CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 106. Obsesi


__ADS_3

"Akutuh nggak bisa diginiin!!" Angelicha berteriak kencang lalu menjatuhkan tubuhnya diatas kasur.


Kepalanya berdenyut karna terlalu lelah menatap rumus-rumus yang ada dalam buku tersebut. Besok adalah ujian tengah semester yang mana artinya, satu minggu Angelicha hanya akan berkutat dengan soal-soal serta rumus-rumus yang susahnya minta ampun.


Angelicha menghela nafas lalu merogoh ponselnya yang terletak tak jauh dari jangkauannya. Menatap lamat jam yang terpampang dilayar utama ponsel keluaran dahulu tersebut.


Mendesah panjang kala merasa semuanya benar-benar tak berarti. Melempar asal ponselnya hingga memantul kelantai dan retaklah layar ponsel tersebut.


Menatap kosong atap-atap kamarnya, membayangkan apa yang akan terjadi dimasa depan. Angannya menuntun untuk berfantasi jika nanti Revandra dan dirinya akan hidup layaknya suami istri yang saling mencintai dan memiliki anak dari pernikahannya.


"Aku bisa gila," gumamnya menggeleng ribut.


Senyumnya merekah kala pintu kamarnya dibuka. Revandra masuk dengan ponsel tertempel ditelinganya serta senyuman dan kekehan yang menambah kesan aneh pada pria itu.


"Paris? Wah, idemu bagus juga. Apa? Honeymoon setelah kita menikah nanti? Aku setuju saja. Semua untukmu!" ujar Revandra lalu terkekeh pelan.


Pria itu tengah melepas dasinya tanpa menghiraukan atensi Angelicha yang menatapnya garang. Masih sibuk dengan sambungan telfonnya hingga tak sadar Angelicha meneteskan air mata.


"I love you more, baby." tutup Revandra lalu memutuskan sambungan telfonnya.


Pria itu menatap aneh Angelicha yang tengah meringkuk sambil memegangi perutnya. Kasihan sih melihat air mata mengalir dari mata indahnya, namun Revandra tidak perduli.


Menyambar handuk lalu masuk kedalam kamar mandi untuk mandi. Membiarkan Angelicha merintih kesakitan.


"Pria sialan!" desis Angelicha menatap kecewa pada Revandra.


Semua ini karna perutnya yang tiba-tiba kram tak bisa digunakan untuk bergerak. Rasa sakit yang tiba-tiba menyerang membuat air matanya jatuh tanpa dikomandani.


Tidak-tidak. Angelicha bukan menangis karna rasa sakit diperutnya, anggap saja Angelicha menangis karna sikap Revandra akhir-akhir ini. Hanya saja, mari buat Angelicha sedikit dramatis disini.


Mendesah lirih kala tangannya tak bisa menggapai ponsel yang terletak dilantai bawah. Perutnya dibuat bangkit tak bisa.


"Sial! Kenapa malam ini sial banget sih?!" kesalnya dalam hati.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Revandra yang baru keluar menggunakan kemeja oversize warna biru tua dipadukan dengan celana jins motif robek dilututnya.


Beberapa saat Angelicha terdiam mengamati pria yang menyandang status suaminya itu. Tampan dan keren dalam waktu bersamaan. Bagaimana bisa dirinya terlihat seperti mahasiswa universitas dibanding CEO perusahaan.


"Kamu tidur aja, aku ada urusan diluar." ungkapnya lalu berjalan menuju meja rias.


Angelicha masih mengamati pria tersebut yang tengah sibuk menyisir rambutnya. Farfum dengan aroma mint langsung menguak kala Revandra menyemprotkan aroma tersebut pada tubuhnya.


Aroma khas yang tak pernah Angelicha temukan pada pria lain!


"Tolong jangan pergi," ujar Angelicha lirih.


Revandra menoleh sebentar lalu kembali fokus menatap cermin. Pantulan Angelicha yang menatapnya sendu terekam apik dalam kaca tersebut.


"Kau tidak boleh goyah Revandra!" rutuknya dalam hati.


"Aku ada urusan penting, Angelicha. Kamu tidak bisa melarang aku untuk pergi, kau hanya ibu untuk Soya." ujar Revandra dingin lalu melangkah ingin menggapai dompetnya.


Angelicha langsung bangkit tak menghiraukan rasa sakit diperutnya. Nafasnya terengah-engah seperti menahan gelora api amarah dalam dirinya.


Melangkah cepat menghadang Revandra tepat didepan pintu. Matanya menatap bengis Revandra lalu kedua tangannya mendorong Revandra hingga pria itu mundur beberapa langkah.


"Hah... brengsek!" umpat Angelicha lalu menyerang Revandra.


