CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 113.Kembar Tapi Beda


__ADS_3

Angelicha tidak percaya dengan wanita yang kini berdiri didepannya. Mengucek matanya berkali-kali masih mencoba mengelak bahwa sosok yang berdiri didepannya ini adalah saudara kandungnya.


Siang seperti ini dirinya dibangunkan dengan suara bel yang dipencet bar-bar sehingga mengusik tidur nyenyaknya. Padahal seluruh tubuhnya terasa sakit semua karna perlakuan Revandra yang tak bisa dibilang lembut.


"Ekhem, setidaknya bersihkan dulu tubuhmu wahai adik ku. Tubuhmu bau keringat, sangking panasnya pertempuran kalian tadi malam." cibir Adenra.


"Hah, tau dari mana lo. Ketemu aja baru kali ini!" sarkas Angelicha.


"Aku tinggal dirumah depan btw. Kamarku berhadapan dengan balkon kamar kalian. So i saw what happened between you," ujar Adenra lalu tersenyum sinis.


"Lo tau dosa nggak sih? Ngintip suami istri ngelaksanain sunah rosul itu dosa!" sinis Angelicha, bukan apa. Hanya saja dirinya kurang nyaman dengan sosok baru ini yang sialnya adalah saudari kembarnya.


Adenra terkekeh pelan lalu mengusap bahu Angelicha. Seperkian detik wajahnya langsung datar dengan seringai tipis diwajahnya.


"Dosa? Kau tahu, entah sudah berapa besar dosaku. Jika kamu mengenalku lebih dalam, maybe you will brand me as a monster. Tak apa, suatu saat kau akan bersyukur memiliki kembaran iblis ini." pungkas Adenra lalu masuk kedalam rumah.


Angelicha berbinar. Dengan langkah cepat dirinya ikut menyusul Adenra yang tengah duduk dikursi tamu. Gadis itu menatap saudari kembarnya dengan tatapan kepo.


"Tenang saja, semua masalahmu akan selesai ditanganku." ujar Adenra mantap.


"Sekarang, wahai adik ku yang cantik. Bisakah kau mengambilkan minum untuk saudarimu yang datang jauh-jauh dari New York hanya untuk menyelesaikan segala masalahmu?" singgung Adenra.


Ting tong!


"Bisa tolong bukakan pintunya? Gw buatin minum dulu." kata Angelicha sebelum bangkit menuju dapur.


Adenra hanya memberi jempolnya lalu bangkit untuk membuka pintu. Begitupun Angelicha yang berlalu menuju kedapur untuk membuatkan minum.


"Ahh plot twits macam apa ini? Aku punya kembaran? Oh ya Tuhan, drama macam apa ini?!" decak Angelicha kesal.


Sambil menuangkan jus jeruk digelasnya, gad-- em ralat wanita muda itu sesekali mengucapkan umpatan dihatinya. Saudarinya terasa sangat kelam dan misterius dimatanya sendiri.


_______


Bugh!


Adenra memukul habis Arga dihadapannya. Yang memencet bel adalah Arga yang datang dengan keadaan mabuk dan mencari saudarinya.


"Siapa kau hah?!" sarkas Arga.


"Aku adalah malaikat kecil yang kau serahkan kepada seorang iblis hanya untuk sebuah takhta!" ujar Adenra dingin.


Mendengar segala cerita dari wanita yang mengasuhnya, entah kenapa menatap pria yang sejatinya sebagai ayahnya malah menambah rasa bencinya.


Bugh!


"Akan ku bunuh kau, *******!" sarkas Adenra lalu kembali memukul Arga.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Adenra! Kontrol emosimu!!" teriakan seorang lelaki mengintrupsi Adenra untuk berhenti.


Adenra hanya menatap menyesal kepada pria yang menggelengkan kepala dari jauh kepadanya. Wanita itu merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan sebelum akhirnya meninggalkan tamah belakang rumah tempatnya memukuli Arga.


Pria itu hanya menghela nafas dan memilih menyelamatkan Arga. Bisa habis Arga jika Adenra melampiaskan segala kebenciannya selama ini.


Adenra kembali duduk dan menatap datar Angelicha yang menatapnya aneh. Memilih abai, dirinya langsung meneguk segelas penuh jus jeruk tersebut.


Uhuk!!!


