter paruh baya dengan dua suster di sebelahnya yang pertama kali Rayna lihat. Dokter itu bertanya satu dua hal pada Rayna , gadis itu menjawab pelan dan lemah. Tak lama kemudian mereka keluar, dan kemudian masuklah sosok yang sangat dirindukannya selama ini memasuki ruangannya.
"Keanu ..." Rayna berusaha mendekat demi memastikan sosok itu.
Keanu berjalan lebih cepat, mendekati Rayna "Jangan banyak bergerak, Ra . Kamu baru aja sadar."
"Mas ..." Rayna memeluk Keanu. Air matanya keluar saat bisa merasakan memeluk lelaki ini. Dia rindu sekali.
"Iya, aku di sini," gumam Keanu sambil membalas pelukan Rayna.
"Aku takut ... hutan ... gelap ... Aku takut, Keanu Jangan tinggalin aku ... Bryan ... dia ... aku takut," ucap Rayna lirih. Isak tangisnya menyamarkan ucapannya, tapi Revano masih bisa mendengar.
Keanu mengangguk. Tangannya mengepal mendengar Rayna menyebut nama itu. "Aku di sini, kamu nggak perlu takut."
Keanu mengurai pelukannya, mengusap air mata Rayna yang membasahi pipi tirusnya. Anak rambut yang menutupi kening Rayna juga Keanu singkirkan, lelaki itu tersenyum menatap mata sembab gadis di depannya.
"Mau minum?"
Rayna b mengangguk. Tenggorokannya kering sekali. Seharian kemarin dia tidak memasukkan apa pun ke dalam mulutnya, setetes air pun.
Keanu segera mengambilkan gelas yang sudah terisi air untuk Rayna mendekatkannya ke bibir pucat istri nya itu. Setelahnya ia mengambil bubur yang berada di nakas.
"Makan dulu, ya. Habis itu minum obat."
Rayna kembali mengangguk. Dia lapar sekali. Jangankan makanan, setetes air pun baru masuk ke perutnya pagi ini.
"Kamu pulang untuk aku, Mas ?" Rayna bertanya, nadanya lebih bersemangat dari pada tadi.
Keanu menggeleng, wajahnya pura-pura serius. "Kata papa, kamu mau nya ditemenin sama aku. "
Rayna langsung menggeleng dengan cepat --sangking cepatnya membuat dia merasa sedikit pusing kembali.
Keanu pura-pura terkejut, dia menggelengkan kepalanya. "Aku pasti nemenin istriku ."
"Nggak boleh!" Rayna langsung berteriak, detik berikutnya dia langsung terbatuk.
Keanu dengan sigap mengambilkan air minum, dan kembali meminumkannya pada Rayna.
"Kamu nggak boleh ke Paris lagi," ucap Rayna sedikit pelan. Wajahnya benar-benar khawatir.
Keanu tertawa pelan, wajah Rayna lucu sekali saat sedang khawatir seperti itu. "Jadi kamu mau ditemenin terus ?"
Rayna mengangguk, sangat cepat
"Kalau gitu aku kembali ke Paris sekarang aja." Keanu tersenyum menggoda ke arah Rayna. Pura-pura berdiri dan hendak pergi saat itu juga.
Rayna langsung menarik tangan Keanu "Nggak boleh! Kan aku nggak boleh pergi,kalo kamu pergi aku ikut!"
"Kalau gitu ngapain aku di sini? Kan tujuan aku pulang buat datang buat kamu " ucap Keanu kembali pura-pura serius. Padahal dalam hati, ingin sekali tertawa lebar melihat wajah menggemaskan itu yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Jadi beneran kamu pulang bukan buat aku?" Tangan Rayna yang dari tadi memegang tangan Keanu langsung dilepas. Matanya siap meluncurkan bulir beningnya.