Benda kenyal itu saling menempel. Revandra tergugu menerima serangan brutal dan terkesan menuntut dari ciuman yang diberikan Angelicha.


Entah kenapa Revandra tak bisa melawan Angelicha kini. Tubuhnya ikut terdorong dan berakhir berada diatas ranjang dengan posisi Angelicha mengungkung dirinya.


Hey Revandra itu lebih suka menjadi dominan!

__ADS_1


Revandra mendesis kala merasakan lehernya dihisap oleh Angelicha. Revandra yakin, bekasnya akan terlihat nanti. Tatto pertama yang diberikan Angelicha.


"Dia kasar sekali!" seru batin Revandra.


"Akhh santai Angelicha!" pekik Revandra.


Benar, dengan tanpa perasaan Angelicha membuka kemeja Revandra hingga mengakibatkan kancing-kancingnya terlepas.


"Asshh sakit Angelicha!" rintih Revandra kala Angelicha mengihit tulang selangkanya.


Ceklek!


"Happy birth--- Allahhuakbar! Ya Gusti!!" teriakan melengking seorang wanita membuat Angelicha mematung beberapa saat.


Angelicha dan Revandra menoleh secara kaku menatap keluarga besarnya tengah berdiri didepan pintu kamar dengan membawa sebuah kue ulang tahun dengan angka sembilan belas.


Angelicha meneguk salivanya bulat-bulat. Ingin mengumpat sekeras mungkin dan ingin menggantung diri diatas pohon jengkol saja.


Angelicha menatap malu Revandra yang kini menatapnya dengan senyuman semanis madu. Menyadari ada yang tidak beres dengan suaminya itu membuat Angelicha menatap tajam Revandra.


"Happy birthday, my wife. Bagaimana kejutan satu minggu ini hemm? Apakah nyonya Revandra Aditya menyukainya?" bisik Revandra lalu mengecup singkat kening Angelicha.


Tepat setelah Revandra mengatakan itu, Angelicha langsung menjatuhkan wajahnya pada ceruk leher Revandra. Menangis tersedu-sedu sambil memukul lengan Revandra manja.


"Jahat! Daddy tega banget sih hiks... aku malu tau!" racaunya sambil terus memukul Revandra random.


"Buat apa malu, toh kita udah resmi." celetuk Revandra.


Arum, Hanum, Shin, Violet, Fernandi serta Icha ikut tersenyum malu-malu melihat adegan didepan mereka. Untung saja Soya memilih menunggu dibawah sambil makan eskrim ditemani Reza.


Angelicha masih menuntut dengan jelas maksud semua yang terjadi belakangan ini. Pasalnya disana ada Jean yang ikut memberikannya selamat. Walau Angelicha hanya memberikan senyum kikuknya.


"Simpel aja sih, kami semua berencana buat nge-prank kamu. Biar ultah kamu yang ini spesial gitu dan ngga bakal kamu lupain," begitu jawab Revandra ketika ditanya.


"Ung-- kalau ngga gini, aku ngga bakal pernah dapetin ini," ujar Revandra menunjuk bekas kemerahan ditulang selangkanya.


Bugh!


Revandra mengaduh kala merasakan bahunya dipukul dengan keras. Meringis mendapati rasa nyut-nyutan kala Angelicha malah meringis tanpa mengucap apapun.


Istri kecilnya itu tidak bisa diajak romantis!


Revandra hanya membalas dengan usapan lembut dipuncak kepala Angelicha. Entah kenapa, Revandra ibarat terjebak dalam samudera tatapan dalam Angelicha.


"Kamu berhak bahagia," ujar Revandra lirih.


Angelicha langsung mundur beberapa langkah dadi Revandra. Membuang muka dengan wajah kecewa, seolah Revandra bisa mengerti arti tatapan matanya.


"Okey, setelah aku lulus. Aku harap daddy segera mengurus surat perceraiannya," ujar Angelicha lalu pergi menyusul Soya.


Revandra hanya tersenyum lalu mengangguk. Menoleh kala merasakan tepukan hangat dibahunya, tersenyum manis kala Jean juga melemparinya dengan senyum tak kalah manis.


"Kalau kamu berat, kenapa kamu lepasin dia?" tanya Jean sedikit berbisik.


"Aku tidak mau merusak impiannya. Mau bagaimanapun, Angelicha adalah gadis yang penuh semangat untuk meraih mimpinya." jawab Revandra tersenyum melihat interaksi Soya dengan Angelicha.


"Tapi tatapannya seolah menyuruhmu untuk mencegahnya, Revandra. Aku tahu kau peka, lalu ahh kau ini benar-benar mengsalkan!" kesal Jean lalu ikut pergi meninggalkan Revandra.


Revandra hanya tersenyum miris, "Aku hanya ingin Angelicha menetap disini karna dirinya sendiri, bukan karna larangan dariku," gumamnya.