"F**k!! Kenapa rasanya asin?!!" sarkas Adenra dan Angelicha hanya tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


________


Revandra membeo melihat kekecauan rumah. Dengan helaan nafas Revandra menurunkan Soya dari gendongannya dan menyuruh anak itu untuk masuk kedalam kamarnya.


Bibirnya tertarik melihat Angelicha tengah terlelap dengan tidak aestheticnya. Kaki jenjangnya menimpa wajah sang kembaran yang ikit tertidur dibawahnya.


Bisa Revandra tebak, mereka berdua baru saja melahkukan perang antar saudara. Melihat banyak bantal sofa yang tergeletak tak berdaya dilantai serta beberapa bungkus chiki juga.


"Tidur dikamar sayang," ujar Revandra lalu menggendong Angelicha untuk memindahkannya kedalam kamar.


Adenra yang bertepatan membuka matanya ikut tersenyum manis. Getaran ponselnya membuat Adenra mau tak mau harus segera beranjak dari rumah suami kembarannya itu.


"Baiklah, urus sialan itu. Pantau terus apapun yang dirinya lahkukan. Jika kalian tidak sanggup dan dalam keadaan terdesak, tak apa jika kalian membunuhnya. Akan sangat mudah melumpuhkannya dengan pintol," ujarnya kala mendapat informasi penting dari seseorang.


'.....'


"Tidak. Aku sedang berada dirumah adikku kenapa?" tanya Adenra memicingkan alisnya.


'....'


"Awasi saja, jika keadaan mulai tak stabil. Segera telfon aku!" perintah Adenra.


'....'


"A-apa?!" kaget Adenra mendengar laporan tersebut.


"Aku yang akan menghabisi wanita itu sendiri. Akan ku penggal kepalanya dan menjadikan kepalanya sebagai hiasan dinding kamarku!" geramnya.


Tut!!!


________


Revandra tersenyum lalu membetulkan selimut ditubuh istri kecilnya itu. Mengusap lembut puncak kepala Angelicha lalu mengecup lamat kening sang istri.


"Bayangkan saja betapa ramainya rumah kita nanti setelah anak kita lahir. Aku ingin kembar dengan sifat, sang kakak yang dingin dan sang bungsu yang cerewet dan manja. Akan sangat seru pastinya. Lalu Soya, bocah itu akan sangat senang pastinya." oceh Revandra lalu terkekeh.


"Kembar tapi berbeda." Revandra mengakhiri sesi basa-basinya sebelum bangkit menuju kamar putrinya untuk memberi salam selamat malam.


Angelicha mengerjabkan matanya kala sinar mentari masuk melalui celah hordeng. Tersenyum manis kala menangkap sosok suaminya masih nyenyak dalam tidurnya.


"Maaf tidak menunggu daddy semalam," ujarnya lembut.


Menyingkap selimut lalu bangkit untuk mencuci wajah. Setelah dirinya rapi, Angelicha mengutuskan untuk membuatkan sarapan mengingat Hanum sedang singgah ke Semarang untuk urusan bisnis.


"Aku masak apa? Aku kan tak bisa memasak," decaknya kesal.


Menggeledah kulkas untuk mencari bahan yang menurutnya bisa dimasak sesuai dengan kemampuannya. Sambil memilah, Angelicha mendengarkan musik dari ponselnya.


"We don't talk anymore... we don't talk anymore... we don't talk anymore, like we use to do..." gumamnya mengikuti alunan lagu yang terputar.


Angelicha memilih untuk membuat nasi goreng, menu yang simpel untuk dirinya yang tak bisa memasak. Ya lumayan karena nasi goreng Angelicha pernah dinobatkan sebagai masakan terenak di sekolahnya ketika SMP masa lalu.


Sangking asiknya Angelicha dengan sosis serta lagu, hingga tak sadar. Revandra sudah mengambil duduk dikursi meja makan sambil tersenyum mengamatinya.


"Wahh, aku tak salah memilih istri." batin Revandra terkekeh senang.


Revandra memilih bangkit dan membiarkan istrinya itu mengadakan konser dadakan. Revabdra bangkit untuk membangunkan Soya, mengingat anak itu paling susah bangun apalagi ketika libur seperti sekarang.


________


Andin menatap tak percaya seseorang yang diikat disebelahnya. Dia adalah Nichol dengan luka disekujur tubuhnya. Lalu ditambah Hanif yang terkapar dilantai dengan darah yang mengucur dari kepalanya.