__ADS_1
Tawa Keanu langsung pecah. Tidak tahan rasanya melihat mata Rayna yang siap menangis saat itu juga. Terlalu menggemaskan, Keanu pun memeluk tubuh lemah Rayna dan mengelus perut rata nya Rayna.
" Baby Twins. daddy. " ucapnya
"Kok ketawa?" Mata yang sudah meluncurkan bulir bening itu menatap Keanu penuh selidik.
"Aku cuma becanda, Ra Jangan nangis, ah. Tambah jelek nanti." Keanu mengacak-acak rambut Rayna --yang sudah berantakan jadi tambah berantakan.
"Aaahh ... Keanu jahat!" Rayna memukul-mukul Keanu kemudian bersedekap dada sambil mengerucutkan bibirnya, melengos.
"Utututu ... istriku lagi ngambek, ingat sayang ada babby twins ." Keanu menangkup wajah istrinya dan mencubit pelan pipinya. Tawanya benar-benar lepas pagi itu.
" Mas Keanu jahat! Aku marah!" Riayna menepis tangan Keanu , kembali melengos membuang muka darinya.
"Yaudah deh kalau marah. Aku balik ke Paris sekarang aja." Keanu dengan senyum menggodanya langsung berniat beranjak dari sana.
"Iihh ... jangan!" Rayna kembali menarik tangan Keanu , lelaki itu langsung terduduk dengan tawa yang masih pecah.
"Lah, kenapa? Kan kamu marah," ucapnya seolah tidak merasa bersalah. Menggoda Rayna ternyata semenyenangkan ini. Kalau tahu begini, seharusnya dari dulu dia menggoda Rayna
"Ya, dibujuk dong,Mas . Kan aku marah." Rayna mencabik kesal, mengerucutkan bibirnya.
"Sini, sini, aku bujuk." Keanu berdiri dan memeluk Rayna . Kepala istrinya itu ia benamkan di perutnya.
"Sayang, kamu masih marah?" Keanu mengulum senyum, tangannya mengusap rambut berantakan Rayna.
Rayna langsung mendorong perut Keanu. Wajahnya memerah, dan satu kata dalam kalimat Keanu menjadi penyebabnya. "Apaan, sih!"
Tawa Keanu kembali pecah.
"Ekhem!"
Kedua orang itu langsung menoleh ke arah pintu. Keasikan bercanda ria, mereka tidak menyadari ada banyak orang di dalam ruangan itu.
"Obatnya mujarab banget, ya. Pagi tadi kamu masih tidur, sekarang udah senyum malu-malu gitu." Papa mendekati ranjang putrinya bersama mama Dania.
Keanu dan Rayna terlihat salah tingkah. Demi mengurangi rasa canggungnya, Kra mendekati Mama serta keluarga yang kini duduk di sofa. Rayna sendiri disibukkan dengan Naumi ,Dita dan Mamanya juga.
"Rayna , bentar lagi kita jadi sodara, ya?" Dita menaik turunkan alisnya, menggoda Rayna
"Kok bisa?" Kening Rayna terlipat, tidak peka dengan kode Dita.
Dita menjawabnya dengan senyum menggoda. "Om Kevin dapat cucu sekaligus dua,Rayna?"
Kevin yang duduk di sofa menoleh pada Dita, menatap bingung, begitu pun yang lainnya.
" Alhamdulillah. " ucap papa Kevin.
Semua yang ada di ruangan sedang berbahagia karena keadaan Rayna dan kandungan baik-baik saja . Tanpa terkecuali Keanu,Rayna melotot pada Keanu saat pandangan mereka bertemu. Keanu membalasnya dengan senyum menggoda.
Papa Wijaya memberikan wejangan untuk Keanu dan Rayna untuk selalu menjaga kandungannya, dan untuk Rayna kalo keluar rumah harus diikuti bodyguard perintah papa Wijaya.
๐๐Haii Readers,
Semoga suka dengan ceritanya,
Tinggalkan jejak like dan komwelnya.
__ADS_1
Terimakasih๐๐