_______


"Momy harus semangat!!" teriak Soya melengking memehuni setiap sudut mobil.

__ADS_1


Angelicha tersenyum manis lalu mengusap sayang kepala Soya. Gadis itu lalu membuka pintu mobil dan masuk kedalam gerbang setelah melambai tangan pada Soya.


Tekat Angelicha bulat untuk menjaga jarak dengan Revandra. Melihat pria itu sama sekali tidak melarangnya, membuat Angelicha yakin jika Revandra benar-benar tidak tertarik pada Angelicha.


Memilih membuang jauh-jauh pikirannya tentang Revandra. Bisa gawat jika semua pelajaran yang dirinya simpan rapat dalam otak jadi ikut terkontaminasi efek sadgirl-nya.


Memasuki ruang ujiannya dan duduk manis. Entah kenapa suasana terasa sangat mendebarkan, padahal ini hanya penilaian tengah semester satu.


______


Angelicha menghela nafas lalu merangkul Andin dan mengajaknya untuk kekantin membeli es teh. Otaknya terasa menguap dengan soal-soal tadi yang dirinya kerjakan.


"Eh lo udah tahu belum kalau Fahmi putus sama pacarnya?" tanya Andin ditengah perjalanan.


"Eh beneran?! Karna apa woy?" tanya Angelicha antusias.


"Ceweknya terlalu agresif menurut gw. Ya kali hp si Fahmi dibajakin semua, terus dia lihat chat lo sama si Fahmi. Dikiralah kalau Fahmi ke Indonesia buat selingkuh." jelas Andin.


Angelicha tersenyum miring. Baru kali ini sahabatnya putus ada rasa puas dalam hatinya. Bahagia diatas penderitaan orang lain, ya itulah posisi Angelicha sekarang.


"Btw gimana kabar pacar lo? Kapan bakal lo kenalin ke kita?" tanya Andin tiba-tiba.


"O-oh itu, dia lagi sibuk banget!" bohong Angelicha.


"Bener kalau kemarin malem lo kobam susu coklat? Sejak kapan anjirr susu coklat bikin kobam?" celetuk Andin.


"Ihh lo kok tahu?" rengek Angelicha.


"Lo nggak buka 'GoodLoocking kecuali si Hanif' ya. Disana vidio lo dishare sama Hanif. Gw ngakak dong lihat lo ngomong kek orang kobam beneran," celetuk Andin lalu tertawa sumbang.


"An, hati-hati ya." nasihat Angelicha tersenyum manis.


"Mang napa?" tanya Andin tak mengerti.


"Nanti kalau lo pulang ketabrak mobil, percaya deh yang nyetir itu gw!" sinis Angelicha lalu mengambil tempat duduk.


_______


Brak!!!


"Berhenti! Gw bilang berhenti, Vin. Lo malah nyakitin Angelicha kalau lo terus-terusan kayak gini!" terlihat seorang pria muda tengah memukuli kembarannya sendiri.


"Lo siapa anj***?! Lo tau apa tentang kebahagiaan gw?! Lo cuma parasit dihidup gw!" sarkas pria yang menatap nyalang kembarannya.


"Ck, gw bilang berhenti buat mata-matain Angelicha! Lo harusnya sadar dia udah punya suami!" teriak sang sulung murka.


"Lalu apa kabar lo yang rela ngebunuh kekasih mantan lo hah?!" sang adik tak kalah nyalang berteriak tepat diwajah sang kakak.


Pria yang lebih tua lima belas menit itu menyugar rambutnya. Menghela nafas melihat tingkah kembarannya, bahkan tak habis fikir kenapa sang adik bisa seter-obsesi kepada gadis asing bernama Angelicha.


"Nggak mau tahu, kamu harus bereskan ini semua sebelum papa kembali ke Indonesia!" ujar yang tua lalu mendecih melihat seluruh tembok kamar milik adeknya.


Disetiap sudut pasti akan ada foto-foto Angelicha yang tertempel. Tidak tahu dari mana sang adik mendapatkan foto-foto tersebut. Namun banyak yang diambil secara diam-diam bahkan ada foto ketika Angelicha masih menggunakan seragam SMP.


"No! My life is all about of Angelicha Elizabeth!" sarkas sang adik.


Pyar!!!


Botol alkohol tersebut terhempas begitu saja kelantai. Membuat pemilik botol itu menggeram marah lalu menyerang sang kakak secara brutal.


"Sadar, Vin. Lo itu cuma obsesi semata!" tegur sang kakak.


Sampai sini faham? Jadi tolong jangan hujat om Revandra lagi ya heuheu... kasihan nanti om-nya.

__ADS_1


Luv yu pull guys💕


__ADS_2