"H-Hanif?!" kaget Andin.


Otaknya berpikir keras, jika Hanif ikut disiksa disini lalu siapa yang memperkosanya lusa kemarin? Sosoknya sangat mirip dengan Hanif.

__ADS_1


"Dia adalah saudara kembar Hanif," sahut Nichol lirih.


"T-tapi, bagaimana bisa kalian ikut berada disini?" tanya Andin tak percaya dan bingung secara bersamaan.


"Ketika kami ingin menemui Mela, motor kamu dihadang dan gw sama Hanif dipukuli." jawab Nichol.


"Ini semua karena Angelicha si j***** kecil itu!" sungut Andin.


"Bukan! Ini karna obsesi gila Calvin b***** itu. Jangan salahkan Angelicha, dia tidak tahu apa-apa!" bantah Nichol.


Andin terkekeh sinis sebelum menatap Nichol nyalang. Ekspresinya langsung datar ketika mengetahui beberapa fakta.


"Ahhh gw lupa, Angelicha bakal jadi kakak tiri lo kan? Ibu lo selingkuh sama bokapnya Angelicha. Anak j***** makanya membela j***** yang lainnya!" sarkas Andin.


Nichol hanya diam. Mau membantah namun itulah faktanya. Ibu dari pria itu akan menikah dengan ayah Angelicha, dan Nichol membenci hal itu.


"Kenapa diam? Apakah itu kenyataannya? Waw akhirnya lo sadar juga," ujar Andin semakin meledek Nichol.


"Senangnya melihat persahabatan kalian hancur seperti ini!" seru Calvin yang baru saja masuk.


_______


"Itu tidak mungkin! Tidak mungkin wanita iblis itu-- bilang padaku sialan! Itu semua bohong!!" sungut Adenra kala mendapat telfon dari bawahannya.


'.....'


"Itu tidak mungkin, hiks. Awasi pergerakannya akan ku bunuh dia!" murka Adenra.


Wanita itu berlutut dengan tatapan kosong. Tangannya bergerak untuk membanting ponsel tersebut hingga menghantam tembok dan hancur seketika.


"Kenapa Tuhan tidak pernah adil kepadaku?!!" Adenra berteriak murka.


"Aku belum pernah tidur di pangkuannya, kenapa Tuhan mengambil mama dariku?" isaknya lirih.


Wanita itu bangkit dan segera mengambil kunci mobilnya. Tujuannya adalah rumah sang ibu kandung, dirinya masih belum menyangka ini semua terjadi dalam sekejap mata.


_______


Brughhh


Angelicha berlutut dengan tangisan yang mulai keluar. Memukul dadanya berharap rasa sesak yang dideritanya akan pudar.


"Enggak mungkin, mama nggak mungkin pergi secepat ini!" teriaknya diantara isakannya.


Revandra hanya bisa mendekap erat tubuh istrinya yang rapuh. Revandra tahu betul bagaimana rasa sakitnya ditinggal oleh orang yang paling dirinya cintai.


"Dad, mama tidak mungkin pergi secepat ini kan?" tanya Angelicha masih mencoba mencari tahu bahwa kabar yang didapatkannya adalah bohong.


Revandra hanya bisa menggeleng lirih. Air matanya ikut menetes bersamaan dengan jemari Angelicha yang meremat erat kemajanya.


"Siap-siap, kita urus pemakan mama." ujar Revandra.


"Mama belum meninggal, dad! Mama masih hidup!" Angelicha berteriak dan meronta dari dekapan sang suami.


"Angelicha," lirih Revandra dengan suara dalamnya.


Angelicha tak bisa berkutik. Menurut kala sang suami menuntun tangannya untuk menaiki tangga. Setelah membiarkan Angelicha bersiap, kini giliran dirinya yang memberi pengertian kepada putrinya.


"Soya, ayo sana siap-siap kita kerumah nenek Arum." ujar Revandra.


"Dad, nenek Arum nyusul kakek ya?" tanya Soya polos.


"Iya sayang, do'akan nenek ya." jawab Revandra.


"Momy pasti sedih ya, dad. Jadi Soya tidak boleh nakal begitu?" tanya Soya kembali, masih dengan tatapan polosnya.

__ADS_1


__ADS_2